Potret Nuansa Kenaikan BBM

Dampak kenaikan harga bahan bakar sangat terasa bagi kami, mahasiswa yg tiap hari naik bemo/angkot.

Untuk sekedar cerita, aku adalah satu dari sekian mahasiswa yg 'rajin' naik bemo.
Setiap pagi, aku harus bangun lebih awal karena perjalanana ke kampus menggunakan bemo memakan waktu kurang lebih satu jam. Jadi kalau kuliah jam 8 pagi, saya sudah harus bersiap dari pukul 6.
Belum lagi kalau bemo pada penuh dan aku harus menanti bemo yg longgar tempatnya.
Tapi , untuk sampai kampus aku juga harus gonta-ganti bemo sebanyak 3x dan otomatis tenaga dan waktu serta biaya habis terkuras.
Kuanggap itu sebagai hal wajar karena untuk menuntut ilmu diperlukan pengorbanan.
Selain itu, letak kampus juga lumayan jauh.

Itulah sedikit cerita tentang pengorbanan naik bemo di Kota Kupang , yang membuat sebagian anak muda kota ini lebih memilih mengendarai motor pribadi atau kendaraan lainnya.

Hari-hari kami sebagai penumpang bemo terbilang cukup damai, hingga saat isu kenaikan harga BBM bermunculan dan semua orang mulai gelisah atau kebakaran jenggot.

Bayangkan saja, beberapa bulan yg lalu saat gosip kenaikan harga BBM terdengar, para pengelola kendaraan angkut itu sudah gencar menaikkan harga tarif dasar angkot yg semula Rp 1000.- menjadi Rp 2000.-
sontak kami yang mengetahui itu terkejut. Ada yg marah2 saat ditagih tarif yg dinaikkan sesuai kehendak sendiri itu dan ada yg mendiamkannya.
Seperti disodorkan buah simalakama , para supir dan kenek/konjak bingung , kami para penumpang juga bingung.
Tapi keadaan itu tak berlangsung lama karena kenaikan harga bahan bakar dibatalkan .

Hingga tanggal 21 Juni 2013 yg lalu,
semua orang harus menerima kepahitan bahwa harga BBM benar2 dinaikkan.
Kami harus dengan pasrah menerimanya , karena bahan bakar dan kehidupan sudah menjadi suatu kesatuan.
Hanya saja, para supir bemo tidak mau menerima hal itu dengan lapang dada.
Mereka malah mogok jalan dan membiarkan calon-calon penumpang terbengkalai di jalan.
Alasan klasik: karena tarif angkutan dinilai tidak memuaskan mereka.
Beberapa hari yang lalu bemo jalur Halte-Oepura, Halte-Oebufu, dan lain2 mogok jalan sehingga banyak orang menumpuk di jalanan halte.
Ini didiamkan oleh berbagai pihak.
Hari ini, bemo jalur Penfui dan Oesapa menuju halte juga tidak jalan dan banyak mahasiswa dan masyarakat sipil harus terbengkalai lagi.

Sebenarnya, menurut saya, tidak ada gunanya para supir bemo melakukan aksi tersebut hanya karena ketentuan tarif yg tidak memenuhi keinginan mereka.
Seribu lima ratus rupiah dinilai saya sebagai jumlah yg cukup, tapi kalau ada penumpang yg memberi 2000rupiah berarti menjadi berkat para supir.
Mereka tak mengindahkan keputusan itu dan berdampak bagi semua orang.
Syukur-syukur mereka yg ada kendaraan pribadi, kami yg bergantung pada bemo harus menelan nasib pahit.

Kenaikan harga BBM menjadi ironi bagi saya, dan sebagian orang menganggap hal yg sama dengan saya.

Kupang, 26 Juni 2013

Ndia Menno

Komentar

Postingan populer dari blog ini

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Ketika Teman Jadi Bangsat !

Yang Berharga Yang Kulepas.