Bangga dengan Hasil Karya Sendiri :))

CERPEN ....
Tugas untuk membuat cerpen memang kadang membuatku jenuh karena cerpen itu perlu INSPIRASI dan NIAT. Sayangnya saat aku ingin menulis cerpen, tak ada inspirasi yang hinggap. Dan saat ada inspirasi, aku malah tak niat membuat cerpen.
Tapi suatu malam dengan semangat membara, akhirnya aku menulis cerpen juga ...
(50% nyata - 50% khayalan)
Judulnya : MANTAN DAN KEKASIH
>>> selamat membaca <<<
:D


Mantan dan Kekasih

Semua orang menyalahkan Nessa karena telah memutuskan hubungan dengan Glenn, cowok tampan yang notabene adalah bintang basket SMA Mulia. Padahal dulu teman-teman Nessa yang dengan kesalnya mencemooh dan menggosipkan Nessa yang bukan-bukan saat dirinya masih mempunyai status sebagai pacar Glenn, tapi sekarang mereka menyalahkan dirinya karena menyia-nyiakan bintang SMA Mulia itu. Nessa mengaku menyesal karena telah mengakhiri hubungan mereka, tapi di hatinya yang paling dalam dia merasa lega karena tak menderita sakit hati seperti saat berpacaran dengan Glenn.
Glenn Fernando, kakak kelas yang juga kapten tim basket sekolah mereka adalah cowok dengan predikat Diamond Boy yang telah menyumbangkan banyak piala di lemari kaca yang dipajang di ruang Kepala Sekolah. Bukan hanya mahir dalam olahraga, dia juga adalah vokalis di sebuah band yang namanya telah melambung di provinsi mereka.
Bertolak belakang dengan seorang Kathleen Vanessa. Cewek itu hanyalah seorang cewek biasa-biasa, yang dengan kesederhanaannya itu telah membuat satu sekolah gempar karena dialah yang berhasil meluluhkan hati seorang Glenn. Tak sedikit siswa-siswi SMA Mulia yang mencibirnya terang-terangan karena berpacaran dengan Glenn. Ada yang bilang kalau Glenn hanya memanfaatkan dirinya, ada juga yang bilang Nessa pakai ilmu pelet untuk mendapatkan Glenn.
Tak jarang Nessa mengurung diri dan menangisi semua hujaman yang diterima dari teman-temannya bahkan dari murid yang tak dikenalnya. Dia selalu merasa tak nyaman tiap kali berjalan bersama Glenn karena Glenn yang menjadi pusat perhatian malah berdampingan dengan cewek macam dia. Tapi Glenn tak menghiraukan itu, bahkan dia memamerkan kemesraan dengan Nessa di depan umum tanpa ragu-ragu. Mereka putus baik-baik karena Nessa yang memintanya. Nessa berucap bahwa dia cukup tersiksa tiap kali digosipkan yang buruk oleh teman-temannya. Glenn enggan melepaskannya, tapi dia tak ingin Nessa merasa berat hati karena berpacaran dengannya.
Sudah lebih dari seminggu sejak putusnya hubungan Glenn dan Vanessa tapi tetap saja ada murid yang membicarakan Nessa tiap kali dia lewat di depan mereka. Dengan langkah gontai, Nessa berusaha untuk tak mendengarkan ocehan orang-orang itu hingga seseorang berteriak.
“AWAAAS!!!”
Terlambat. Sebuah bola basket langsung mendarat mulus di dahi Vanessa dan cewek itu langsung tersungkur jatuh di lapangan basket. Nessa benar-benar tak menyadari bahwa dirinya telah melangkah sampai ke tengah-tengah lapangan tempat anak-anak ekskul basket biasa bermain.
