Sebab Akibat (Antara Ketulusan dan Sandiwara)
Banyak yang berlalu-lalang di kepala, berusaha terkuak untuk ditulis dalam untaian kata nan terbatas, untuk dikenangkan dalam memori ratusan bite komputer dan menelusuk hingga ke dalam rumitnya dunia.
Bukan diriku tak sanggup menorehkan isi kepala ini, hanya saja awal untuk memulainya sangat sulit kutentukan. Aku lebih berbakat memulainya pada pertengahan daripada mengawalinya dengan baik. Hanya karena itu terasa aneh bagiku, memulai sesuatu kadang jadi paranoid tersendiri, trauma akan datang laksana mimpi buruk, dan awal dari apa yang hendak kumulai adalah petaka dahsyat.
Bukan juga karena diriku terlalu takut dengan trauma diri sendiri ini, diriku terlalu terbuai dengan keadaan tanpa suara, tanpa ungkapan dan tanpa hadirnya. Jika akhirnya aku mencoba hadir dalam ketidakhadiran, itu seperti mencoba menilai bagaimana ikan bisa terbang, semuanya mustahil untuk dilihat.
Gelora hati ini ingin tuliskan kekuatan dan dorongan cinta namun masih ada rasa bimbang. Memilih itu tak mudah, bahkan ketika itu adalah keputusan terbesar. Dan ketika harus dihadapkan pada pilihan sulit itu, yang ada hanyalah bimbang. Katakanlah kamu harus menyelamatkan salah satu dari dua orang yang terapung di laut tak bisa berenang, hanya seorang yang harus kau pilih, dan keduanya adalah orang terkasih. Pilih siapa? Berat? Ya. Coba mengertipun percuma, karena pilihan bukan untuk orang yang tidak benar-benar ada di posisi itu. Dia adalah diri sendiri, bukan orang yang coba dan mau mengerti. Ketika semua amat beresiko tapi menuntun pada kemauan orang lain itu, pilihanmu akan goyah pada orang itu. Dan hati jadi tak berperan aktif.
Pilihan juga seperti matematika. Cara pengerjaan dengan sebuah rumus, tapi salah perhitungan bisa memberi hasil berbeda, desimal berbeda dan jawaban berbeda. Hitung kali bagi jadi hal penting. Pilihan tidak main-main.
Jangan pula berberat hati pada mereka yang menawarkan kebaikan di awal, karena entah kenapa hal-hal seperti itu benar-benar membuatku muak. Jangan terlalu menilai kebaikan secara garis besar bahwa itu tulus, anggaplah itu rayuan. Kapan rayuan itu sirna dan digantikan ketulusan yang sebenarnya, yang bukan sandiwara atau ketamakan. Bukan yang sifatnya menjebak atau menyerang, hanya suatu ketulusan. Mengalah pada awalnya, hingga akhirnya.
Itulah betapa pilihan menjadi hal paling kruasial dan fatal dalam langkahku kali ini. Pilihan sulit yang mungkin ditentang banyak orang, dicaci sekian musuh dan dijempoli sedikit dari sahabat yang mengerti.
Pilihan hanya untuk diriku, motivasi dan pendapat hanya jadi Kebijakan dan Privasi, bisa saja diri ini setujui atau kuabaikan.
Terima kasih untuk hati, coba menilai bahkan saat semuanya lebih spektakuler dari ajang pencarian bakat, lebih rumit dari matematika dan lebih beresiko dari operasi dan bedah.
Bukan diriku tak sanggup menorehkan isi kepala ini, hanya saja awal untuk memulainya sangat sulit kutentukan. Aku lebih berbakat memulainya pada pertengahan daripada mengawalinya dengan baik. Hanya karena itu terasa aneh bagiku, memulai sesuatu kadang jadi paranoid tersendiri, trauma akan datang laksana mimpi buruk, dan awal dari apa yang hendak kumulai adalah petaka dahsyat.
Bukan juga karena diriku terlalu takut dengan trauma diri sendiri ini, diriku terlalu terbuai dengan keadaan tanpa suara, tanpa ungkapan dan tanpa hadirnya. Jika akhirnya aku mencoba hadir dalam ketidakhadiran, itu seperti mencoba menilai bagaimana ikan bisa terbang, semuanya mustahil untuk dilihat.
Gelora hati ini ingin tuliskan kekuatan dan dorongan cinta namun masih ada rasa bimbang. Memilih itu tak mudah, bahkan ketika itu adalah keputusan terbesar. Dan ketika harus dihadapkan pada pilihan sulit itu, yang ada hanyalah bimbang. Katakanlah kamu harus menyelamatkan salah satu dari dua orang yang terapung di laut tak bisa berenang, hanya seorang yang harus kau pilih, dan keduanya adalah orang terkasih. Pilih siapa? Berat? Ya. Coba mengertipun percuma, karena pilihan bukan untuk orang yang tidak benar-benar ada di posisi itu. Dia adalah diri sendiri, bukan orang yang coba dan mau mengerti. Ketika semua amat beresiko tapi menuntun pada kemauan orang lain itu, pilihanmu akan goyah pada orang itu. Dan hati jadi tak berperan aktif.
Pilihan juga seperti matematika. Cara pengerjaan dengan sebuah rumus, tapi salah perhitungan bisa memberi hasil berbeda, desimal berbeda dan jawaban berbeda. Hitung kali bagi jadi hal penting. Pilihan tidak main-main.
Jangan pula berberat hati pada mereka yang menawarkan kebaikan di awal, karena entah kenapa hal-hal seperti itu benar-benar membuatku muak. Jangan terlalu menilai kebaikan secara garis besar bahwa itu tulus, anggaplah itu rayuan. Kapan rayuan itu sirna dan digantikan ketulusan yang sebenarnya, yang bukan sandiwara atau ketamakan. Bukan yang sifatnya menjebak atau menyerang, hanya suatu ketulusan. Mengalah pada awalnya, hingga akhirnya.
Itulah betapa pilihan menjadi hal paling kruasial dan fatal dalam langkahku kali ini. Pilihan sulit yang mungkin ditentang banyak orang, dicaci sekian musuh dan dijempoli sedikit dari sahabat yang mengerti.
Pilihan hanya untuk diriku, motivasi dan pendapat hanya jadi Kebijakan dan Privasi, bisa saja diri ini setujui atau kuabaikan.
Terima kasih untuk hati, coba menilai bahkan saat semuanya lebih spektakuler dari ajang pencarian bakat, lebih rumit dari matematika dan lebih beresiko dari operasi dan bedah.
Komentar
Posting Komentar