Berbagi itu Baik ...


 Cerpen ke-2 ...
aku buatkan untuk temanku, karena dia beralasan tak ada inspirasi untuk membuat cerpen (come on! alasan classic banget! hahaha) tapi mumpung aku baik hati dan tidak sombong, aku memberikan beberapa pilihan cerpen (berhubung cerpenku banyak)... dan dia memilih cerpen ini...
Check this short story ... !
:))

DATANG DAN KEMBALI

“Huh! Bosan juga kalau tiap hari harus belajar. Gak ada kegiatan lain!” ucap Kayla pada Lina saat mereka pulang sekolah. Mereka berdua berjalan menuju mini market untuk membeli minuman.
Setelah dahaga mreka terpuaskan dengan minuman dingin yang mereka beli di mini market, mereka lalu menuju halte tempat biasa mreka menunggu angkutan. Dan tiba-tiba Kayla berteriak sebelum mereka sampai di halte.
“Lin, itu!” ujar Kayla sambil menunjuk ke arah halte. Lina mengikuti arah telunjuk Kayla dan seketika mereka terbelalak.
“Bukannya dia…” kata Lina.
“Iya! Dia kan…” Kayla memandang Lina. “Gabriel, mantanku!”
Cowok yang mereka maksudkan sedang berdiri menunggu angkutan di halte. Kayla dan Lina membatalkan niat mereka untuk menunggu di halte dan mereka malah berjalan kaki ke rumah masing-masing. Untungnya rumah mereka tak terlalu jauh dari sekolah, walau terasa jauh kalau ditempuh dengan berjalan kaki.
“Maaf, Lin. Habis, aku gak mau ketemu sama dia lagi. Dia nyebelin!” ujar Kayla pada Lina saat mereka sudah berjalan cukup jauh.
“Gak apa-apa. Yang penting kamu traktir aku di kantin besok!” ujar Lina sambil nyengir kuda.
“Dasar!”

+++

Sesampainya di rumah, Kayla langsung mengganti pakaiannya dan langsung menyantap makan siangnya. Hari ini dia capai sekali karena berjalan kaki. Tapi sebelum dia memakan makanan yang sudah ada di depannya, tiba-tiba ponselnya bordering.
“Telepon! Nomor baru” tanya Kayla sebelum mengangkat panggilan telepon tersebut. “Halo?”
“Hai! Apa ini Kayla?” tanya seorang cowok di seberang telepon.
“Iya. Ini siapa?” tanya Kayla.
“Kamu gak ingat siapa aku?” ucap cowok itu lagi.
Kayla memutar otaknya dan mengingat-ingat, lalu dia terbelalak.
“Kamu!!” Kayla terkejut.
“Aku Gabriel…”
“Gabriel?!” Kayla semakin histeris.
“Kamu kaget ya? Maaf deh,” kata si cowok dengan nada suara menyesal.
“Gak kok. Aku cuma heran, kamu ternyata masih menyimpan nomor ponsel aku…”
Gabriel tertawa, “kalau nomor ponsel kamu sih sudah aku hafal di luar kepala!”
Untuk sementara Kayla melupakan rasa laparnya. Dia keasyikan berbicara dengan Gabriel di telepon.
Mereka sebenarnya tak pernah memutuskan kalau hubungan mereka berakhir. Tapi setelah melihat keakraban Gabriel dengan seorang cewek, Kayla terbakar cemburu dan tak pernah berhubungan lagi dengan Gabriel. Mungkin tindakan itu bodoh, tapi Kayla memang sudah curiga ada yang tak beres dengan Gabriel. Dan mungkin sekarang Gabriel sudah punya penggantinya.
“Eh, ngomong-ngomong kamu sudah punya pacar belum?” tanya Gabriel tiba-tiba.
“Aku? Mmm… udah,” Kayla berbohong. Dia tak mau Gabriel menyangka dirinya masih mengharapkan Gabriel.
Sorry ya, udah ganggu. Nanti cowok kamu marah lagi,” ujar Gabriel.
“Gak kok. Kamu sendiri? Udah punya cewek?” tanya Kayla ingin tahu.
“I, iya. Kamu nggak marah kan?” tanya Gabriel.
“Buat apa aku marah? Kamu bebas pacaran sama siapa saja. Lagian, di antara kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi,” kata Kayla panjang lebar.
“Iya juga. Ya udah, kamu makan gih! Pasti sekarang perut kamu udah keroncongan,” suruh Gabriel.
“Kok kamu tahu kalau aku belum makan?”
“Ya iyalah! Dari dulu, aku menelponmu sebelum makan siang dan makan malam, Atau sudah berubah jadwal makanmu?” ujar Gabriel membuat Kayla sedikit senang.
“Ya udah. Aku makan dulu ya? Bye!” ucap Kayla. Tapi dia bukannya makan, malah melompat-lompat kegirangan menuju kamarnya.
Dia membanting pintu kamarnya dan rebah di tempat tidur.
“Apa kita bisa bersama lagi? Apa ini sebuah pertanda? Tak ada salahnya kan kalau aku berharap?” ucap Kayla sambil mentup wajahnya dengan bantal.

