TAKE HOME MATA KULIAH PEREKONOMIAN INDONESIA - KEMISKINAN
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Kemiskinan masih merupakan
masalah serius yang dihadapi pemerintah Indonesia. Upaya demi upaya untuk
memberantas kemiskinan belum sepenuhnya membuahkan hasil seperti yang
diekspetasikan. Banyak orang masih hidup di bawah garis kemiskinan dengan tidak
memiliki kepastian di masa depan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan meningkat
terbesar di pulau Jawa, kemudian Sumatera, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,
Maluku, Papua serta Kalimantan. Jumlah penduduk miskin pada September 2013
sebesar 28,55 juta orang atau 11,47 persen, dibandingkan Maret 2013 meningkat
480 ribu orang. Beberapa penyebabnya yaitu selama periode Maret ke
September 2013 terjadi inflasi yang cukup tinggi oleh kenaikan BBM hingga
harga komoditas bahan makanan dan makanan naik. Secara nasional rata-rata
harga beras mengalami peningkatan. Di samping itu, angka kemiskinan
masih berada di atas 11 persen tidak bergeser dari capaian tahun 2012 yang
berada pada angka 11,96 persen. Dengan kata lain Pemerintah telah gagal
menurunkan angka kemiskinan. Program-program Pemerintah terkait kemiskinan
salah satunya program raskin dan BLSM kurang memberikan pengaruh signifikan
terhadap penurunan angka kemiskinan.
Dampak kemiskinan
akan berimbas pada standar hidup masyarakat yang tak mencapai taraf minimum di
mana lebih banyak orang yang tak dapat bersekolah, kekurangan gizi dan taraf
kesehatan yang rendah serta taraf pendidikan yang rendah. Ini akan menimbulkan
angka kematian yang tinggi dan pengangguran yang semakin meningkat.
Kemiskinan
merupakan hal yang kompleks, oleh sebab itu dibutuhkan keseriusan dari
pemerintah dan masyarakat per individu dalam menanggulangi problematika
tersebut.
B.
PERUMUSAN MASALAH
Dalam menulis
makalah ini, terdapat beberapa masalah yang dikemukakan, antara lain:
1.
Apa sajakah penyebab kemiskinan di Indonesia?
2.
Bagaimana dampak kemiskinan bagi perekonomian di
Indonesia?
3.
Bagaimana cara menanggulangi kemiskinan yang tengah
menjadi masalah di negara ini?
4.
Apa peran pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan?
C.
TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan
makalah ini adalah untuk menganalisa dan menerangkan mengenai penyebab-penyebab
kemiskinan di Indonesia dan dampaknya. Serta cara-cara dan upaya pemerintah yang
tepat untuk menanggulangi kemiskinan yang sedang dihadapi.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
PENYEBAB KEMISKINAN DI INDONESIA
Kemiskinan juga
dapat dibedakan menjadi tiga pengertian, yaitu :
1.
Kemiskinan relatif
Seseorang
yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan
namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya.
2.
Kemiskinan kultural
Sedang
miskin kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok
masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun
ada usaha dari pihak lain yang membantunya.
3.
Kemiskinan absolut
Kemiskinan
Absolut adalah sejumlah penduduk yang tidak mampu mendapatkan sumberdaya yang
cukup untuk memenuhi kebutuha dasar. Mereka hidup dibawah tingkat pendapatan
minimum atau dibawah garis kemiskinan internasional.
Kemiskinan
menjadi problematika di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Hal ini
menghambat pembangunan dan menciptakan banyak permasalahan baru. Negara
berkembang yang masih harus mengejar ketertinggalannya dari negara-negara maju
dan membangun perekonomiannya memiliki indikator-indikator yang mana berkaitan
langsung dengan kemiskinan. Indikator dari negara berkembang di antaranya:
a.
Standar hidup atau tingkat kemakmuran relatif rendah
Indikator
ini berhubungan dengan keadaan perumahan yang didiami, ada tidaknya aliran
listrik dan fasilitan memperoleh air bersih, keadaan infrastruktur pada
umumnya, dan tingkat pendapatan yang diperolah. Pendapatan per kapita dapat
digunakan sebagai pengukur taraf kemakmuran yang dicapai penduduk suatu negara.
