Heaven for You (part.8)
Edward masih
menyimpan dompet yang diambil dari pria yang dikeroyok itu. Dia merasa
bertanggung jawab untuk mengembalikan dompet itu.
Dan setelah memutuskan,
akhirnya dia pergi ke rumah sakit tempat cowok itu dirawat. Dia sebenarnya
hanya ingin meninggalkan dompet itu di depan pintu sampai ada yang menemukannya.
Tapi, teman cowoknya Colly melihatnya di depan pintu sehingga dia jadi
kelabakan.
“Hai. Gue mau
ketemu Colly.” Kata Edward pada cowok di depan pintu itu. Cowok itu keliatan
terkejut banget dan kembali ke dalam kamar.
Tak berapa lama
kemudian Colly muncul di ambang pintu. Tak kalah terkejutnya dengan temannya.
“Loh kok?”
tanya Colly heran.
“Hai.” Edward
berusaha setenang mungkin.
“Kenapa ada di
sini?” tanya Colly lagi. Sumpah, saat ini dia benar-benar gugup karena melihat
pujaan hatinya di depan pintu itu.
“Gu, gue… gue
dengar kakak lo masuk rumah sakit.” Edward mencari kata-kata yang tepat.
“Karena gue ada di dekat sini, jadi gue mampir.”
Jasen yang
berdiri di samping Colly bisa merasakan percikan kebahagiaan dari arah Colly.
Cewek itu pasti sedang berbunga-bunga. Yang bikin tambah kesal, Edward seperti
tak menyadari keberadaannya.
“Mari masuk…”
kata Colly kemudian.
“Eh, gak. Gue
masih ada keperluan. Kalo gitu gue pergi dulu ya? Bye.” Kata Edward sambil
berbalik dan pergi.
“Ed!” panggil
Colly. Edward berbalik dan Colly melanjutkan, “thanks ya, udah mau mampir.”
Kata Colly dibalas senyuman Edward.
Edward
melangkah cepat meninggalkan rumah sakit itu. Dia gak bisa.
Benar-benar gak
bisa mengakui kalo dia dan teman-temannya yang telah membuat kakaknya jadi begitu.
Tapi, kalo kakaknya sadar, pastilah kakaknya akan membeberkan semuanya. Dan Ed
merasa perlu untuk menebus kesalahannya. Lagipula, dia merasa aneh saat melihat
cewek itu. Dadanya selalu berdetak cepat kalo melihat Colly, bahkan bunyi
detaknya bisa didengar orang lain.
“Apa gue lagi
sakit?” tanya Ed sambil menyentuh dadanya.
If a vibration appeared on your heart, maybe it is love…
###
“Apa tadi gue
mimpi?” tanya Colly pada dirinya sendiri. Dia sedang duduk di dekat balkon dan
memegang pipinya sambil pikirannya melayang kemana-mana.
Jasen yang
melihat sahabatnya yang sepertinya sudah kurang waras itu hanya bisa menghela
napas.
Cewek emang rada aneh kalo udah ketemu pujaan hatinya. Tapi, yang
membuat Jasen heran, apa gerangan yang membuat Edward datang kemari? Dia
seperti orang tertangkap basah saat Jasen tiba-tiba membuka pintu kamar.
“Hei! Cukup
sudah deh mikiran hal yang tadi. Mending lo beliin minuman buat gue!” kata
Jasen kemudian.
Colly memandang
Jasen dengan kesal. “Lo nih gimana sih? Gak bisa liat orang senang semenit
aja!” katanya.
“Tapi kalo lo
terlalu senag juga bahaya kan?
Entar disangka gila lagi!”
“Huh!” Colly
bangkit berdiri dari duduknya dan melangkah hendak keluar kamar. Belum sampai
dia di depan pintu tiba-tiba Jasen berteriak.
“COLLY!” teriak
Jasen.
“Apaan sih?”
ucap Colly seraya menuju ke tempat Jasen. Dan dia begitu terkejut saat melihat
Franke yang sudah membuka mata.
“Franke?” kata
Colly tak kalah kaget dari Jasen.
