Thank You

MERRY CHRISTMAS 2016
&
HAPPY NEW YEAR 2017

Apa resolusimu di tahun yang baru?
Oke, jangan anggap ini pertanyaan jenaka just because "kenyataan tidak sesuai harapan".
Mudahnya berharap itu tidak sebanding dengan mudahnya membalikkan telapak tangan, karena di saat kita berharap, kita menaruh kepercayaan penuh pada apa yang kita harapan itu.

New year, new me.
Apa yang jadi perubahan terbesar saya di tahun yang lalu (2016)?
Puji Tuhan sangat teramat banyak perubahan. Kematangan yang saya dapat bukan hanya ketika menimba ilmu di bangku perkuliahan namun juga ketika bergaul dengan sesama dan Tuhan. Walaupun sejujurnya hubungan dengan Tuhan kadang terabaikan karena mengutamakan lebih banyak kehidupan duniawi.
Peristiwa terbesar dan tak terlupakan yang akan selalu tertanam dalam diri, dan selalu memberikan senyuman tanda kebanggaan dan syukur saya adalah:
1. Wisuda
Saya tidak pesimis dengan apa yang menjadi tekad saya. Dengan dukungan orangtua dan para dosen, saya mampu menyelesaikan studi di jenjang S1 tepat di Bulan Desember, tanggal 5, sehari sebelum ulang tahun saya.
Banyak cerita putus asa bercampur haru dan perjuangan yang kalau saya ceritakan maka akan sama dengan cerita mahasiswa kebanyakan. Saya pernah dicibir lantaran menangis karena proses penyusunan skripsi, dan itu tidak mudah bagi saya menghadapi mereka yang mencibir.
Saya juga kehilangan banyak waktu karena lokasi penelitian harus diganti dengan alasan-alasan yang hampir membuat putus asa.
Berbagai masalah internal turut mempengaruhi diri saya untuk terus berusaha menyelesaikan skripsi. Namun Tuhan sungguhlah baik.
Lebih dari satu semester saya dalam pergumulan penyelesaian skripsi dan saya merasakan tangan Tuhan menopang saya dari awal hingga akhir. Dosen pembimbing yang dengan sabar membimbing saya hingga berusaha agar saya dapat mendaftar wisuda pada hari terakhir.
(Ujian skripsi saya hanya berselang sehari setelah seminar hasil penelitian, dan saya harus ekstra persiapan dan revisi untuk dapat menyesuaikan waktu yang kelewat cepat itu).
Saya ingat betul seminar hasil saya hari Rabu dan ujian skripsi pada hari Jumat. 
Dan saya diwisudakan pada tanggal 5 Desember 2016, dengan predikat yang sangat membanggakan dari Tuhan.
Saya sadar dengan keterbatasan diri saya dan kelemahan saya jika saja saya tidak bertopang pada Tuhan, dan dengan adanya orang-orang terkasih yang menemani hingga akhir; orangtua, saudara, sahabat, dan mereka yang akhirnya berbalik meninggalkan.
Wisuda hanya menjadi satu dari sekian banyak kisah membanggakan yang saya rasakan di tahun 2016, karena betapapun wisuda menjadi puncak dari studi yang kutempuh, masih banyak kisah bermakna yang selalu hadir kian memenuhi kehidupan ini, yang saya ceritakan maupun yang saya pendam sendiri.
Wisuda tanpa ayah yang mendampingi karena alasan keluargapun menjadikan saya sedikit berat, namun saya harus sadar betul bahwa tuntutan kehadiran seorang ayah bukanlah suatu yang harus, karena dimanapun dan kapanpun itu, orangtua akan selalu menjadi alasan pertama kebanggaan ini saya persembahkan.

