Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Teman Sepermainan - Dedikasi Non Resmi

Memang tiada yang lebih menyenangkan untuk menulis blog selain pada jam-jam tengah malam yang mengesankan ini. Jangan pedulikan sang pelaku insomnia ini, karena sejatinya mereka adalah yang berpikir besar (aseeek!) Lanjut. Ada temanku bertanya: (T: teman, S: saya) T: Pernahkah setelah kamu bertemu seseorang atau beberapa orang yang telah lama tidak bertemu denganmu, dan ketika berpisah kamu merasa hampa. Seperti tidak ingin berpisah, seperti masih ada yang kurang? S: rasa cinta maksudmu? T: hey! Kenapa cinta melulu! Tidak. Ini lebih pada absurdnya rasa ketika sekian lama tak bertemu dan akhirnya bertemu lagi, namun terasa kosong saat telah berpisah. Lalu aku termenung. Jawabannya, ya. Aku pernah merasakannya. Rasa yang sama untuk mereka. Saat bersama, saat bertemu, dan saat berpisah. Kau takkan menggubris perasaan ini jika kau sudah mengenal internet dengan baik, sehingga tak merasa terpisah jarak dan waktu dengan mereka, orang-orang yang menemanimu dan tumbuh bersamamu di ...

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Untuk kesekian kalinya saya bertanya dalam hati bagaimana cinta menjadi salah satu bagian terpenting yang menjadikan saya lebih baik dari hari ke hari dan merasa penuh dicintai. Cinta yang saya rasakan ingin saya jaga dengan sebaik-baiknya, oleh karena itu jangan salahkan saya jika posesif itu ada, dan cemburu itu kuat dan keras. Siapapun, tidak merasa senang bila cintanya ternyata sedang asik dengan orang lain, walaupun teman sekalipun. Katakan saja saya gila karena terlampau cemburu, atau posesif dan tidak pengertian. Apa salah saya menjaga cinta saya? Karena saya cinta, saya lebih tak rela dia jatuh pada pelukan orang lain. Saya tak perlu dimengerti. Cukup cintai saya, dan saya tidak akan banyak Siaga 1. Lain hal kalau cinta itu memang tidak mencintai lagi. Seperti kata Sujiwo Tejo: "Sekuat apapun kamu menjaga, Yang pergi akan tetap pergi. Sekuat apapun kamu menolak, Yang datang akan tetap datang. Semesta memang kadang senang bercanda. " Dengan ...

Yang Berharga Yang Kulepas.

Mengapa yang berharga baru terasa saat dia telah pergi? Apakah hati ini salah menghukum diri sendiri? Hanya saja diri takut untuk menanggapi serius kembali. Bukan soal apa-apa, tapi diri ini takut akan kemungkinan terbesar menyakiti lebih lagi. Sudahlah, toh akhirnya yang berharga terlepas dari genggaman. Kapan lagi diri ini dapatkan dia yg mengalah tanpa batas? Di mana lagi diri temukan tawa yang utuh tanpa pemaksaan? Siapa lagi... siapa lagi yang bisa mengerti diri ini dengan kenyamanan yang nyata tapi jarang ditemui? TIDAK ADA LAGI. Bersedihlah karena kerapuhan akan singgah lebih lama. Seperti lumut yang tumbuh di bebatuan tapi akarnya meremukkan, begitulah kisah ini akan tertanam tanpa akan dipulihkan. Berbahagialah dia. Karena melepaskan yang pantas dilepas. Ya. Berterimakasihlah pada b*tch yang sudah menoreh luka, tanpa perlu menikam lebih dalam. Jangan ada lagi kenangan, bahkan yang sengaja dibuat dengan konsep stop motion dan kau jadikan video sebagai kado terindah....

