I'm Not Insulting You, I'm Describing You

Ini pembicaraan tentang The Munafvck. Dengan ketua seorang yang sok artis, gayanya lebay dan menor abis, dengan anggota yang suka meng-copy paste tiap karya briliantku dan yang menganggap dirinya terlalu murah saat sedang single. Serta beberapa anggota yang terlalu polos untuk tidak membicarakan orang lain.
(Sepertinya ini cuma fiktif belaka).
Semakin hari semakin terbuka topeng dan segala bulusnya. Entah itu hanya naluri atau memang nyata, tapi setelah mengenal mereka lebih jauh ternyata tak seperti penilaian pertama. Apa sifat semua manusia seperti itu? Baik pada awalnya dan akan berakhir menakutkan setelah semuanya di ujung tombak? Ulalala, kedengarannya munafik sekali ya?
Bicara mengenai topeng yang terbuka, aku punya beberapa pengalaman tentang hal itu. Tapi ini aku observasi dari beberapa sampel yang memang tak patut ditiru, sampel Munafvck dari populasi The Munafvck. Cekidot deh kenapa mereka bisa menyembunyikan penampilan mereka yang sebenarnya dan kenapa penyamaran mereka bisa terbongkar:

Pertama, karena penilaian pertama tentang mereka ternyata bertentangan dengan sifat mereka setelah lama bersua. Sudah pernah kukatakan di posting sebelumnya kalau aku menyesal telah salah menilai buku melalui covernya saja. Benar deh, kali ini penyesalan semakin menumpuk :(

Kedua, hal-hal yang mereka tutupi perlahan terkuak dan mulai tercium ke permukaan. Tandanya mereka menyembunyikan fakta di mana itu bisa saja menghancurkan penampilan luar mereka. Well, bukan sepenuhnya salah mereka kalau ternyata itu harus terbuka lebar setelah semua kemunafikan tak bisa lagi menutupinya.

Ketiga, mereka mencari sesama jenis yang ternyata munafik dan bisa diajak bekerja sama. Terlalu gampang buat mereka untuk membentuk satu populasi dan berkembang biak, sehingga pencegahan dirasa tak efektif untuk memusnahkan ataupun meminimalisir keberadaan mereka.

Silahkan merasa tersisih dengan postinganku hari ini, karena aku juga sedang sit in the corner of my room and be insane!

Pemikiranku tentang orang yang munafik begitu radikal hingga aku sepertinya ingin memakan mereka hidup-hidup. Untuk beberapa pengalaman burukku dengan orang munafik, mungkin aku sudah bisa dikatakan ahli dalam menilai begitu banyak orang yangbaik ataupun munafik menurut ukuranku.
Mungkin karena sempitnya skaala berpikirku yang pada dasarnya selalu bergumam "tak ada manusia baik di dunia (selain keluargamu sendiri yang telah susah payah hidup denganmu)".
Karena itu, untuk beberapa orang yang tak terlalu berguna buatku, sudah ada label 'munafik' di dahi mereka sebelum mereka mengetahui itu.
Tapi aku sadar kalau itu terlalu naif.
Pikiran yang tak berdasar, kata-kata seolah tak ada yang lebih baik dari diri sendiri, dan kemauan untuk tidak mempercayai orang lain telah membuat diriku jadi manusia egois dan naif.
Apa jadinya diriku bila terlalu lama ternggelam dalam pemikiran ini? Aku selalu memikirkannya, tapi aku juga selalu membantahnya. Karena itu, sama saja bila gagasanku tentang kemunafikan diungkapkan maupun disimpan untuk diri sendiri.

Untuk mempercayai seseorang seperti mempercayai orangtua itu lebih sulit daripada memilih makan makanan yang tak disukai atau bertahan dengan benda yang paling dibenci.
Yah, maklumi saja karena aku pernah terluka karena terlalu mempercayai seseorang. Sejenis phobia, aku jadi takut untuk terlalu yakin dengan perasaan seseorang pada diriku.
Karena itu, bila ada celah yang memungkinkan aku tak percaya, aku senang. Itu membuatku membuat celah itu lebih besar dan kepercayaanku bisa semakin hilang.

Asal tau saja, menghilangkan kerpercayaan orang pada dirimu sangat mudah dibanding membuat mereka mempercayaimu, korbankan segalanya demi itu barulah mereka tau kau apa!
 *berkobar-kobar*
Oke, semakin larut dan aku semakin berkobar untuk terlelap di kasur tak empuk nan sesak milikku dan kakakku.
Anneyong ~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Ketika Teman Jadi Bangsat !

Yang Berharga Yang Kulepas.