Immortal Love Song
Aku takut bila suatu waktu aku lupa akan cerita bahagia ini. Bersama orang-orang terkasih yang kubawa dalam doa dan kukasihi seperti kedua orangtua dan saudara-saudaraku.
Sikumana, 21 Agustus 2016.
Seperti hari biasanya. Tepat pada hari ini, di hari Minggu setelah selesai mengikuti kebaktian di gereja, aku dan kakak perempuanku bersiap-siap untuk pergi ke rumah nenek yang jaraknya hanya butuh 10 menitan hingga tiba di rumahnya. Hari ini terasa spesial dengan kebahagiaan kami, karena merupakan hari ulangtahun Nenek yang ke-86.
Kebahagiaan yang kami balut dalam untaian doa dan selebrasi yang sangat sederhana, bahkan hal ini bisa dianggap biasa saja. Tidak banyak yang kami lakukan, selain membeli sup ayam yang sudah diminta Nenek jauh-jauh hari sebelum ulangtahunnya.
Sesampainya di rumah Nenek, kami langsung menghambur mencium Nenek. Kali ini bukan kami yang memberi ucapan ulang tahun, tapi dengan lantang Nenek malah mengucapkan "Selamat Ulang Tahun" saat tahu kami telah tiba. Belum berapa lama, Nenek langsung minta disuap dengan sup dan ayam goreng.
Aku selalu bahagia melakukan hal-hal sederhana ini. Menyuapi Nenek jadi bagian menyenangkan untukku, setiap kali makan pasti Nenek akan minta lagi dan lagi. Sampai To'o (panggilan untuk Om) kami harus mengingatkan Nenek jangan terlalu banyak makan agar tidak sakit perut nanti.
Hari ini Nenek tidak minta digosok minyak ke tubuhnya seperti biasanya. Mungkin karena cuaca yang agak panas saat itu. Setelah makan, kami bercerita lebih banyak hingga larut, kira-kira hingga pukul 9 malam.
To'o yang harus pergi kerja karena dapat shift malam, membuat kami cewek-cewek yang ada ngerumpi tentang banyak hal. Dengan duduk bersebelahan dengan tempat tidur Nenek, kami bercerita sambil tertawa lepas dan sesekali malah curhat. Nenek terlihat begitu bahagia, dan aku sangat enggan pulang saat itu. Ingin rasanya terus bercengkrama dan melihat senyum Nenek seperti saat itu. Begitu bahagianya, diikuti tawa canda kami bersama.
Mungkin tidak seberapa dahsyat perayaan ulang tahun kami bersama Nenek, dan tidak ada begitu banyak kemewahan yang kami tawarkan, tapi aku tahu jauh di lubuk hati Nenek, dia sangat bahagia dengan kehadiran dan kebersamaan yang tercipta kala itu. Tidak banyak pula yang dia minta, bahkan dia merasa telah banyak merepotkan kami.
Aku tersenyum bahagia dengan melihat sosok satu ini. Seorang sederhana yang entah kenapa membuatku terpukau akan kuat dan tegarnya. Bagaimana tidak, sakit membuatnya hanya terbaring di tempat tidur, matanya kala itu bahkan tak bisa melihat, semua sirna karena sakit. Semua baik adanya, walaupun sakit, beliau tak banyak mengeluh, dia malah banyak mendoakan anak-anak dan cucu-cucunya, tidak ada kata-kata kasar yang keluar dari bibirnya, atau mungkin karena kala itu kami tak mendengarnya.
Kakek menjadi penopang terbesar dan terkuat dalam hidup nenek. Walaupun renta, Kakek siap sedia menjaga dan memenuhi apapun yang dipinta Nenek. Semuanya indah. Bahkan kekuatan cinta belia kalah dan takluk bila melihat besarnya cinta mereka berdua.
Kakek begitu telaten merawat Nenek. Jika Nenek kesepian, dipanggilnyalah Kakek untuk sekedar bercengkrama. Di saat tersibuk Kakek pun, beliau tak pernah tidak menghiraukan Nenek. Saat sedang mencuci selimut dan kain-kain yang biasa digunakan Nenek, bila tiba-tiba Nenek memanggil beliau, dengan sigap Kakek langsung menuju arah suara itu. Atau Kakek akan menyuapi Nenek saat sudah jam makan. Kakek tidak akan pernah bosan bercerita dengan Nenek, mengelus kepala Nenek dan tertawa bersama Nenek.
Semua itu begitu indah dan menguatkan. Bahkan hingga Kakek tiada, Nenek masih kuat dan tegar.
Kakek yang kami pandang begitu kuat dan gagah, yang tidak pernah mengeluh sakit sekalipun, harus dirawat inap selama beberapa minggu di rumah sakit. Ada benjolan di telinga kanannya yang divonis sebagai tumor dan telah diobati, tak terlalu kuketahui riwayat perawatan kakek di rumah sakit, namun setelah itu kakek bisa pulang ke rumah. Namun keadaan kakek tak kunjung membaik.
