Pergilah Jika Hanya Kasihan

Aku mungkin hanya dianggap peran ganda. Satu pihak bisa tertawa, di lain pihak bisa diabaikan.
Sama seperti barang tak bernilai yang disimpan jauh di paling dasar timbunan barang, saat dirasa butuh barulah sibuk mengobrak-abriknya.

Tiada yang dapat menikmati peran itu. Jangankan aku, artis nomor wahidpun akan susah dibuatnya. Kenapa aku? Bukankah sudah jelas aku begitu rapuh untuk dianggap pelampiasan?

Trauma ini mungkin semakin menyulitkan untukku mengungkap rasa tak tertahankan, rasa benci akan kemunafikan dan dimanfaatkan orang lain. Aku selamanya tidak ingin diabaikan, namun sangat butuh lebih dari sekedar kata. Jangan tuntut aku sebegitu rupa untuk mengerti, karena begitu mudahnya airmata ini jatuh akibat hal paling kecil sekalipun.

Enggan aku menerima rasa, namun aku selalu diyakinkan bahwa ada bahagia di balik lengkungan pelangi. Jadi aku mengizinkan, sedikit celah kubuka untuk menaruh secercah harapan.

Salahkah aku terlalu menaruh harapan? Ataukah itu bukan harapan melainkan stereotip dari kesakitan yang dihibur beberapa orang karena kasihan?

Aku pilu saat merasa hanya dikasihani. Tolong pergi jika rasa itu hanya seperti belaian singkat sesaat untuk menenangkan bayi yang rewel. Pergilah selagi belum ada rasa mendalam, sehingga tidak terlalu dalam sakit ini kurasa.

SoE, di kala dingin merayu untuk secangkir teh tawar panas ⛄⛄⛄

Komentar

Postingan populer dari blog ini

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Ketika Teman Jadi Bangsat !

Yang Berharga Yang Kulepas.