Akibat pendapatan yang rendah, penduduk negara berkembang menghadapi masalah
berikut:
·
Masalah
kekurangan gizi dan taraf kesehatan yang rendah,
·
Kemiskinan
masih meluas,
·
Taraf
pendidikan masih rendah.
b.
Produktivitas sangat rendah
Produktivitas atau tingkat produksi
yang dapat dihasilkan seorang pekerja per tahun yang ada di negara berkembang
masih sangat rendah bila dibandingkan dengan tingkat produktivitas tenaga kerja
di negara maju.
c.
Tingkat pertumbuhan penduduk dan beban ketergantungan
yang tinggi
Dengan adanya pertambahan penduduk
yang sangat tinggi, jumlah tanggungan dalam keluarga meningkat, dan beban
setiap keluarga untuk membiayai tanggungannya menjadi semakin besar. Belum lagi
pendapatan yang rendah menjadi masalah dalam membiayai kehidupan dan pendidikan
anak-anak.
d.
Angkatan kerja dengan skill rendah
Seperti dijelaskan mengenai
produktivitas yang rendah, angkatan kerja dengan skill yang rendah juga menjadi
indikator negara berkembang. Angkatan kerja yang tak memiliki cukup pengetahuan
dan pendidikan serta kesehatan yang prima takkan menghasilkan produktivitas
yang baik
e.
Tingkat pengangguran penuh dan pengangguran terselubung
yang tinggi
Sebagian besar penduduk negara
berkembang berada di sektor pertanian tradisional yang sering menghadapi
masalah pengangguran terselubung dan banyak pula pengangguran penuh yang berada
di negara berkembang.
f.
Ketergantungan terhadap produksi pertanian dan ekspor
barang-barang primer
Banyak negara berkembang memiliki
kegiatan ekonomi yang bertumpu pada sektor pertanian, sebagian besar tenaga
kerja ada di sektor tersebut dan bagian terbesar dari pendapatan nasional
berasal dari kegiatan pertanian dan hasil pertanian merupakan produk ekspor
yang utama serta adanya jenis bahan mentah yang menjadi bagian terbesar dari
keseluruhan ekspor. Hal ini menyebabkan kenaikan produksi pertanian berkembang
hampir sama dengan tingkat pertambahan penduduk dan pendapatan per kapita
sektor pertanian tidak banyak mengalami perubahan. Hal ini pada umumnya
memperburuk masalah kemiskinan yang dihadapi.
g.
Tingginya proporsi angkatan kerja di sektor pertanian,
Banyaknya angkatan kerja yang bekerja
di sektor pertanian ikut ambil andil di dalam pembangunan di negara berkembang.
Banyak sektor pertanian yang masih tradisional, dan dengan begitu menghasilkan
produktivitas yang rendah dengan pendapatan yang juga rendah.
h.
Ketidak cukupan teknologi dan modal,
Yang mana dukungan dari kecanggihan
teknologi di era modern ini tidak sepenuhnya dirasakan masyarakat. Belum lagi
modal yang terbilang kecil dan tak dapat menopang dalam usaha serta
pengembangan dan pembangunan.
i.
Rendahnya tingkat tabungan
Ini berhubungan dengan modal sebagai
modal finansial dan nonfinansial yang dapat membiayai dalam usaha dan
sektor-sektor yang tengah dikerjakan.
j.
Dualisme ekonomi
Yang dimaksud dualisme adalah
ciri-ciri suatu kegiatan ekonomi tertentu atau suatu sektor tertentu yang
menggunakan dua teknologi yang sangat berbeda
k.
Ketergantungan pada perdagangan internasional (lewat
impor)
Terlalu banyak masyarakat di
Indonesia yang lebih menyukai produk impor dibandingkan produk lokal. Hal
seperti ini berdampak pada kemiskinan, di mana pendapatan di dalam negeri tidak
mengalami peningkatan sedangkan di luar negeri pendapatannya melonjak dengan
drastis. Oleh karena itu, ketergantungan pada perdagangan internasional
mempunyai kelemahannya sendiri.
