Gara-gara Kakak Kelas
Gerimis yang mengguyuri kota Soe membuatku harus berteduh di bawah toko kecil di depan sekolahku. Karena banyak teman sekolahku yang juga berteduh di tempat itu, alhasil aku hanya mendapatkan sedikit tempat perteduhan dan akhirnya aku basah juga. Setelah yakin bahwa hujan siang itu telah reda barulah aku beranjak pergi dari tempat itu. Tapi belum jauh dari toko itu, aku merasa ada seseorang yang memanggilku, sehingga aku berbalik dan mendapati seorang kakak kelas yang jarang sekali kulihat berlari kecil menuju ke arah diriku berdiri sekarang.
"Ini punya kamu?" tanya kakak kelas itu sambil menyodorkan sebuah saputangan.
Aku mengangguk dan segera mengambil saputangan itu. "Iya. Makasih, Kak." ucapku dan hendak pergi saat kakak kelas itu lalu memanggilku lagi.
"Nama kamu siapa?"
"Mariska," jawabku.
"Aku Dino. Salam kenal, ya?" kata kakak kelas itu sembari berbalik dan menuju ke toko tempat aku berteduh tadi.
Setelah sampai di rumah dan selesai makan, pikiranku lalu tertuju pada cowok itu lagi, yang mengembalikan saputangan merah mudaku yang aku pakai untuk mengelap tanganku kalau sudah mulai berkeringat. Kenapa wajah cowok itu tak mau hilang dari pikiranku? Lalu, kenapa hatiku bergejolak saat aku melihat senyuman cowok itu?
Aku tak terlalu memikirkannya lagi menjelang sore hari. Saat itu aku harus pergi ke rumah teman untuk mengerjakan tugas kelompok Biologi. Rumah temanku agak jauh sehingga terpaksa harus menumpangi angkutan umum. Di tengah jalan, saat angkutan berhenti karena ada penumpang yang hendak naik, aku terkejut sekali saat kulihat siapa yang menumpangi angkutan yang sama dengan yang aku tumpangi itu. Si Kakak Kelas itu lagi!
Semula dia tak melihatku, tapi setelah angkutan melaju lagi dan dia menoleh ke arahku, senyumnya langsung merekah.
"Hai, Riska. Ketemu lagi, ya?" ucap Dino ramah.
Aku membalas senyumannya dengan hati deg-degan. "Iya, Kak."
"Mau kemana?" tanya Dino.
"Ke rumah teman," jawabku.
"Oh, ngapain ke sana?"
"Mau kerja tugas, Kak." jawabku lagi. Aduuh, kenapa jadi cenat-cenut begini sih hati aku? Pasti ini semua gara-gara Dino!
Dino masih menatapku, "kok kamu gak nanya sih aku mau kemana?"
"Eh?" aku heran. Kok sikapnya pede banget sih!
"Aku mau ke tempat kursus," kata Dino sambil tersenyum lagi. "Ya udah, aku turun duluan ya? Bye!"
Lalu Dino turun sambil melambaikan tangan padaku dan aku membalasnya. Kakak kelas aneh! Jarang ke sekolah tapi rajin banget ikut kursus. Hmmmph, tapi pertemuan kedua ini kenapa aku kelu? Kenapa gak bisa blak-blakan kayak biasanya?
"Stop, Bang!" sahutku tiba-tiba karena baru tersadar kalau gang menuju rumah temanku sudah lewat agak jauh dan aku terus melamun sampai tak menyadarinya. Dan itu membuat aku harus berjalan kaki lagi mengingat jalan menuju rumah temanku cukup jauh dari gang masuknya. Ini semua gara-gara Kakak Kelas itu!!!
***
Tak ada yang meyakinkan diriku bahwa aku sedang jatuh cinta, tapi aku menyadari betul perasaanku ini. Dan yang kurasakan sekarang ini semuanya tertuju pada satu orang, Kakak Kelas itu!
