Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2016

Teman Sepermainan - Dedikasi Non Resmi

Memang tiada yang lebih menyenangkan untuk menulis blog selain pada jam-jam tengah malam yang mengesankan ini. Jangan pedulikan sang pelaku insomnia ini, karena sejatinya mereka adalah yang berpikir besar (aseeek!) Lanjut. Ada temanku bertanya: (T: teman, S: saya) T: Pernahkah setelah kamu bertemu seseorang atau beberapa orang yang telah lama tidak bertemu denganmu, dan ketika berpisah kamu merasa hampa. Seperti tidak ingin berpisah, seperti masih ada yang kurang? S: rasa cinta maksudmu? T: hey! Kenapa cinta melulu! Tidak. Ini lebih pada absurdnya rasa ketika sekian lama tak bertemu dan akhirnya bertemu lagi, namun terasa kosong saat telah berpisah. Lalu aku termenung. Jawabannya, ya. Aku pernah merasakannya. Rasa yang sama untuk mereka. Saat bersama, saat bertemu, dan saat berpisah. Kau takkan menggubris perasaan ini jika kau sudah mengenal internet dengan baik, sehingga tak merasa terpisah jarak dan waktu dengan mereka, orang-orang yang menemanimu dan tumbuh bersamamu di ...

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Untuk kesekian kalinya saya bertanya dalam hati bagaimana cinta menjadi salah satu bagian terpenting yang menjadikan saya lebih baik dari hari ke hari dan merasa penuh dicintai. Cinta yang saya rasakan ingin saya jaga dengan sebaik-baiknya, oleh karena itu jangan salahkan saya jika posesif itu ada, dan cemburu itu kuat dan keras. Siapapun, tidak merasa senang bila cintanya ternyata sedang asik dengan orang lain, walaupun teman sekalipun. Katakan saja saya gila karena terlampau cemburu, atau posesif dan tidak pengertian. Apa salah saya menjaga cinta saya? Karena saya cinta, saya lebih tak rela dia jatuh pada pelukan orang lain. Saya tak perlu dimengerti. Cukup cintai saya, dan saya tidak akan banyak Siaga 1. Lain hal kalau cinta itu memang tidak mencintai lagi. Seperti kata Sujiwo Tejo: "Sekuat apapun kamu menjaga, Yang pergi akan tetap pergi. Sekuat apapun kamu menolak, Yang datang akan tetap datang. Semesta memang kadang senang bercanda. " Dengan ...

Yang Berharga Yang Kulepas.

Mengapa yang berharga baru terasa saat dia telah pergi? Apakah hati ini salah menghukum diri sendiri? Hanya saja diri takut untuk menanggapi serius kembali. Bukan soal apa-apa, tapi diri ini takut akan kemungkinan terbesar menyakiti lebih lagi. Sudahlah, toh akhirnya yang berharga terlepas dari genggaman. Kapan lagi diri ini dapatkan dia yg mengalah tanpa batas? Di mana lagi diri temukan tawa yang utuh tanpa pemaksaan? Siapa lagi... siapa lagi yang bisa mengerti diri ini dengan kenyamanan yang nyata tapi jarang ditemui? TIDAK ADA LAGI. Bersedihlah karena kerapuhan akan singgah lebih lama. Seperti lumut yang tumbuh di bebatuan tapi akarnya meremukkan, begitulah kisah ini akan tertanam tanpa akan dipulihkan. Berbahagialah dia. Karena melepaskan yang pantas dilepas. Ya. Berterimakasihlah pada b*tch yang sudah menoreh luka, tanpa perlu menikam lebih dalam. Jangan ada lagi kenangan, bahkan yang sengaja dibuat dengan konsep stop motion dan kau jadikan video sebagai kado terindah....