Ujung Di Sana
Maaf, jika salah penilaian berujung pilu. Karena hati ini tak lagi bisa menyenangkan hati yang lain. Dan ketika hati dan logika seiring berotasi melawan arus, siapa yang bisa menahan? Jangan coba kembali dengan seribu kata bertahan, atau perjuangan yang belum selesai. Semua itu pernah kucoba, pernah kuharapkan, dan kupanjatkan untuk Empunya di sana. Tapi yang kemudian terjadi adalah optimisme itu runtuh oleh sikap penolakan, penolakan untuk sama-sama menggenggam. Karena sekian banyak merasakan, dan ini jadi kesekian untuk dilepas. Kau mungkin sadar sekian lama kemunafikan ini akan berlanjut, tapi kenapa mencoba buta? Ataukah salah dirimu menerima apa yang nyata? Karena peringatan akan kejamnya aku sudah pernah terujar, namun teguhmu membuatku tergugah. Salahkah aku lagi? Ini hanya ajang mencari salah, dan aku terperosok lebih dalam lagi. Uraian dosa seperti membendung "persahabatan" yang meronta ingin dijaga. Dan kau lupa dirimu tetap sahabat? Kau salah, jika...