Bisa dihitung semua kerugian yang aku dapat setiap kali aku memikirkannya. Pertama, di dalam kelas. Aku dimarahi guru habis-habisan karena melamun saat melihat ke luar jendela sambil memikirkan Dino. Kedua, aku hampir saja kehilangan gigi karena terantuk saat berjalan menuju ke kelas setelah selesai istirahat, itupun karena melamun memikirkan Dino. Ketiga, aku pun hampir kehilangan nyawaku saat berjalan pulang ke rumah dan tak menyadari kalau tubuhku berada tepat di tengah ruas jalan.
SEMUANYA GARA-GARA KAKAK KELAS!!!
Tapi, hari berganti minggu... sosok Dino yang ramah dengan penuh senyum itu tak pernah tampak lagi di sekolah. Bahkan di toko tempat diriku biasa berteduh pun tak kulihat dirinya. Kadang aku iseng berjalan menuju ke kelasnya, tapi tetap saja aku tak melihat dia. Sampai akhirnya temannya mengatakan kalau Mamanya meninggal dunia.
Aku tak tahu dimana rumahnya, tapi bermodalkan alamat yang kuminta dari temannya, akhirnya aku beranikan diri untuk menemuinya. Benar saja, ada janur kuning di dekat rumahnya dan banyak orang berpakaian serba hitam duduk di teras rumahnya. Aku melangkahkan kakiku ragu, untuk masuk ke dalam dan mencari Dino.
Saat itu, entah apa yang membuatku terkejut. Dino duduk terpuruk di sebelah peti jenazah Mamanya sambil menundukkan kepala dan menangis tanpa bersuara. Dia memakai kemeja hitam dan celana jeans hitam pula dengan sepatu hitam.
"Saya turut berduka cita, Oom..." ucapku lirih sambil menjabat tangan seorang pria yang kutahu itu adalah Papa Dino, karena wajah mereka sangat mirip.
Mama Dino terbaring kaku di dalam peti dengan berbalutkan kebaya putih dipadu kain tenunan sampai ke mata kaki. Wajah tenang penuh kedamaian tergambar jelas di saat aku melihat mata Mama Dino yang terpejam. Aku menyalami kakak perempuan Dino yang matanya sudah sembap dan merah dan adik laki-laki Dino yang tentu mirip sekali dengan kakaknya. Lalu aku mendekati Dino.
"Kak..." aku seraya memanggil.
Dino mengangkat wajahnya dan menatapku. Wajah lemah dan sayu tanpa ada warna yang selalu menyinarinya itu.
"Riska?" Dino duduk tegak sambil membasuh pipinya dengan tissue. "Makasih, Ris. Kamu sudah mau datang ke sini," kata Dino.
"Aku turut berduka, Kak."
Dino berusaha tersenyum, "Mama adalah terangku, Ris. Tiap kali aku punya masalah, pasti Mama yang paling pertama ingin mendengarkannya. Mama juga selalu tahu isi hatiku..."
Aku mengelus bahu Dino dengan lembut.
"Ma, ini Riska. Cewek yang aku ceritakan itu," Dino menoleh ke arah jenazah Mamanya sambil menggumamkan kata-kata itu.
"Eh?" aku menatap Dino bingung.
"Aku selalu menceritakan tentang kamu pada Mama saat aku menemani Mama di rumah sakit. Mama bilang mau melihatmu, Ris." ucap Dino yang tiba-tiba saja tersenyum. "Sekali lagi makasih ya, Ris."
***
Sebulan kemudian...
Sekolah serasa bagai neraka bagi murid-murid yang tak mematuhi peraturan-peraturan yang telah dirancang. Begitu pula diriku, sebulan belakangan ini aku sering terlambat ke sekolah. Datang ke sekolah dengan rok agak pendek dan sepatu berwarna selain hitam. Aku juga kadang bolos saat jam pelajaran, dan selalu mencari masalah dengan guru maupun teman sendiri.
