Pergilah Jika Hanya Kasihan
Aku mungkin hanya dianggap peran ganda. Satu pihak bisa tertawa, di lain pihak bisa diabaikan. Sama seperti barang tak bernilai yang disimpan jauh di paling dasar timbunan barang, saat dirasa butuh barulah sibuk mengobrak-abriknya. Tiada yang dapat menikmati peran itu. Jangankan aku, artis nomor wahidpun akan susah dibuatnya. Kenapa aku? Bukankah sudah jelas aku begitu rapuh untuk dianggap pelampiasan? Trauma ini mungkin semakin menyulitkan untukku mengungkap rasa tak tertahankan, rasa benci akan kemunafikan dan dimanfaatkan orang lain. Aku selamanya tidak ingin diabaikan, namun sangat butuh lebih dari sekedar kata. Jangan tuntut aku sebegitu rupa untuk mengerti, karena begitu mudahnya airmata ini jatuh akibat hal paling kecil sekalipun. Enggan aku menerima rasa, namun aku selalu diyakinkan bahwa ada bahagia di balik lengkungan pelangi. Jadi aku mengizinkan, sedikit celah kubuka untuk menaruh secercah harapan. Salahkah aku terlalu menaruh harapan? Ataukah itu bukan harapan melaink...