The Powerful Love Wizard - By : Lili Menno (continue part 2)
Anak klub volley gak pernah mencari musuh, tapi entah kenapa musuh tiba-tiba menampakkan diri. Semula hanya seorang anak klub renang yang terang-terangan bilang kalau klub volley hanya membuang dana buat kegiatan gak bermutu. Dan dengan terang-terangan juga beberapa anak klub basket masuk ke basecamp klub volley hanya untuk berbasa-basi yang tentunya membuat Dominique dan kawan-kawan gak senang.
“Heh, ini bukan tempat buat nongkrong!” teriak Gerry saat anak klub basket itu ada yang duduk di meja ketua.
“Oops! Sorry. Gue gak nyangka ternyata ruangan ini masih ada penghuninya,” ucap anak klub basket itu yang seperti tersadar kalo ada orang di sekitar mereka.
Anak-anak klub volley hanya berusaha untuk tidak terbawa emosi saat Zaira masuk ke ruangan dengan membawa brosur. Dia melihat seorang cowok duduk dengan santainya di atas meja ketua yang tak lain adalah meja Dominique. Dia gak suka orang, apalagi yang gak dia kenal, bertingkah semena-mena seperti itu.
Zaira melangkah cepat ke arah meja ketua dan langsung menubruk cowok yang sedang duduk di atas meja itu.
“Lo kenapa sih?!” tanya cowok itu marah.
“Bego! Sejak kapan lu diijinin duduk di situ? Dan sejak kapan ada yang bolehin lo sama kawan-kawan lo yang gak punya pikiran ini buat masuk ke sini?! Lu pikir ini basecamp bokap-nyokap lu? Diajarin apa sih lo sama orang tua lo?!” marah Zaira balik pada cowok itu.
Mereka tak berkutik, dan keluar dari basecamp secara teratur. Napas Zaira naik-turun sangking dia menahan agar tidak meledak lagi.
“Teman-teman, ingat ya! Mulai sekarang gak boleh ada yang masuk ke tempat ini selain anggota klub! Kalo ada yang kemari tanpa izin, kalian semua yang tahu atau tak tahu apa-apa bakal dapat konsekuensinya!” sahut Zaira sebelum meletakkan brosur di meja Dominique.
Dominique menghampiri Zaira, “sorry, Ra. Lo jadi repot gini deh.”
“Baru nyadar ya? Tahu gitu lo gak perlu minta gue bikin brosur,” kata Zaira tajam.
“Lah, segitunya sama teman sendiri.”
Tanpa peduli dengan lanjutan candaan Dominique, Zaira langsung bergegas ke kelasnya. Hari ini dia lupa mengerjakan tugas dua mata pelajaran dan harus bolak-balik kelas dan basecamp untuk alasan yang sama-sama penting. Saat dia baru sampai di depan kelas, beberapa cewek borju yang mengaku ikut ekskul cheerleaders padahal hanya jadi penyumbang suara di pinggir lapangan doang menghampirinya.
“Lo Saira ya?” tanya salah satu cewek.
“Anak klub volley itu ya?” tanya cewek yang paliiing jangkung.
“Dan sama sekali gak populer itu ya?”
Zaira yang langsung ilfil dengan tingkah mereka kemudian masuk kelas tanpa peduli mereka satupun. Tentu saja mereka shock dan mengikuti Zaira sampai ke dalam kelas.
“Hello! Anybody hear me?” tanya cewek yang tadi pertama ngomong dengan logat aneh.
“Heran deh! Kok gue ngerasa ngeri sih, May!” ucap cewek paliiing jangkung.
Yang lain pura-pura bergidik, “ada hantu kali!”
Setelah mereka puas dengan candaan basa-basi banget yang menurut Zaira sangat gak bermutu, akhirnya Zaira angkat bicara.
“Bisa gak kalian jauh-jauh dari gue! Polusi banget tahu gak! Lagian, kalian tuh masih gak bisa mengeja nama ya? Nama gue pake ‘Z’ bukan ‘S’!”
Mereka melotot sambil mengibas-ngibas rambut mereka karena frustasi menghadapi Zaira. Gak biasanya ada cewek yang setajam silet seperti cewek satu ini. Bukannya minder karena bicara dengan cewek-cewek cantik andalan sekolah, dia malah nambah ngejekin.
“Okay, Za-ii-ra...” ucap cewek paliiing menor di antara mereka semua. “Ngaku deh! Lu suka kan sama Drew? Lu naksir kan sama dia? Dan lu berusaha dapat perhatian dari cowok manis itu?”
Zaira mengerutkan keningnya. Drew? Siapa?
“Jangan bilang lo gak kenal siapa Drew!” ucap salah satu cewek. “Oh My God!”
“Superstar di sekolah ini aja dia gak kenal. Apa benar ini cewek yang udah buat Drew shock setengah mati?” ucap cewek paliiing jangkung seolah-olah baru tahu kalo Komodo ada di salah satu pulau kecil di NTT.