Seorang cowok berlari pelan menghampiri Nessa dan mengulurkan tangannya dengan maksud agar Nessa punya tumpuan untuk berdiri. Tapi Nessa tak mempedulikan uluran cowok itu dan bangkit berdiri dengan cepat.
“Maaf,” ucap Nessa pelan seraya berbalik dan pergi.
Saat melangkah, Nessa disoraki oleh semua orang yang melihat kejadian itu. Sorakan mencemooh yang membuat Nessa tak tahan untuk mengeluarkan airmatanya. Dia berlari cepat menuju UKS dan menangis menjadi-jadi di sana.
“Nessa?” panggil seseorang yang suara sudah dihafal betul oleh telinga Nessa. Glenn. Cowok itu masuk ke UKS dan menatap Nessa penuh rasa kuatir.
“Jangan ke sini! Aku tak mau kamu melihatku menangis,” ujar Nessa.
Glenn berhenti melangkah dan hanya berdiri di balik kain gorden yang menghalangi pandangan Glenn pada Nessa yang terduduk di pinggir tempat tidur UKS.
“Kamu baik-baik saja kan?” tanya Glenn. “Sudahlah, tak usah dipikirkan kejadian tadi. Yang melempar bola adalah temanku. Aku sudah menyuruhnya untuk meminta maaf padamu saat pulang sekolah nanti,” kata Glenn. Dia mendengar suara isakan Nessa.
“Aku baik-baik saja. Kamu lanjutkan saja latihanmu!” ucap Nessa.
Glenn menarik napas panjang, “oke. Tapi sebentar pulang sekolah aku yang akan mengantarmu pulang.”
Nessa langsung menyibakkan kain gorden. “Nggak! Aku bisa pulang sendiri!”
Lagi-lagi Glenn menarik napas panjang, “bagaimana kalau aku memaksa?”
Nessa kehilangan akal. Dia tahu sifat Glenn, selalu semaunya sendiri dan tak peduli dengan kemauan orang lain. Bila yang dia mau adalah mengantar Nessa pulang, Nessa harus menurutinya kalau tak mau ada pemaksaan dari Glenn.
“Dasar keras kepala!” gumam Nessa.
Glenn tersenyum penuh kemenangan sambil melangkah keluar dari UKS.
Sekitar setengah jam kemudian Nessa keluar dari UKS dan beberapa cewek yang sudah sangat dihafal wajah mereka oleh Nessa telah berdiri teratur di depan pintu dan menghadangnya.
“Heh, kamu sengaja ya ditimpuk bola supaya bisa bermanja-manja dengan Glenn?” tanya Mitha, cewek jangkung dengan rambut diwarnai pirang sebahu.
“Kamu sadar gak kalau kamu itu bukan siapa-siapanya Glenn?! Kenapa sih selalu mencari perhatian Glenn?” Claudia ikut menimpali.
Donna, cewek bertubuh pendek, berambut panjang sepinggang dan bermata besar maju selangkah hingga jaraknya hanya beberapa sentimeter dari tubuh Nessa.
“Ingat ya, kamu jangan pernah dekatin Glenn! Dia itu gebetanku!” jari Donna lalu mengacung tepat di biji mata Nessa.
Kali ini Nessa bukannya takut dan menangis seperti dulu dia diperlakukan tiga cewek itu. Dia sudah jenuh dengan tingkah mereka yang sok jago dan sok kuat itu. Matanya menantang ketiga cewek itu penuh amarah dan dia maju semakin merapat ke tubuh Donna.
“Silahkan kalian macam-macam denganku. Tapi aku hanya mau bilang, Glenn tak mungkin sebego itu untuk menganggap kalian ada!” sahut Nessa sinis sebelum berbalik meninggalkan ketiga cewek yang terheran-heran itu.
“Sialan tuh orang! Cari mati ya?!” teriak Claudia kesal.

