PROLOG (UNTUK KISAH BARU)
Hampir seabad tak kutorehkan kata-kata untuk blog-ku ini. Padahal begitu banyak kalimat yang melayang-layang dalam pikiranku, yang menyeruak untuk keluar dari pikiran itu dan dituliskan. Sekarangpun (untungnya) kesempatan itu muncul juga.
Seperti kata Pasto: "Aku hanya pergi tuk sementara"
Yup, I AM BACK ALREADY ^^
Aku begitu merindukan mengetik setiap tuts huruf-huruf *tik-tak-tok* karena begitu banyak yang ingin kuceritakan, bukan pada siapa-siapa. Cukup pada halaman yang tanpa ada respon ini. Aku, bagaimanapun, terlalu terobsesi dengan tulisan mengenai isi hatiku, mengenai kehidupanku, dan mengenai masa yang akan datang nanti. Kuharap tulisan ini mewakili setiap kata yang ingin kuucapkan, ataupun yang ingin kusimpan dalam hati saja.
Well, so many stories. And I wanna share :)
Cerita yang begitu menyenangkan, sampai yang begitu memilukan.
Dimulai dari mana?
Ok, pertama-tama cerita saat aku mulai kuliah.
Aku masuk Program Studi Ekonomi Pembangunan, dengan alasan yang blah-bleh-bloh, dapat kuceritakan lain kali.
Aku tak terlalu berpikir panjang tentang apa yang akan aku hadapi saat aku mulai kuliah sehingga aku menjalaninya seperti saat SMA dulu: cuek, malas, dan santai ;)
Setelah cukup lama, ternyata aku menyadari kalau masuk kuliah tak segampang saat aku mengenakan putih-biru atau putih-abu2. Absolutely HARD !
Keluhan, cacian, amarah dan segala sesuatu yang berbau aku-tak-sanggup-menjalani-ini-semua bermunculan dari diriku yang sok santai ini. Begitu berat, begitu mengikat dan sarat akan hukuman bagi yang tak ikut aturan sudah menjadi makananku sehari-hari. Ukh! Kenapa disaat aku menyangka itu semua akan selancar jalan raya Penfui, ternyata semacet jalan di Kuanino -_____-
Aku menginginkan hal yang mudah, efektif dan efisien. Bukannya hal yang seperti penyiksaan anak tiri begini...
Tapi, di balik itu semua ada warna yang mengisi kelabunya hatiku. Aku punya teman baru :)
Sikap mereka yang beraneka warna itu sudah cukup membuatku betah untuk menjalani hari-hariku. Dan aku bersyukur, setidaknya semua hal yang menjadi keluhanku saat ini berkurang dengan berlalunya waktu. Setelah sekin lama kami bersama, aku mulai mengerti bahwa kadang berteman dengan sesama itu bukan dilihat dari seberapa besar dia berbuat baik padamu, tapi seberapa sering dia mencoba tersenyum untukmu walau senyuman itu tak dihiraukan.
Sikap mereka yang beraneka warna itu sudah cukup membuatku betah untuk menjalani hari-hariku. Dan aku bersyukur, setidaknya semua hal yang menjadi keluhanku saat ini berkurang dengan berlalunya waktu. Setelah sekin lama kami bersama, aku mulai mengerti bahwa kadang berteman dengan sesama itu bukan dilihat dari seberapa besar dia berbuat baik padamu, tapi seberapa sering dia mencoba tersenyum untukmu walau senyuman itu tak dihiraukan.
Teman-temanku, actually mereka yang sering bergosip ria, bercanda tawa, makan bersama dan bahkan berdandan bersama-sama (LOL) adalah hal-hal yang paling kunantikan saat tiba di kampus. Kalau ada mereka, setidaknya niatku untuk bicara muncul dan sifat jahilku pun tak terkubur dalam diriku.
Di relung hati yang paling dalam, aku merindukan masa SMA-ku. Masa dimana semuanya tercipta nyata, indah, berwarna dan penuh dengan senyuman. Masa dimana teman adalah segalanya, dan segalanya berbuah dari hasil kau mempunyai teman. Masa dimana semua tangisan dan tawamu ditampung oleh teman, dan disebarkan mereka untuk memberitahukan sifatmu yang sebenarnya. Tak ada sikap pura-pura, bahkan kejujuran itu pasti di dalamnya.
Hari-hariku berlalu, tanpa terasa, dan lebih dari tiga bulan telah kulewati. Hanya beberapa orang yang kutemui keberadaannya, selain itu: hilang.
Aku tak hendak memprotes, atau membangkang karena ulah mereka melupakanku, tapi aku berharap itu semua tak lama. Mereka akan mencoba menyapaku dan aku tak segan memeluk mereka.
Namun, masih dibentangkan dengan kegiatan yang menyibukkan. Menyalahkan? Sesungguhnya tidak. Hanya sedang menanti ini semua berlalu :)
Sekarang, aku sudah terbiasa dengan hal-hal berbau kampus. Berdesak-desakan di angkutan umum, berebut untuk dapat tempat duduk, jalan kaki, berpanas-panasan, kelaparan, hingga kelelahan yang begitu menyebalkan. Semua sudah jadi makanan sehari-hari (selain nasi tentunya) dan aku melewatinya dengan pandangan bahwa itu keharusan.
Kali ini, mungkin sampai nanti, semua yang kulalui akan kusyukuri. Takut atau gentar memang ada, sakit dan tangisan akan jadi hal biasa. Tapi semoga itu semua berbuah sesuatu yang indah. Seperti yang dikatakan "apa yang kau tabur, itu yang kau tuai".
Semoga, ini semua membuahkan senyuman, bukan hanya di wajahku. Tapi di wajah setiap orang yang berkorban untukku ..
*Tulisan ngalor-ngidul*
Sekian, tenkyuuuuu :)
Sekian, tenkyuuuuu :)
Komentar
Posting Komentar