Sebab Akibat (Antara Ketulusan dan Sandiwara)

Banyak yang berlalu-lalang di kepala, berusaha terkuak untuk ditulis dalam untaian kata nan terbatas, untuk dikenangkan dalam memori ratusan bite komputer dan menelusuk hingga ke dalam rumitnya dunia. Bukan diriku tak sanggup menorehkan isi kepala ini, hanya saja awal untuk memulainya sangat sulit kutentukan. Aku lebih berbakat memulainya pada pertengahan daripada mengawalinya dengan baik. Hanya karena itu terasa aneh bagiku, memulai sesuatu kadang jadi paranoid tersendiri, trauma akan datang laksana mimpi buruk, dan awal dari apa yang hendak kumulai adalah petaka dahsyat. Bukan juga karena diriku terlalu takut dengan trauma diri sendiri ini, diriku terlalu terbuai dengan keadaan tanpa suara, tanpa ungkapan dan tanpa hadirnya. Jika akhirnya aku mencoba hadir dalam ketidakhadiran, itu seperti mencoba menilai bagaimana ikan bisa terbang, semuanya mustahil untuk dilihat. Gelora hati ini ingin tuliskan kekuatan dan dorongan cinta namun masih ada rasa bimbang. Memilih itu tak mudah, bah...

Insta Post #1

Let it flow. Biarkan semuanya mengalir. Seperti aliran darahmu, yang mengalir ke seluruh tubuh dan kembali ke jantung. Membawa seluruh oksigen untuk sel-selmu yang membutuhkan. Sama halnya dengan dirimu yang meluapkan seluruh sesal itu, yang kehilangan separuh dari jiwamu. Seperti kehilangan satu bilik jantungmu, atau serambi jantung. Kau bahkan kesulitan meminta maaf, bukan karena tak bisa, tapi karena tahu itu sia-sia. Kembalilah, kembalilah wahai asupan nutrisi itu. Kenapa tak lelah meninggalkan seperti terpenjara sendiri? Diam itu aman. Sunyi itu tenang. Tapi yang lebih buruk dari kedua itu adalah sepi yang merajam. Tolong paksa keluar dari itu semua, karena seperti serangan jantung, yang ada hanyalah kesakitan diterpanya. Kembali dalam diam, seperti dirimu yang disangka orang sudah masuk tahap terakhir menjadi gila. ▫ ▫ ▫ 〰Kamar, 27 Mei 2016: Melamun disertai batuk pilek〰 Click on Instagram  HERE ♡

AGONY

Katakanlah banyak orang di luar sana yang tertarik akan kehidupan pribadimu, sehingga tak sedikit dari mereka menjadi stalker dan berlaku sok memiliki kepentingan denganmu yang mana kamu sendiri tidak mengenal mereka dan tiba-tiba banyak kata-kata tak menyenangkan keluar dari mulut mereka hanya karena mereka telah sedikit men-stalk dirimu di media sosial yang lebih banyak fake daripada fact. Sebenarnya tak masalah dengan keberadaan para stalker. Hanya saja sangat disayangkan bagi mereka yang lebih banyak punya waktu untuk menghakimi dari satu sisi saja. Sudut pandang mereka seperti terstruktur untuk mencari lebih banyak kesalahan dan kesedihan kita di dunia maya supaya dapat dijadikan suatu bahan baru bagi mereka berkreasi mengungkap materi-materi yang telah mereka kumpulkan tentang kita. Selayaknya penelitian, kita telah diobservasi oleh mereka. Hanya tinggal bagaimana mereka menganalisanya, kalau pake cara abal-abal yah hasilnya tidak akan benar dong. Just to share, saya belum t...

Immortal Love Song

Gambar
Aku takut bila suatu waktu aku lupa akan cerita bahagia ini. Bersama orang-orang terkasih yang kubawa dalam doa dan kukasihi seperti kedua orangtua dan saudara-saudaraku. Sikumana, 21 Agustus 2016. Seperti hari biasanya. Tepat pada hari ini, di hari Minggu setelah selesai mengikuti kebaktian di gereja, aku dan kakak perempuanku bersiap-siap untuk pergi ke rumah nenek yang jaraknya hanya butuh 10 menitan hingga tiba di rumahnya. Hari ini terasa spesial dengan kebahagiaan kami, karena merupakan hari ulangtahun Nenek yang ke-86. Kebahagiaan yang kami balut dalam untaian doa dan selebrasi yang sangat sederhana, bahkan hal ini bisa dianggap biasa saja. Tidak banyak yang kami lakukan, selain membeli sup ayam yang sudah diminta Nenek jauh-jauh hari sebelum ulangtahunnya. Sesampainya di rumah Nenek, kami langsung menghambur mencium Nenek. Kali ini bukan kami yang memberi ucapan ulang tahun, tapi dengan lantang Nenek malah mengucapkan "Selamat Ulang Tahun" saat tahu kami telah t...