Indikator yang
disebutkan di atas tak berbeda jauh dengan penyebab-penyebab kemiskinan yang
umumnya terjadi di suatu wilayah atau negara. Beberapa penyebab yang berdampak
pada kemiskinan di antaranya:
·
Tingkat pendidikan masyarakat yang rata-rata
rendah.
Hal
ini dapat mengakibatkan kemiskinan, bilamana seseorang tak memiliki pendidikan
yang cukup maka dia tak bisa mendapatkan pekerjaan maupun pendapatan yang
mumpuni untuk menghidupi dirinya. Apabila hal itu terjadi, maka kebutuhan
minimum takkan tercukupi dan akan hidup di bawah garis kemiskinan.
·
Cara berpikir yang masih tradisional.
Cara
berpikir seseorang juga mempengaruhi bagaimana kehidupannya nanti. Cara
berpikir seseorang yang masih rasional dan primitif dan belum modern akan
membawa dampaka seperti kemiskinan. Hal ini dikarenakan bahwa cara berpikir
yang masih tradisional masih berdasarkan pemikiran turun temurun dari nenek
moyang mereka. Oleh sebab itu, pemikiran seperti itu belum dapat membawa pada
kemajuan.
·
Apatis dan anti hal-hal baru.
Kurangnya
emosi, motivasi dan antusiasme serta anti hal-hal baru juga menjadi faktor
penyebab munculnya kemiskinan, karena hal itu membuat seseorang stagnan pada
kehidupannya tanpa ingin maju.
·
Mentalitas dan etos kerja yang kurang baik.
Hal
ini berhubungan dengan produktivitas kerja seseorang, yang akan dinilai tidak
baik dan berpengaruh pada pendapatannya.
·
Keadaan alam yang kurang mendukung.
Kekeringan/gersang,
kekurangan air untuk kebutuhan sehari-hari juga membawa dampak yaitu
kemiskinan.
·
Keterisoliran secara geografis dari pusat.
Akibat
keadaan wilayah atau letak geografis yang jauh dari pusat pemerintahan dan
pusat kegiatan ekonomi, suatu daerah mengalami ketertinggalan dan akhirnya
banyak masyarakat yang harus hidup di bawah garis kemiskinan.
·
Tiadanya potensi atau produk andalan.
Pemerintah
telah berusaha mendorong dan menggalakkan berbagai cara untuk ‘memancing’
potensi suatu daerah dapat muncul, tapi hal itu belum membuahkan hasil. Sama
dengan produksi yang dilakukan, belum adanya produk yang memiliki inovasi dan
dapat menunjang perekonomian.
·
Rendahnya kinerja dan budaya korup aparatur
pemerintah daerah.
Maraknya
korupsi yang dilakukan pejabat-pejabat daerah bahkan di jajaran para menteri
dan anggota DPR banyak yang melakukan hal tak terpuji itu. Ini juga berakibat
buruk pada kesejahteraan masyarakat.
B.
DAMPAK KEMISKINAN
Menurut Sadorno
Sukirno, kemiskinan akan membawa dampak yaitu kekurangan gizi dan taraf
kesehatan yang rendah. Ini di antaranya dapat dilihat dari jumlah kalori
makanan yang belum mencapai tahap minimum, life
expectancy yang rendah, tingkat kematian per tahun dan tingkat kematian bayi
yang tinggi.
Lalu, akan terjadi
kemiskinan yang meluas, di mana penduduk akan hidup di bawah garis kemiskinan.
Artinya, pendapatan mereka tak mencukupi untuk membiayai kebutuhan minimum
sehari-hari.
Yang terakhir,
taraf pendidikan yang rendah yang diakibatkan oleh kemiskinan dalam hal ini
pendapatan yang rendah, banyak keluarga di negara berkembang yang tidak pendidikan
generasi muda sangat rendah.