222

Sepulang sekolah, Glenn sudah menunggu Nessa di depan pintu kelas Nessa sehingga peluang Nessa untuk kabur dari cowok itu sangatlah kecil. Dengan bibir manyun dan wajah tak bersemangat Nessa menghampiri Glenn yang sedang mengutak-atik ponselnya.
“Glenn, bisa gak hari ini kita tak pulang bersama?” tanya Nessa.
“Gak bisa, Nes. Aku udah menunggumu dari tadi,” kata Glenn bersikeras.
Nessa memang sengaja berlama-lama di kelas agar Glenn bosan menunggu dan pulang, tapi Glenn terus saja berdiri santai tanpa terbersit rasa bosan.
“Baiklah,” ucap Nessa.
Seperti dugaan Nessa, saat dirinya dan Glenn berjalan berdampingan semua mata langsung mengarah kepada mereka. Nessa menatap Glenn sekilas dan Glenn hanya tersenyum senang sambil menatap ke depan.
“Benar-benar pede cowok yang satu ini!” kata Nessa dalam hati.
Dengan berboncengan dengan Kawasaki biru milik Glenn, mereka lalu meninggalkan area sekolah dengan diikuti tatapan semua orang yang ada di sekitar situ. Glenn tak mengantar Nessa sampai depan rumahnya, tapi berhenti di sebuah taman yang teduh dengan bunga berwarna-warni.
“Kenapa kita ke sini?” tanya Nessa bingung.
Dia tahu betul bahwa tempat inilah yang menjadi saksi bisu saat Glenn menyatakan cintanya pada Nessa. Dan tempat inilah yang menjadi tempat kenangan mereka berdua. Setiap kali pulang sekolah, taman itu menjadi tempat persinggahan mereka.
“Kamu masih ingat taman ini kan? Saat aku ‘menembakmu’, bunga yang kuberikan padamu kupetik di taman ini.”
Nessa mengangguk, “ya. Aku ingat saat itu…”
“Waktu itu juga kamu duduk di ayunan itu, dan sangat terkejut saat aku mendorongmu dengan kuat. Kamu hampir terjatuh dari ayunan itu.”
Kali ini Nessa berani menatap mata Glenn dengan lama. Cowok itu, yang telah memberikannya bunga mawar berwarna merah jambu padanya. Yang saat itu membacakan puisinya yang masih perlu banyak perbaikan, dan dengan tawa lebarnya mengejutkan Nessa saat dirinya menunggu Glenn sendirian di taman itu.
“Aku tahu kok, saat kita putus pun, kamu tetap setia datang ke sini. Tapi bukan dengan senyuman,” ucap Glenn lagi. “Aku ada di setiap hembusan napasmu… tapi kenapa kamu begitu tega ingin hidup tanpaku?”
Nessa mulai berkaca-kaca. Pertanyaan itulah yang tak bisa dijawabnya setiap kali dia memikirkan Glenn. Kenapa dia begitu tega meninggalkan Glenn? Dia tahu bahwa Glenn bahagia bersamanya, tapi kenapa dia tak bisa bertahan? Dia goyah hanya karena sedikit rasa sakit yang dialaminya sedangkan Glenn harus sabar memendam sakit yang dideritanya. Nessa tersadar akan semua ini. Dia tak sepenuhnya sakit hati. Dia hanya tak bisa bertahan dengan berbagai cemooh dari teman-temannya tanpa bisa mengetahui sakit yang Glenn alami.
“Berarti selama ini kamu juga selalu datang kemari?” tanya Nessa sambil menatap sosok yang begitu dipujanya, Diamond Boy SMA Mulia.
Glenn mengangguk bersemangat. “Tapi aku selalu bersembunyi setiap kali kamu ada di sini. Karena… kamu pasti akan langsung berlalu saat melihat diriku.”
“Glenn, aku tak kuat saat bersamamu. Kamu tahu kan, aku selalu dicaci karena tak sebanding denganmu yang adalah bintang bagi semua orang. Teman-teman tak bisa menerima kalau ternyata kamu berpacaran denganku karena aku memang tak sepantasnya ada di sampingmu,” kata Nessa lagi.
