STAY STRONG, GIRL !
23 Januari 2014
Sebenarnya aku tak ingin menulis tentang ini, apalagi di blog seperti ini. Hanya saja, ini lebih baik ketimbang aku menyimpannya sendirian.
Ok, aku memang orang yang cuek dan tak terlalu perduli pada apa yang dilakukan orang lain, kecuali itu kuanggap penting buatku.
Aku juga tak posesif atau berlagak terlalu protektif kepada orang-orang yang kucintai, karena kurasa bila aku melakukan itu mungkin mereka takkan merasa nyaman.
Dan aku juga menaruh kepercayaan yang besar pada mereka yang kucintai, sehingga aku tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah apa yang takkan menyakiti hatiku :)
Aku percaya pada setiap detik keberadaan mereka, bahwa mereka juga sangat mengasihiku.
Tapi itu ternyata berbanding terbalik dengan sesuatu yang mereka lakukan padaku.
Kepercayaan yang kutanamkan tak dibalas dengar kebaikan dari mereka. Mereka tak peduli pada perasaanku, yang mereka pedulikan adalah bagaimana mereka merasa senang walaupun itu tentu menyakiti batinku.
Aku tau semua ini akan terjadi, cepat atau lambat.
Karena itu, aku tak terlalu terkejut dengan apa yang kutemukan saat itu. Ketika aku dengan mata kepalaku membaca pengkhianatan yang menyayat itu, aku bersyukur pada TUHAN.
Ternyata ini cara TUHAN membuka mataku.
DIA mengasihiku, dan membuatku mengambil jalan ini. Aku harus mengambil jalan ini, dan menurutku, aku harus melepaskan beban ini jauh dari diriku.
TUHAN tahu apa yang aku rasakan, dia memberikanku orang-orang yang mengasihiku. Di saat aku jatuh begini, ada orang yang datang dan membuatku tertawa. Aku tak sendirian.
Aku bersyukur pada TUHAN,
karena tanpa ada campur tanganNYA mungkin sekarang aku menjalani hidup berdampingan dengan kemunafikan di belakangku.
Orang-orang yang terlampau menyakitiku pada membuatku takhirnya telah membuatku tegar dan kuat. Aku percaya, TUHAN punya rencana yang indah di balik rasa sakit ini.
Ketika aku merasa sakit, ada saja orang-orang yang menghiburku. Ketika aku merasa sendiri, ada saja orang-orang yang menemaniku.
Lalu, kenapa hanya karena mereka aku harus menangis dan mengasingkan diri??
Akan sia-sia saja kalau aku terlalu menangisi pengkhianatan ini.
Mungkin mereka sedang tertawa di belakangku, dan mungkin mereka juga sudah merencanakan yang lebih jahat dari ini.
Karena itu, harus ada jarak yang aman antara diriku dan pengkhianat dalam hidupku.
Rasa percayaku yang semula besar untuk mereka, mulai menurun drastis dan melampaui angka nol.
Yaa, aku tak bisa mempercayai mereka lagi.
Dan aku bersyukur, rasa percaya ini bisa kutambatkan pada orang lain yang lebih menghargaiku ketimbang mereka yang menyakitiku.
Mungkin aku akan menyesal di masa mendatang, dengan mengambil keputusan seperti ini. Tapi aku berjanji aku takkan lagi tersakiti, karena aku merasa tegar dan aman.
Ini kehendak TUHAN bagiku :)
Mereka bukan orang yang tepat untuk dekat denganku. Mereka terlalu baik mungkin, jadi aku tak bisa menjadi teman baik mereka.
Kata maaf dari mereka juga tak terlalu kubutuhkan. Toh, kalau maaf bisa menyelesaikan masalah, apa gunanya penjara?? :)
Aku menyebut nama mereka dalam doa. Aku yakin bahwa ini semua akan berakhir seiring dengan rasa sakit hatiku.
Terima kasih untuk kalian,
yang akhirnya menyadarkanku bahwa aku tak seharusnya mempercayai kalian. Bahwa aku tak seharusnya berteman akrab dengan kalian, dan bahwa sikap kalian yang memanfaatkan kelemahanku akhirnya berakhir di tanggal itu, 23 Januari 2014.
Terima kasih, karena kebohongan dan kemunafikan yang berujung pada kesakitan ini akhirnya berakhir dan aku takkan memendam marah pada kalian.
Terima kasih, karena dengan adanya pengkhianatan ini, aku sadar bahwa ada orang lain yang ingin membuatku tertawa tapi terhalang oleh kalian yang memakai topeng badut dan membuatku tertawa.
Terima kasih.
Akhirnya hatiku lega,
di satu sisi karena topeng kalian terbuka dan di sisi lain aku sadar bahwa ada orang yang punya keinginan yang lebih besar untuk membahagiakanku. Dan itu bukan kalian yang menyakitiku :)


Komentar
Posting Komentar