“Bukan gak tahu, Ty. Dia hanya pura-pura bego supaya gak didamprat sama kita-kita,” sahut cewek yang lainnya.
Kembali kening Zaira mengerut. Ngomong apa sih nih anak-anak? Pikirannya kembali ke tugas yang belum diselesaikannya dan langsung menuju mejanya secepat kilat untuk mulai mengerjakannya. Tapi tetap saja, lalat-lalat pengganggu alias cewek-cewek borju itu datang menghampiri mejanya.
“Lu cuekin kita ya? Nantang nih!” ucap cewek paliiing menor dengan kesal.
“Eh, gue banyak tugas. Kalo lu pada mau bantuin gue, ya makasih banyak. Tapi terserah deh kalo hanya mau jadi nyamuk di sekitar gue…” Zaira berkata tanpa memandangi cewek-cewek yang seperti ingin menerkamnya itu.
“What?!”
“Are you say something!?”
Semua cewek-cewek itu terkejut mendengar ucapan Zaira dan tanpa banyak bicara mereka lalu pergi meninggalkan Zaira yang bergumul dengan tugas-tugasnya.
Di lain tempat, tepatnya di ruangan klub basket. Beberapa cowok masuk dengan wajah kesal dan penuh amarah. Mereka baru saja kembali dari ruang klub volley dan baru saja dimarahi oleh nenek sihir dari klub itu.
“Gila! Cewek itu berani banget bentak kita! Emang siapa sih dia?” sahut Nando, cowok yang duduk di atas meja di ruang klub volley tadi.
“Zaira Keiko. Cewek paling nakutin di sekolah kita!” sahut seorang yang baru saja masuk ke ruang klub.
Drew yang tadinya sedang ‘mengutak-atik’ Iphone-nya segera mengangkat wajah dan menatap Nando.
“Siapa tadi yang kalian omongin? Keiko?” sahut Drew terkejut saat mendengar nama itu. Dia bangkit berdiri sambil memandangi Nando dan teman-temannya.
“Eh… itu. Ceritanya gini, gue sama anak-anak niat isengin klub volley. Jadi kita ke basecamp mereka. Yeah, lu bisa tebak deh apa yang terjadi berikutnya,” jelas Nando sedikit takut. Takut kalo nanti Drew malah nyemprot dia.
“Cewek itu emang sudah gue incer dari dulu. Bisa-bisanya dia gak minta maaf padahal udah nabrak gue!” ucap Drew terlihat kesal. “Guys, gue bakal buat perhitungan sama dia sepulang sekolah ini!”
“Tenang aja, gue bantuin lu, Drew!” kata Nando.
Drew langsung mengangkat tangannya, “cukup gue saja!”
Nando dan yang lainnya hanya menatap Drew, setengah penasaran dengan apa yang akan terjadi sepulang sekolah nanti. Mereka hanya tersenyum licik sampai akhirnya Drew keluar dari kelas. Drew mencari Michele. Niatnya ingin meminta maaf karena membatalkan janji baru-baru ini. Sesampainya di kelas Michele, langsung saja cewek itu menghampiri Drew dengan berjalan anggun dan tersenyum hangat.
“Kenapa, Drew?” tanya Michele.
“Gue mau minta maaf soal kemarin, gue batalin janji kita.”
Michele terus tersenyum, “no problem. Lagian waktu itu nyokap gue tiba-tiba ngajak gue check up ke dokter jadi emang gak bias jalan bareng kalaupun gak dibatalin.”
Drew tersenyum lebar menanggapi ucapan Michele. Dalam hati dia senang karena kesempatan untuk pedekate sama cewek cantik itu masih terbuka lebar. Tiba-tiba sudut matanya menangkap sosok cewek yang membuat tensinya naik. Cewek yang sedang sibuk dengan buku dan catatan di dalam kelas itu seakan tidak merasakan keberadaan siapapun di kelas itu selain dirinya.
“She is dangerous girl!”
“Tadi lu bilang sesuatu?” tanya Michele.
“Eh? Enggak kok. Gue harus balik ke basecamp dulu. Bye!”
Michele melambai mengantar kepergian Drew. Dia lalu menuju ke meja Zaira dan iseng mengganggu teman dekatnya itu.
“Cieee… serius amat sih kerja tugasnya! Awas lu, entar pingsan lagi karena kebanyakan kerja tugas!” ucap Michele demikian.
“Apaan sih, Chele!” Zaira setengah menghardik tangan Michele hendak mencolek dagu Zaira. “Gak bisa liat gue lagi sibuk gini?”
“Gue hanya takut nanti tangan lu pegal terus gak berhenti gerak karena kebanyakan nulis!” sahut Michele lantas duduk di samping Zaira. “Kenapa gak nyalin punya gue sih?”
Zaira berhenti menulis, “nilai lu aja tepat di batas rata-rata nilai. Kalo gue nyalin, mungkin gue ada di bawah rata-ratanya, Non!”
Michele menarik napas. Emang teman paling kejam kalo menyangkut kata-kata.
Komentar
Posting Komentar