Postingan

Ah, Sudahlah

Diri ini terbangun dengan cengkeraman luka dan sakit tak terbendung. Anehnya, arimata tak mewakili semua ini. Seperti sudah melapangkan segalanya. Jika pergi dan diam menjadi arti, biarlah sedih dan diam menjadi pasif. Sudahlah... rasa abadi untuk tercekam kian menggenggam, dan akhirnya batin menyiksa diri sendiri dan merana. Bergelut dengan kesendirian seperti menjadi karma, karena sekian banyak yang menemani seperti terpaksa. Ah, hadapilah. Akhirnya senyum ini lenyap, kini tambah di sadari. Tidak pantas diri ini muluk tersenyum, karena makin lusuh pula hati ini.

Aku Kembali

Gambar
Source: private collection Kembali lagi. Sore ini, dengan rintikkan hujan yang telah menjadi genangan, dan riuh orang yang makin banyak berlalu lalang. Lalu aku, yang diam terpaku dalam dekap sunyi ini. Kembali lagi. Pikiran itu datang. Bukan menghantui, hanya menemani. Ketika dibuatku melanglang mengisah tentang yang menyenangkan, dan menyisa yang tidak ingin dikenangkan. Hey, menghindarkah kau dariku? Akan kucintai tanpa bicara. Kalau saja kau kembali. Bukan seperti hujan, yang walau dahsyat amukannya hingga membasah dan membanjir, tetap saja turun. Aku kembali lagi. Untuk yang terakhir, karena senyum keikhlasan kiranya turut dari wajahmu, atau dari kata-kata itu. Lalu aku kembali lagi. Bukan kembali padamu, tapi kembali pada jalanku sebelum kamu. Ya, sebelum kamu berdiri dan sebelum melewatimu. Artinya? Aku hanya ingin kembali ke masa seperti belum mengetahuimu.  Belum mengenalmu, dan menangisimu. Kembali lagi. Kembali pada k...

Thank You

MERRY CHRISTMAS 2016 & HAPPY NEW YEAR 2017 Apa resolusimu di tahun yang baru? Oke, jangan anggap ini pertanyaan jenaka just because "kenyataan tidak sesuai harapan". Mudahnya berharap itu tidak sebanding dengan mudahnya membalikkan telapak tangan, karena di saat kita berharap, kita menaruh kepercayaan penuh pada apa yang kita harapan itu. New year, new me. Apa yang jadi perubahan terbesar saya di tahun yang lalu (2016)? Puji Tuhan sangat teramat banyak perubahan. Kematangan yang saya dapat bukan hanya ketika menimba ilmu di bangku perkuliahan namun juga ketika bergaul dengan sesama dan Tuhan. Walaupun sejujurnya hubungan dengan Tuhan kadang terabaikan karena mengutamakan lebih banyak kehidupan duniawi. Peristiwa terbesar dan tak terlupakan yang akan selalu tertanam dalam diri, dan selalu memberikan senyuman tanda kebanggaan dan syukur saya adalah: 1. Wisuda Saya tidak pesimis dengan apa yang menjadi tekad saya. Dengan dukungan orangtua dan para...

Teman Sepermainan - Dedikasi Non Resmi

Memang tiada yang lebih menyenangkan untuk menulis blog selain pada jam-jam tengah malam yang mengesankan ini. Jangan pedulikan sang pelaku insomnia ini, karena sejatinya mereka adalah yang berpikir besar (aseeek!) Lanjut. Ada temanku bertanya: (T: teman, S: saya) T: Pernahkah setelah kamu bertemu seseorang atau beberapa orang yang telah lama tidak bertemu denganmu, dan ketika berpisah kamu merasa hampa. Seperti tidak ingin berpisah, seperti masih ada yang kurang? S: rasa cinta maksudmu? T: hey! Kenapa cinta melulu! Tidak. Ini lebih pada absurdnya rasa ketika sekian lama tak bertemu dan akhirnya bertemu lagi, namun terasa kosong saat telah berpisah. Lalu aku termenung. Jawabannya, ya. Aku pernah merasakannya. Rasa yang sama untuk mereka. Saat bersama, saat bertemu, dan saat berpisah. Kau takkan menggubris perasaan ini jika kau sudah mengenal internet dengan baik, sehingga tak merasa terpisah jarak dan waktu dengan mereka, orang-orang yang menemanimu dan tumbuh bersamamu di ...