+++

Kayla berangkat ke sekolah dengan perasaan senang. Hari ini entah mengapa dia jadi bersemangat ke sekolah. Lina yang melihat sikap Kayla yang senyam-senyum seniri menjadi keheranan.
“Kamu kenapa sih? Senyam-senym gak jelas gitu! Kesambet ya?” tanya Lina saat mereka ke kantin.
“Hah? Masa?” ujar Kayla. “Perasaan kamu aja!”
“Terserahlah!” Lina jadi pusing dengan tingkah cewek yang satu ini.
Di kelas pun begitu. Kalau guru mengajar di depan, Kayla senyum terus walau guru menegur dan memarahinya.
“Apa dia lagi faling in love?” batin Lina saat mereka pulang. “Kayla, ada nggak cowok yang kamu taksir?”
“Hmm… ada. Banyak! Dino, Harry, Petter, Rio, Alvin…”
“Bukan itu maksudku! Yang kamu naksir banget!” timpal Lina.
“Siapa ya? Nggak ada tuh!” ujar Kayla enteng. Lina hanya menggeleng-geleng kepala.
“Kalau dia nggak jatuh cinta, terus kenapa dia senyum-senyum kayak tadi? Apa mungkin dia gila?” pikir Lina.
Mereka menunggu angkutan di halte biasanya. Hari ini Kayla tak mau menghindar dari Gabriel lagi kalau Gabriel juga menunggu di halte itu. Dia malah bersemangat untuk pergi ke sana.
“Mudah-mudahan dia ada di halte,” batin Kayla.
Lina hanya manyun. Apa mungkin Kayla dan Gabriel sudah kembali pacaran? Tapi kemarin Kayla tak mau menemui Gabriel.
“Huh, orang aneh!” sahut Lina saat Kayla meninggalkannya berdiri sendiri di depan sekolah. “Eh, tunggu Kayla!”
Kayla celingak-celinguk mencari cowok itu. Tapi batang hidung cowok itu pun tak terlihat. Lalu tiba-tiba Kayla tersadar.
“Ya Tuhan! Apa yang aku lakukan?? Kenapa juga aku buru-buru ke sini untuk melihatnya? Sadar Kayla! Dia sudah menyakiti kamu duluan!” batin Kayla.
Saat angkutan berhenti, Kayla cepat-cepat naik diikuti Lina. Tapi kemudian dia menyesal. Cowok yang membuatnya tak sabar ke halte itu baru saja tiba di halte saat angkutan yang ditumpangi Kayla menjauhi halte.
“Sial!” ucap Kayla.

