Postingan

Teman Sepermainan - Dedikasi Non Resmi

Memang tiada yang lebih menyenangkan untuk menulis blog selain pada jam-jam tengah malam yang mengesankan ini. Jangan pedulikan sang pelaku insomnia ini, karena sejatinya mereka adalah yang berpikir besar (aseeek!) Lanjut. Ada temanku bertanya: (T: teman, S: saya) T: Pernahkah setelah kamu bertemu seseorang atau beberapa orang yang telah lama tidak bertemu denganmu, dan ketika berpisah kamu merasa hampa. Seperti tidak ingin berpisah, seperti masih ada yang kurang? S: rasa cinta maksudmu? T: hey! Kenapa cinta melulu! Tidak. Ini lebih pada absurdnya rasa ketika sekian lama tak bertemu dan akhirnya bertemu lagi, namun terasa kosong saat telah berpisah. Lalu aku termenung. Jawabannya, ya. Aku pernah merasakannya. Rasa yang sama untuk mereka. Saat bersama, saat bertemu, dan saat berpisah. Kau takkan menggubris perasaan ini jika kau sudah mengenal internet dengan baik, sehingga tak merasa terpisah jarak dan waktu dengan mereka, orang-orang yang menemanimu dan tumbuh bersamamu di ...

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Untuk kesekian kalinya saya bertanya dalam hati bagaimana cinta menjadi salah satu bagian terpenting yang menjadikan saya lebih baik dari hari ke hari dan merasa penuh dicintai. Cinta yang saya rasakan ingin saya jaga dengan sebaik-baiknya, oleh karena itu jangan salahkan saya jika posesif itu ada, dan cemburu itu kuat dan keras. Siapapun, tidak merasa senang bila cintanya ternyata sedang asik dengan orang lain, walaupun teman sekalipun. Katakan saja saya gila karena terlampau cemburu, atau posesif dan tidak pengertian. Apa salah saya menjaga cinta saya? Karena saya cinta, saya lebih tak rela dia jatuh pada pelukan orang lain. Saya tak perlu dimengerti. Cukup cintai saya, dan saya tidak akan banyak Siaga 1. Lain hal kalau cinta itu memang tidak mencintai lagi. Seperti kata Sujiwo Tejo: "Sekuat apapun kamu menjaga, Yang pergi akan tetap pergi. Sekuat apapun kamu menolak, Yang datang akan tetap datang. Semesta memang kadang senang bercanda. " Dengan ...

Yang Berharga Yang Kulepas.

Mengapa yang berharga baru terasa saat dia telah pergi? Apakah hati ini salah menghukum diri sendiri? Hanya saja diri takut untuk menanggapi serius kembali. Bukan soal apa-apa, tapi diri ini takut akan kemungkinan terbesar menyakiti lebih lagi. Sudahlah, toh akhirnya yang berharga terlepas dari genggaman. Kapan lagi diri ini dapatkan dia yg mengalah tanpa batas? Di mana lagi diri temukan tawa yang utuh tanpa pemaksaan? Siapa lagi... siapa lagi yang bisa mengerti diri ini dengan kenyamanan yang nyata tapi jarang ditemui? TIDAK ADA LAGI. Bersedihlah karena kerapuhan akan singgah lebih lama. Seperti lumut yang tumbuh di bebatuan tapi akarnya meremukkan, begitulah kisah ini akan tertanam tanpa akan dipulihkan. Berbahagialah dia. Karena melepaskan yang pantas dilepas. Ya. Berterimakasihlah pada b*tch yang sudah menoreh luka, tanpa perlu menikam lebih dalam. Jangan ada lagi kenangan, bahkan yang sengaja dibuat dengan konsep stop motion dan kau jadikan video sebagai kado terindah....

