Menunggu (Tidak) Begitu Menyiksa
Penantian yang tak terbalaskan...
Semakin menunggu dan semakin tidak pasti kapan akhir penantian tersebut,
terlalu lama, terlalu melelahkan.
Sepertinya aku akan dibunuh oleh waktu saja.
Entah waktu untuk berhenti menunggu itu kapan, aku selalu menghitung detik-detik itu.
Hal yang lebih banyak menghujam rasa jenuh ku dan merambat hingga kelopak mataku, membuatku terkantuk dibuatnya.
Aku letih untuk berkata "kapan pulang?"
Dan aku lelah untuk mendengar "entah kapan..."
Mungkin bagimu ini tidak terlalu sulit, karena yang kamu lakukan adalah kesibukanmu yang membuatmu tak banyak memikirkanku. Akupun begitu, lebih banyak berusaha menyibukkan diri untuk tidak terlalu menungguimu dalam kesunyianku.
Menunggu itu rindu..
Kau akan tahu betapa rindunya dirimu pada dia, saat dia pergi. Aku merasakannya, rindu yang bergejolak seperti ombak. Rindu yang berdentum keras seperti genderang. Dan rindu yang menohok, menandakan ketidakhadirannya begitu membuat dirimu hampa.
Menunggu itu sakit.
Sakit kalau akhirnya itu tidak berarti apa-apa. Kalau akhirnya penantian kita tidak terbalaskan, dan kita selalu menjadi bahan untuk dijejal dengan sejuta kecurigaan.
Menunggu itu sunyi.
Sunyi ketika suaramu bagaikan gema di dalam gua, kukira suara orang padahal itu hanya pantulan bunyi dari diriku. Sunyi lagi. Gema yang tak menyenangkan...
Menunggu itu tangisan.
Aku tahu akan banyak menangis, aku tahu akan banyak meneteskan perih dalam sakit yang meradang, karena menunggu adalah ditinggalkan...
Aku tidak ingin punggungmu menjauh dariku saat itupun, tapi kamu tidak mengetahui itu.
Aku menangisi sesuatu yang disebut 'pergi dan kembali'
Pergi yang mungkin sangat lama, dan ketidakpastian kapankah senyum mengembang di pipiku.
Akankah engkau datang dengan sejuta janji itu? Ataukah dengan senyuman lain mendampingimu?
Menunggu...
Menanti...
Kapan?
Rindu...
Akhirnya...
Ketika menunggu selalu menelan dirinya dalam kehampaan, dan menjadikan kita saling mencurigai dan terlalu posesif antara satu dengan yang lain, kita hanya bisa menenggelamkan ego.
Menunggu tidak begitu menyiksa,
tidak pula begitu senyap.
Menunggu hanya membuat kita lebih mengerti,
mengerti bahwa kehadirannya begitu berarti,
bahwa bila tiada dia serasa mau mati.
Tapi bukan berarti kita saling menyakiti.
Bukan juga saling menodong dengan tuduhan semu.
Kita hanya perlu berbagi,
saling mencintai dan memeluk dalam doa.
Percaya akan batin dan hati kita.
Melindungi dengan segenap keyakinan kita.
Menunggu tidak terlalu menyakitkan.
Kita hanya perlu belajar apa artinya saling setia dari jarak jauh.
Karena menunggu mengajarkan kita untuk menguatkan,
bukan untuk memberi tangisan...
Menunggu,
Apakah kita bisa?
:)
(L.M)


Komentar
Posting Komentar