+++

Karena ingin menghilangkan rasa frustasinya terhadap kejadian siang tadi, Kayla memutuskan untuk jalan-jalan ke mall sendirian. Dia ingin mengajak Lina, tapi Lina bilang dia punya urusan penting.
Kayla sedang berjalan melewati sebuah restoran saat dia melihat seseorang yang dia kenal berada di dalam restoran.
“Gabriel?”
Lalu Kayla melihat seorang cewek berdiri membelakanginya tepat di depan Gabriel. Kayla terbelalak kaget. Dia merasa sakit dan marah. Kalau saja dia tak melihat Gabriel dan Lina berpegangan tangan….
Kayla langsung berlari meninggalkan mall. Dia hanya ingin pulang dan tak mau melihat orang-orang itu.
Saat malam, Kayla sama sekali tak bisa tidur. Lalu ponselnya bordering. Saat melihat nama orang yang menelpon, dia langsung mematikan ponselnya.
“Cukup sudah kamu menyakitiku, Gabriel!” kata Kayla sambil melempar ponselnya ke lantai.

+++

Kayla tak sarapan saat pergi ke sekolah. Dia berwajah datar dan tak mau bicara pada siapapun hingga Lina menyapanya.
“Hai, Kayla! Eh, kamu sakit?” ucap Lina kaget.
“Sudahlah! Kamu pergi saja!” kata Kayla sambil mendorong tubuh Lina.
Lina jadi heran dengan sikap Kayla. Kayla tak mengajaknya ke kantin saat istirahat, tak berbicara dengannya saat mereka berdua di kelas, bahkan Kayla seperti menganggap Lina tak ada. Lina tak tahan, dan dia langsung menanyakan perubahan sikap Kayla itu padanya.
“Kayla, kenapa sih kamu dingin gitu sama aku?” tanya Lina saat pulang sekolah.
“Kamu pura-pura tak tahu ya? Munafik!” ucap Kayla dingin. Dia meninggalkan Lina di kelas sendirian. “Sekarang topeng kamu sudah terbuka, Lin!”
Kayla berjalan sendiran menuju halte. Dia ingin cepat-cepat pulang dan melampiaskan kekesalannya di kamarnya. Dia berdiri di dekat tiang halte saat seseorang menegurnya.
“Hai!”
Kayla berbalik dan melihat orang itu. Wajah Kayla yang mendung menjadi semakin mendung, bahkan adah halilintarnya.
“Kok diam sih?” tanya Gabriel. “Lina mana?”
“Cari saja sendiri! Aku bukan mamanya!” sahu Kayla. Dia lalu menjauhi Gabriel. Tapi Gabriel yang tak tahu suasana hati Kayla terus saja mengoceh.
“Nih hari mendung banget. Kayaknya ada yang patah hati nih!” ujar Gabriel.
Kayla langsung menatap Gabriel tajam.
“kamu memang nggak punya perasaan, Ga!”  ujar Kayla sembari menaiki sebuah angkutan yang berhenti. Gabriel hanya bisa bengong dengan ucapan Kayla.
Kayla semakin kesal kepada kedua orang itu. Apa mereka tak tahu apa yang sudah mereka berdua lakukan sampai membuatnya kesal?
Di ruamh, Kayla tak makan, bahkan tak bicara. Dia mengurung diri di kamar dan terus terbayang kejadian saat Gabriel dan Lina berpegangan tangan.
“Kenapa Lina melakukan hal itu? Padahal dia tahu aku pernah pacaran sama Gabriel!”
Dia hamper saja menangis saat pintu kamarnya diketuk dari luar.
“La, ada yang cariin!” kata Mama.
“Bilang saja Kayla nggak ada!” kata Kayla, setengah berteriak.
“Tapi Mama sudah bilang kamu ada….”
Kayla yang kesal lalu menghapus airmatanya dan membuka pintu. Betapa terkejutnya dia saat melihat orang itu berdiri tepat di sebelah mamanya dan di depan kamar.
“Mama ke dapur dulu ya?” ucap Mama lalu meninggalkan Kayla dan Lina.
