Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2016

Upaya Terakhirku

Sudah seminggu. Hati ini belum bisa menerima dan berkata apa-apa. Hati ini masih mengejarnya, bahkan kubuang jauh-jauh semua gengsi dan rasa malu untuk menggapainya. Ini upaya terakhirku. Dan ketika dia menepis usahaku, aku akan pergi. Luka ini mungkin akan sulit disembuhkan. Bahkan bagi orang yang menyangka aku kuat, mereka akan heran melihat kerapuhanku. Oleh karena itu, izinkan aku menjelma menjadi sosok yang teraniaya. Yang walaupun tidak mungkin lagi bisa dikembalikan seperti semula, tapi masih berniat melakukannya. Hal mustahil yang sukar diubah. Biarlah aku terjerat karma, yang kusangka tak akan mengenalku. Biarlah ini semua cukup aku yang rasa, karena di dunia lain aku telah banyak bersalah. Aku kembali menjadi debu. Tak dianggap. Mati. Diterbangkan angin. Upayaku bahkan sudah menjadi abu terlebih dahulu. Aku. Sekian.

Hai Hati Yang Menangis

Hai hati yang menangis. Apa kau mencoba tegar? Atau sedikit demi sedikit menata hatimu? Kenapa kamu sok tegar? Kenapa senyum itu kau lengkungkan saat sembilu? Jika sedih, luapkan. Tapi jangan buat dia mengetahuinya. Dia hanya akan sulit menerima itu, karena dia sudah lelah dengan semuanya. Hai hati yang merindu. Kau coba menyibukkan diri dari pagi-pagi buta hingga larut malam, hanya coba mengetahui dia telah benar-benar pergi meninggalkanmu. Kau buang semua tenagamu, pikiranmu dan selera makanmu hanya untuk melihat dia dengan orang lain. Hai hati yang tidak tahu arah. Kemana melangkah? Kemana menuju? Hati ini telah kehilangan tambatannya. Telah dibuat mati sebelahnya, buat apa dia bertahan? Mengapa dia harus kuat? Rapuh. Semuanya telah ia kubur dalam-dalam. Hanya hati yang tahu, ketika yang dicinta pergi, dia ikut mati.

Sampaikan Salamku Untuk Cinta Yang Berlalu

Halo cinta. Apakah kau masih mencintaiku? Apakah di sela-sela harimu terngiang dirimu akan daku? Apakah kau pernah terganggu dengan pesan-pesan lisan penuh petunjuk tersembunyi? Aku membayangkan kau menjawab "ya". Tapi itu sangat semu. Kadang aku tak seharusnya banyak berharap, karena betapapun harapan itu begitu besarnya, aku akan kecewa. Tapi aku coba bayangkan kau tersenyum membaca itu, atau mengingat kisah-kisah lama kita. Betapa aku melayang dibuatnya. Banyak berharap menuntutku membuat ilusi yang takkan tercapai. Mendorongku jauh lebih dalam ke jurang penantian dalam ketidakpastian. Ah, bukan. Hal ini bukan tak pasti. Sudah jelas kau tinggalkanku. Tapi aku dengan bodohnya mengharapkan. Bahkan saat tertawa dengan teman-teman, ada bayangan senyummu dalam benak. Begitu dalam dan jelas. Bagaikan nyata. Tapi tak terjangkau. Sampaikan salam pada cintaku yang berlalu. Aku hanya ingin dia tau betapa aku masih berharap, menanti dan menunggu seperti anak kecil yang terses...

Separuh Jiwaku Pergi

Kali ini, dengan tamparan keras aku disadarkan. Disadarkan akan sakitnya untuk meyakini perasaan yang kusangka akan selalu abadi, keputusan yang selalu diqnggap candaan. Aku tersadar. Bukan karena aku selama ini menutup mata, tapi aku hanya terbuai dengan setiap permainan hati yang tidak mengizinkanku memikirkan kemungkinan terburuk. Memang aku bodoh, berpikir tanpa menggunakan logika. Terlalu mengandalkan hati untuk bicara, tapi naluri tak jalan. Aku membunuh setiap senti rasa sayang seseorang hanya dalam hitungan menit, dan aku dibakar rasa sesal yg tak kunjung padam, menghanguskanku ke dalam tungku yang sangat panas. Melebur dan menjadi abu. Tak dianggap. Diabaikan. Mati. Kesekian kali aku pernah ditinggal, tapi kali ini aku terpuruk. Aku tak mempercayainya. Aku menangisinya. Terasa sembilu hati ini. Bahkan untuk melangkah menjauh terasa berat, padahal dia sudah meninggalkan. Sakit rasanya, ketika masih dalam ruang dan waktu yang sama, tapi bahkan tidak lagi saling mengenal. Ter...

Batu Loncatan (Part I)

Masih bernaung pada perasaan ragu yang mencekam hati. Sepertinya perasaan ini akan semakin melanglang buana meninggalkan sangsi yang besar untuk jalannya sebuah ikatan batin. Yup, sebenarnya sedang tidak ingin meluapkan rasa mellow yang berlebihan, apalagi sekarang ini sudah cukup dewasa untuk tidak mengungkapkan isi hati sesuka-sekehendak-semasabodoh apapun itu. Entahlah, mungkin karena batin meraung ingin meluapkannya, ataukah karena tidak punya pilihan untuk mencurahkan segala ini. Blogger ini jadi satu-satunya jalan keluar terbaik untuk keluar dari kepenatan. Ya, kepenatan menyusun proposal and goes to skripSWEET, kepenatan dengan keraguan cinta yang masa-bodoh-cuek-sampai-mana yang bikin makin mendung, dan also kepenatan karena insomnia ini belum bisa terobati. Please, jangan suruh saya mulai dari mana. Ini cukup menyiksa :( Semester 8, artinya bakal kelar hidup lu, eh salah, bakal kelar perkuliahan lu! Entah apapun yang terjadi, semua orang pada taunya lu bakal abis kuliah d...