“Gue dimana?”
ucap Franke yang masih mengerjapkan matanya dan menatap seisi ruangan. Dia lalu
memegang bagian perutnya. “Perut gue… serasa dihujam…” ucapnya lemah.
Jasen segera
menghubungi dokter. Colly berdiri di samping kakaknya dan mengelus kepala
kakaknya. Dia merasa kaget bercampur senang dan terharu.
“Tenang Franke.
Lo baik-baik aja kok.” Kata Colly.
“Colly?” ucap
Franke. Lalu dokter dan perawat masuk ke kamar dan mempersilahkan Colly dan
Jasen menunggu sebentar agar Franke diperiksa.
Colly sempat
menghubungi Mama dan menunggu kedatangan Mama. Setelah selesai memeriksa Franke,
dokter dan perawat tadi menghampiri Colly dan Jasen.
“Kerabat anda
sudah benar-benar siuman. Sekarang mungkin dia masih bingung, tapi dia akan
kembali seperti biasa. Ini hanya efek dari obat yang dia konsumsi. Sedangkan
luka-lukanya juga sudah mulai sembuh dan pulih.” Terang dokter itu sebelum
meninggalkan kamar perawatan.
Colly menarik
napas lega dan kembali menghampiri kakaknya.
“Franke.” Ucap
Colly. Saat ini dia benar-benar kehabisan kata-kata.
“Ly… Jasen…
thanks.” Franke lalu tersenyum. “Mata gue berat banget. Bisa gak gue tidur
dulu?” tanya Franke.
Colly
mengangguk. “Tidur aja.”
Mata Franke
lalu terpejam. Dia kelihatan lebih lelah dari Colly dan mamanya yang begadang
semalaman penuh waktu itu. Jasen merangkul Colly dan tersenyum.
“Baguslah kalo
dia udah sehat lagi. Gue lega, Ly.” Kata Jasen.
“Dasar! Mau
tidur aja masih nanya sama kita.” Ucap Colly dengan senyum lega dan bahagia
memenuhi wajahnya. “Jasen, gue telpon nyokap dulu ya?” kata Colly.
Tak berapa lama
kemudian, Mama masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa. Sepertinya Mama habis
berlari.
“Gimana, Ly,
Jasen?” tanya Mama gak sabar.
“Franke udah
siuman kok. Tapi, dia bilang dia masih ngantuk jadi dia tidur lagi. Tenang aja,
Ma.” Kata Colly.
Setelah berdoa,
Mama lalu duduk di sisi tempat tidur dan menanti sampai mata Franke terbuka.
Colly dan Jasen duduk di sofa yang berhadapan dengan tempat tidur.
“Jasen, lo gak
apa-apa kalo kelamaan di sini? Tante sama Oom gak marah?” tanya Colly.
“Tenang aja.
Mereka pasti ngerti kok kenapa gue lama. Lagian, gue gak sabar nunggu Franke
bicara sama kita.”
“Maksud lo, lo
gak sabar Franke kasih tau siapa yang ngeroyokin dia?” tanya Colly.
Jasen
mengangguk, “yups! Kan
gue udah bilang, gue harus tahu siapa pelaku di balik ini semua.” Tambah Jasen.
Tiba-tiba pintu
kamar diketuk, dan Colly yang duduk dekat pintu bergegas membukanya. Tapi,
kemudian Colly terkejut karena orang yang mengetuk pintu itu menarik tangannya
hingga dia terhuyung keluar.
Setelah menyeimbangkan langkah dan pulih dari rasa
terkejutnya, barulah Colly bisa menatap Edward yang berdiri tepat di depannya.
Edward menarik pintu menutup dan membimbing Colly ke ujung lorong.
“Ke, kenapa lo
ada di sini?” tanya Colly yang surprised.
“Sorry, tadi
gue udah narik lo kasar banget. Tapi, ini penting. Gue gak mau ada yang tahu
hal ini. Terutama teman dekat lo itu…”
“Jasen namanya,”
potong Colly.
