Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Kalahkan Ego, Tingkatkan Sayang 💙

 Aku tidak ingin menyimpan kebahagiaan ini sendiri. Tapi aku juga tidak bermaksud membagikan kepada semua orang. Menyimpannya di sini adalah cara terbaik, supaya jika nanti aku merasa tawar hati, ada tulisan ini yang memberikan warna itu kembali. Tulisan ini disimpan untuk mengingat bahwa bersama dengannya sudah membuatku bahagia. Tahun-tahun bersama memang sungguh panjang ceritanya. Ya, dua tahun. Mungkin tidak terlalu lama menurut orang lain, masih terlalu amateur dalam hal cinta-pacaran-serius-dansebagainya. Namun dua tahun adalah hal luar biasa setelah begitu banyak hal terjadi pada hubunganku dengannya. Tidak sedikit ego yang lebih kuperjuangkan dibandingkan rasa sayangku. Tidak sedikit sakit yang kutorehkan hanya karena aku merasa 'lebih benar' dari dirinya. Dan, masih banyak lagi hal-hal yang dapat memberikannya alasan untuk tidak tinggal. Tapi dia masih ada. Dia masih dia. Menjalani hubungan dengannya selama dua tahun ini telah mengajarkanku tentang banyak hal. Dan aku ...

My Faith

Gambar
Mungkin kamu tidak akan merasa kesepian. Ya benar, kamu memiliki segala sesuatu untuk mengisi hari-harimu. Teman chat, sahabat, siapapun itu. Banyak yang datang dan pergi dalam kehidupanmu dan kamu akan tenang-tenang saja tanpa merasa kesepian. Kamu tidak akan tahu bagaimana sepinya ketika didiamkan, Bagaimana sendiriannya kamu ketika tidak dikabari sama sekali, Bagaimana terpuruk karena merasa tidak dianggap. Kamu akan baik-baik saja karena semua orang menerimamu, dan kamupun juga akan selalu dikelilingi oleh mereka. Tapi kamu tidak akan merasakan saat kamu ditolak dan dibenci. Kamu tidak merasakan saat dihina dan dicaci. Hidupmu terlalu sempurna sampai kamu tidak tahu betapa menderitanya aku karena itu semua. Ya benar, tanpa akupun kamu akan selalu bahagia. Kamu bahkan bisa dengan mudah mencari penggantiku. Tapi tidak denganku. Perasaan-perasaan ini tidak akan dengan mudah hilang. Jika perasaan itu masih tetap ada, maka aku akan terus menderita meratapi kamu yan...

Biarkan Berlalu

Gambar
Berdiam sejenak. Aku lemah oleh semuanya. Oleh perasaan-perasaan dangkal yang menghujam. Aku juga belum siap untuk ini semua. Meratapi keadaanku yang sepi dan sendiri. Semua terasa pudar perlahan. Aku ingin menyudahi segalanya, mungkin dengan pergi akan meringankan beban siapapun yang tersiksa karenaku. Mungkin dengan aku beranjak, ada hati yang lega dan kembali bahagia. Mungkin jika aku tidak ada, senyum yang semula selalu ada akan terus ada dan tidak digantikan kebisuan. Ataukah aku yang terlalu egois? Mencoba mempertahankan segalanya yang seperti tidak mungkin lagi? Ya, semuanya seperti tidak mungkin. Kamu yang sudah berpikir mencari orang lain, kamu yang selalu memutuskan untuk terlebih dahulu pergi. Lalu aku, Aku yang terlalu naif dan mencoba menahanmu. Aku yang selalu mempertahankan hal yang sebenarnya sudah kamu anggap usai. Aku yang masih memungut sisa-sisa perasaanmu. Baiklah. Aku tidak menuntut lagi. Aku tidak mengejar lagi. Aku hanya akan diam. Aku h...

Bahagiamu, Bahagiaku

Gambar
Apa sih yang membuat saya jadi begitu posesif terhadap dia? Sikap saya seakan dia tidak boleh apa2 jika tidak ada saya. Saya tak ingin dia pergi dengan orang lain, jauh dari saya, tiada kabar, bahkan kadang melihat dia memposting foto yang bukan diri saya saja sudah menyulut keinginan marah. Saya sadar bahwa saya tidak boleh melakukan hal ini, posesif berlebihan sungguh membunuh dari dalam. Tapi apa daya, saya hanya ingin dia 😭 Pernah membatasi diri untuk tidak want to know eveything about him, tapi akhirnya saya sendiri yang tersiksa. Saya ingin tahu apa yang dia lakukan saat bangun pagi hari, apa yang dia makan saat sarapan, kegiatan apa selanjutnya, pergi kemana dia di pagi-siang-sore-malam, bertemu siapa dan bicara apa... apakah saya terkesan mengontrol? Sejujurnya saya hanya ingin dia, tepat di samping saya, bersama saya. Itu saja. Tapi waktu dan jarak sungguh menjauhkan kami (walau kami masih bisa berkomunikasi lewat gadget). Perasaan saya sudah terlalu besar untuk selalu ...

Who am I?

Gambar
Dibanding menyendiri, sekarang saya merasa lebih kepada bersyukur dengan banyak hal yang diberikan saat ini. Tawa yang masih bisa kulepas, senyum yang masih membayang, dan kebersamaan dengan keluarga yang sungguh berarti. Saya tak merasa sendiri, seperti ketakutan saya belakangan ini. Sungguh saat ini saya merasa diisi dengan berkat melimpah dan sanak saudara yang perhatian, tak butuh waktu lama untuk saya kembali menjadi diri saya. Perlahan saya juga mulai mengerti diri sendiri, lebih mengerti tubuh jasmaniah saya, yang mana setiap hari saya forsir untuk bekerja dan melupakan istirahat berkualitas. Saat ini, ketika menulis ini saya sedang berbaring dan merebahkan diri untuk istirahat. Inikah namanya istirahat? Berdiam sejenak dari semua hal duniawi yang melelahkan. Sangat menyamankan. Saya sadar bahwa selama ini saya berpaku pada sesuatu yang membagi fokus saya hingga lebih banyak di luar rumah, asik sendiri dan lupa bahwa diri ini sejatinya mudah lelah. Yang mengerti tubuh say...

Yang Terburuk

Saya adalah yang terburuk dari kumpulan yang telah dahulu ada. Keberadaan saya sepertinya tidak memberi dampak kebaikan bagi siapapun, dan malah mengundang cibiran serta ditolak. Saya tidak merasa perlu menjadi siapa atau apa yang disenangi orang, karena untuk saya bersikap di luar kewajaran diri saya adalah hal paling canggung dan menyebalkan. Saya bukan yang terbaik di bidang apapun, saya juga bukan yang cantik di antara lainnya. Saya introvert, sangat malas menanggapi orang dan tidak ingin membangun relasi lebih. Mungkin itu sebabnya saya kesepian. Saya teramat menutup diri untuk lingkungan di luar saya yang sudah di luar kewajaran saya, dan saya tidak ingin lebih dalam memasuki hidup siapapun. Saya sudah cukup dengan diri saya sendiri. Cukup dengan kelelahan ini, cukup dengan pikiran-pikiran ini, cukup dengan tekanan batin ini, dan cukup dengan depresi ini. Kesepian menjadi hal terburuk dalam setiap detik waktu berlalu. Saya sesak dan merana, tidak tahu harus berbuat apa. Ka...