Relationship Jaman Now (Bongkar-Bangkir Masa Alay)
Sampai kapan kita terpaku pada hubungan biasa saja yang tidak mendewasakan?
Membangun hubungan kadang menyenangkan menurut kita, tanpa perlu banyak ba-bi-bu kita akan ada hubungan atau relasi yang manis terjalin. Dan, ya, tergantung bagaimana kita mempertahankannya.
Mungkin sebelum banyak berbicara bagaimana mempertahankan hubungan, kita perlu menalarkan bagaimana memulai hubungan itu sendiri. Kita sama-sama tahu, hubungan yang saya maksud adalah hubungan asmara, percintaan, yang bukan hanya cinta awal SMA. Menurut saya, sudah waktunya kita memikirkan hubungan sebagai sesuatu yang penting, bukan hanya sebagai kebutuhan saat pernah muda, namun lebih karena kita bertanggung jawab atau hubungan yang kita mulai sendiri.
Saya tak menyangkali bahwa berpacaran 'alay' atau 'labil' adalah hak semua anak muda di luar sana, yang bahkan anak SD pun termasuk -_-
Beberapa kali saya mengamati adik-adik saya yang masih SMP, lugu dan polos mulai mengenal kata-kata puitis penuh kode keras yang biasanya hanya saya temui pada kalangan teman seusia saya. Beberapa kali saya mesti berusaha menginterogasi alasan-alasan dia makin 'alay', dan kenapa saya jadi melupakan masa-masa alay saya dulu. Kalau diingat, masa SMP saya lebih banyak aib dibandingkan adik saya. Dan saya menolak ingat hal-hal itu. Lupakan.
Hubungan pacaran anak yang beranjak dewasa dan mereka yang telah dewasa, dalam hal usia, itu ternyata (memang harus) berbeda.
Beberapa hal yang saya catat sebagai poin penting hubungan pacaran:
1. Tidak cepat dan mudah bilang putus
Jika dulu kamu bisa santai saja bilang putus, maka sekarang adalah saat kita berpikir untuk mempertahankan suatu hubungan. Saya pernah sekalinya marah dan kesal karena sesuatu hal sepele dan mengucapkan kata putus semudah saya makan. Saya sadar itu hanya pengaruh emosi sesaat, dan celakanya, jika akhirnya kita mengucapkan putus, kita tak bisa menarik kembali kata itu apapun yang terjadi. Itu kata paling horor yang tak boleh diucapkan, semarah apapun kita, jika bisa diselesaikan dan dibicarakan baik-baik, kata putus akan redup sendiri.
Mempertahankan hubungan memang tidak mudah, ada banyak hal membuat kita ingin mundur karena tidak pantas disakiti, atau karena menyakiti terlalu dalam dan tak sanggup mengobati. Memang ada banyak faktor yang bisa meruntuhkan hubungan, dan masih beribu alasan bisa jadi sandungan, namun pernah kan kita ingat seberapa kita bahagia dibuatnya, tersenyum dan tersipu karena polah romantis yang spontan, atau hanya karena lelucon receh yang selalu mencairkan suasana apapun itu. Percayalah, tidak ada waktu bagimu untuk memikirkan alasan-alasan putus, dan waktumu juga bukan untuk meratapi kenapa sakit datang tak berujung. Yakini dirimu bahwa suatu hubungan dibangun untuk kedewasaanmu, bukan semata egomu.
2. Konsisten dalam menjaga hubungan
Pernahkah kita tergoda memilih jalan yang salah, menjalin hubungan 'pertemanan khusus' lain di luar sana hanya untuk bermain-main kala bosan? Berhentilah memandang hubungan yang sedang terjalin sekarang sebagai hal untuk mengisi waktu, karena mungkin akan ada orang di luar sana yang ingin memiliki pasanganmu. Pilihan untuk mencari teman baru atau untuk mengisi waktu bukan hal yang benar-benar penting, apalagi alasannya karena pasangan sibuk atau sedang LDR. Bukankah jika diperlakukan sama seperti pemikiran di atas, kita malah akan tersakiti juga?
3. Memupuk dan menjaga kepercayaan
Menurut saya, ada dua jenis kepercayaan yang sering kita jumpai, terutama dalam menjalin hubungan. Yang pertama, kepercayaan yang dilandaskan pada janji. Janji apapun itu. Yang terpenting adalah bagaimana menjaga janji dan kepercayaan itu sekaligus. Seperti poin sebelumnya, kita mungkin tergoda dengan banyak buaian, tapi kita harus punya komitmen menjaga kepercayaan yang diikatkan pada janji bersama. Kedua, kepercayaan yang dirasakan karena hubungan itu sendiri. Kita sadar bahwa kita telah memiliki hubungan dan kita harus menjaga hubungan itu dengan saling percaya. Apa yang dia lakukan, dengan siapa dia sekarang, siapa wanita/pria yang dekat dengannya. Pertanyaan tersebut sering muncul dalam benak kita, dan bila kita tidak menguasai pemikiran kita dengan jawaban yanh positif, mungkin saja kepercayaan akan pasangan kita malah ternodai.
4. Beritahu hubunganmu kepada keluarga atau orang terdekatmu
Bedanya dulu dan sekarang, yang paling saya ingat di benak adalah pacaran jaman SMP hanya untuk senang-senang, untuk ajang mencari kepopuleran dan coba-coba merasakan bagaimana pacaran itu. Dulu pacaran harus sembunyi, tidak boleh ketahuan orangtua. (Bukan berarti saat SMP dulu saya sudah berpacaran ya, ini buah dari pengamatan).
Saya meyakini bahwa pacaran sekarang adalah fase sebelum memantapkan diri untuk ke jenjang selanjutnya, pernikahan. Saya semakin menyadari, di usia 23 tahun ini, adalah usia terbaik memikirkan kemana hubungan yang terjalin harus dibawa. Keseriusan diperlukan di sini, karena semuanya tergantung keputusan dan pertimbangan matang. Memperkenalkan pada orangtua dan keluarga pun memiliki pertimbangannya sendiri. Untuk perempuan, termasuk saya, saya rasa agak sulit mengenalkan pasangan kepada keluarga. Hal ini karena lelaki harus dilihat dari bibit, bebet, bobotnya. Keluarga jadi "juri" paling menentukan dalam hal ini. Namun bagaimanapun, keluarga akan menghargai setiap pilihan. Kitalah yang harus memilih yang terbaik.
Saya membedakan hubungan di masa masih belum dewasa dan setelah 20an tahun sebagai bahan perbandingan kita bersama. Untuk mengukur pemikiran kita yang dulu dan sekarang, dulu kita memang tak bisa menghindari 'kealayan' kita, karena itulah masanya. Sekarang, kita juga tak bisa menghindari keputusan kita, karena di sinilah masanya. Masa depan.





Komentar
Posting Komentar