Teman Sepermainan - Dedikasi Non Resmi
Memang tiada yang lebih menyenangkan untuk menulis blog selain pada jam-jam tengah malam yang mengesankan ini.
Jangan pedulikan sang pelaku insomnia ini, karena sejatinya mereka adalah yang berpikir besar (aseeek!)
Lanjut.
Ada temanku bertanya:
(T: teman, S: saya)
T: Pernahkah setelah kamu bertemu seseorang atau beberapa orang yang telah lama tidak bertemu denganmu, dan ketika berpisah kamu merasa hampa. Seperti tidak ingin berpisah, seperti masih ada yang kurang?
S: rasa cinta maksudmu?
T: hey! Kenapa cinta melulu! Tidak. Ini lebih pada absurdnya rasa ketika sekian lama tak bertemu dan akhirnya bertemu lagi, namun terasa kosong saat telah berpisah.
Lalu aku termenung. Jawabannya, ya. Aku pernah merasakannya. Rasa yang sama untuk mereka. Saat bersama, saat bertemu, dan saat berpisah.
Kau takkan menggubris perasaan ini jika kau sudah mengenal internet dengan baik, sehingga tak merasa terpisah jarak dan waktu dengan mereka, orang-orang yang menemanimu dan tumbuh bersamamu di kala masih kecil.
Beda rasanya, ketika kecanggihan itu tak menghantarmu ke kedekatan yang diharapkan, atau kau tak tau bagaimana cara menghubungi mereka kecuali menyapa mereka di depan rumah dan mengajak mereka bermain, seperti kanak-kanak dulu.
Masa-masa tak terlupakan yang akan membuatmu tersenyum dan ingin kembali mengulangnya, karena dengan mereka kau temukan tawa itu. Sifat jenakamu dan keahlianmu lompat tali, atau bermain sepeda lalu jatuh dan menangis. Itu telah terhenti dimakan zaman.
Dan ketika...
Ketika kau dewasa, ketika kau menapaki langkah dengan semakin tegap dan gagah, bahkan saat kau semakin mandiri sekalipun, kau akan pulang. Pulang pada kenangan itu, pulang pada orang-orang itu. Menemukan mereka, mengajak bersua, dan bersifat jenaka lagi. Percayalah, kedewasaan itu tidak dilupakan, namun kekanakanmu akan keluar dari ambang batasnya karena kau tahu dengan siapa pada akhirnya kau luapkan itu di masa saat ini.
Jangan pernah lupa. Dari sekian banyak kisah yang ditorehkan dalam hidup ini, kamu memulainya dari masa kanak-kanak. Mulailah menggali maknanya, kenapa kau bisa sampai sekarang, siapa yang menemanimu, siapa yang sama-sama mengejar cita, hingga rela berpisah dan bertaut lagi pada kampung halaman penuh cerita.
Kekosongan itu ada. Dia akan datang pada waktunya. Ketika kembali berjumpa teman dan ketika berpisah. Ada dalam hati berpikir: bukankah dulu dia dan saya masih kecil? Ah, secepat inikah waktu berlalu? Kami sudah sebesar ini... kami bertemu lagi, dengan raut semakin tegas dan pikiran semakin tajam. Kami kah yang dulu saling bermain hingga kotor dan berkeringat? Ah... sudah terlalu lama. Aku belum rela mereka pergi, aku ingin bermain lagi. Marilah kita bermain bola, atau petak umpet. Kamu masih tahu Paman Dolib? Bukankah dulu kamu paling sering jadi anak bawang?
Mari bermain lagi teman. Kita masih seperti dulu. Hanya saja kita telah menemukan jati diri dan melangkah maju.
Kau tetap sahabatku.
Kau.
Kalian.
Teman sepermainan.
Jangan pedulikan sang pelaku insomnia ini, karena sejatinya mereka adalah yang berpikir besar (aseeek!)
Lanjut.
Ada temanku bertanya:
(T: teman, S: saya)
T: Pernahkah setelah kamu bertemu seseorang atau beberapa orang yang telah lama tidak bertemu denganmu, dan ketika berpisah kamu merasa hampa. Seperti tidak ingin berpisah, seperti masih ada yang kurang?
S: rasa cinta maksudmu?
T: hey! Kenapa cinta melulu! Tidak. Ini lebih pada absurdnya rasa ketika sekian lama tak bertemu dan akhirnya bertemu lagi, namun terasa kosong saat telah berpisah.
Lalu aku termenung. Jawabannya, ya. Aku pernah merasakannya. Rasa yang sama untuk mereka. Saat bersama, saat bertemu, dan saat berpisah.
Kau takkan menggubris perasaan ini jika kau sudah mengenal internet dengan baik, sehingga tak merasa terpisah jarak dan waktu dengan mereka, orang-orang yang menemanimu dan tumbuh bersamamu di kala masih kecil.
Beda rasanya, ketika kecanggihan itu tak menghantarmu ke kedekatan yang diharapkan, atau kau tak tau bagaimana cara menghubungi mereka kecuali menyapa mereka di depan rumah dan mengajak mereka bermain, seperti kanak-kanak dulu.
Masa-masa tak terlupakan yang akan membuatmu tersenyum dan ingin kembali mengulangnya, karena dengan mereka kau temukan tawa itu. Sifat jenakamu dan keahlianmu lompat tali, atau bermain sepeda lalu jatuh dan menangis. Itu telah terhenti dimakan zaman.
Dan ketika...
Ketika kau dewasa, ketika kau menapaki langkah dengan semakin tegap dan gagah, bahkan saat kau semakin mandiri sekalipun, kau akan pulang. Pulang pada kenangan itu, pulang pada orang-orang itu. Menemukan mereka, mengajak bersua, dan bersifat jenaka lagi. Percayalah, kedewasaan itu tidak dilupakan, namun kekanakanmu akan keluar dari ambang batasnya karena kau tahu dengan siapa pada akhirnya kau luapkan itu di masa saat ini.
Jangan pernah lupa. Dari sekian banyak kisah yang ditorehkan dalam hidup ini, kamu memulainya dari masa kanak-kanak. Mulailah menggali maknanya, kenapa kau bisa sampai sekarang, siapa yang menemanimu, siapa yang sama-sama mengejar cita, hingga rela berpisah dan bertaut lagi pada kampung halaman penuh cerita.
Kekosongan itu ada. Dia akan datang pada waktunya. Ketika kembali berjumpa teman dan ketika berpisah. Ada dalam hati berpikir: bukankah dulu dia dan saya masih kecil? Ah, secepat inikah waktu berlalu? Kami sudah sebesar ini... kami bertemu lagi, dengan raut semakin tegas dan pikiran semakin tajam. Kami kah yang dulu saling bermain hingga kotor dan berkeringat? Ah... sudah terlalu lama. Aku belum rela mereka pergi, aku ingin bermain lagi. Marilah kita bermain bola, atau petak umpet. Kamu masih tahu Paman Dolib? Bukankah dulu kamu paling sering jadi anak bawang?
Mari bermain lagi teman. Kita masih seperti dulu. Hanya saja kita telah menemukan jati diri dan melangkah maju.
Kau tetap sahabatku.
Kau.
Kalian.
Teman sepermainan.
Komentar
Posting Komentar