Aku menyesal, setelah keluar rumah sakit, tak banyak waktu untuk bisa mengunjungi kakek. Kakek yang semakin sakit tidak kuketahui kabarnya, dan nenek menjadi penguat Kakek, tidak seperti sebelumnya. Kakek yang didera sakit akan menjadi begitu tenang bila mendengar suara nenek. Dan tak berlangsung lama, Kakek tercinta telah berpulang.
26 September 2016
Kakek disemayamkan di rumah To'o tepat di sebelah rumah kakek dan nenek, dan nenek terbaring di rumah itu. Bagaimana rasanya, tubuh orang terkasih terbujur kaku di seberang rumah dan hanya bisa terbaring lemah tak berdaya tanpa bisa menemani hingga ujung sisa penghormatan terakhir?
Nenek pilu, bagaimanapun. Tapi tidak banyak yang nenek katakan. Nenek begitu ingin merasakan kehadiran kakek. Kami tahu, sebesar apapun kehilangan kami akan sosok kakek, neneklah yang paling merasa kehilangan.
Teringat akan kata-kata Nenek. Beliau dan kakek telah bicara hingga hal-hal paling serius dalam hidup mereka. berjanji sehidup semati. Nenek hanya bilang jika suatu saat dia pergi, dia ingin kakek hidup damai dan pergi juga dengan damai. Namun mereka selalu ingin bersama. Kali ini nenek hanya bisa berserah pada takdir yang diberikan Tuhan. Nenek tak bisa hidup bersama kakek di dunia yang sama, tapi semuanya terpatri di satu jiwa, raga dan hati.
Walaupun dulu nenek pasrah pada Yang Empunya, kali ini nenek tidak bisa membendung rasa sedihnya lagi. Kala bersama beliau, tak jarang nenek mengeluh kenapa hidupnya harus begini, bahkan dia telah bertahun-tahun menderita di tempat tidur, katanya. Semua itu seruan kesedihan yang begitu dalam, dan akupun terpukul saat mendengar itu.
Ketika hidup diserahkan pada takdir, hanya mereka yang melawan takdirlah yang dianggap berdosa. Selanjutnya, pasrah dan tabah hingga kekal menjelang.
Sembari menunggu itu, mari ciptakan kebahagiaan. Walau sekejap. Dalam warna setitik dan senyuman seulas. Walaupun banyaknya keluh dan airmata menggenang, takdir ini menyatukan, dan kita siap dipisahkan.
Happy birthday, Grandma.
Mariana-Jane Menno-Bulakh.
I pray to God, may God always bless you, bring happiness to you through us, your granddaughters and grandsons, put smiles on your face, and be joyful always.
I love you. And always proud of you.
Thanks, Nenek :)
Sikumana, 21 Agustus 2016.
Seperti hari biasanya. Tepat pada hari ini, di hari Minggu setelah selesai mengikuti kebaktian di gereja, aku dan kakak perempuanku bersiap-siap untuk pergi ke rumah nenek yang jaraknya hanya butuh 10 menitan hingga tiba di rumahnya. Hari ini terasa spesial dengan kebahagiaan kami, karena merupakan hari ulangtahun Nenek yang ke-86.
Kebahagiaan yang kami balut dalam untaian doa dan selebrasi yang sangat sederhana, bahkan hal ini bisa dianggap biasa saja. Tidak banyak yang kami lakukan, selain membeli sup ayam yang sudah diminta Nenek jauh-jauh hari sebelum ulangtahunnya.
Sesampainya di rumah Nenek, kami langsung menghambur mencium Nenek. Kali ini bukan kami yang memberi ucapan ulang tahun, tapi dengan lantang Nenek malah mengucapkan "Selamat Ulang Tahun" saat tahu kami telah tiba. Belum berapa lama, Nenek langsung minta disuap dengan sup dan ayam goreng.
Aku selalu bahagia melakukan hal-hal sederhana ini. Menyuapi Nenek jadi bagian menyenangkan untukku, setiap kali makan pasti Nenek akan minta lagi dan lagi. Sampai To'o (panggilan untuk Om) kami harus mengingatkan Nenek jangan terlalu banyak makan agar tidak sakit perut nanti.
Hari ini Nenek tidak minta digosok minyak ke tubuhnya seperti biasanya. Mungkin karena cuaca yang agak panas saat itu. Setelah makan, kami bercerita lebih banyak hingga larut, kira-kira hingga pukul 9 malam.
To'o yang harus pergi kerja karena dapat shift malam, membuat kami cewek-cewek yang ada ngerumpi tentang banyak hal. Dengan duduk bersebelahan dengan tempat tidur Nenek, kami bercerita sambil tertawa lepas dan sesekali malah curhat. Nenek terlihat begitu bahagia, dan aku sangat enggan pulang saat itu. Ingin rasanya terus bercengkrama dan melihat senyum Nenek seperti saat itu. Begitu bahagianya, diikuti tawa canda kami bersama.
