BACA KO MALELEH !
"Kita saling tukar hati yuk, supaya kamu bagaimana rasanya sakit ini ... :)"
Hari ini aku mengerti bahwa setiap bisikan dari naluriku sangatlah benar. Tak ada yang keliru sedikitpun.
Saat ini, mungkin air mataku telah habis untuk menangisi kebodohanku. Aku yang terlalu bodoh berprasangka bahwa semuanya akan baik-baik saja dan tak berpikir bahwa "semuanya baik-baik saja selama kamu tak mengetahui apa yang tersembunyi".
Hatiku terlalu sakit hingga rasanya nafaspun berhenti masuk dalam paru-paruku. Stress, depresi, dan segala hal yang membuatku sedikit lagi bisa jadi botak!
Untuk segalanya, aku berterima kasih karena tak perlu repot mencari tahu kebenaran itu. Karena toh kebenaran itu datang dengan sendirinya padaku, akhirnya aku tahu siapa yang tak bisa dipercaya dalam hubungan ini.
Mungkin aku memang naif dan posesif, tapi aku akan melakukan apapun untuk hubungan ini.
Suatu saat aku membaca satu tweet dari orang tak dikenal, yang kira-kira kalimatnya seperti ini:
"Jika dalam suatu hubungan hanya ada satu orang yang berusaha mempertahankannya, lebih baik tinggalkan saja dia."
Apa aku harus meninggalkannya? Sebenarnya pertanyaan yang tepat adalah: apa aku sudah siap meninggalkannya? Aku tidak punya keyakinan untuk mengambil keputusan karena hal ini menyangkut hati dan aku tahu kalau salah memutuskan, aku tak tau lagi harus menangis bagaimana.
Kilau hatiku yang semu oleh pendaran cahaya cinta yang dulu membentuk pelangi malah dihancurkan begitu saja dengan kenyataan yang sudah menggores hati manakala aku berlari mencari jawaban akan semuanya.
Pencarianku akan segalanya aku kubur hilang dalam diam saat yang kutemukan adalah apa yang aku bayangkan. Tak kusangka semuanya jadi kenyataan. Aku tak ingin mencari kesalahanmu, aku juga tak ingin mendengar penjelasan menyudutkan untuk pembelaan diri, aku sudah muak. Untuk kesekian kalinya aku tersadar, semua naluri tentangmu benar adanya. Baik maupun buruk, toh segala yang kau sembunyikan tak bisa terus bertahan dalam persembunyiannya itu.
Semua prasangkaku memang benar adanya, mungkin terdengar melankolis atau terlalu lemah. Tapi saat aku tau semuanya, aku menangis, airmataku melebur dan tak hentinya keluar. Tak ingin berhenti, bahkan aku harus menutup mulut dengan tanganku agar isakanku tak terdengar orang lain.
Dia mengira ini semua hanya sandiwara, saat aku benar-benar berani bertanya padanya. Salah satu kelemahanku, sulit membuat orang mempercayai diriku.
Bila mencintai seseorang, aku tak akan main-main dengan dirinya. Aku terlampau serius dalam sebuah hubungan, menjalinnya dengan erat dan tak ingin melepasnya. Entah itu akan membosankan atau menyakitkan. Tapi sejauh ini aku tahu, hanya aku yang merasakan sakitnya. Aku berhenti mengungkapkan segala isi dalam kepalaku setelah dianggap enteng oleh orang lain. Aku tak ingin lebih lagi diremehkan sehingga diam adalah emas bagiku.
Dalam hati, aku selalu ingin menghancurkan setiap hal ataupun semua orang yang menyakitiku, tapi aku tak memiliki kekuatan sebesar itu. Meyakinkan merekapun aku tak mampu, apalagi menyingkirkan mereka. Terlebih satu yang telah singgah di hati, terlalu sulit menepis pergi, tapi apa daya luka ini semakin terkoyak. Permainan rasa yang mengerikan telah dimulai, dan aku sang player yang harus menyelesaikan permainan. Aku bencii ini, menanggung perih yang amat dalam hanya untuk menyenangkan orang lain.
Untukmu yang kurasa tak akan pernah membaca tulisan ini,
aku telah bersabar dengan segala perasaanku. Aku meyakini diriku bahwa kamu adalah yang terbaik hingga tak akan mengkhianatiku. Kau akan selalu menjaga hatiku dan hatimu hingga ajal menjelang, tapi semuanya salah.
Kau tau, air mataku tak pernah aku hargai. Tapi aku juga tak memintamu untuk mengasihaniku hanya karena kau menangis, lebih dari itu aku ingin kau tau cintaku ini terhebat. Mungkin kamu mulai bosan dengan semuanya, dengan perlakuanku dan perhatianku yang tak pernah berkembang. Atau karena aku tak secantik yang kau harapkan, terlalu cerewet dan tak bisa bertingkah anggun - aku sadar itu semua adalah kekuranganku. Tapi apa kau sadar, cinta ini mulai tertanam erat dan semakin dalam keberadaannya, semakin kau pergi menjauh pasti kau akan kembali padaku? Apa itu semua kurang membuktikan betapa kita telah terikat erat oleh benang merah?
