THE POWER OF PRAYERS

Pernah mendengar doa seseorang dengan harapan kita mendapatkan musibah?
Sialnya saya sudah mendengar doa itu berulang-ulang kali. Entah apa yang ada di benak orang-orang yang mendoakan agar orang lain mendapat kecelakaan atau dirundung ketidakberuntungan.
I swear, saya selalu mendengar doa seperti itu.

Entahlah, tapi saya merasa sangat ganjil dengan hal ini. Maksud saya, doa bukanlah sarana untuk mengutuk atau mengharapkan orang lain mendapat celaka, doa lebih pada "Meminta, Percaya dan Bersyukur".



Oke, poin pertama adalah meminta. Dalam hal ini, bukan meminta sesuatu yang dapat mencelakakan orang. Kita menjadikan doa sebagai alat agar kita bisa meminta segala kemudahan daripada Tuhan yang kita imani dan kita yakini. Lah kalau kita meminta agar orang lain dicelakakan, mungkin perlu kembali belajar tujan berdoa dan didoakan. Well, untuk poin ini fix ya? Doa itu 'alat' meminta kemudahan dan keberkahan dari Tuhan, bukan kesialan bagi orang lain.

Percaya. Saat kita berdoa, kita mempercayai bahwa Tuhan mendengarkan doa kita. Tidak muluk-muluk, doa akan memberikan ketenangan hati bagi kita karena kita percaya bahwa ada yang mendengarkan itu. Tapi salah langkah kalau kita berpikir bahwa doa kita akan terkabulkan dengan cepat atau dapat memberi dampak (negatif atau positif) bagi orang lain. Nyatanya, keyakinan atau kepercayaan kita akan doa-doa yang dipanjatkan itu bukan untuk mencelakakan orang lain.  Tapi, masih saja orang yang percaya dengan berdoa akan memberikan ganjaran bagi orang yang dirasa tidak mereka sukai.



Mensyukuri. Ini poin terpenting dari doa, saya rasa. Untuk segala yang terjadi pada kita, baik buruknya keadaan kita. Saat kita senang maupun bersedih, kita harus mensyukuri itu semua. Tidak mudah memang, saat kita sedih atau terpuruk, kita takkan semudah dan setegar itu untuk bersyukur. Ada satu film yang membuat saya benar-benar kagum akan ketegaran salah satu tokoh, film itu berjudul Courages. Di dalamnya bercerita tentang sosok seorang ayah yang kehilangan putrinya yang sangat dia cintai, dia menyesali perjalanan hidupnya dimana tidak bisa memenuhi permintaan sang anak, dan akhirnya anaknya meninggal dunia. Namun, dari hal itu dia memetik pelajaran bahwa dia harusnya bersyukur karena Tuhan telah menitipkan anak tersebut di dalam hidup si ayah. Bahwa Tuhan mempercayakan dia dan istrinya merawat anaknya hingga Tuhan mengambil kembali milik-Nya. Oleh karena itu guys, yang kita perlu pahami dari berdoa adalah bukan mengeluhkan seberapa besar cobaan hidup kita, tapi bersyukur bahwa Tuhan telah mengijinkannya terjadi dalam hidup kita.
Just it, guys :)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Ketika Teman Jadi Bangsat !

Yang Berharga Yang Kulepas.