Postingan

Bahagiamu, Bahagiaku

Gambar
Apa sih yang membuat saya jadi begitu posesif terhadap dia? Sikap saya seakan dia tidak boleh apa2 jika tidak ada saya. Saya tak ingin dia pergi dengan orang lain, jauh dari saya, tiada kabar, bahkan kadang melihat dia memposting foto yang bukan diri saya saja sudah menyulut keinginan marah. Saya sadar bahwa saya tidak boleh melakukan hal ini, posesif berlebihan sungguh membunuh dari dalam. Tapi apa daya, saya hanya ingin dia 😭 Pernah membatasi diri untuk tidak want to know eveything about him, tapi akhirnya saya sendiri yang tersiksa. Saya ingin tahu apa yang dia lakukan saat bangun pagi hari, apa yang dia makan saat sarapan, kegiatan apa selanjutnya, pergi kemana dia di pagi-siang-sore-malam, bertemu siapa dan bicara apa... apakah saya terkesan mengontrol? Sejujurnya saya hanya ingin dia, tepat di samping saya, bersama saya. Itu saja. Tapi waktu dan jarak sungguh menjauhkan kami (walau kami masih bisa berkomunikasi lewat gadget). Perasaan saya sudah terlalu besar untuk selalu ...

Who am I?

Gambar
Dibanding menyendiri, sekarang saya merasa lebih kepada bersyukur dengan banyak hal yang diberikan saat ini. Tawa yang masih bisa kulepas, senyum yang masih membayang, dan kebersamaan dengan keluarga yang sungguh berarti. Saya tak merasa sendiri, seperti ketakutan saya belakangan ini. Sungguh saat ini saya merasa diisi dengan berkat melimpah dan sanak saudara yang perhatian, tak butuh waktu lama untuk saya kembali menjadi diri saya. Perlahan saya juga mulai mengerti diri sendiri, lebih mengerti tubuh jasmaniah saya, yang mana setiap hari saya forsir untuk bekerja dan melupakan istirahat berkualitas. Saat ini, ketika menulis ini saya sedang berbaring dan merebahkan diri untuk istirahat. Inikah namanya istirahat? Berdiam sejenak dari semua hal duniawi yang melelahkan. Sangat menyamankan. Saya sadar bahwa selama ini saya berpaku pada sesuatu yang membagi fokus saya hingga lebih banyak di luar rumah, asik sendiri dan lupa bahwa diri ini sejatinya mudah lelah. Yang mengerti tubuh say...

Yang Terburuk

Saya adalah yang terburuk dari kumpulan yang telah dahulu ada. Keberadaan saya sepertinya tidak memberi dampak kebaikan bagi siapapun, dan malah mengundang cibiran serta ditolak. Saya tidak merasa perlu menjadi siapa atau apa yang disenangi orang, karena untuk saya bersikap di luar kewajaran diri saya adalah hal paling canggung dan menyebalkan. Saya bukan yang terbaik di bidang apapun, saya juga bukan yang cantik di antara lainnya. Saya introvert, sangat malas menanggapi orang dan tidak ingin membangun relasi lebih. Mungkin itu sebabnya saya kesepian. Saya teramat menutup diri untuk lingkungan di luar saya yang sudah di luar kewajaran saya, dan saya tidak ingin lebih dalam memasuki hidup siapapun. Saya sudah cukup dengan diri saya sendiri. Cukup dengan kelelahan ini, cukup dengan pikiran-pikiran ini, cukup dengan tekanan batin ini, dan cukup dengan depresi ini. Kesepian menjadi hal terburuk dalam setiap detik waktu berlalu. Saya sesak dan merana, tidak tahu harus berbuat apa. Ka...