“Baiklah. Mungkin dengan menjaga jarak semua ini akan terselesaikan,” wajah Glenn berubah murung. “Itu yang kamu mau kan?”
Dengan berat hati Nessa menganggukkan kepala, mengiyakan pertanyaan Glenn. Dia lalu bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Glenn yang duduk di bangku taman sendirian dengan wajah menahan rasa kesal. Nessa menahan airmatanya agar tak jatuh. Kali ini dia yang harus bertindak, demi kenyamanan dan kebahagiaannya di sekolah.
***
Semenjak kejadian di taman itu, Nessa dan Glenn benar-benar saling menjaga jarak, bagaikan langit dan bumi. Di jalan, bila mereka berpapasan, keduanya tak saling menatap atau bertegur sapa. Seakan mereka ada di alam yang berbeda.
Perlakuan teman-teman terhadap Nessa berangsur-angsur membaik padanya. Tak ada yang mencemoohnya saat dia berjalan menyusuri kelas lagi. Tak ada yang berbisik-bisik dengan wajah penuh cela dan tak ada yang menghadang jalannya sambil memaki dirinya. Nessa tahu semua akan berubah seiring dia tak berdekatan dengan Glenn lagi.
Tapi tiba-tiba hatinya seperti dihujam benda tajam saat dia melihat Glenn berjalan dengan seorang cewek cantik, bintang sekolah mereka juga. Tasya Mariska, murid yang terkenal karena selalu memenangkan lomba TOP Model dan menjadi gadis sampul di beberapa majalah. Cewek itulah yang sekarang sedang berdampingan dengan Glenn di kantin sekolah.
Langkah Nessa terhenti saat melihat kedua bintang sekolah itu bercanda tawa bersama. Mereka kelihatan sangat gembira. Melihat pemandangan itu, Nessa hanya bisa menarik napas sambil berbalik dan berlari meninggalkan kantin.
“Syukurlah kalau dia sudah mendapatkan orang yang tepat,” batin Nessa sambil tersenyum, tapi airmata mengalir di kedua pipinya.
Ada perasaan tak rela saat melihat Glenn bersama perempuan lain. Tapi perasaan itu harus Nessa singkirkan jauh-jauh karena memang dia bukan orang yang tepat untuk Glenn.
Nessa memilih duduk sendirian di luar kelas sembari membaca buku Sejarah saat seorang cowok menghampirinya.
“Hai, Nes!” sapa cowok itu sambil tersenyum ramah.
Nessa menatap cowok itu dengan kening berkerut, “siapa ya?”
Cowok itu masih tersenyum, “kamu lupa ya sama aku? Aku Stinky. Cowok yang gak sengaja menimpuk kepalamu dengan bola basket tempo hari itu.”
“Oh!” Nessa mengangguk-anggukan kepala tanda telah mengingat cowok itu.
“Aku hanya mau minta maaf mengenai hal itu,” tambah Stinky.
Nessa tersenyum, “gak perlu minta maaf kok. Toh kejadiannya sudah berlalu.”
“Tapi tetap aja aku masih merasa bersalah. Kamu gak apa-apa kan setelah kejadian itu?” tanya Stinky seraya mengambil tempat di samping Nessa.
“Setelah kamu nimpuk aku dengan bola, dokter bilang aku geger ringan. Otakku juga jadi lebih lemot dari biasanya!” sahut Nessa asal.
“Yang benar aja? Terus, kenapa gak dirawat di rumah sakit?” tanya Stinky terkejut dan kuatir.
“Bercanda kok. Aku baik-baik saja,” kata Nessa sambil tertawa kecil.
Stinky mengelus dadanya. “Huft, aku pikir kamu beneran geger otak!”
Nessa tersenyum lebar. “Kalau geger otak, mungkin sekarang aku gak normal lagi kan. Bisa saja aku sudah di rumah sakit jiwa sekarang.”