Angkatan Tahun '90an, FIGHTING ^^

Pada umur sekarang ini, bagi anda kelahiran tahun 90an, bahkan lebih rincinya pada tahun '94 mungkin sedang dihadapkan pada tahap BERJUANG SAMPAI TITIK DARAH PENGHABISAN. Demi masa depan. Demi kebanggaan diri dan orangtua. Demi kebahagiaan kelak. Demi musuh yang masih tetap mencibir. Demi kesuksesan yang siap dijemput. Semakin menyia-nyiakan waktu dan semakin jauh tertinggal di belakang. Adakalanya menikmati masa muda adalah baik, namun bukan dalam arti harafiahnya. Menikmati bukanlah hanya bersenang-senang sesaat, tapi juga menikmati semua proses yang diizinkan terjadi dalam hidup. Susah sedihnya, pahit sepatnya, asam garamnya. Bukan hanya duduk santai, tapi bagaimana masa muda dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menata masa depan. Yaelah bahasanya 😂 Tapi benar kan? Kalian para teman-teman seumuranku tentunya ada yang sudah selesai sidang skripsi dan adapula yang sudah yudisium bahkan wisuda. Yah, semua akan saling berusaha secepat dan sebisanya. Membayangkan akhirnya seles...

Mazhab Klasik

Aku terpenjara lagi. Kali ini dalam pilihanku sendiri. Merasakan begitu banyak keputusan salah yang telah kuambil dan kusesali. Kenapa kupilih hal itu? Atau apa yang mendorongku melakukan itu? Keserakahan yang berujung pada kepunahan kebahagiaanku akan datang, saat itu aku akan merana dalam kesendirian dan menangis dalam penderitaan. Aku tahu akhirnya, pada akhirnya. Banyak pandangan orang mengenai diriku, sedikit yang menyukai, dan malah makin banyak yang membenci. Bahkan sejengkal langkahku mereka amati dengan seksama, menanti kapan bisa memenjarakanku dalam kata-kata laknat itu. Mencuci separuh otak dari mereka yang tak acuh dengan pemikiran pembenciku itu, sehingga bak mazhab, semuanya punya penganut masing-masing. Kali ini aku makin yakin dengan adanya karma. Dan aku terpana dengan dahsyatnya karya Tuhan pada kehidupan ini. Karma berlaku. Aku melihat dan menikmati kesesakannya, dan menyenandungkan nada kebahagiaan. Kalau saja bisa kututur kata-kata serapah seperti yang diuca...

Stronger Than Before (With Backsound: Anugerah Terindah - Sheila On 7)

Gambar
Sempurnanya malam ini adalah karena kehadiranmu, yang memberi lebih banyak arti untuk aku tersenyum saat ini. Bahkan akan terpancar kala aku tertidur nanti. Senyum kebahagiaan. Tanda aku bahagia kini. Lepas dari every little pain, I was stronger today and till tomorrow. Bahkan aku tak menyesali keputusan pahit yang pernah kuambil dulu, yang sulit diterima orang lain selain aku dan mereka berusaha meluruskan pemikiranku yang sudah lurus tentang arti bahagianya diriku. Inilah yang kadang dinasihatkan orang bijak, dengarkan kata hatimu, bukan mereka. Kebahagiaan memang seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami, terlalu susah, namun sangat berharga. Aku mencoba berpikir lebih positif ke depannya, mengubah pola pikirku mengenai bagaimana harus bersikap untuk meraih bahagia. Semuanya tergantung waktu, dan pilihanku. Aku tak ingin terlarut dalam mencari kebahagiaan, karena saat aku sibuk mencarinya, aku akan melewatkan kebahagiaan yang sebenarnya sudah di depan mata. Aku ingin me...

