The Powerful Love Wizard - By : Lili Menno
Angin yang agak tenang hari ini membuat Zaira nyaman untuk berada di atap sekolah seraya membaca novel cinta yang sangat menyentuh. Sangking menyentuhnya, Zaira jadi rada gak yakin kalo ceritanya benar-benar ada di dunia nyata. Tapi setidaknya Zaira gak perlu meladeni Dominique yang dengan antusiasnya membujuk dirinya untuk membantu merekrut pemain baru dari kelas satu. Untuk sementara Zaira ingin cuti dari ekskul, karena selain main volley, Zaira juga merangkap menjadi manajer. Hanya saja, aktivitas Zaira saat main jadi berkurang karena sibuknya jadi manajer.
”Akhirnya, gue nemu juga...” seseorang bergumam di balik punggung Zaira.
Zaira berbalik dengan malas dan menatap sosok yang baru muncul itu. Langsung saja Zaira gak berselera untuk membaca novel itu dan berlama-lama di atap.
”C’mon, Zaira. Gue gak bisa merangkap jadi ketua dan manajer sekaligus. Kali ini gue benar-benar butuh tenaga lo,” ucap Dominique dengan wajah memelas.
”Niq, udah deh! Gue kan udah nolak, masa lo masih maksa terus sih?”
”Tapi ini buat kebaikan bersama, Ra.”
Zaira memutar bola matanya, ”lama-lama gue mengundurkan diri karena bosan liat tampang lo, Niq!”
Dominique terkejut. ”Jangan, Ra. Lo satu-satunya tumpuan gue. Kalo gak ada lo, klub kita bakal dibubarin sama Kepsek.”
Sekali lagi Zaira menarik napas berat, udah yang kesekian kalinya Dominique mengatakan itu dan untuk yang kesekian kalinya pula Zaira menjadi kuatir mendengar masalah itu. Emang klub volley gak terlalu punya pengaruh besar dalam menyumbang piala kemenangan. Gak seperti klub sepak bola dan klub basket yang rajin membawa pulang piala. Bukan karena mereka gak becus bermain, tapi karena mereka kekurangan pemain.
”Ya udah. Besok gue buatin brosur pendaftaran pemain baru,” ucap Zaira akhirnya.
Dominique dengan tiba-tiba memeluk Zaira karena perasaan senang dan bahagianya. Zaira hanya bisa terdiam sampai akhirnya dia melepas pelukannya. Zaira mengerjapkan mata gak percaya karena baru saja dipeluk cowok aneh bin ajaib itu.
”Thanks, Ra. Gue emang udah yakin kalo lu orang yang paling bisa diandelin!” Dominique tersenyum lebar lalu menarik tanganku. ”Yuk, kembali ke kelas sebelum Mr. Killer masuk.”
Komentar
Posting Komentar