Secara umum, di
lingkungan sekitar kita, telah banyak dampak yang dapat dilihat sehubungan
dengan kemiskinan, di antaranya:
·
Pengangguran, banyaknya pengangguran
mengakibatkan banyaknya penduduk yang tak memiliki penghasilan dengan begitu
kebutuhan minimumnya tak dapat terpenuhi. Secara otomatis pengangguran
telah menurunkan daya saing dan beli masyarakat. Sehingga, akan memberikan
dampak secara langsung terhadap tingkat pendapatan, nutrisi, dan tingkat
pengeluaran rata-rata.
·
Kriminalitas, semakin banyak orang miskin maka semakin banyak pula
kemiskinan yang terjadi. Masuk akal bila seorang kepala rumah tangga menghalakan
segala cara untuk menghidupi keluarganya yang kelaparan.
·
Urbanisasi, Orang
berpikir bahwa tinggal di kota besar akan mendatangkan penghasilan besar. Tapi semakin
banyak orang yang datang ke kota besar maka lapangan pekerjaan yang tersedia juga akan
semakin sedikit. Dan hal ini malahan akan memperparah tingkat pengangguran.
·
Bunuh diri, banyak orang yang putus asa karena tidak sanggup
menghadapi kemiskinan, sehingga mengambil jalan pintas.
Kemiskinan
memang dapat mengganggu kesejahteraan masyarakat, dan itu tampak dari
adanya rumah kumuh di pinggiran sungai, adanya penyakit busung lapar. Dan
itulah yang terjadi sekarang ini, bahwa kemiskinan sekarang ada dimana-mana.
Kemiskinan tidak hanya berdampak bagi para rakyat miskin tetapi juga berdampak
bagi warga sekitarnya (karena
kemiskinan juga dapat meningkatkan tindakan kriminalitas).
·
Pendidikan,
mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau
dunia sekolah atau pendidikan. Jelas mereka tak dapat menjangkau dunia pendidikan
yang sangat mahal itu. Sebab, mereka begitu miskin. Untuk makan satu kali
sehari saja mereka sudah kesulitan. Dengan begitu akan mengurangi kesempatan
seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Ini akan menyebabkan
bertambahnya pengangguran akibat tidak mampu bersaing di era globalisasi yang
menuntut keterampilan di segala bidang.
·
Kesehatan, biaya pengobatan sekarang sangat mahal.
Hampir setiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan
tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya melangit. Sehingga, biayanya tak
terjangkau oleh kalangan miskin.
·
Konflik
sosial bernuansa SARA, Tanpa bersikap munafik konflik SARA muncul akibat
ketidakpuasan dan kekecewaan atas kondisi miskin yang akut. Hal ini menjadi
bukti lain dari kemiskinan yang dialami.
C.
CARA MENANGGULANGI KEMISKINAN
Dengan
tingginya angka kemiskinan di Indonesia, maka hal ini menjadi masalah
tersendiri bagi negara ini dan sampai saat ini masih belum ada solusinya. Dan
kemiskinan mempunyai hubungan dengan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu
kemiskinan harus kita tanggulangi agar angka kemiskinan tidak semakin tinggi.
Kemiskinan memang
tak bisa hilang begitu saja dari kehidupan di setiap negara. Oleh karena itu,
semua negara di dunia berupaya semaksimal mungkin untuk mengatasi permasalahan
ini. Adapun upaya yang seharusnya dilaksanakan adalah :
1.
Usaha yang timbul secara induvidu, di mana seseorang
punya kesadaran untuk memajukan dirinya dan tak perpangku tangan. Misalnya
dengan mengejar cita-cita dan meneruskan pendidikan setinggi-tingginya.
2.
Pemberian sedekah, yang dilakukan dengan dorongan hati
nurani dan keinginan untuk membantu sesama walaupun tak dapat memberantas
kemiskinan secara menyeluruh.
3. Pembangunan ekonomi, dengan cara penambahan
barang-barang yang ditawarkan dalam pasaran di sebuah negara. Pembangunan
ekonomi merupakan cara yang paling tepat untuk mengatasi masalah kemiskinan.