Pergilah Jika Hanya Kasihan

Aku mungkin hanya dianggap peran ganda. Satu pihak bisa tertawa, di lain pihak bisa diabaikan. Sama seperti barang tak bernilai yang disimpan jauh di paling dasar timbunan barang, saat dirasa butuh barulah sibuk mengobrak-abriknya. Tiada yang dapat menikmati peran itu. Jangankan aku, artis nomor wahidpun akan susah dibuatnya. Kenapa aku? Bukankah sudah jelas aku begitu rapuh untuk dianggap pelampiasan? Trauma ini mungkin semakin menyulitkan untukku mengungkap rasa tak tertahankan, rasa benci akan kemunafikan dan dimanfaatkan orang lain. Aku selamanya tidak ingin diabaikan, namun sangat butuh lebih dari sekedar kata. Jangan tuntut aku sebegitu rupa untuk mengerti, karena begitu mudahnya airmata ini jatuh akibat hal paling kecil sekalipun. Enggan aku menerima rasa, namun aku selalu diyakinkan bahwa ada bahagia di balik lengkungan pelangi. Jadi aku mengizinkan, sedikit celah kubuka untuk menaruh secercah harapan. Salahkah aku terlalu menaruh harapan? Ataukah itu bukan harapan melaink...

Breakeven-Point [!]

Pura-puralah kau pernah disakiti. Berhenti meratapi kegelisahan hatimu yang menyangka semua akan berakhir saat ini juga karena tak dapat menerima pahitnya kenyataan. Pura-puralah bahagia. Anggaplah sudah jadi bagian mutlak tak terbantahkan di mana kamu menerima kesedihan lebih dari yang kamu duga, dan harapan yang kurang memuaskan. Yakinkan diri bahwa jalan ini telah diatur Yang Empunya dan bahkan kau harus tersenyum bukan karena kamu mau, tapi karena ada yang lebih indah menantimu di ujung lengkungan pelangi itu. Karena lebih beruntung dirimu menerima bahwa ada satu titik di waktu ini, yang menjadi titik terendah hidupmu. Titik minus yang merosot tajam dari bayanganmu tentang kebahagiaan. Dan saat kamu telah melewatinya, kebahagiaan kedua akan menjemput. Kebahagiaan berlipat ganda yang tak lekang oleh waktu. Dijamin dan pasti.

Upaya Terakhirku

Sudah seminggu. Hati ini belum bisa menerima dan berkata apa-apa. Hati ini masih mengejarnya, bahkan kubuang jauh-jauh semua gengsi dan rasa malu untuk menggapainya. Ini upaya terakhirku. Dan ketika dia menepis usahaku, aku akan pergi. Luka ini mungkin akan sulit disembuhkan. Bahkan bagi orang yang menyangka aku kuat, mereka akan heran melihat kerapuhanku. Oleh karena itu, izinkan aku menjelma menjadi sosok yang teraniaya. Yang walaupun tidak mungkin lagi bisa dikembalikan seperti semula, tapi masih berniat melakukannya. Hal mustahil yang sukar diubah. Biarlah aku terjerat karma, yang kusangka tak akan mengenalku. Biarlah ini semua cukup aku yang rasa, karena di dunia lain aku telah banyak bersalah. Aku kembali menjadi debu. Tak dianggap. Mati. Diterbangkan angin. Upayaku bahkan sudah menjadi abu terlebih dahulu. Aku. Sekian.

Hai Hati Yang Menangis

Hai hati yang menangis. Apa kau mencoba tegar? Atau sedikit demi sedikit menata hatimu? Kenapa kamu sok tegar? Kenapa senyum itu kau lengkungkan saat sembilu? Jika sedih, luapkan. Tapi jangan buat dia mengetahuinya. Dia hanya akan sulit menerima itu, karena dia sudah lelah dengan semuanya. Hai hati yang merindu. Kau coba menyibukkan diri dari pagi-pagi buta hingga larut malam, hanya coba mengetahui dia telah benar-benar pergi meninggalkanmu. Kau buang semua tenagamu, pikiranmu dan selera makanmu hanya untuk melihat dia dengan orang lain. Hai hati yang tidak tahu arah. Kemana melangkah? Kemana menuju? Hati ini telah kehilangan tambatannya. Telah dibuat mati sebelahnya, buat apa dia bertahan? Mengapa dia harus kuat? Rapuh. Semuanya telah ia kubur dalam-dalam. Hanya hati yang tahu, ketika yang dicinta pergi, dia ikut mati.