Aku tak tau bagaimana mengungkapkan kepenatanku padamu, apa aku harus menangis meraung atau harus berteriak untuk menjelaskan. Dari itu semua, aku memilih diam. DIAM ADALAH EMAS BAGIKU,
segala yang jadi beban buatku, ku simpan rapat dalam memoriku, tak ingin kubagi dan kuperdengarkan kepada semua orang. Aku terlalu bego untuk sekedar menyambung kata-kata jadi kalimat, aku terlalu bodoh dalam hal mencurahkan isi hati, tapi aku tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui segala sesuatu tentangmu.
Aku mungkin terlampau acuh atas apapun yang terjadi, tapi aku masih menyimpan perhatian berarti untuk sekedar mengetahuinya. Dan mungkin inilah yang membuatmu tak menyangka betapa sangat aku termanipulasi oleh dirimu, terkoyak batin oleh keberadaanmu dan hampir saja mengakhiri benang merah ini antara kita berdua.
Dear kamu,
apa kamu mulai sadar perasaanku? Kita saling tukar hati yuk, supaya kamu bagaimana rasanya sakit ini ... :)
Selamat ya, kamu dan seseorang yang kamu samarkan itu telah jadi bagian indah dan bermakna dengan status tak jelas.
Apalagi diriku, sepertinya tak dianggap.
Dan apa yang harus aku lakukan selanjutnya, menyaksikan kehebatanmu menggaet setiap wanita yang kaupuja dan menyatakan diri mereka sebagai sahabatmu?
Itu terlalu arogan, darling.
Aku tak mengerti apa yang salah denganku, kenapa aku begini naif, tapi yang pasti aku sudah cukup tau dan itu membuatku enteng.
Selalu dan pasti, aku membawamu dalam doaku. Sekarangpun begitu (karena ini hari Minggu dan aku akan bersiap ke gereja), semoga kamu bisa merasakan luar biasanya sebuah doa ya?
I know, and always know, we are never getting together if you always with someone else.
Makian lebih meyakinkan, tapi kali ini aku ingin mengucapkan kata yang selalu kau ucapkan , dan selalu terdengar syahdu untukku
AU SUE O ~ `AKU CINTA KAMU`
Hari ini aku mengerti bahwa setiap bisikan dari naluriku sangatlah benar. Tak ada yang keliru sedikitpun.
Saat ini, mungkin air mataku telah habis untuk menangisi kebodohanku. Aku yang terlalu bodoh berprasangka bahwa semuanya akan baik-baik saja dan tak berpikir bahwa "semuanya baik-baik saja selama kamu tak mengetahui apa yang tersembunyi".
Hatiku terlalu sakit hingga rasanya nafaspun berhenti masuk dalam paru-paruku. Stress, depresi, dan segala hal yang membuatku sedikit lagi bisa jadi botak!
Untuk segalanya, aku berterima kasih karena tak perlu repot mencari tahu kebenaran itu. Karena toh kebenaran itu datang dengan sendirinya padaku, akhirnya aku tahu siapa yang tak bisa dipercaya dalam hubungan ini.
Mungkin aku memang naif dan posesif, tapi aku akan melakukan apapun untuk hubungan ini.
Suatu saat aku membaca satu tweet dari orang tak dikenal, yang kira-kira kalimatnya seperti ini:
"Jika dalam suatu hubungan hanya ada satu orang yang berusaha mempertahankannya, lebih baik tinggalkan saja dia."
Apa aku harus meninggalkannya? Sebenarnya pertanyaan yang tepat adalah: apa aku sudah siap meninggalkannya? Aku tidak punya keyakinan untuk mengambil keputusan karena hal ini menyangkut hati dan aku tahu kalau salah memutuskan, aku tak tau lagi harus menangis bagaimana.
Kilau hatiku yang semu oleh pendaran cahaya cinta yang dulu membentuk pelangi malah dihancurkan begitu saja dengan kenyataan yang sudah menggores hati manakala aku berlari mencari jawaban akan semuanya.
Pencarianku akan segalanya aku kubur hilang dalam diam saat yang kutemukan adalah apa yang aku bayangkan. Tak kusangka semuanya jadi kenyataan. Aku tak ingin mencari kesalahanmu, aku juga tak ingin mendengar penjelasan menyudutkan untuk pembelaan diri, aku sudah muak. Untuk kesekian kalinya aku tersadar, semua naluri tentangmu benar adanya. Baik maupun buruk, toh segala yang kau sembunyikan tak bisa terus bertahan dalam persembunyiannya itu.
