LOGIKA DAN HATI
daripada kemudian ditinggalkan dan lebih sendirian lagi.
Mungkin diam lebih menenangkan daripada harus mendengar suaranya memanggilmu,
supaya di kemudian hari tidak menjadi bergantung pada belaiannya.
Mungkin, jika akhirnya harus memilih, mungkin, yang terbaik adalah tidak memulai segalanya.
Segala yang pahit,
yang memberi tangis,
menyisakan luka,
meraut kesedihan,
mengumbar kesah gelisah
menyendirikan diri sendiri.
Kepingan yang disebut kepercayaan kini hanya tinggal nama,
pergi entah kemana.
Akhirnya pun itu semua di balas dengan dusta,
yang entah kenapa dulu pernah membuat percaya.
Sakit bila mengingat rasanya ditelantarkan.
Dibiarkan hanya dia menyendiri dalam waktu.
Menghitung setiap detakan yang diciptakan jarum jam.
Semuanya sirna dalam satu masa dan rasa.
Keberpihakan hati kadang menyilaukan logika,
hati lebih memilih hal yang dirasa perlu dipertahankan,
yang logika rasakan adalah itu menyakitkan.
Tapi itulah hati,
memilih tanpa menggunakan perhitungan.
Terlalu cepat dan terlampau sakit hati.
Apa hati akan menerima pilihannya?
Hanya waktu yang akan membantu menyediakan jawaban.
Dan hati pula yang menemukan jawaban,
Bila membutuhkan, kejar.
Bila membahagiakan, jaga.
Bila mencintai, pikir.
Bila terluka, let it go.
Semua ada waktunya,
semua ada bayarannya,
hanya untuk imbalan
atas setiap pilihan.
(L. M)

Komentar
Posting Komentar