Sampaikan Salamku Untuk Cinta Yang Berlalu

Halo cinta. Apakah kau masih mencintaiku? Apakah di sela-sela harimu terngiang dirimu akan daku? Apakah kau pernah terganggu dengan pesan-pesan lisan penuh petunjuk tersembunyi? Aku membayangkan kau menjawab "ya". Tapi itu sangat semu. Kadang aku tak seharusnya banyak berharap, karena betapapun harapan itu begitu besarnya, aku akan kecewa. Tapi aku coba bayangkan kau tersenyum membaca itu, atau mengingat kisah-kisah lama kita. Betapa aku melayang dibuatnya. Banyak berharap menuntutku membuat ilusi yang takkan tercapai. Mendorongku jauh lebih dalam ke jurang penantian dalam ketidakpastian. Ah, bukan. Hal ini bukan tak pasti. Sudah jelas kau tinggalkanku. Tapi aku dengan bodohnya mengharapkan. Bahkan saat tertawa dengan teman-teman, ada bayangan senyummu dalam benak. Begitu dalam dan jelas. Bagaikan nyata. Tapi tak terjangkau. Sampaikan salam pada cintaku yang berlalu. Aku hanya ingin dia tau betapa aku masih berharap, menanti dan menunggu seperti anak kecil yang terses...

Separuh Jiwaku Pergi

Kali ini, dengan tamparan keras aku disadarkan. Disadarkan akan sakitnya untuk meyakini perasaan yang kusangka akan selalu abadi, keputusan yang selalu diqnggap candaan. Aku tersadar. Bukan karena aku selama ini menutup mata, tapi aku hanya terbuai dengan setiap permainan hati yang tidak mengizinkanku memikirkan kemungkinan terburuk. Memang aku bodoh, berpikir tanpa menggunakan logika. Terlalu mengandalkan hati untuk bicara, tapi naluri tak jalan. Aku membunuh setiap senti rasa sayang seseorang hanya dalam hitungan menit, dan aku dibakar rasa sesal yg tak kunjung padam, menghanguskanku ke dalam tungku yang sangat panas. Melebur dan menjadi abu. Tak dianggap. Diabaikan. Mati. Kesekian kali aku pernah ditinggal, tapi kali ini aku terpuruk. Aku tak mempercayainya. Aku menangisinya. Terasa sembilu hati ini. Bahkan untuk melangkah menjauh terasa berat, padahal dia sudah meninggalkan. Sakit rasanya, ketika masih dalam ruang dan waktu yang sama, tapi bahkan tidak lagi saling mengenal. Ter...

Batu Loncatan (Part I)

Masih bernaung pada perasaan ragu yang mencekam hati. Sepertinya perasaan ini akan semakin melanglang buana meninggalkan sangsi yang besar untuk jalannya sebuah ikatan batin. Yup, sebenarnya sedang tidak ingin meluapkan rasa mellow yang berlebihan, apalagi sekarang ini sudah cukup dewasa untuk tidak mengungkapkan isi hati sesuka-sekehendak-semasabodoh apapun itu. Entahlah, mungkin karena batin meraung ingin meluapkannya, ataukah karena tidak punya pilihan untuk mencurahkan segala ini. Blogger ini jadi satu-satunya jalan keluar terbaik untuk keluar dari kepenatan. Ya, kepenatan menyusun proposal and goes to skripSWEET, kepenatan dengan keraguan cinta yang masa-bodoh-cuek-sampai-mana yang bikin makin mendung, dan also kepenatan karena insomnia ini belum bisa terobati. Please, jangan suruh saya mulai dari mana. Ini cukup menyiksa :( Semester 8, artinya bakal kelar hidup lu, eh salah, bakal kelar perkuliahan lu! Entah apapun yang terjadi, semua orang pada taunya lu bakal abis kuliah d...

Cinta? Kan?