“Hahaha… aku traktir makan ya? Hitung-hitung buat menebus kesalahanku waktu itu. Gimana?” tawar Stinky yang berharap Nessa mau menerima tawarannya itu.
“Makasih. Tapi aku sudah kenyang,” kata Nessa. Padahal tadi dia batal makan karena melihat Glenn dan Tasya di kantin.
“Ya udah, gimana kalau sekaleng minuman soda?” tawar Stinky tak menyerah.
Nessa berpikir sebentar, “baiklah.”
Mereka berdua berjalan bersama menuju ke kantin, ditemani gurauan kocak dari Stinky yang membuat Nessa tertawa lepas. Keduanya tak menyadari ada seseorang yang memperhatikan mereka dan itu adalah Glenn.
“Nessa pasti sudah melupakanku sekarang,” ucap Glenn dengan wajah murung saat matanya menangkap dua sosok itu menuju kantin.
Glenn merasa berat saat harus melihat Nessa dengan orang lain. Tapi itulah yang Nessa inginkan darinya. Dan Glenn hanya bertugas memenuhi keinginan Nessa tanpa harus membuat cewek itu kecewa padanya. Glenn juga akan mencari pengganti Nessa agar dia tak terfokus pada Nessa seorang.
Di kantin, bisikan-bisikan dan tatapan ingin tahu mulai bermunculan. Semuanya karena Stinky dan Nessa yang tiba-tiba masuk ke kantin.
“Wah, wah… ternyata dia itu piala bergilir! Selesai dengan Glenn, dia main sama Stinky!” ucap salah seorang cewek.
Nessa yang mendengar itu hanya bisa menahan napas dan menelan ludah. Dia pikir, dengan menjauh dari Glenn semua akan menjadi normal. Tapi, semua orang memang tak menyukai dia dekat dengan cowok manapun!
“Stinky, mungkin lebih baik kamu tak usah mentraktirku!” Nessa lalu pergi meninggalkan kantin.
Stinky tahu bahwa Nessa sakit hati dengan kata-kata cewek itu, sehingga dia menghampiri cewek itu dengan tatapan datar tapi penuh rasa benci.
“Kalau kamu belum diajarkan sopan santun oleh orangtuamu, biar aku yang mengajarkannya kalau mau!” lalu Stinky berbalik pergi dengan diiringi tatapan terkejut cewek itu.
Stinky mengejar Nessa yang sudah cukup jauh hingga akhirnya langkahnya sejajar dengan langkah Nessa. Dia menghadang jalan Nessa dan cewek itu hanya berhenti dan menundukkan kepala.
“Jangan ganggu aku, Stinky!”
“Nes, kenapa kamu gak bisa bertahan sedikit saja dengan ucapan mereka? Apa yang mereka katakan itu benar-benar menggambarkan kelakuanmu? Sama sekali tidak, kan? Jadi apa gunanya kamu berlari dan menghindari semua itu? Kalau kamu masih punya kekuatan untuk mendengar celaan mereka, kenapa kamu tak punya kekuatan untuk melawan mereka?” kata-kata Stinky mengalir begitu saja.
Nessa mengangkat wajahnya. “Kamu belum merasakan semua itu! Bicara gampang, tapi saat kamu menghadapi itu, sangat susah untuk melawan.”
Stinky mendengus sambil berkacak pinggang, “memang. Perempuan itu terlalu lemah untuk melakukan sebuah perlawanan!”
“Tidak semuanya kok,” ucap Nessa.
Tatapan Stinky melembut, dia menyentuh bahu Nessa dengan kedua tangannya. “Kalau begitu, cobalah untu tidak terpengaruh dengan kata-kata mereka. Bisa kan? Kalau tak bisa, aku siap membantumu….”
Nessa tersenyum. Kali ini dia merasa ada seseorang yang telah mengangkat batu yang selama ini membebani hidupnya, dan orang itu adalah Stinky.
“Apa dia adalah orang yang tepat untuk menjadi malaikatku?” tanya Nessa dalam hati.

