TAKE HOME MATA KULIAH PEREKONOMIAN INDONESIA - KEMISKINAN



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Kemiskinan masih merupakan masalah serius yang dihadapi pemerintah Indonesia. Upaya demi upaya untuk memberantas kemiskinan belum sepenuhnya membuahkan hasil seperti yang diekspetasikan. Banyak orang masih hidup di bawah garis kemiskinan dengan tidak memiliki kepastian di masa depan.
Di samping itu, angka kemiskinan masih berada di atas 11 persen tidak bergeser dari capaian tahun 2012 yang berada pada angka 11,96 persen. Dengan kata lain Pemerintah telah gagal menurunkan angka kemiskinan. Program-program Pemerintah terkait kemiskinan salah satunya program raskin dan BLSM kurang memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan angka kemiskinan.
Dampak kemiskinan akan berimbas pada standar hidup masyarakat yang tak mencapai taraf minimum di mana lebih banyak orang yang tak dapat bersekolah, kekurangan gizi dan taraf kesehatan yang rendah serta taraf pendidikan yang rendah. Ini akan menimbulkan angka kematian yang tinggi dan pengangguran yang semakin meningkat.
Kemiskinan merupakan hal yang kompleks, oleh sebab itu dibutuhkan keseriusan dari pemerintah dan masyarakat per individu dalam menanggulangi problematika tersebut.

B.     PERUMUSAN MASALAH
Dalam menulis makalah ini, terdapat beberapa masalah yang dikemukakan, antara lain:
1.      Apa sajakah penyebab kemiskinan di Indonesia?
2.      Bagaimana dampak kemiskinan bagi perekonomian di Indonesia?
3.      Bagaimana cara menanggulangi kemiskinan yang tengah menjadi masalah di negara ini?
4.      Apa peran pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan?

C.     TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menganalisa dan menerangkan mengenai penyebab-penyebab kemiskinan di Indonesia dan dampaknya. Serta cara-cara dan upaya pemerintah yang tepat untuk menanggulangi kemiskinan yang sedang dihadapi.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENYEBAB KEMISKINAN DI INDONESIA
Kemiskinan juga dapat dibedakan menjadi tiga pengertian, yaitu :
1.      Kemiskinan relatif
Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya.
2.      Kemiskinan kultural
Sedang miskin kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.
3.      Kemiskinan absolut
Kemiskinan Absolut adalah sejumlah penduduk yang tidak mampu mendapatkan sumberdaya yang cukup untuk memenuhi kebutuha dasar. Mereka hidup dibawah tingkat pendapatan minimum atau dibawah garis kemiskinan internasional.

Kemiskinan menjadi problematika di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Hal ini menghambat pembangunan dan menciptakan banyak permasalahan baru. Negara berkembang yang masih harus mengejar ketertinggalannya dari negara-negara maju dan membangun perekonomiannya memiliki indikator-indikator yang mana berkaitan langsung dengan kemiskinan. Indikator dari negara berkembang di antaranya:
a.       Standar hidup atau tingkat kemakmuran relatif rendah
Indikator ini berhubungan dengan keadaan perumahan yang didiami, ada tidaknya aliran listrik dan fasilitan memperoleh air bersih, keadaan infrastruktur pada umumnya, dan tingkat pendapatan yang diperolah. Pendapatan per kapita dapat digunakan sebagai pengukur taraf kemakmuran yang dicapai penduduk suatu negara. Akibat pendapatan yang rendah, penduduk negara berkembang menghadapi masalah berikut:
·         Masalah kekurangan gizi dan taraf kesehatan yang rendah,
·         Kemiskinan masih meluas,
·         Taraf pendidikan masih rendah.