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Untuk kesekian kalinya saya bertanya dalam hati bagaimana cinta menjadi salah satu bagian terpenting yang menjadikan saya lebih baik dari hari ke hari dan merasa penuh dicintai. Cinta yang saya rasakan ingin saya jaga dengan sebaik-baiknya, oleh karena itu jangan salahkan saya jika posesif itu ada, dan cemburu itu kuat dan keras. Siapapun, tidak merasa senang bila cintanya ternyata sedang asik dengan orang lain, walaupun teman sekalipun. Katakan saja saya gila karena terlampau cemburu, atau posesif dan tidak pengertian. Apa salah saya menjaga cinta saya? Karena saya cinta, saya lebih tak rela dia jatuh pada pelukan orang lain. Saya tak perlu dimengerti. Cukup cintai saya, dan saya tidak akan banyak Siaga 1. Lain hal kalau cinta itu memang tidak mencintai lagi. Seperti kata Sujiwo Tejo: "Sekuat apapun kamu menjaga, Yang pergi akan tetap pergi. Sekuat apapun kamu menolak, Yang datang akan tetap datang. Semesta memang kadang senang bercanda. " Dengan ...

Yang Berharga Yang Kulepas.

Mengapa yang berharga baru terasa saat dia telah pergi? Apakah hati ini salah menghukum diri sendiri? Hanya saja diri takut untuk menanggapi serius kembali. Bukan soal apa-apa, tapi diri ini takut akan kemungkinan terbesar menyakiti lebih lagi. Sudahlah, toh akhirnya yang berharga terlepas dari genggaman. Kapan lagi diri ini dapatkan dia yg mengalah tanpa batas? Di mana lagi diri temukan tawa yang utuh tanpa pemaksaan? Siapa lagi... siapa lagi yang bisa mengerti diri ini dengan kenyamanan yang nyata tapi jarang ditemui? TIDAK ADA LAGI. Bersedihlah karena kerapuhan akan singgah lebih lama. Seperti lumut yang tumbuh di bebatuan tapi akarnya meremukkan, begitulah kisah ini akan tertanam tanpa akan dipulihkan. Berbahagialah dia. Karena melepaskan yang pantas dilepas. Ya. Berterimakasihlah pada b*tch yang sudah menoreh luka, tanpa perlu menikam lebih dalam. Jangan ada lagi kenangan, bahkan yang sengaja dibuat dengan konsep stop motion dan kau jadikan video sebagai kado terindah....

Sebab Akibat (Antara Ketulusan dan Sandiwara)

Banyak yang berlalu-lalang di kepala, berusaha terkuak untuk ditulis dalam untaian kata nan terbatas, untuk dikenangkan dalam memori ratusan bite komputer dan menelusuk hingga ke dalam rumitnya dunia. Bukan diriku tak sanggup menorehkan isi kepala ini, hanya saja awal untuk memulainya sangat sulit kutentukan. Aku lebih berbakat memulainya pada pertengahan daripada mengawalinya dengan baik. Hanya karena itu terasa aneh bagiku, memulai sesuatu kadang jadi paranoid tersendiri, trauma akan datang laksana mimpi buruk, dan awal dari apa yang hendak kumulai adalah petaka dahsyat. Bukan juga karena diriku terlalu takut dengan trauma diri sendiri ini, diriku terlalu terbuai dengan keadaan tanpa suara, tanpa ungkapan dan tanpa hadirnya. Jika akhirnya aku mencoba hadir dalam ketidakhadiran, itu seperti mencoba menilai bagaimana ikan bisa terbang, semuanya mustahil untuk dilihat. Gelora hati ini ingin tuliskan kekuatan dan dorongan cinta namun masih ada rasa bimbang. Memilih itu tak mudah, bah...