“Ya, itu. Gue
mohon ini hanya antara lo dan gue aja. Tapi… terserah kalo lo mau ngomong atau
laporin sama orang lain,” ujar Edward.
“Jadi, apa yang
lo mau omongin?” tanya Colly gak sabaran bercampur deg-degan melihat sosok yang
dipujanya berdiri tak jauh dengannya dengan wajah serius.
Edward lalu
menyodorkan sebuah dompet kepada Colly. Dan raut wajah Colly langsung berubah,
dia jadi histeris. Karena itu, Edward langsung menariknya lebih menjauh dari
kamar Franke.
“Kok? Kenapa
bisa ada sama lo?!” Colly bertanya.
“Gu, gue selalu
dihantui rasa bersalah, Colly. Gue gak sanggup buat nyimpan beban ini lebih
lama!” kata Edward. “Lo dengerin gue. Ini bukan ulah gue. Tapi gue juga ada di
tempat kejadian itu. Terserah lo kalo mau laporin ke polisi atau siapa pun. Gue
udah penuhin keinginan buat mengakui kesalahan gue. Jadi, semuanya ada di
tangan lo…”
Colly
bergeming. Pikirannya bercampur aduk antara Franke dan Edward. Dia lega karena
Franke sudah siuman, dia juga kesal dengan pelaku yang membuat kakaknya tak
sadarkan diri selama sehari.
Tapi, dia tak pernah membayangkan kalo yang
menjadi pelakunya adalah si cowok pujaan hati yang selalu membuatnya
berbunga-bunga, Edward. Dan kawan-kawannya. Lalu, kalo begini keadaannya, apa
dia harus memusuhi cowok itu? Atau malah mengasihaninya?
“Ini. Gue
kembaliin dompetnya sebagai barang bukti kalo diperlukan. Tapi, please… kalo lo
mau laporin gue dan teman-teman gue, jangan bilang kalo gue telah mengaku.
Karena, mereka satu-satunya yang gue punya. Gue gak mau sampai mereka musuhin
gue.” Ujar Edward sembari menyerahkan dompet yang digenggamnya pada Colly. Dia
berbalik dan hendak pergi, tapi Colly menahannya.
“Tunggu. Kenapa
lo sampe ngakuin hal ini?”
Edward menatap
Colly. “Gue dan teman-teman gue selalu suka ngerjain orang. Bahkan orang yang
sudah tua pun dikerjain. Tapi, gue gak pernah merasa bersalah karena hal itu.
Sampe akhirnya kelompok gue berkelahi dengan kakak lo yang jago berkelahi juga,
barulah gue ngerasain apa itu rasanya bersalah…”
“Lo mukul kakak
gue?!”
“Terserah lo
mau mikir kayak gimana. Sudah jelas kan,
gue ke sini karena gue merasa bersalah. Colly, gue merasa bersalah bukan karena
kakak lo ternyata harus masuk rumah sakit atau lainnya, tapi ketika gue nemuin
dompet itu dan tahu kalo lo adalah adiknya, baru gue merasa bersalah banget.”
Ucap Edward sebelum benar-benar pergi meninggalkan Colly sendirian yang
merenungi perkataannya barusan.
“Ya Tuhan! Apa
yang harus gue lakuin?!” sahut Colly pada dirinya sendiri.
“Ly, lo ngapain
sih? Tuh, Franke udah sadar…” kata Jasen saat menghampiri Colly yang terpaku di
ujung lorong. “Colly? Lo kenapa? Lo nangis?” tanya Jasen sambil mengamati wajah
cewek itu.
“Gak. Ini cuma
keringat.” Ucap Colly sambil membasuh airmatanya.
“Apa yang harus gue lakuin?” batin Colly
yang semakin bingung.
There are between love, hopeless, and hateful…
=================================================================
to be continued :)
==================================================================
ceritanya bagus gak ? yaah mungkin memang belum sebagus cerita-cerita kebanyakan yang pernah booming dan menjadi karya terbaik ...
aku menulis cerita ini secara naluriah saja ... hehehe :D
aku menulis cerita ini secara naluriah saja ... hehehe :D
Komentar
Posting Komentar