KARMA ( NOT FOR ME )
Mungkin memang tempat curhatku yang paling membuatku nyaman
hanyalah pada sebuah blog. Yups, aku bebas menuliskan apapun di blog ini, dan
setelah selesai menulisnya (lebih tepatnya mengetik) aku menjadi lebih lega dan
merasa ringan.
Orang bilang, hukum karma itu berlaku. Dan beberapa masalah yang kulihat di kehidupan sekitarku, hal itu benar-benar nyata. Perasaanku mengatakan, sekarang inipun hukum karma itu sedang menyerangku dan aku hanya bisa meratapi kelakuanku dulu pada mereka yang pernah kusakiti.
Jujur, aku orang yang tak peduli bahkan terkesan cuek dengan hal terburuk yang mungkin akan aku rasakan dikemudian hari. Aku memperlakukan orang-orang seenak perutku tanpa memikirkan perasaan meraka dan pendapat mereka tentang tingkahku ini. Mungkin banyak orang mendendam kepadaku, benci padaku dan tak segan ingin menghancurkanku. Naluriku mengatakan hal itu, bahwa memang di depanku mereka berlaku baik, sok ramah dan selalu tersenyum. Nyatanya di belakangku mereka akan mencaci maki, menghujat, meremehkan dan menghinaku atas segala hal yang telah kuperbuat. Semua tingkah dan polah manusia di muka bumi ini hampir sama. Dan aku membandingkan tingkah laku seseorang dengan tingkahku sendiri. Bagaimana mereka saat dimarahi, saat tertawa, salah tingkah bahkan saat menyembunyikan sesuatu.
Fa La La La , aku tak perduli. Senandung kesenangan keluar dari hatiku, menandakan bahwa mereka yang membenciku adalah mereka yang memperhatikanku. Kalau ada mereka, aku jadi merasa bahwa akulah satu-satunya pusat dan inti yang akan selalu diperhatikan. Dan mereka hanyalah sebagian kecil yang berusaha melihat tingkah lakuku.
Semua itu adalah warna dalam hidupku. Semakin orang membenciku semakin aku memiliki semangat untuk terus membuat mereka membenciku. Ada rasa bangga bahwa mereka membenciku. Tapi di balik itu semua, aku tak menyadari bahwa hukum karma telah menanti.
Aku baru mengetahui ini karma setelah dia yang kucintai mengabaikanku. Dia yang dulu selalu menantikan SMS dariku, hingga dirinya galau berhari-hari, yang selalu berusaha menghubungiku tak tak terlalu kugubris dan yang telah amat serius dengan hubungan ini sejak dari awalnya. Aku melakukan 'kejahatan ringan' kepada dia. Dan saat ini, yang terjadi adalah kebalikannya.
Aku yang terus menerus mengirim SMS untuknnya. Yang selalu menantikan balasan darinya, yang berusaha menghubunginya, yang sengaja menorehkan kata-kata sarat makna kerinduan dan kepahitan agar dia tau betapa sesaknya rasa ini kupendam sendiri. Tapi dia seperti membisu, tak menghiraukan dan tenggelam dengan waktu yang semakin bergulir. Aku telah salah berperilaku sejak awalnya. Sikapku yang sedemikian rupa cueknya telah menjebakku dan akulah yang menderita pada saat ini.
Mungkin diapun telah bosan dengan tingkahku, yang egois, terlalu menuntut, kekanakan, tak bisa membaca situasi dan terkesan tidak menyayanginya. Well, pernyataan terakhir itu sangat tidak benar. Aku begitu mencintainya, begitu menyayanginya. Bahkan orang-orang yang datang silih berganti mengatakan cinta mereka, tak kupedulikan. Bahkan aku selalu mendoakannya.
Dia yang kucinta, dia yang kusayang. Bila akhirnya karma itu menyerangku, aku akan berusaha mematahkannya. Takkan kubiarkan semua itu larut dan membuatku terpuruk. Aku akan menunjukkan bahwa saat ini dihatiku hanya terpatri namanya. Aku begitu tulus padanya, aku begitu memujanya.
Karma adalah salah satu dari sekian banyak tantangan dalam perjalanan hidup, perjalanan cinta. Jadi, saat ini dan seterusnya aku takkan memercayai bahwa karma itu datang untuk membalas perbuatan kita di masa lalu. Itu tergantung pemikiran kita, tergantung pendapat dan penarikan kesimpulan dari kita masing-masing. Dan untuk itu, karma harus dipatahkan!
:)
Komentar
Posting Komentar