NOT A HAPPY ENDING FOR ME

Terlalu benci dgn perlakuan semena-mena untuk apa yang sudah dikorbankan.
Rasa sakitnya tak terbendung hingga air mata terus menerus mengalir.
Memang sakit diperlakukan bagai tak ada harga diri lagi dan tiap kali rasa ini dilemparkan satu persatu ke arah yang tak terduga.

Apa percuma aku berbuat baik di dunia ini? Apa wajar bila kebaikan ini hanya sekejap dan tak dihargai?
Semuanya terlalu kejam dan mengenaskan.
Hingga rasanya tubuh ini tak memiliki tenaga lagi.

Hal yang seperti ini (menangis sendiri, tak dihargai, tak dianggap) sudah terlalu sering menjadi temanku.
Datang dan pergi seakan betah mempermainkanku setiap saat.
Hanya saja aku tak tahu harus menyalahkan siapa.
Tak ada yang benar2 bersalah ataupun baik padaku.
Semuanya terlihat sama.

Tapi, biar waktu yang bicaara. Untuk apa dan kenapa aku begitu dihantui rasa mengerikan ini.
Sampai kapan aku terus bertahan tanpa airmata? Suatu saat airmata ini akan berhenti membasahi pipi, tapi kapan?
Hatiku tak kuat dengan segala perlakuan ini.
Seperti layang-layang, melayang di atas langit dan ditarik ulur tak pasti.
Memang hanya diriku yang masih terdiam tanpa perlawanan, terpaku dan menangis lagi.

Terkadang aku memang merasa senang, tapi rasa senang itu akan ada timbal baliknya yang harus dibayar.
Hidupku tak pernah berakhir bahagia.

Semua orang tak akan mengerti betapa menyakitkannya rasa yang kutanggung, dan aku tak mengharapkan kebaikan hati siapapun yang ternyata lebih munafik daripada yang dibayangkan.

Mungkin lebih baik begini, menjadi diriku yang tak memerlukan siapapun.
Lebih baik aku kembali ke kehidupan dimana aku menjadi aku yang hidup tanpa minta bantuan siapapun. Yang penting punya uang dan sedikit kemunafikan, pasti akan lebih baik ketimbang terus menyiksa batinku.
Jalan keluar akan kebahagiaanku tentu ada, tapi aku tak tau ada di mana.

Aku tak menginginkan kebahagiaan sekarang karena kalau itu terjadi aku akan menjadi haus rasa bahagia.
Hanya saja rasa sakit ini tak juga membuatku merasa lebih kuat dari yang kubayangkan.

Akhir kata, terima kasih untuk mereka yang mempermainkan rasaku, yang terlalu lama menikmati rasa bahagia mereka sendiri dan terlalu naif untuk berbagi dengan orang lain.
Terima kasih telah menyadarkan bahwa yang kalian lakukan terlalu rendah untukku dan tak mungkin aku lakukan kembali pada kalian.
Terima kasih untuk sandiwara yang begitu nyata tapi terbaca.

Karena yang kalian lakukan hanya untuk menikmati, tapi aku sama sekali tak menikmati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Ketika Teman Jadi Bangsat !

Yang Berharga Yang Kulepas.