Sebab Akibat (Antara Ketulusan dan Sandiwara)

Banyak yang berlalu-lalang di kepala, berusaha terkuak untuk ditulis dalam untaian kata nan terbatas, untuk dikenangkan dalam memori ratusan bite komputer dan menelusuk hingga ke dalam rumitnya dunia. Bukan diriku tak sanggup menorehkan isi kepala ini, hanya saja awal untuk memulainya sangat sulit kutentukan. Aku lebih berbakat memulainya pada pertengahan daripada mengawalinya dengan baik. Hanya karena itu terasa aneh bagiku, memulai sesuatu kadang jadi paranoid tersendiri, trauma akan datang laksana mimpi buruk, dan awal dari apa yang hendak kumulai adalah petaka dahsyat. Bukan juga karena diriku terlalu takut dengan trauma diri sendiri ini, diriku terlalu terbuai dengan keadaan tanpa suara, tanpa ungkapan dan tanpa hadirnya. Jika akhirnya aku mencoba hadir dalam ketidakhadiran, itu seperti mencoba menilai bagaimana ikan bisa terbang, semuanya mustahil untuk dilihat. Gelora hati ini ingin tuliskan kekuatan dan dorongan cinta namun masih ada rasa bimbang. Memilih itu tak mudah, bah...

Insta Post #1

Let it flow. Biarkan semuanya mengalir. Seperti aliran darahmu, yang mengalir ke seluruh tubuh dan kembali ke jantung. Membawa seluruh oksigen untuk sel-selmu yang membutuhkan. Sama halnya dengan dirimu yang meluapkan seluruh sesal itu, yang kehilangan separuh dari jiwamu. Seperti kehilangan satu bilik jantungmu, atau serambi jantung. Kau bahkan kesulitan meminta maaf, bukan karena tak bisa, tapi karena tahu itu sia-sia. Kembalilah, kembalilah wahai asupan nutrisi itu. Kenapa tak lelah meninggalkan seperti terpenjara sendiri? Diam itu aman. Sunyi itu tenang. Tapi yang lebih buruk dari kedua itu adalah sepi yang merajam. Tolong paksa keluar dari itu semua, karena seperti serangan jantung, yang ada hanyalah kesakitan diterpanya. Kembali dalam diam, seperti dirimu yang disangka orang sudah masuk tahap terakhir menjadi gila. ▫ ▫ ▫ 〰Kamar, 27 Mei 2016: Melamun disertai batuk pilek〰 Click on Instagram  HERE ♡

AGONY

Katakanlah banyak orang di luar sana yang tertarik akan kehidupan pribadimu, sehingga tak sedikit dari mereka menjadi stalker dan berlaku sok memiliki kepentingan denganmu yang mana kamu sendiri tidak mengenal mereka dan tiba-tiba banyak kata-kata tak menyenangkan keluar dari mulut mereka hanya karena mereka telah sedikit men-stalk dirimu di media sosial yang lebih banyak fake daripada fact. Sebenarnya tak masalah dengan keberadaan para stalker. Hanya saja sangat disayangkan bagi mereka yang lebih banyak punya waktu untuk menghakimi dari satu sisi saja. Sudut pandang mereka seperti terstruktur untuk mencari lebih banyak kesalahan dan kesedihan kita di dunia maya supaya dapat dijadikan suatu bahan baru bagi mereka berkreasi mengungkap materi-materi yang telah mereka kumpulkan tentang kita. Selayaknya penelitian, kita telah diobservasi oleh mereka. Hanya tinggal bagaimana mereka menganalisanya, kalau pake cara abal-abal yah hasilnya tidak akan benar dong. Just to share, saya belum t...

Immortal Love Song

Gambar
Aku takut bila suatu waktu aku lupa akan cerita bahagia ini. Bersama orang-orang terkasih yang kubawa dalam doa dan kukasihi seperti kedua orangtua dan saudara-saudaraku. Sikumana, 21 Agustus 2016. Seperti hari biasanya. Tepat pada hari ini, di hari Minggu setelah selesai mengikuti kebaktian di gereja, aku dan kakak perempuanku bersiap-siap untuk pergi ke rumah nenek yang jaraknya hanya butuh 10 menitan hingga tiba di rumahnya. Hari ini terasa spesial dengan kebahagiaan kami, karena merupakan hari ulangtahun Nenek yang ke-86. Kebahagiaan yang kami balut dalam untaian doa dan selebrasi yang sangat sederhana, bahkan hal ini bisa dianggap biasa saja. Tidak banyak yang kami lakukan, selain membeli sup ayam yang sudah diminta Nenek jauh-jauh hari sebelum ulangtahunnya. Sesampainya di rumah Nenek, kami langsung menghambur mencium Nenek. Kali ini bukan kami yang memberi ucapan ulang tahun, tapi dengan lantang Nenek malah mengucapkan "Selamat Ulang Tahun" saat tahu kami telah t...