Yang Berharga Yang Kulepas.

Mengapa yang berharga baru terasa saat dia telah pergi?
Apakah hati ini salah menghukum diri sendiri?
Hanya saja diri takut untuk menanggapi serius kembali. Bukan soal apa-apa, tapi diri ini takut akan kemungkinan terbesar menyakiti lebih lagi.
Sudahlah, toh akhirnya yang berharga terlepas dari genggaman. Kapan lagi diri ini dapatkan dia yg mengalah tanpa batas?
Di mana lagi diri temukan tawa yang utuh tanpa pemaksaan?
Siapa lagi... siapa lagi yang bisa mengerti diri ini dengan kenyamanan yang nyata tapi jarang ditemui?
TIDAK ADA LAGI.
Bersedihlah karena kerapuhan akan singgah lebih lama. Seperti lumut yang tumbuh di bebatuan tapi akarnya meremukkan, begitulah kisah ini akan tertanam tanpa akan dipulihkan.

Berbahagialah dia. Karena melepaskan yang pantas dilepas. Ya. Berterimakasihlah pada b*tch yang sudah menoreh luka, tanpa perlu menikam lebih dalam.

Jangan ada lagi kenangan, bahkan yang sengaja dibuat dengan konsep stop motion dan kau jadikan video sebagai kado terindah. Atau janganlah kau buat diri ini memaksa menutup rasa bersalah dengan arloji coklat tanpa detik itu, atau bengbeng yang jadi saksi bisu itu.

Ah, cukuplah.
Diri ini telah lepaskan, maka akhirnya tak datang kembali.
Kado terindah.
Nothing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Ketika Teman Jadi Bangsat !