“Kenapa kamu di sini?”
“Aku mau jelasin semuanya!”
“Nggak ada yang perlu dijelaskan. Pulang saja,” kata Kayla tanpa memandang Lina.
“Kamu pasti berpikir kalau aku pacaran sama Gabriel kan?” ucap Lina. Kayla langsung bergeming. “Kamu pasti mikir kalau aku bukan teman yang baik.”
“Kamu baru sadar?”
“Kalau kamu masih mau dengar penjelasan aku, kamu harus ikut aku!” kata Lina sambil menarik tangan Kayla. Kayla berusaha melepaskan tangannya, tapi genggaman Lina terlalu kuat.
Lina menarik Kayla ke depan rumah. Dan Kayla terkejut bukan main saat melihat Gabriel ada di halaman rumahnya.
“Aku dan Lina sama sekali nggak pacaran,” ucap Gabriel.
“Kalian bohong! Aku nggak mau deng…”
Kamu cinta gak sama Gabriel?” pertanyaan Lina membuat Kayla terdiam. “Kamu marah karena mengira aku pacaran sama Gabriel kan? Atas dasar apa kamu marah? Kamu kan gak punya hubungan khusus sam Gabriel!”
“Itu…” Kayla tak tahu harus bicara apa.
“Lin, sudah deh!” kata Gabriel.
“Kayla, aku sahabat kamu. Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan sekarang. Aku dan Gabriel nggak punya hubungan apa-apa!” kata Lina.
Kayla menatap Lina dan Gabriel bergantian.
“Terus, yang aku lihat di mall itu apa? Kalian berpegangan tangan!”
Lina tersenyum, “aku dan Gabriel ketemuan buat bicara CLBK kamu sama dia. Aku tuh nggak sabar untuk memberitahu kamu soal CLBK, jadi Gabriel menarik dan menahanku.”
Gabriel hanya terdiam.
“CLBK?” tanya Kayla bingung.
“Eh… ah… itu biar Gabriel saja  yang menjelaskan,” ujar Lina. Dia lalu menuju ke dalam rumah dengan dalih meminjam toilet.
Gabriel mendekati Kayla.
“Bisa nggak kita duduk dulu?” tanya Gabriel. Kayla berjalan menuju anak tangga di teras dan duduk.
“Begini, yang kamu lihat di mall itu salah paham saja.”
“Iya. Aku tahu. Lina kan sudah menjelaskannya,” kata Kayla.
Gabriel lalu terdiam.
“Kamu mau bicara apa?” tanya Kayla lagi. Dia hamper mati penasaran karena sikap Gabriel yang diam saja.
“Itu… aku…” Gabriel terbata-bata. “Begini, selama ini aku selalu teringat sama kamu. Padahal aku udah berusaha untuk tak terlalu mengingat semua tentangmu….”
Kayla tertunduk, “kenapa nggak to the point saja sih? Kenapa dia gak langsung saja bilang kalau dia pacaran sama Lina?” batin Kayla.
“Waktu itu di halte. Rasanya senang banget bisa lihat kamu lagi,” kata Gabriel.
“Ga, aku mau masuk saja,” kata Kayla yang sudah tak sabaran.
“Eh, tunggu! Aku belum selesai.” Gabriel menahan Kayla. “Aku hanya mau kamu tahu, yang kamu lihat di mall itu hanya salah paham. Mmmh, itu… aku ngomong sama Lina tentang perasaanku. Sharing gitu. Tapi Lina malah mau langsung kasih tahu kamu, jadi aku menarik tangannya.”
“Tunggu dulu! Dari tadi kamu sama Lina ngomongnya nggak jelas deh! Perasaan apa sih?”
Gabriel lalu tersenyum saat menatap Kayla.
“Aku bohong kalau aku sudah punya pacar. Hanya kamu yang ada di sini,” Gabriel meletakkan tangannya di dada.
Saat itu, wajah Kayla bersemu merah.
“Orang yang kutunggu selama ini, sekarang datang dan kembali,” batin Kayla.



[SELESAI]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Ketika Teman Jadi Bangsat !

Yang Berharga Yang Kulepas.