THE VOICE OF SASANDU (COPYRIGHT 2013, JERMY BALUKH)
Ini adalah tulisan yang saya ambil dari akun social media (Twitter) resmi Komunitas Anak Muda Untuk Rote Ndao (@kamurotendao) dengan hashtag #sasandoKRN dan merupakan karya seseorang yang berdedikasi dalam menulis, Jermy Balukh .
Untuk anda yang membaca postingan ini dan penasaran akan komunitas ini, bisa langsung klik link di bawah ini, sekalian di follow akun Twitter-nya yah :)
*Postingan ini tidak bermaksud memplagiat, hanya ingin menyebarkan
'virus' pengetahuan tentang budaya dan peninggalan nenek moyang di Rote -
Nusa Tenggara Timur - Indonesia kepada semua orang yang mau
mengetahuinya*
"SUARA SASANDU"
SASANDU, alat musik tradisional orang Rote. Semua orang di Rote-Ndao pasti mengenalnya.
Bahkan,dengan menyebut nama Sasandu, seantero masyarakat NTT tahu dengan benar bahwa alat musik tradisional itu asli milik orang Rote.
Dengan berkembangnya teknologi, sistem informasi & komunikasi, Sasandu
pun berkembang hingga terkenal di seluruh Indonesia, bahkan dunia.
Rote-Ndao patut bangga, hasil karya nenek moyang tidak sekadar dicatat sebagai sebuah sejarah, namun di tangan anak-anak Rote sendiri, Sasandu mampu menyihir dunia dalam kancah seni musik.
Oleh karena kurangnya dokumentasi pada jaman dahulu, maka informasi mengenai Sasandu pun disajikan dalam berbagai versi, terutama sejarahnya.
Hal ini karena orang Rote hanya mengandalkan tuturan lisan. Tidak ada catatan yang baik.
Ada versi yang mengatakan bahwa Sasandu ditemukan pada sekitar abad ke-13 Masehi oleh seseorang yang bernama Pupuk Seroba.
Ia mendapat inspirasi pada saat melihat seekor laba-laba memainkan jaringnya.
Versi lain mengatakan bahwa Sasandu ditemukan oleh seseorang yang bernama Sangguana Nale sekitar Tahun 1660-an.
Sangguana menciptakan Sasandu berdasarkan inspirasi yang diperoleh dari mimpi.
Selain itu, versi tertentu menyebutkan bahwa Sasandu ditemukan oleh dua orang bersahabat, yaitu Lunggi Lain dan Baloama Sina.
Namun cerita ini agak kabur, terutama perkiraan waktu dan silsilah turunan mereka.
Ada pun versi lain bahwa Sasandu ditemukan oleh dua orang gembala bernama Lumbilang dan Balialang
Akan tetapi,lanjutan cerita ini pun kabur. Dari segi nama, kedua nama itu terdengar asing jika dibandingkan dengan nama2 orang Rote.
Ada juga versi yang mengatakan bahwa penemu Sasandu adalah 2 orang yang masing-masing bernama Namba dan Nggeni Soru sekitar abad 14 Masehi.
Namun cerita berkembang bahwa kedua orang tersebut berasal dari Ndao dan mahir bermain Sasandu, namun sebenarnya bukan sebagai penemu. Dalam berbagai tulisan, banyak yang menggunakan versi kedua bahwa penemu Sasandu bernama Sangguana.
Perlu ada kajian yang mendalam tentang sejarah Sasandu ini. Namun, apa pun versi yang lebih dipercaya, Rote-Ndao bangga dengan keberadaan Sasandu saat ini.
![]() | |||
| (copyright 2013 KAMURoteNdao) |
Selain sejarahnya, nama alat musik ini pun memiliki cerita tersendiri.
Alkisah, nama Sasandu sebenarnya berasal dari kata ‘Sandu’ atau ‘Sanu’ dalam bahasa Rote yang berarti ‘bergetar’.
Kemudian, kata itu mengalami pengulangan (reduplikasi penuh) menjadi ‘Sandu-Sandu’ yang berarti ‘terus bergetar’.
Dan,kemudian org mengucapnya dengan istilah ‘Sasandu’ (reduplikasi sebagian). Sehingga ‘Sasandu’ bermakna ‘alat yang bergetar.
Namun, seiring perkembangan dalam komunikasi lisan, maka ucapan itu pun berubah menjadi ‘Sasando’.
![]() | |
| (copyright 2013 KAMURoteNdao) |
Huruf /u/ diganti dengan /o/. Secara linguistik, ucapan ini sangat dimaklumi karena memang karakteristik bunyi vokal pada bahasa-bahasa di wilayah Rote dan sekitarnya cenderung me-rendah.
Istilah ‘Sasando’ akhirnya menjadi umum hingga saat ini.
Perkembangan yang cukup spektakuler dari Sasandu adalah jenisnya. Awalnya hanya terdapat satu jenis Sasandu, yaitu Sasandu gong.