Tetapi ia harus disertai dengan distribusi pendapatan yang adil dalam
masyarakat.
4. Pemberdayaan masyarakat
yang dapat dilaksanakan melalui program pemerintah seperti PNPM Mandiri, P2KP
dan sebagainya.
5. Pasaran
bebas, Milton Friedman mencadangkan pasaran bebas untuk pembangunan ekonomi dan
mengatasi kemiskinan. Jika ada pembangunan ekonomi ada pula pengurangan
kemiskinan. Jika KDNK tumbuh dengan 1% kemiskinan akan dikurangi dengan lebih
kurang 1%.
6.
Bantuan kemiskinan, atau membantu secara langsung
kepada orang miskin. Ini telah menjadi bagian pendekatan dari masyarakat Eropa
sejak zaman pertengahan.
7.
Bantuan terhadap keadaan individu. Banyak macam
kebijakan yang dijalankan untuk mengubah situasi orang miskin berdasarkan
perorangan, termasuk hukuman, pendidikan, kerja sosial, pencarian kerja, dan
lain-lain.
8.
Persiapan bagi yang lemah dengan menyediakan bantuan
untuk orang yang dikategorikan sebagai orang yang lebih mungkin miskin, seperti
orang tua atau orang dengan ketidakmampuan, atau keadaan yang membuat orang
miskin, seperti kebutuhan akan perawatan kesehatan.
D. PERAN
PEMERINTAH DI DALAM MENGATASI KEMISKINAN
KKT Bumi (Eart Summir) yang berlangsung
di kota Rio de Janeiro, Brasil dengan tugas pokok perumusan cara-cara
menghadapi ancaman bahaya kerusakan lingkungan hidup global telah mengeluarkan
Agenda 21, di mana salah satu kegiatan internasional yang dilakukan adalah
“penyediaan dan alokasi dana banguan pembangunan guna membiayai program
pengentasan kemiskinan dan kesehatan lingkungan. Misalnya program perbaikan
sanitasi dan penyediaan air bersih, pengurangan polusi di dalam rumah akibat
pemakaian bahan bakar kayu serta pemenuhan kebutuhan dasar bagi penduduk”
(Michael Todaro).
Selain
penanggulangan kemiskinan yang dicanangkan di tingkat internasional, pemerintah
di dalam negeri pun harus berupaya. Program raksin dan BLSM belumlah cukup
untuk mengatasi permasalahan kemiskinan. Menteri Koordinator Bidang Ekonomi,
Kesejahteraan Rakyat mengungkapkan bahwa penerima BLSM sebanyak 65 juta jiwa.
Walaupun begitu, pemberian BLSM tidak memberikan perubahan yang signifikan bagi
pengurangan kemiskinan di Indonesia.
Pada prinsipnya,
pemerintah dalam program pembangunannya telah menjadikan kemiskinan sebagai
salah satu fokus utamanya. Program umum Presiden RI yang sering disebut dengan triple track mencakup pro poor, pro growth dan pro employment
atau program pembangunan yang berfokus pada pengentasan kemiskinan, peningkatan
pertumbuhan ekonomi dan perluasan lapangan kerja.
Dalam kondisi
ideal, maka peningkatan pertumbuhan ekonomi akan diikuti dengan perluasan
lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan. Namun keadaan riil tidak selalu
seperti yang diharapkan. Adapun hal-hal yang mungkin terjadi adalah pertumbuhan
ekonomi yang tinggi tidak diikuti dengan pengurangan kemiskinan, pertumbuhan
ekonomi yang tinggi tetapi tidak lantas memperluas lapangan kerja, lapangan
kerja yang luas akan tetapi pertumbuhan ekonomi tetap rendah.
Pemerintah juga
telah berupaya dalam menjalankan beberapa kebijakan dan program-program untuk
memberantas kemiskinan, di antaranya:
a.
Menciptakan lapangan kerja yang mampu menyerap banyak
tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran karena pengangguran menjadi salah
satu penyebab kemiskinan di Indonesia.
b.
