Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2016

Pergilah Jika Hanya Kasihan

Aku mungkin hanya dianggap peran ganda. Satu pihak bisa tertawa, di lain pihak bisa diabaikan. Sama seperti barang tak bernilai yang disimpan jauh di paling dasar timbunan barang, saat dirasa butuh barulah sibuk mengobrak-abriknya. Tiada yang dapat menikmati peran itu. Jangankan aku, artis nomor wahidpun akan susah dibuatnya. Kenapa aku? Bukankah sudah jelas aku begitu rapuh untuk dianggap pelampiasan? Trauma ini mungkin semakin menyulitkan untukku mengungkap rasa tak tertahankan, rasa benci akan kemunafikan dan dimanfaatkan orang lain. Aku selamanya tidak ingin diabaikan, namun sangat butuh lebih dari sekedar kata. Jangan tuntut aku sebegitu rupa untuk mengerti, karena begitu mudahnya airmata ini jatuh akibat hal paling kecil sekalipun. Enggan aku menerima rasa, namun aku selalu diyakinkan bahwa ada bahagia di balik lengkungan pelangi. Jadi aku mengizinkan, sedikit celah kubuka untuk menaruh secercah harapan. Salahkah aku terlalu menaruh harapan? Ataukah itu bukan harapan melaink...

Breakeven-Point [!]

Pura-puralah kau pernah disakiti. Berhenti meratapi kegelisahan hatimu yang menyangka semua akan berakhir saat ini juga karena tak dapat menerima pahitnya kenyataan. Pura-puralah bahagia. Anggaplah sudah jadi bagian mutlak tak terbantahkan di mana kamu menerima kesedihan lebih dari yang kamu duga, dan harapan yang kurang memuaskan. Yakinkan diri bahwa jalan ini telah diatur Yang Empunya dan bahkan kau harus tersenyum bukan karena kamu mau, tapi karena ada yang lebih indah menantimu di ujung lengkungan pelangi itu. Karena lebih beruntung dirimu menerima bahwa ada satu titik di waktu ini, yang menjadi titik terendah hidupmu. Titik minus yang merosot tajam dari bayanganmu tentang kebahagiaan. Dan saat kamu telah melewatinya, kebahagiaan kedua akan menjemput. Kebahagiaan berlipat ganda yang tak lekang oleh waktu. Dijamin dan pasti.