b.      Produktivitas sangat rendah
Produktivitas atau tingkat produksi yang dapat dihasilkan seorang pekerja per tahun yang ada di negara berkembang masih sangat rendah bila dibandingkan dengan tingkat produktivitas tenaga kerja di negara maju.
c.       Tingkat pertumbuhan penduduk dan beban ketergantungan yang tinggi
Dengan adanya pertambahan penduduk yang sangat tinggi, jumlah tanggungan dalam keluarga meningkat, dan beban setiap keluarga untuk membiayai tanggungannya menjadi semakin besar. Belum lagi pendapatan yang rendah menjadi masalah dalam membiayai kehidupan dan pendidikan anak-anak.
d.      Angkatan kerja dengan skill rendah
Seperti dijelaskan mengenai produktivitas yang rendah, angkatan kerja dengan skill yang rendah juga menjadi indikator negara berkembang. Angkatan kerja yang tak memiliki cukup pengetahuan dan pendidikan serta kesehatan yang prima takkan menghasilkan produktivitas yang baik
e.       Tingkat pengangguran penuh dan pengangguran terselubung yang tinggi
Sebagian besar penduduk negara berkembang berada di sektor pertanian tradisional yang sering menghadapi masalah pengangguran terselubung dan banyak pula pengangguran penuh yang berada di negara berkembang.
f.       Ketergantungan terhadap produksi pertanian dan ekspor barang-barang primer
Banyak negara berkembang memiliki kegiatan ekonomi yang bertumpu pada sektor pertanian, sebagian besar tenaga kerja ada di sektor tersebut dan bagian terbesar dari pendapatan nasional berasal dari kegiatan pertanian dan hasil pertanian merupakan produk ekspor yang utama serta adanya jenis bahan mentah yang menjadi bagian terbesar dari keseluruhan ekspor. Hal ini menyebabkan kenaikan produksi pertanian berkembang hampir sama dengan tingkat pertambahan penduduk dan pendapatan per kapita sektor pertanian tidak banyak mengalami perubahan. Hal ini pada umumnya memperburuk masalah kemiskinan yang dihadapi.
g.      Tingginya proporsi angkatan kerja di sektor pertanian,
Banyaknya angkatan kerja yang bekerja di sektor pertanian ikut ambil andil di dalam pembangunan di negara berkembang. Banyak sektor pertanian yang masih tradisional, dan dengan begitu menghasilkan produktivitas yang rendah dengan pendapatan yang juga rendah.
h.      Ketidak cukupan teknologi dan modal,
Yang mana dukungan dari kecanggihan teknologi di era modern ini tidak sepenuhnya dirasakan masyarakat. Belum lagi modal yang terbilang kecil dan tak dapat menopang dalam usaha serta pengembangan dan pembangunan.
i.        Rendahnya tingkat tabungan
Ini berhubungan dengan modal sebagai modal finansial dan nonfinansial yang dapat membiayai dalam usaha dan sektor-sektor yang tengah dikerjakan.
j.        Dualisme ekonomi
Yang dimaksud dualisme adalah ciri-ciri suatu kegiatan ekonomi tertentu atau suatu sektor tertentu yang menggunakan dua teknologi yang sangat berbeda
k.      Ketergantungan pada perdagangan internasional (lewat impor)
Terlalu banyak masyarakat di Indonesia yang lebih menyukai produk impor dibandingkan produk lokal. Hal seperti ini berdampak pada kemiskinan, di mana pendapatan di dalam negeri tidak mengalami peningkatan sedangkan di luar negeri pendapatannya melonjak dengan drastis. Oleh karena itu, ketergantungan pada perdagangan internasional mempunyai kelemahannya sendiri.
Indikator yang disebutkan di atas tak berbeda jauh dengan penyebab-penyebab kemiskinan yang umumnya terjadi di suatu wilayah atau negara. Beberapa penyebab yang berdampak pada kemiskinan di antaranya:
·        Tingkat pendidikan masyarakat yang rata-rata rendah.
Hal ini dapat mengakibatkan kemiskinan, bilamana seseorang tak memiliki pendidikan yang cukup maka dia tak bisa mendapatkan pekerjaan maupun pendapatan yang mumpuni untuk menghidupi dirinya. Apabila hal itu terjadi, maka kebutuhan minimum takkan tercukupi dan akan hidup di bawah garis kemiskinan.
·        Cara berpikir yang masih tradisional.
Cara berpikir seseorang juga mempengaruhi bagaimana kehidupannya nanti. Cara berpikir seseorang yang masih rasional dan primitif dan belum modern akan membawa dampaka seperti kemiskinan. Hal ini dikarenakan bahwa cara berpikir yang masih tradisional masih berdasarkan pemikiran turun temurun dari nenek moyang mereka. Oleh sebab itu, pemikiran seperti itu belum dapat membawa pada kemajuan.
·        Apatis dan anti hal-hal baru.
Kurangnya emosi, motivasi dan antusiasme serta anti hal-hal baru juga menjadi faktor penyebab munculnya kemiskinan, karena hal itu membuat seseorang stagnan pada kehidupannya tanpa ingin maju.
·        Mentalitas dan etos kerja yang kurang baik.
Hal ini berhubungan dengan produktivitas kerja seseorang, yang akan dinilai tidak baik dan berpengaruh pada pendapatannya.
·        Keadaan alam yang kurang mendukung.
Kekeringan/gersang, kekurangan air untuk kebutuhan sehari-hari juga membawa dampak yaitu kemiskinan.
·        Keterisoliran secara geografis dari pusat.
Akibat keadaan wilayah atau letak geografis yang jauh dari pusat pemerintahan dan pusat kegiatan ekonomi, suatu daerah mengalami ketertinggalan dan akhirnya banyak masyarakat yang harus hidup di bawah garis kemiskinan.
·        Tiadanya potensi atau produk andalan.
Pemerintah telah berusaha mendorong dan menggalakkan berbagai cara untuk ‘memancing’ potensi suatu daerah dapat muncul, tapi hal itu belum membuahkan hasil. Sama dengan produksi yang dilakukan, belum adanya produk yang memiliki inovasi dan dapat menunjang perekonomian.
·         Rendahnya kinerja dan budaya korup aparatur pemerintah daerah.
Maraknya korupsi yang dilakukan pejabat-pejabat daerah bahkan di jajaran para menteri dan anggota DPR banyak yang melakukan hal tak terpuji itu. Ini juga berakibat buruk pada kesejahteraan masyarakat.