Menghapuskan korupsi. Kinerja pemerintah yang buruk dan
budaya korupsi yang merajalela menjadikan masyarakat tidak bisa menikmati hak
mereka sebagai warga negara sebagaimana mestinya.
c.
Menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok. Fokus
program ini bertujuan menjamin daya beli masyarakat miskin/keluarga miskin
untuk memenuhi kebutuhan pokok terutama beras dan kebutuhan pokok utama selain
beras. Program yang berkaitan dengan fokus ini seperti :
• Penyediaan cadangan beras pemerintah 1 juta ton
• Stabilisasi/kepastian harga komoditas primer
d.
Meningkatkan akses masyarakat miskin kepada pelayanan
dasar yang bertujuan untuk meningkatkan akses penduduk miskin memenuhi
kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan prasarana dasar.
e.
Menyempurnakan dan memperluas cakupan program
pembangunan berbasis masyarakat. Program ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi
dan optimalisasi pemberdayaan masyarakat di kawasan perdesaan dan perkotaan
serta memperkuat penyediaan dukungan pengembangan kesempatan berusaha bagi
penduduk miskin. Program yang berkaitan dengan fokus ketiga ini antara lain:
• Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di perdesaan dan
perkotaan
• Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah
• Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah
• Program Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus
• Penyempurnaan dan pemantapan program pembangunan berbasis masyarakat.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Kemiksinan tidak
dapat dihilangkan, tapi dapat dikurangi. Berbagai penyebab kemiskinan mulai
dari tingkat pendidikan masyarakat yang rata-rata rendah, cara berpikir yang
masih tradisional, apatis dan anti hal-hal baru, mentalitas dan etos kerja yang
kurang baik, keadaan alam yang kurang mendukung, keterisoliran secara geografis
dari pusat, tidak adanya potensi atau produk andalan hingga rendahnya kinerja
dan budaya korup aparatur pemerintah daerah perlu diminimalisir psehingga
kemiskinan bisa ditanggulangi.
Selain itu, peran pemerintah juga sangat penting dalam
mengatasi kemiskinan dengan menciptakan lapangan kerja yang mampu menyerap
banyak tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran, menghapuskan korupsi (hal
inilah yang kemudian menjadikan masyarakat tidak bisa menikmati hak mereka
sebagai warga negara sebagaimana mestinya),
menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok, penyediaan cadangan
beras pemerintah 1 juta ton, stabilisasi/kepastian harga komoditas primer.
Kemudian meningkatkan akses masyarakat miskin kepada pelayanan dasar. Yang bertujuan
untuk meningkatkan akses penduduk miskin memenuhi kebutuhan pendidikan,
kesehatan, dan prasarana dasar. Menyempurnakan dan memperluas cakupan program
pembangunan berbasis masyarakat. Program ini bertujuan untuk meningkatkan
sinergi dan optimalisasi pemberdayaan masyarakat di kawasan perdesaan dan
perkotaan serta memperkuat penyediaan dukungan pengembangan kesempatan berusaha
bagi penduduk miskin yaitu PNPM, Program Pengembangan Infrastruktur Sosial
Ekonomi Wilayah, Program Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus serta Penyempurnaan
dan pemantapan program pembangunan berbasis masyarakat.
B.
SARAN
Masyarakat secara individu harus memiliki kesadaran dan
motivasi untuk memajukan diri mereka masing-masing dan bukan hanya stagnan
dengan keadaan yang ada. Karena hal seperti inilah yang akan memperburuk
tingkat kemiskinan.
Pemerintah juga diharapkan tidak pro budget, di mana hanya memikirkan aliran dana atau anggaran yang
keluar bila ingin memberantas kemiskinan. Apabila pemikiran seperti ini terus
ada, maka keinginan menanggulangi kemiskina tak dapat tercapai sesuai apa yang
diekspektasikan.
DAFTAR
PUSTAKA
Sukirno, Sadono. Ekonomi Pembangunan, Proses, Masalah dan
Dasar Kebijakan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2006
Todaro, Michael P. Pembangunan
Ekonomi Edisi Ke Lima. Jakarta: Bumi Aksara. 2000
Komentar
Posting Komentar