Semua prasangkaku memang benar adanya, mungkin terdengar melankolis atau terlalu lemah. Tapi saat aku tau semuanya, aku menangis, airmataku melebur dan tak hentinya keluar. Tak ingin berhenti, bahkan aku harus menutup mulut dengan tanganku agar isakanku tak terdengar orang lain.
Dia mengira ini semua hanya sandiwara, saat aku benar-benar berani bertanya padanya. Salah satu kelemahanku, sulit membuat orang mempercayai diriku.
Bila mencintai seseorang, aku tak akan main-main dengan dirinya. Aku terlampau serius dalam sebuah hubungan, menjalinnya dengan erat dan tak ingin melepasnya. Entah itu akan membosankan atau menyakitkan. Tapi sejauh ini aku tahu, hanya aku yang merasakan sakitnya. Aku berhenti mengungkapkan segala isi dalam kepalaku setelah dianggap enteng oleh orang lain. Aku tak ingin lebih lagi diremehkan sehingga diam adalah emas bagiku.
Dalam hati, aku selalu ingin menghancurkan setiap hal ataupun semua orang yang menyakitiku, tapi aku tak memiliki kekuatan sebesar itu. Meyakinkan merekapun aku tak mampu, apalagi menyingkirkan mereka. Terlebih satu yang telah singgah di hati, terlalu sulit menepis pergi, tapi apa daya luka ini semakin terkoyak. Permainan rasa yang mengerikan telah dimulai, dan aku sang player yang harus menyelesaikan permainan. Aku bencii ini, menanggung perih yang amat dalam hanya untuk menyenangkan orang lain.
Untukmu yang kurasa tak akan pernah membaca tulisan ini,
aku telah bersabar dengan segala perasaanku. Aku meyakini diriku bahwa kamu adalah yang terbaik hingga tak akan mengkhianatiku. Kau akan selalu menjaga hatiku dan hatimu hingga ajal menjelang, tapi semuanya salah.
Kau tau, air mataku tak pernah aku hargai. Tapi aku juga tak memintamu untuk mengasihaniku hanya karena kau menangis, lebih dari itu aku ingin kau tau cintaku ini terhebat. Mungkin kamu mulai bosan dengan semuanya, dengan perlakuanku dan perhatianku yang tak pernah berkembang. Atau karena aku tak secantik yang kau harapkan, terlalu cerewet dan tak bisa bertingkah anggun - aku sadar itu semua adalah kekuranganku. Tapi apa kau sadar, cinta ini mulai tertanam erat dan semakin dalam keberadaannya, semakin kau pergi menjauh pasti kau akan kembali padaku? Apa itu semua kurang membuktikan betapa kita telah terikat erat oleh benang merah?
Aku tak tau bagaimana mengungkapkan kepenatanku padamu, apa aku harus menangis meraung atau harus berteriak untuk menjelaskan. Dari itu semua, aku memilih diam. DIAM ADALAH EMAS BAGIKU,
segala yang jadi beban buatku, ku simpan rapat dalam memoriku, tak ingin kubagi dan kuperdengarkan kepada semua orang. Aku terlalu bego untuk sekedar menyambung kata-kata jadi kalimat, aku terlalu bodoh dalam hal mencurahkan isi hati, tapi aku tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui segala sesuatu tentangmu.
Aku mungkin terlampau acuh atas apapun yang terjadi, tapi aku masih menyimpan perhatian berarti untuk sekedar mengetahuinya. Dan mungkin inilah yang membuatmu tak menyangka betapa sangat aku termanipulasi oleh dirimu, terkoyak batin oleh keberadaanmu dan hampir saja mengakhiri benang merah ini antara kita berdua.
Dear kamu,
apa kamu mulai sadar perasaanku? Kita saling tukar hati yuk, supaya kamu bagaimana rasanya sakit ini ... :)
Selamat ya, kamu dan seseorang yang kamu samarkan itu telah jadi bagian indah dan bermakna dengan status tak jelas.
Apalagi diriku, sepertinya tak dianggap.
Dan apa yang harus aku lakukan selanjutnya, menyaksikan kehebatanmu menggaet setiap wanita yang kaupuja dan menyatakan diri mereka sebagai sahabatmu?
Itu terlalu arogan, darling.
Aku tak mengerti apa yang salah denganku, kenapa aku begini naif, tapi yang pasti aku sudah cukup tau dan itu membuatku enteng.
Selalu dan pasti, aku membawamu dalam doaku. Sekarangpun begitu (karena ini hari Minggu dan aku akan bersiap ke gereja), semoga kamu bisa merasakan luar biasanya sebuah doa ya?
I know, and always know, we are never getting together if you always with someone else.
Makian lebih meyakinkan, tapi kali ini aku ingin mengucapkan kata yang selalu kau ucapkan , dan selalu terdengar syahdu untukku
AU SUE O ~ `AKU CINTA KAMU`
Komentar
Posting Komentar