Digenggam lagi. Dicintai lagi. Entah perasaan ini yang ditarik ulur, ataukah kesetiaan yang membungkam ego. Kemarin sempat bertengkar, Membenci sedemikian hingga tulang. Hari ini semua hilang bagai asap, pergi meninggalkan bayang-bayang. Dia hanya ingin dicinta, tapi tak tahu bagaimana mengucap. Dia tidak ingin disakiti, dan dia mempertaruhkan yang diucap. Seakan mereka berdua hanya sepasang di dunia, Sang Adam dan Hawa. Tidak ada yang lain, sejauh masalah mereka itu. Tidak ada yang dapat menguasai jagad jika belum ada perdamaian dua kubu. Yang satu marah, yang satu lebih menyulut garang. Mereka tak akur, bahkan untuk menunjukkan kasih. Mereka harus berkorban, rela disakiti untuk diberi cinta. Mereka hanya dua insan penuh tanda tanya dalam relasi itu. Namun mereka dibimbing oleh rasa ingin memiliki, mereka disatukan dengan rasa mencintai tanpa akhir. Bukan untuk menyalahkan, tapi mengalah. Bukan untuk berteriak, tetapi duduk menjelaskan. Semua ada tahapnya, semu...

Selfie Pas di Tempat Mainstream Gunung Fatuleu - Kabupaten Kupang - NTT

Gambar
Saya tidak bisa bilang bahwa saya penggemar acara petualangan di televisi seperti My Trip My Adventure, Ethnic Runaway and so on... Saya hanya tertarik untuk melihat tempat-tempat bagus, tapi tidak terlalu memiliki ketertarikan untuk berlaku seperti halnya para petualang di dalam acara sana. Saya pikir, selama kita punya niat, hal seperti acara-acara televisi itu kalah asik dibandingkan perjalanan kita sendiri. Kenapa? Kalau kita malah asiknya nonton dan termotivasi ikutan nge-trip, tapi ujung-ujungnya gak menikmati, itu terlalu flat. But now, I feel different. Rasanya asik-asik aja nge-trip tanpa perencanaan matang, berbekal kamera hape, tongsis, fish eye and superwide lens dan teman-teman asik yang bakal nemenin kemana pun kamu berada, dengan gokil mereka, just enjoy the trip. Dan hari ini saya melakukan perjalanan (yang tidak saya klasifikasikan sebagai MTMA or something like that, because I'm so dislike to be mainstream) bersama teman-teman gokil saya yang entah tujuannya a...

Semester VIII YAY!!!

YAY! Finally, saya sudah semester VIII sekarang. Ya, semester akhir bagi pejuang-pejuang gelar sarjana. Serasa cepat sekali, kayak kemarin barus semester I dan jadi maba aja -_- Ini benar-benar jadi perjuangan sampai titik darah penghabisan, menyerah jadi nomor kesekian untuk saya pada akhirnya. Masih agak confused dengan skripsi yang harus diambil, pikir-pikir dulu, timbang-timbang lagi, mana yang benar-benar punya 'nilai tambah' untuk ke depannya. Jadi, walaupun beberapa poinnya sudah jadi hal biasa saat di semester-semester lalu (turun penelitian dalam sebuah team, bikin tulisan ilmiah yang naik cetak di jurnal jurusan, bikin tugas akhir semester mata kuliah yang jadi bahan acuan dosen untuk penelitian mereka, bikin tugas akhir semester mata kuliah lainnya yang malah mengantarkan jadi juara lomba karya tulis), tapi itu belum seberapa dengan skripsi, man! Jumlahnya 6 SKS dan kalau boleh dibilang nih, ini paling angker sejagad raya. Tapi masa sih menyerah sebelum perang? E...

I'm Not Give Up

Jiwa ini pernah mencoba, mencoba takluk pada kerasnya dunia. Raga ini pernah rapuh, rapuh oleh ketatnya persaingatn oleh bisingnya kehidupan. Mata ini tak hentinya menahan tangis, tangis ketidakberdayaan akan akhir semuanya. Tapi, jiwa ini tak luputnya berdoa, mencari-cari Dia yang selalu memberi pertolongan. Di ujung tanduk, bahkan sudah hampir tergelatak, saya tak mampu menjalani hidup ini sendiri. Kadang terbayang orangtua saya yang selalu memberi semangat dan menjadi jalan keluar akan setiap masalah saya, bukan seperti sekarang ini, saya sendirian dan berusaha menjalani semuanya sendiri. Sendiri. Saya hanya belum mampu sendiri saat ini, dengan beban yang masih terlihat ringan saja saya sudah hampir putus asa. Benar, ini tidak benar. Saya harus lebih berusaha untuk menaklukan kelemahan saya sendiri.