Mungkin tidak seberapa dahsyat perayaan ulang tahun kami bersama Nenek, dan tidak ada begitu banyak kemewahan yang kami tawarkan, tapi aku tahu jauh di lubuk hati Nenek, dia sangat bahagia dengan kehadiran dan kebersamaan yang tercipta kala itu. Tidak banyak pula yang dia minta, bahkan dia merasa telah banyak merepotkan kami.
Aku tersenyum bahagia dengan melihat sosok satu ini. Seorang sederhana yang entah kenapa membuatku terpukau akan kuat dan tegarnya. Bagaimana tidak, sakit membuatnya hanya terbaring di tempat tidur, matanya kala itu bahkan tak bisa melihat, semua sirna karena sakit. Semua baik adanya, walaupun sakit, beliau tak banyak mengeluh, dia malah banyak mendoakan anak-anak dan cucu-cucunya, tidak ada kata-kata kasar yang keluar dari bibirnya, atau mungkin karena kala itu kami tak mendengarnya.
Kakek menjadi penopang terbesar dan terkuat dalam hidup nenek. Walaupun renta, Kakek siap sedia menjaga dan memenuhi apapun yang dipinta Nenek. Semuanya indah. Bahkan kekuatan cinta belia kalah dan takluk bila melihat besarnya cinta mereka berdua.
Kakek begitu telaten merawat Nenek. Jika Nenek kesepian, dipanggilnyalah Kakek untuk sekedar bercengkrama. Di saat tersibuk Kakek pun, beliau tak pernah tidak menghiraukan Nenek. Saat sedang mencuci selimut dan kain-kain yang biasa digunakan Nenek, bila tiba-tiba Nenek memanggil beliau, dengan sigap Kakek langsung menuju arah suara itu. Atau Kakek akan menyuapi Nenek saat sudah jam makan. Kakek tidak akan pernah bosan bercerita dengan Nenek, mengelus kepala Nenek dan tertawa bersama Nenek.
Semua itu begitu indah dan menguatkan. Bahkan hingga Kakek tiada, Nenek masih kuat dan tegar.
Kakek yang kami pandang begitu kuat dan gagah, yang tidak pernah mengeluh sakit sekalipun, harus dirawat inap selama beberapa minggu di rumah sakit. Ada benjolan di telinga kanannya yang divonis sebagai tumor dan telah diobati, tak terlalu kuketahui riwayat perawatan kakek di rumah sakit, namun setelah itu kakek bisa pulang ke rumah. Namun keadaan kakek tak kunjung membaik.
Aku menyesal, setelah keluar rumah sakit, tak banyak waktu untuk bisa mengunjungi kakek. Kakek yang semakin sakit tidak kuketahui kabarnya, dan nenek menjadi penguat Kakek, tidak seperti sebelumnya. Kakek yang didera sakit akan menjadi begitu tenang bila mendengar suara nenek. Dan tak berlangsung lama, Kakek tercinta telah berpulang.
26 September 2016
Kakek disemayamkan di rumah To'o tepat di sebelah rumah kakek dan nenek, dan nenek terbaring di rumah itu. Bagaimana rasanya, tubuh orang terkasih terbujur kaku di seberang rumah dan hanya bisa terbaring lemah tak berdaya tanpa bisa menemani hingga ujung sisa penghormatan terakhir?
Nenek pilu, bagaimanapun. Tapi tidak banyak yang nenek katakan. Nenek begitu ingin merasakan kehadiran kakek. Kami tahu, sebesar apapun kehilangan kami akan sosok kakek, neneklah yang paling merasa kehilangan.
Teringat akan kata-kata Nenek. Beliau dan kakek telah bicara hingga hal-hal paling serius dalam hidup mereka. berjanji sehidup semati. Nenek hanya bilang jika suatu saat dia pergi, dia ingin kakek hidup damai dan pergi juga dengan damai. Namun mereka selalu ingin bersama. Kali ini nenek hanya bisa berserah pada takdir yang diberikan Tuhan. Nenek tak bisa hidup bersama kakek di dunia yang sama, tapi semuanya terpatri di satu jiwa, raga dan hati.
Walaupun dulu nenek pasrah pada Yang Empunya, kali ini nenek tidak bisa membendung rasa sedihnya lagi. Kala bersama beliau, tak jarang nenek mengeluh kenapa hidupnya harus begini, bahkan dia telah bertahun-tahun menderita di tempat tidur, katanya. Semua itu seruan kesedihan yang begitu dalam, dan akupun terpukul saat mendengar itu.
Ketika hidup diserahkan pada takdir, hanya mereka yang melawan takdirlah yang dianggap berdosa. Selanjutnya, pasrah dan tabah hingga kekal menjelang.
Sembari menunggu itu, mari ciptakan kebahagiaan. Walau sekejap. Dalam warna setitik dan senyuman seulas. Walaupun banyaknya keluh dan airmata menggenang, takdir ini menyatukan, dan kita siap dipisahkan.
Happy birthday, Grandma.
Mariana-Jane Menno-Bulakh.
I pray to God, may God always bless you, bring happiness to you through us, your granddaughters and grandsons, put smiles on your face, and be joyful always.
I love you. And always proud of you.
Thanks, Nenek :)
Komentar
Posting Komentar