Semua itu kulakukan bukan karena aku ingin mencari perhatian, tapi karena aku kesepian. Dino akhirnya pindah sekolah setelah pemakaman Mamanya. Dia bilang ingin menjauh dari orang-orang yang mengetahui tentang kehidupannya karena semua itu hanya akan memancing rasa iba berkepanjangan. Aku sama sekali tak mengetahui dimana Dino bersekolah sekarang ini. Bahkan, rumahnya pun telah dijual kepada orang lain.
Miris hatiku mengetahui bahwa Dino benar-benar meninggalkan semua yang telah dijalaninya di sekolah lamanya dan di rumahnya, serta meninggalkanku. Mungkin semua ini dilakukan dia dan keluarganya agar mereka tak selalu mengingat sosok Mama lagi. Tapi semakin ingin dilupakan, bayangan Dino selalu muncul dalam pikiranku. Baru sekarang ini aku merasakan perasaan seperti ini, rindu tak berujung. Entah kapan orang yang aku rindukan itu bisa muncul di hadapanku dan mengatakan kalau dia tak benar-benar ingin meninggalkanku. Ukh, batin ini rasanya sangat tertekan. Airmataku hampir tumpah, saat aku sadar kalau sekarang aku sedang berada di dalam kelas.
Untuk menghilangkan jenuhku karena selalu saja wajah guru garang di depan kelas yang terlihat, ku tolehkan wajahku ke kiri dan memandang ke luar jendela sana. Yang ada hanya jajaran ruang-ruang kelas yang sama saja seperti wajah guru yang membosankan itu. Tapi bukan itu yang membuatku tertarik. Seseorang melambaikan tangannya pada entah siapa dari samping kelas di hadapanku. Ku tajamkan penglihatan dan tak kusangka bahwa orang itu telah berada di sana dan menungguku. Dino!
"Pak, aku ijin ke kelas sebelah."
Tanpa menunggu jawaban guru itu, aku langsung berlari ke arah Dino. Tak peduli kalau ternyata dugaanku salah dan dia bukannya memanggilku. Tapi untuk saat ini aku harus memastikan satu hal, yang berarti adalah aku harus tahu perasaannya padaku.
"Jahat!!! Kemana saja kamu selama ini?!" ucapku kasar saat aku sampai ke tempatnya.
"Ris, aku pikir kamu tak akan datang ke sini..."
Aku menundukkan kepala dan berusaha tak memperlihatkan airmataku padanya. "Kenapa? Kenapa hanya aku yang merasa kau telah pergi selamanya?! Apa aku salah jika selalu merindukanmu? Apa pernah kamu memikirkan aku seperti aku memikirkanmu?!"
Dino tak menyentuhku ataupun mengangkat wajahku.
"Apa selama ini kamu pikir kamu sendirian? Kamu merasa aku telah pergi untuk selamanya?" tanya Dino.
Aku mengangkat wajah, "dan semua itu benar kan?"
"Salah, Ris. Aku sama sekali tak pergi untuk selamanya. Aku bahkan tak akan meninggalkanmu sendirian! Batin ini tercabik setiap kali mengingat dirimu! Aku ingin melihat dirimu saat diguyur hujan dan berteduh di toko itu. Aku ingin melihatmu tersenyum atau hanya sebatas melirikku, dan selama ini semua itu sia-sia."
"Lantas kenapa kamu pergi?"
Dino tersenyum simpul, "untuk memastikan bahwa perasaanku padamu bukan rasa suka belaka. Aku sungguh mencintai dirimu..."
"Kenapa baru sekarang Dino?" aku hampir menangis lagi dibuatnya karena dia mengatakan hal yang selama ini ingin aku dengarkan.
"Karena sekarang barulah aku tahu bahwa kamu punya rasa yang sama denganku..."
Aku menatapnya sambil tersenyum, begitu pula dirinya.

Komentar
Posting Komentar