Dia Dia Dia
"Li, mungkin saat ini memang hari keberuntunganmu..."
Aku hanya bisa tersenyum saat seorang temanku mengatakan hal itu padaku. Aku tak pernah menyangka ataupun berpikir sekilas saja bahwa aku sedang beruntung. Mungkin benar kata mereka kalau aku mengalami beberapa keberuntungan, tapi bukan berarti aku merasakan keberuntungan itu.
Aku bisa mendapatkan apa yang kunantikan selama beberapa lama aku menunggu (barang 3 tahun lebih) dan baru sekaranglah aku bisa mendapatkannya. Bukan hal yang mudah untuk menanti dan menanti hal itu bisa menjadi kenyataan seperti yang aku bayangkan. Dan saat semua itu berlangsung, aku bahkan sudah menjadi bosan lebih dulu. Belum lagi saat aku harus menjalaninya karena itu sudah menjadi kewajiban. Oh My Gosh! So boring! I don't wanna with him again...
Aku tak pernah menyangka bahwa orang yang kunantikan dan dambakan selama ini hanya orang yang biasa-biasa saja dan sangat membosankan! (kekurangan seseorang memang selalu kita sadari setelah kita mengenalnya lebih dekat)
Dan setelah itu ada lagi yang datang padaku dan sekali lagi aku tak dapat menolaknya, malah kuterima dengan senang hati. (bego kah diriku ini?)
tapi ternyata itu menyenangkan. Hanya di awalnya saja... Semua terasa bagai surga saat kamu menemukan dua tambatan hati tapi bagai neraka saat akhirnya satu tambatan itu ambruk tak berbekas!
Itulah yang kurasakan.... Semuanya bagai neraka jahanam yang merenggut semua kebahagiaanku. Aku tak pernah bahagia karena itu, dan aku malah menjadi lebih terpuruk saat aku menyadari kalau yang kucintai adalah orang yang telah meremukkan jantungku ini.
Orang yang berada di sampingku sekarang hanyalah 'teman' karena dia mengisi hari-hari kosongku, tapi tambah hari ternyata aku tambah sayang dan sayang itu semakin besar.
Belum lagi si CAPPUCCINO.
Ternyata dunia ini sangat sempit. Biarpun si Cappuccino sudah merantau ke tanah orang, tapi entah apa yang membuat kami dipersatukan lewat social network (hohoho, bahasanya itu...)
Dia sangat menyenangkan, karena aku baru mengenalnya sesaat. Tanpa sadar aku telah membangun kembali sisa-sisa reruntuhan tambatan yang telah diruntuhkan orang lain itu. Dan sepertinya sudah tugasku menduakan dan diduakan...
Belum saatnya ku beraksi, hanya tunggu saja kapan sakit hati dan keterpurukan datang melandaku dan habislah semua kebahagiaan sesaatku ini
GOD BLESS US
Aku hanya bisa tersenyum saat seorang temanku mengatakan hal itu padaku. Aku tak pernah menyangka ataupun berpikir sekilas saja bahwa aku sedang beruntung. Mungkin benar kata mereka kalau aku mengalami beberapa keberuntungan, tapi bukan berarti aku merasakan keberuntungan itu.
Aku bisa mendapatkan apa yang kunantikan selama beberapa lama aku menunggu (barang 3 tahun lebih) dan baru sekaranglah aku bisa mendapatkannya. Bukan hal yang mudah untuk menanti dan menanti hal itu bisa menjadi kenyataan seperti yang aku bayangkan. Dan saat semua itu berlangsung, aku bahkan sudah menjadi bosan lebih dulu. Belum lagi saat aku harus menjalaninya karena itu sudah menjadi kewajiban. Oh My Gosh! So boring! I don't wanna with him again...
Aku tak pernah menyangka bahwa orang yang kunantikan dan dambakan selama ini hanya orang yang biasa-biasa saja dan sangat membosankan! (kekurangan seseorang memang selalu kita sadari setelah kita mengenalnya lebih dekat)
Dan setelah itu ada lagi yang datang padaku dan sekali lagi aku tak dapat menolaknya, malah kuterima dengan senang hati. (bego kah diriku ini?)
tapi ternyata itu menyenangkan. Hanya di awalnya saja... Semua terasa bagai surga saat kamu menemukan dua tambatan hati tapi bagai neraka saat akhirnya satu tambatan itu ambruk tak berbekas!
Itulah yang kurasakan.... Semuanya bagai neraka jahanam yang merenggut semua kebahagiaanku. Aku tak pernah bahagia karena itu, dan aku malah menjadi lebih terpuruk saat aku menyadari kalau yang kucintai adalah orang yang telah meremukkan jantungku ini.
Orang yang berada di sampingku sekarang hanyalah 'teman' karena dia mengisi hari-hari kosongku, tapi tambah hari ternyata aku tambah sayang dan sayang itu semakin besar.
Belum lagi si CAPPUCCINO.
Ternyata dunia ini sangat sempit. Biarpun si Cappuccino sudah merantau ke tanah orang, tapi entah apa yang membuat kami dipersatukan lewat social network (hohoho, bahasanya itu...)
Dia sangat menyenangkan, karena aku baru mengenalnya sesaat. Tanpa sadar aku telah membangun kembali sisa-sisa reruntuhan tambatan yang telah diruntuhkan orang lain itu. Dan sepertinya sudah tugasku menduakan dan diduakan...
Belum saatnya ku beraksi, hanya tunggu saja kapan sakit hati dan keterpurukan datang melandaku dan habislah semua kebahagiaan sesaatku ini
GOD BLESS US
Komentar
Posting Komentar