DILEMA

Hidupku terombang-ambing oleh gelombang yang bernama kebimbangan dan semua itu berasal dari dalam diriku.
Internal , implisit , induktif atau apapun istilah yg tepat untuk itu.
Aku tak menyangkal bahwa memang diriku adalah pembimbang, memilih antara yg satu dan yg lain sangat susah buatku. Efeknya, malah mengambil keputusan yang fatal.

Siapa sih yang nyaman dengan situasi simalakama macam begini ? Yang pasti aku tak tahan dan rasanya ingin cepat2 terbebas dari hal ini.
Cara membebaskan dirinyalah yg belum kuketahui hingga kini , tapi aku akan berusaha menemukannya .

Berdasarkan kemauanku untuk berubah , sebenarnya aku sudah bisa lebih memilih yg benar dan bukan yg salah. Yang tepat dan bukan yg meleset.
Tapi aku juga harus dibekali pengalaman, supaya pertimbangan ini menjadi lebih nyata kepastiannya.

Penyesalan itu adalah hal terakhir yg ingin aku rasakan , maka dari itu aku mencoba untuk menghindarinya demi kebaikanku juga.
Tak terbayang kalau harus duduk meratapi nasib yg telah kita tentukan sendiri, pasti sangat mengenaskan rasanya.

HIDUP ADALAH PILIHAN.
Dan aku mengakui kebenaran kalimat itu. Hanya saja pilihan-pilihan yg ditawarkan oleh kehidupan bagai membeli kucing dalam karung. Kita tak tau kucing macam apa yg kita beli, bisa jadi itu malah macan atau ular.
Begitu juga dgn pilihan yg akan kita tentukan , tergantung naluri dan takdir aja sih. Tapi kalau menggantungkannya pada dua hal itu , salah-salah malah terjerumus ke jurang yg sangat dalam.

Memang tak mudah membuat pilihan , karena itu aku selalu bimbang dan berpikir terlalu lama untuk menentukan pilihan yg hendak kuambil.

Setidaknya aku harus berpikir cepat dan tak membuang banyak waktu untuk membuat keputusan. Tapi tetap saja, rasa bimbang itu selalu menghantui di mana pun .

Yang ikut mempengaruhi pikiranku adalah pendapat orang-orang di sekitarku. Kendalanya adalah tiap masukan mereka tidak selalu sama dan membuatku jadi tambah bingung.

Pendapat ayah dan ibu sekalipun pastilah memiliki perbedaan .
Ada kalanya aku sampai tak mengambil keputusan karena mengikuti pendapat salah satu pihak akan menyakiti pihak lain yang merasa pendapatnya tidak diterima.

Alangkah lucunya logika akal budi manusia, sampai memutar balikan keadaan hanya melakui pikiran.
Itulah hebatnya akal budi , mampu berpikir tajam tapi mampu menjadi dilema .
Tak ada yang bisa disalahkan selain pikiran akal budi tersebut.

^^
melalui pendapat orang-orang, aku bisa menilai karakter mereka. Mana yang memang memikirkan dampak secara umum dan yang hanya memikirkan kepentingan pribadi.
Itu tercetak jelas di wajah mereka dan banyak yang melakukan hal kedua yg kusebukan tadi; memikirkan kepentingan pribadi.

Ah ~
bimbang lagi (-.-")

- SEKIAN -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Ketika Teman Jadi Bangsat !

Yang Berharga Yang Kulepas.