B.     DAMPAK KEMISKINAN
Menurut Sadorno Sukirno, kemiskinan akan membawa dampak yaitu kekurangan gizi dan taraf kesehatan yang rendah. Ini di antaranya dapat dilihat dari jumlah kalori makanan yang belum mencapai tahap minimum, life expectancy yang rendah, tingkat kematian per tahun dan tingkat kematian bayi yang tinggi.
Lalu, akan terjadi kemiskinan yang meluas, di mana penduduk akan hidup di bawah garis kemiskinan. Artinya, pendapatan mereka tak mencukupi untuk membiayai kebutuhan minimum sehari-hari.
Yang terakhir, taraf pendidikan yang rendah yang diakibatkan oleh kemiskinan dalam hal ini pendapatan yang rendah, banyak keluarga di negara berkembang yang tidak pendidikan generasi muda sangat rendah.
Secara umum, di lingkungan sekitar kita, telah banyak dampak yang dapat dilihat sehubungan dengan kemiskinan, di antaranya:
·         Pengangguran, banyaknya pengangguran mengakibatkan banyaknya penduduk yang tak memiliki penghasilan dengan begitu kebutuhan minimumnya tak dapat terpenuhi. Secara otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing dan beli masyarakat. Sehingga, akan memberikan dampak secara langsung terhadap tingkat pendapatan, nutrisi, dan tingkat pengeluaran rata-rata.
·         Kriminalitas, semakin banyak orang miskin maka semakin banyak pula kemiskinan yang terjadi. Masuk akal bila seorang kepala rumah tangga menghalakan segala cara untuk menghidupi keluarganya yang kelaparan.
·          Urbanisasi, Orang berpikir bahwa tinggal di kota besar akan mendatangkan penghasilan besar. Tapi semakin banyak orang yang datang ke kota besar maka lapangan pekerjaan yang tersedia juga akan semakin sedikit. Dan hal ini malahan akan memperparah tingkat pengangguran.
·         Bunuh diri, banyak orang yang putus asa karena tidak sanggup menghadapi kemiskinan, sehingga mengambil jalan pintas.
Kemiskinan memang dapat mengganggu kesejahteraan masyarakat, dan itu  tampak dari adanya rumah kumuh di pinggiran sungai, adanya penyakit busung lapar. Dan itulah yang terjadi sekarang ini, bahwa kemiskinan sekarang ada dimana-mana. Kemiskinan tidak hanya berdampak bagi para rakyat miskin tetapi juga berdampak bagi warga sekitarnya (karena kemiskinan juga dapat meningkatkan tindakan kriminalitas).
·         Pendidikan, mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Jelas mereka tak dapat menjangkau dunia pendidikan yang sangat mahal itu. Sebab, mereka begitu miskin. Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan. Dengan begitu akan mengurangi kesempatan seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Ini akan menyebabkan bertambahnya pengangguran akibat tidak mampu bersaing di era globalisasi yang menuntut keterampilan di segala bidang.
·         Kesehatan,  biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir setiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya melangit. Sehingga, biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.
·         Konflik sosial bernuansa SARA, Tanpa bersikap munafik konflik SARA muncul akibat ketidakpuasan dan kekecewaan atas kondisi miskin yang akut. Hal ini menjadi bukti lain dari kemiskinan yang dialami.