222

Glenn harus membagi pikirannya untuk Nessa dan LA Cup yang telah berlangsung. Tim basket yang dipimpinnya telah berhasil unggul dalam beberapa babak pertandingan basket yang diselenggarakan itu, dan dengan usaha keras mereka telah sampai ke babak final. Dia tak punya waktu untuk memikirkan Nessa yang semakin akrab dengan Stinky karena pelatih sekaligus guru olahraga mereka mulai memperketat latihan.
Setiap kali selesai latihan, Glenn mendapati sebotol air mineral di atas tas olahraganya. Dia tak perlu mengetahui siapa yang meletakkan botol air itu, tapi dia selalu tersenyum saat meneguk isi botol itu. Stinky yang selalu memperhatikan gerak-gerik Glenn hanya bisa berwajah datar.
Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pertandingan Rockets melawan Blazers akan segera berlangsung di lapangan LA Field.
Riuh rendah para penonton bergemuruh memenuhi lapangan. Tribun penonton terisi penuh dengan pendukung masing-masing tim. Warna ungu dan perak yang adalah warna khas tim Rockets, tim dimana Glenn dan Stinky bermain, memenuhi hampir seluruh tribun.
“Kamu ngincer MVP kan?” tanya Stinky saat mereka tiba di lapangan tempat pertandingan final berlangsung. MVP adalah gelar bintang atau gelap pemain terbaik untuk pemain basket.
Glenn berbalik dan menatap Stinky, “nggak sama sekali.”
Stinky menarik salah satu alisnya, “terus kenapa kamu terlalu ambisius seperti ini?”
“Aku ingin memenangkan hati seseorang,” kata Glenn sembari berjalan masuk ke lapangan.
Stinky tahu maksud Glenn, dan dia tersenyum lebar, “semoga kamu bisa memenangkan final untuk kita, Glenn!”
Tapi sayang, harapan positif kedua orang itu tak segampang yang dibicarakan. Terlalu keras pertahanan tim Blazers yang adalah juara bertahan kedua se-provinsi setelah Rockets. Mereka selalu memenangkan pertandingan-pertandingan yang diadakan perusahaan swasta dan sepertinya kemampuan mereka sudah lebih terasah.
Poin sekarang 70-75 bagi tim Blazers. Dan tersisa sepuluh menit saja untuk bisa menyamai kedudukan. Glenn lantas tak menyerah. Dia berusaha meraih bola yang selalu dipantulkan lawan di lantai lapangan, dan selalu saja gagal. Saat dia hampir tersungkur karena didorong pemain lawan, matanya menangkap satu orang dengan wajah penuh kekuatiran yang sedang menatapnya.
Nessa. Cewek itu sudah berada tepat di pinggir lapangan. Tak peduli para panitia melarangnya berdiri di situ, tapi yang ingin dilihatnya hanyalah Glenn.
Saat itu Glenn tersadar bahwa bola yang dipantulkan sang lawan melambung dan akan mendarat tepat di wajah Nessa, dan dengan kecepatan penuh Glenn berlari menangkap bola itu sebelum mengenai wajah Nessa. Tapi sayangnya bahu Glenn membentur lantai dengan keras saat dia berhasil menangkap bola itu. Pertandingan dihentikan sementara waktu hingga pergantian pemain. Stinky yang melihat kronologis jatuhnya Glenn hanya tersenyum simpul.
“Sebentar lagi kamu mendapatkan pialanya, Glenn!” ucap Stinky.
Pertandingan dilanjutkan tanpa Glenn. Cowok itu telah dibawa ke ruang medis dan diperiksa kondisinya. Nessa yang tadinya tergesa-gesa untuk ikut ke ruang medis hanya dipersilahkan menunggu di luar. Dia memejamkan mata dan memohon agar Glenn tak menderita cedera parah. Tapi dia terlalu gelisah untuk dapat berdoa dan memohon pada Tuhan.
Akhirnya, setelah sepuluh menit berlalu tim Rockets bisa tertawa lebar karena telah memenangkan pertandingan dengan selisih satu angka saja dari Blazers. Semua pemain Rockets bukannya berselebrasi, mereka malah menuju ruang medis dengan wajah kuatir. Stinky mendapati Nessa di sana dengan mata yang sembap.
Tak berapa lama Glenn keluar dari ruang medis dengan lengan kanan yang di-gips. Semua menyambutnya dan bersorak kegirangan saat mengatakan bahwa mereka berhasil menjadi juara.
Setelah itu, semua pemain keluar dari ruang medis untuk merayakan keberhasilan mereka. Tinggallah Glenn dan Nessa di sana. Nessa masih berdiri kikuk di belakang Glenn, sedang cowok itu tersenyum bahagia.
“Nessa…” Glenn berbalik dan tersenyum pada Nessa.
“Selamat, Glenn!” ucap Nessa. Dia mengulurkan tangan pada Glenn, tapi ditarik kembali tangannya karena kondisi Glenn yang tak memungkinkan untuk berjabatan.
“Makasih,” ucap Glenn.
“Aku senang, karena kamu dengan sigapnya menyelamatkanku dari timpukan bola tadi. Kalau tidak, mungkin sekarang aku yang ada di ruang medis,” kata Nessa dengan senyum manisnya.
“Terima kasih juga buat air yang selalu kamu letakkan di tasku setiap kali aku latihan,” Glenn tersenyum lebar saat dilihatnya wajah Nessa merona merah.
Glenn menatap Nessa lebih dalam dengan matanya yang teduh lalu berkata, “aku tak bisa membohongi hatiku lebih lama lagi. Bila yang kamu paksakan adalah untuk pendapat orang lain terhadapmu, aku harap sudahi sampai di sini.”
“Glenn, aku terlalu egois karena mendengar pendapat orang lain. Biarpun mereka mencelaku dan mencemoohku karena tak sebanding denganmu, aku takkan peduli lagi. Selama perbedaan itu adalah untuk saling melengkapi, aku takkan pernah mau mencari suatu persamaan untuk sebuah hubungan,” kata Nessa penuh arti.
Mata Glenn mengerjap-ngerjap, tanda senang dan terkejut dengan yang dikatakan Nessa.
“Nessa, sejak kapan kamu punya kata-kata yang bermakna sangat dalam seperti tadi?”
Nessa tersenyum kecil, “sejak aku menyadari kalau hanya kamulah mantanku yang layak menjadi kekasihku…”
Glenn tersenyum sumringah sambil menggenggam tangan Nessa dengan tangan kirinya yang tak cedera. “Ya, hanya kamu dan cuma kamu… satu-satunya merpati dalam hatiku.”
Mereka berdampingan menuju lapangan untuk merayakan kemenangan Rockets sekaligus kemenangan Glenn akan hati Nessa.


2  SELESAI 2


Komentar

Postingan populer dari blog ini

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Ketika Teman Jadi Bangsat !

Yang Berharga Yang Kulepas.