Relationship Jaman Now (Bongkar-Bangkir Masa Alay)

Gambar
Sampai kapan kita terpaku pada hubungan biasa saja yang tidak mendewasakan? Membangun hubungan kadang menyenangkan menurut kita, tanpa perlu banyak ba-bi-bu kita akan ada hubungan atau relasi yang manis terjalin. Dan, ya, tergantung bagaimana kita mempertahankannya. Mungkin sebelum banyak berbicara bagaimana mempertahankan hubungan, kita perlu menalarkan bagaimana memulai hubungan itu sendiri. Kita sama-sama tahu, hubungan yang saya maksud adalah hubungan asmara, percintaan, yang bukan hanya cinta awal SMA. Menurut saya, sudah waktunya kita memikirkan hubungan sebagai sesuatu yang penting, bukan hanya sebagai kebutuhan saat pernah muda, namun lebih karena kita bertanggung jawab atau hubungan yang kita mulai sendiri. Saya tak menyangkali bahwa berpacaran 'alay' atau 'labil' adalah hak semua anak muda di luar sana, yang bahkan anak SD pun termasuk -_- Beberapa kali saya mengamati adik-adik saya yang masih SMP, lugu dan polos mulai mengenal kata-kata puiti...

Real Life

Gambar
Sedikit basa-basi tak apa ya? Kali ini tidak ada inspirasi untuk jadi puitis. Karena kurangnya istirahat, banyak main di luar rumah dan pulangnya udah larut, alhasil malampun jadi singkat (padahal itu adalah saat-saat terbaik untuk menulis dan belajar) sehingga waktu kuhabiskan untuk chatting dan akhirnya tidur. Sayangnya (atau untungnya), hidup pengangguran sepertiku belum dituntut bangun pagi dan berangkat kerja sehingga bangunpun selalu telat (maafkeun). Susah memang untuk mengatur pola tidur yang baik sekarang ini. Misalkan saja saya malam ini tidur 02.00 am maka saya akan bangun paling cepat jam 8.00am dan paling telat 9.00 am. Dan malam berikutnya saya tidak akan bisa tidur lebih awal (kecuali punya aktivitas berat sebelumnya), maka saya pasti tidur pada jam yang sama di malam sebelumnya 2.am. Did you ever feel it? That is so annoyed. Pengangguran. Please, silakan tanyakan padaku kurva elastisits permintaan dan bagaimana analisis menggunakan SWOT dibandingkan dengan...

Ujung Di Sana

Maaf, jika salah penilaian berujung pilu. Karena hati ini tak lagi bisa menyenangkan hati yang lain. Dan ketika hati dan logika seiring berotasi melawan arus, siapa yang bisa menahan? Jangan coba kembali dengan seribu kata bertahan, atau perjuangan yang belum selesai. Semua itu pernah kucoba, pernah kuharapkan, dan kupanjatkan untuk Empunya di sana. Tapi yang kemudian terjadi adalah optimisme itu runtuh oleh sikap penolakan, penolakan untuk sama-sama menggenggam. Karena sekian banyak merasakan, dan ini jadi kesekian untuk dilepas. Kau mungkin sadar sekian lama kemunafikan ini akan berlanjut, tapi kenapa mencoba buta? Ataukah salah dirimu menerima apa yang nyata? Karena peringatan akan kejamnya aku sudah pernah terujar, namun teguhmu membuatku tergugah. Salahkah aku lagi? Ini hanya ajang mencari salah, dan aku terperosok lebih dalam lagi. Uraian dosa seperti membendung "persahabatan" yang meronta ingin dijaga. Dan kau lupa dirimu tetap sahabat? Kau salah, jika...

Ah, Sudahlah

Diri ini terbangun dengan cengkeraman luka dan sakit tak terbendung. Anehnya, arimata tak mewakili semua ini. Seperti sudah melapangkan segalanya. Jika pergi dan diam menjadi arti, biarlah sedih dan diam menjadi pasif. Sudahlah... rasa abadi untuk tercekam kian menggenggam, dan akhirnya batin menyiksa diri sendiri dan merana. Bergelut dengan kesendirian seperti menjadi karma, karena sekian banyak yang menemani seperti terpaksa. Ah, hadapilah. Akhirnya senyum ini lenyap, kini tambah di sadari. Tidak pantas diri ini muluk tersenyum, karena makin lusuh pula hati ini.