C.     CARA MENANGGULANGI KEMISKINAN
Dengan tingginya angka kemiskinan di Indonesia, maka hal ini menjadi masalah tersendiri bagi negara ini dan sampai saat ini masih belum ada solusinya. Dan kemiskinan mempunyai hubungan dengan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu kemiskinan harus kita tanggulangi agar angka kemiskinan tidak semakin tinggi.
Kemiskinan memang tak bisa hilang begitu saja dari kehidupan di setiap negara. Oleh karena itu, semua negara di dunia berupaya semaksimal mungkin untuk mengatasi permasalahan ini. Adapun upaya yang seharusnya dilaksanakan adalah :
1.      Usaha yang timbul secara induvidu, di mana seseorang punya kesadaran untuk memajukan dirinya dan tak perpangku tangan. Misalnya dengan mengejar cita-cita dan meneruskan pendidikan setinggi-tingginya.
2.      Pemberian sedekah, yang dilakukan dengan dorongan hati nurani dan keinginan untuk membantu sesama walaupun tak dapat memberantas kemiskinan secara menyeluruh.
3. Pembangunan ekonomi, dengan cara penambahan barang-barang yang ditawarkan dalam pasaran di sebuah negara. Pembangunan ekonomi merupakan cara yang paling tepat untuk mengatasi masalah kemiskinan. Tetapi ia harus disertai dengan distribusi pendapatan yang adil dalam masyarakat.
4. Pemberdayaan masyarakat yang dapat dilaksanakan melalui program pemerintah seperti PNPM Mandiri, P2KP dan sebagainya.
5. Pasaran bebas, Milton Friedman mencadangkan pasaran bebas untuk pembangunan ekonomi dan mengatasi kemiskinan. Jika ada pembangunan ekonomi ada pula pengurangan kemiskinan. Jika KDNK tumbuh dengan 1% kemiskinan akan dikurangi dengan lebih kurang 1%.
6.      Bantuan kemiskinan, atau membantu secara langsung kepada orang miskin. Ini telah menjadi bagian pendekatan dari masyarakat Eropa sejak zaman pertengahan.
7.      Bantuan terhadap keadaan individu. Banyak macam kebijakan yang dijalankan untuk mengubah situasi orang miskin berdasarkan perorangan, termasuk hukuman, pendidikan, kerja sosial, pencarian kerja, dan lain-lain.
8.      Persiapan bagi yang lemah dengan menyediakan bantuan untuk orang yang dikategorikan sebagai orang yang lebih mungkin miskin, seperti orang tua atau orang dengan ketidakmampuan, atau keadaan yang membuat orang miskin, seperti kebutuhan akan perawatan kesehatan.

