08.10.2012 END >>>
PACARAN TAPI KAYAK ORANG JOMBLO !!!
Itu yang terlintas dalam benakku sekarang ini :(
Sudah hampir delapan bulan kami menjalin hubungan, tapi yang aku terima sekarang ini ternyata amat sangat menyakitkan. Bagaimana tidak, dia yang ada di perantauan sana sama sekali tak memberikan kabar padaku. Aku bisa mengerti kalau memang dia sibuk (kuliah atau hal lainnya) tapi pengertian ini lama kelamaan jadi terkikis digantikan rasa curiga yang memang sudah lama kutanamkan dalam benak ini!
Kecurigaanku sekarang ini memang beralasan, mengingat saat dulu dia pernah main belakang dariku dan dengan tanpa beban dia mengakui itu padaku saat kami bicara di telepon.
aku tersenyum, bukan karena dia mengakui kesalahannya tapi karena dugaanku tak meleset sama sekali. Ini membuktikan kalau naluri wanita memang tak pernah salah !
Wanita yang telah menjadi selingkuhannya itu ternyata lebih tua dariku, otomatis aku mempunyai respect padanya. Dan aku sama sekali tak marah pada pacar sekaligus selingkuhannya itu.
Aku hanya lebih kecewa pada dirinya.
Aku menangis malam itu, saat tau dia tak bisa menjadi setia sedikitpun pada diriku.
Mungkin memang harus begitu adanya, dimana aku mendapat karma atas kelakuanku dulu...
[aku selingkuh dari seseorang yang pernah kucintai, dan akhirnya dia membenciku hingga saat ini. kami tak pernah saling menegur atau bicara sedikitpun. Menengokpun hanya sekilas. Aku tak pernah memarahinya atau membencinya, malah dia yang mengatakan bahwa dia tak pernah ingin mengenalku lagi karena hal itu. Aku tak bisa melakukan apapun karena memang semuanya telah terlanjur basah. Aku memang bodoh karena menyakitinya, tapi rasa sakit itu telah berubah jadi rasa benci yang semakin hari semakin menumpuk. Teringat saat aku melihatnya di jalan dan saat itupun hatiku langsung berdebar, dan dengan kecepatan penuh aku langsung berjalan menjauh darinya! Huuft, hatiku selalu tak tenang setiap melihat dirinya. Aku tak ingin mengenalmu lagi, aku sudah terlanjur benci padamu. itu kata-katanya waktu itu. Sedih yaa ??]
Dan sekarang, naluriku mengatakan hal yang sama. Lebih parahnya, aku berpikir bahwa dia benar-benar tak menganggapku ada dan sudah melupakanku semenjak dia kembali ke perantauannya.
Okelah, terserah anda saja :)
aku juga sudah capek dengan semua ini! Menunggu dan hanya menunggu. Tak ada yang pasti... Lebih baik kita tak saling menganggap keberadaan masing-masing, daripada nantinya malah kita tak tau harus berkata apa saat telah bertemu lagi.
Kamu memang bukan untukku.
Dulu, saat aku hanya mendambakanmu, aku selalu berdoa pada Tuhan supaya aku bisa selalu melihatmu. Tapi Tuhan menjawab doaku dengan membiarkanmu pergi jauh dariku.
Lalu Tuhan menjawab lagi doaku, dengan menjadikanmu pacarku.
Setelah itu aku merasa seperti melambung di angkasa. Tiada yang lebih membahagiakan dari pada menjadi pacarmu saat itu.
TUHAN MEMANG SELALU MENDENGAR DOA ANAK-ANAKNYA...
Itu yang terlintas dalam benakku sekarang ini :(
Sudah hampir delapan bulan kami menjalin hubungan, tapi yang aku terima sekarang ini ternyata amat sangat menyakitkan. Bagaimana tidak, dia yang ada di perantauan sana sama sekali tak memberikan kabar padaku. Aku bisa mengerti kalau memang dia sibuk (kuliah atau hal lainnya) tapi pengertian ini lama kelamaan jadi terkikis digantikan rasa curiga yang memang sudah lama kutanamkan dalam benak ini!
Kecurigaanku sekarang ini memang beralasan, mengingat saat dulu dia pernah main belakang dariku dan dengan tanpa beban dia mengakui itu padaku saat kami bicara di telepon.
aku tersenyum, bukan karena dia mengakui kesalahannya tapi karena dugaanku tak meleset sama sekali. Ini membuktikan kalau naluri wanita memang tak pernah salah !
Wanita yang telah menjadi selingkuhannya itu ternyata lebih tua dariku, otomatis aku mempunyai respect padanya. Dan aku sama sekali tak marah pada pacar sekaligus selingkuhannya itu.
Aku hanya lebih kecewa pada dirinya.
Aku menangis malam itu, saat tau dia tak bisa menjadi setia sedikitpun pada diriku.
Mungkin memang harus begitu adanya, dimana aku mendapat karma atas kelakuanku dulu...
[aku selingkuh dari seseorang yang pernah kucintai, dan akhirnya dia membenciku hingga saat ini. kami tak pernah saling menegur atau bicara sedikitpun. Menengokpun hanya sekilas. Aku tak pernah memarahinya atau membencinya, malah dia yang mengatakan bahwa dia tak pernah ingin mengenalku lagi karena hal itu. Aku tak bisa melakukan apapun karena memang semuanya telah terlanjur basah. Aku memang bodoh karena menyakitinya, tapi rasa sakit itu telah berubah jadi rasa benci yang semakin hari semakin menumpuk. Teringat saat aku melihatnya di jalan dan saat itupun hatiku langsung berdebar, dan dengan kecepatan penuh aku langsung berjalan menjauh darinya! Huuft, hatiku selalu tak tenang setiap melihat dirinya. Aku tak ingin mengenalmu lagi, aku sudah terlanjur benci padamu. itu kata-katanya waktu itu. Sedih yaa ??]
Dan sekarang, naluriku mengatakan hal yang sama. Lebih parahnya, aku berpikir bahwa dia benar-benar tak menganggapku ada dan sudah melupakanku semenjak dia kembali ke perantauannya.
Okelah, terserah anda saja :)
aku juga sudah capek dengan semua ini! Menunggu dan hanya menunggu. Tak ada yang pasti... Lebih baik kita tak saling menganggap keberadaan masing-masing, daripada nantinya malah kita tak tau harus berkata apa saat telah bertemu lagi.
Kamu memang bukan untukku.
Dulu, saat aku hanya mendambakanmu, aku selalu berdoa pada Tuhan supaya aku bisa selalu melihatmu. Tapi Tuhan menjawab doaku dengan membiarkanmu pergi jauh dariku.
Lalu Tuhan menjawab lagi doaku, dengan menjadikanmu pacarku.
Setelah itu aku merasa seperti melambung di angkasa. Tiada yang lebih membahagiakan dari pada menjadi pacarmu saat itu.
TUHAN MEMANG SELALU MENDENGAR DOA ANAK-ANAKNYA...


Komentar
Posting Komentar