2. Usia 22 Tahun
Bukan usia belia lagi, ketika akhirnya menginjak usia 22 tahun, kebiasaan lama yang masih kekanak-kanakkan mulai dilepas, saya mulai menyadari bahwa semakin usia beranjak maka makin banyak pula hal yang harus dipikirkan, direncanakan dan dilaksanakan pada akhirnya.
Usia 22 tahun, dengan sejuta kenangan dan kepakan sayap saya melanglang buana di dunia ini, dengan ditemani hal-hal tanpa suara yang saya semayamkan sendiri agar menjadikan relung ini tetap terpenuhi oleh hal-hal tersebut.
Hingga akhirnya usia ini menjadi pijakan saya untuk meninggalkan yang pernah ditangisi, untuk meniadakan yang pernah ada, untuk menyadarkan bahwa yang ditinggalkan pada akhirnya tidak akan abadi menunggu hingga akhir. Usia 22 tahun, ketika pilihan menjadi hal kruasial yang benar-benar harus dipikirkan matang-matang, hingga yang baik tinggal atau pergi, atau hilang dan lupa.
Usia 22 tahun.
Saya sudah harus jadi orang yang membahagiakan orangtua. Sudah harus jadi kakak yang memanjakan dan mengayomi adik-adiknya, yang harus seiya namun selalu sharing dengan kakak tentang mana yang baik dan harus dilakukan, tentang bersama sahabat mengejar cita tanpa merajuk ingin bertemu dalam kesibukan, atau yang kisah cintanya masih perlu banyak pertimbangan.
Beranjak menuju 23 tahun membuat usia ini semakin berarti, rencana dan tolok ukur yang muluk-muluk akhirnya menjadikan saya semakin harus memupuki diri dengan pengalamanan dan pelajaran, yang mungkin akan membuat saya banyak berubah.
Usia 22 tahun, mungkin saya tidak akan berharap kado lagi. Saya juga tidak ingin cokelat lagi.

3. Orang Tua, Sanak Saudara
Akhirnya, pada saat ini saya semakin bersyukur karena nikmat yang diberikan Tuhan tidak berkesudahan. Saya bersyukur karena orangtua saya selalu ada dan mendukung saya, selalu mendengarkan setiap keluh kesah saya dengan berbagai pandangan dan masukan bukan untuk menjadi lebih baik saja, namun untuk menjadi diri sendiri yang tidak bergantung pada orang lain, namun bagaimana membuat orang lain tahu bahwa upaya dan usaha saya adalah giat saya sendiri, yang saya lakukan bukan untuk membuat orang lain senang tapi untuk membuat saya bahagia terutama.
Terima kasih, orang tua menjadi nomor pertama dalam hidup saya (dalam tulisan ini menjadi nomor 3 karena saya harus bercerita kisah paling hot di tahun 2016). Ketika telepon berdering dan kuabaikan, namun ketika mereka bicara dan saya selalu berkaca-kaca, entah candaan maupun serius, orangtua selalu berhasil membuat saya terharu. Kenapa saya begitu bersyukur menjadi anak mereka, namun saya masih belum sempurna menjadi seorang anak. Masih banyak keinginan yang dilarang demi kebaikan, namun keras kepala saya selalu melawannya. Ini mungkin sifat turunan dari ibu, dan sifat hemat dan bekerja sendirilah diperoleh dari ayah. Terima kasih.
Kakak, adik-adik, menjadi pewarna sendiri dalam hidup walaupun mereka lebih banyak tingkah menyebalkan dan memuakkan dengan segala keusilan dan keegoisan masing-masing, tapi bersabar dan menghadapi mereka jadi hal wajib. Terima kasih pun.

4. Tuhan
Ketika saya benar-benar bersyukur, ketika saya benar-benar menyadari, ketika saya benar-benar terdiam. Itu semua karena Tuhan. Terima kasih, lebih kepada kisah sedih maupun senang yang selalu senantiasa diberi-Nya agar mengajar saya semakin bersyukur dengan keadaan sekarang. Jangan maruk! Jangan serakah! Satu cukup! Jangan lebih! Kalau lebih, bagilah untuk sesamamu.
Hal-hal seperti itulah yang menjadi pelajaran terbesar dalam hidup saya. Saya harus sadar benar bahwa tidak ada hal-hal di dunia ini yang benar-benar milik saya, kecuali jika Tuhan menjadikannya talenta dan berkat saya.
Mazmur 1
Berbahagialah orang
yang tidak berjalan menurut
nasihat orang fasik,
yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,
dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,
dan merenungkan Taurat itu siang dan malam.


Berbahagialah kita, di tahun baru ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Ketika Teman Jadi Bangsat !

Yang Berharga Yang Kulepas.