D. PERAN PEMERINTAH DI DALAM MENGATASI KEMISKINAN
KKT Bumi (Eart Summir) yang berlangsung di kota Rio de Janeiro, Brasil dengan tugas pokok perumusan cara-cara menghadapi ancaman bahaya kerusakan lingkungan hidup global telah mengeluarkan Agenda 21, di mana salah satu kegiatan internasional yang dilakukan adalah “penyediaan dan alokasi dana banguan pembangunan guna membiayai program pengentasan kemiskinan dan kesehatan lingkungan. Misalnya program perbaikan sanitasi dan penyediaan air bersih, pengurangan polusi di dalam rumah akibat pemakaian bahan bakar kayu serta pemenuhan kebutuhan dasar bagi penduduk” (Michael Todaro).
Selain penanggulangan kemiskinan yang dicanangkan di tingkat internasional, pemerintah di dalam negeri pun harus berupaya. Program raksin dan BLSM belumlah cukup untuk mengatasi permasalahan kemiskinan. Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Kesejahteraan Rakyat mengungkapkan bahwa penerima BLSM sebanyak 65 juta jiwa. Walaupun begitu, pemberian BLSM tidak memberikan perubahan yang signifikan bagi pengurangan kemiskinan di Indonesia.
Pada prinsipnya, pemerintah dalam program pembangunannya telah menjadikan kemiskinan sebagai salah satu fokus utamanya. Program umum Presiden RI yang sering disebut dengan triple track mencakup pro poor, pro growth dan pro employment atau program pembangunan yang berfokus pada pengentasan kemiskinan, peningkatan pertumbuhan ekonomi dan perluasan lapangan kerja.
Dalam kondisi ideal, maka peningkatan pertumbuhan ekonomi akan diikuti dengan perluasan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan. Namun keadaan riil tidak selalu seperti yang diharapkan. Adapun hal-hal yang mungkin terjadi adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak diikuti dengan pengurangan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi tidak lantas memperluas lapangan kerja, lapangan kerja yang luas akan tetapi pertumbuhan ekonomi tetap rendah.
Pemerintah juga telah berupaya dalam menjalankan beberapa kebijakan dan program-program untuk memberantas kemiskinan, di antaranya:
a.       Menciptakan lapangan kerja yang mampu menyerap banyak tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran karena pengangguran menjadi salah satu penyebab kemiskinan di Indonesia.
b.      Menghapuskan korupsi. Kinerja pemerintah yang buruk dan budaya korupsi yang merajalela menjadikan masyarakat tidak bisa menikmati hak mereka sebagai warga negara sebagaimana mestinya.
c.       Menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok. Fokus program ini bertujuan menjamin daya beli masyarakat miskin/keluarga miskin untuk memenuhi kebutuhan pokok terutama beras dan kebutuhan pokok utama selain beras. Program yang berkaitan dengan fokus ini seperti :  
• Penyediaan cadangan beras pemerintah 1 juta ton
• Stabilisasi/kepastian harga komoditas primer
d.   Meningkatkan akses masyarakat miskin kepada pelayanan dasar yang bertujuan untuk meningkatkan akses penduduk miskin memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan prasarana dasar.
e.    Menyempurnakan dan memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat. Program ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi dan optimalisasi pemberdayaan masyarakat di kawasan perdesaan dan perkotaan serta memperkuat penyediaan dukungan pengembangan kesempatan berusaha bagi penduduk miskin. Program yang berkaitan dengan fokus ketiga ini antara lain:
• Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di perdesaan dan perkotaan
• Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah
• Program Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus
• Penyempurnaan dan pemantapan program pembangunan berbasis masyarakat.


BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Kemiksinan tidak dapat dihilangkan, tapi dapat dikurangi. Berbagai penyebab kemiskinan mulai dari tingkat pendidikan masyarakat yang rata-rata rendah, cara berpikir yang masih tradisional, apatis dan anti hal-hal baru, mentalitas dan etos kerja yang kurang baik, keadaan alam yang kurang mendukung, keterisoliran secara geografis dari pusat, tidak adanya potensi atau produk andalan hingga rendahnya kinerja dan budaya korup aparatur pemerintah daerah perlu diminimalisir psehingga kemiskinan bisa ditanggulangi.
Selain itu, peran pemerintah juga sangat penting dalam mengatasi kemiskinan dengan menciptakan lapangan kerja yang mampu menyerap banyak tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran, menghapuskan korupsi (hal inilah yang kemudian menjadikan masyarakat tidak bisa menikmati hak mereka sebagai warga negara sebagaimana mestinya),  menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok, penyediaan cadangan beras pemerintah 1 juta ton, stabilisasi/kepastian harga komoditas primer. Kemudian meningkatkan akses masyarakat miskin kepada pelayanan dasar. Yang bertujuan untuk meningkatkan akses penduduk miskin memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan prasarana dasar. Menyempurnakan dan memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat. Program ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi dan optimalisasi pemberdayaan masyarakat di kawasan perdesaan dan perkotaan serta memperkuat penyediaan dukungan pengembangan kesempatan berusaha bagi penduduk miskin yaitu PNPM, Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah, Program Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus serta Penyempurnaan dan pemantapan program pembangunan berbasis masyarakat.

B.     SARAN
Masyarakat secara individu harus memiliki kesadaran dan motivasi untuk memajukan diri mereka masing-masing dan bukan hanya stagnan dengan keadaan yang ada. Karena hal seperti inilah yang akan memperburuk tingkat kemiskinan.
Pemerintah juga diharapkan tidak pro budget, di mana hanya memikirkan aliran dana atau anggaran yang keluar bila ingin memberantas kemiskinan. Apabila pemikiran seperti ini terus ada, maka keinginan menanggulangi kemiskina tak dapat tercapai sesuai apa yang diekspektasikan.



DAFTAR PUSTAKA

Sukirno, Sadono. Ekonomi Pembangunan, Proses, Masalah dan Dasar Kebijakan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2006

Todaro, Michael P. Pembangunan Ekonomi Edisi Ke Lima. Jakarta: Bumi Aksara. 2000

Komentar

Postingan populer dari blog ini

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Ketika Teman Jadi Bangsat !

Yang Berharga Yang Kulepas.