Ah, Sudahlah
Diri ini terbangun dengan cengkeraman luka dan sakit tak terbendung. Anehnya, arimata tak mewakili semua ini. Seperti sudah melapangkan segalanya. Jika pergi dan diam menjadi arti, biarlah sedih dan diam menjadi pasif. Sudahlah... rasa abadi untuk tercekam kian menggenggam, dan akhirnya batin menyiksa diri sendiri dan merana. Bergelut dengan kesendirian seperti menjadi karma, karena sekian banyak yang menemani seperti terpaksa. Ah, hadapilah. Akhirnya senyum ini lenyap, kini tambah di sadari. Tidak pantas diri ini muluk tersenyum, karena makin lusuh pula hati ini.