Karena bunyi Sasandu disesuaikan dengan nada gong Rote. Namun, menurut sejarah, setelah masuknya Portugis yang memperkenalkan alat musik biola maka muncul inspirasi untuk menciptakan Sasandu biola. Nada Sasandu pun disesuaikan dengan nada musik modern.
Jadilah dua jenis Sasandu, yaitu Sasandu Gong dan Sasandu Biola
Sasandu Gong digunakan untuk mengiringi tarian, dan Sasandu Biola mengiringi lagu-lagu modern.
Dengan peralatan musik modern, maka Sasandu sejak tahun 1960-an telah bisa menggunakan sistem elektrik hingga sekarang.
Dari segi bentuk pun demikian banyak perubahan. Awalnya, masih sederhana.
Menggunakan daun lontar yang dilipat seperti ‘haik’ sebagai resonator, tabung bamboo
un tuk memasang dawai & penyangga dawai (Bahasa Rote: senda).
Walaupun dengan bahan yang sama, namun Sasandu telah dibuat lebih modern.
Tidak hanya itu,Sasandu tidak sekadar alat musik lagi, tapi telah dirancang mnjadi cendera mata dari ukuran besar, sedang dan kecil.
Pengembangan jenis Sasandu juga berpengaruh pada jenis dan jumlah dawai.
Memang, indahnya bunyi tidak terlepas dari dawai. Menurut cerita, pada awalnya jenis dawai Sasandu dibuat dari tulang daun gewang.
Kemudian, dawai juga menggunakan sayatan bambu yang dibuat kecil-kecil. Ada cerita juga bahwa dawai Sasandu dibuat dari usus musang yang dikeringkan.
Setelah munculnya senar, maka dawai Sasandu pun menggunakan senar, lalu menggunakan kawat halus. Di jaman sekarang, dawai Sasandu menggunakan dawai gitar listrik. Ini perkembangan yang luar biasa tanpa mengurangi nilai budaya dari Sasandu.
Jumlah dawai pun berkembang dari masa ke masa. Pada awalnya Sasandu hanya memiliki tujuh dawai, kemudian berkembang menjadi sembilan dan sepuluh. Dengan berkembangnya jenis Sasandu biola, jumlah dawai berkisar 30 bahkan hingga 60 dawai tergantung kebutuhan nada.
Sasandu biola yang sangat brkembang saat ini mmiliki jumlah dawai yang bervariasi karena pertimbangan nada yang lebih artistik.
Berbeda dengan penentuan jumlah dawai pada Sasandu jaman dahulu. Pada awal penciptaannya, jumlah dawai Sasandu ternyata memiliki filosofi tersendiri.
Jumlah tujuh dawai melambangkan siklus kehidupan seorang anak manusia yang masih dalam kandungan seorang ibu.
Orang Rote percaya bahwa jika janin dalam kandungan telah berumur tujuh bulan, maka ia telah mnjadi sempurna secara fisik sebagai manusia.
Jumlah sembilan dawai melambangkan siklus kehidupan seorang bayi dalam kandungan yang akan dilahirkan ke dunia.
Sementara itu, jumlah 10 dawai memberi makna angka sempurna. Dalam kepercayaan tradisional Rote, angka sempurna itu adalah milik Tuhan, karena hanya Tuhanlah yang sempurna dan memiliki kekuasaan atas segalanya.
Itulah sebabnya manusia patut menyembah Tuhan. Filosofi angka ini selaras dengan filosofi angka sembilan.
Karena itu berbagai hal dikaitkan dengan angka sembilan tersebut.
Bagi orang Rote, segala sesuatu dianggap lengkap jika mencapai jumlah sembilan (Bahasa Rote : sio)
Misalnya, ada ‘manesio’, ‘mbule sio’,dll.
Bahkan, jumlah dialek dalam bahasa
Rote pun dibagi menjadi 9 kelompok. Namun kesempurnaan hanya milik Tuhan .
Ternyata orang Rote tidak hanya berfilosofi dengan jumlah tapi juga nada. Sebagaimana disebutkan bahwa awal mula nada Sasandu mengikuti nada gong.
Karena itu, petikan Sasandu gong pun harus mengikuti sistem gong, yaitu tidak boleh ada 2 bunyi atau nada yang dipetik secara bersamaan.
Jika dua nada dibunyikan dalam waktu yang sama, maka dipastikan bunyi yang dihasilkan sasandu tidak merdu.
Walaupun dibunyikan secara berbeda, namun nada-nada tersebut saling mengisi sehingga dapat menghasilkan bunyi yang menggambarkan lagu tertentu yang indah didengar. Setiap nada memiliki peran yang berbeda.
Namun, peran-peran dalam nada sasandu ini menciptakan sebuah keharmonisan bunyi.
Hal ini menggambarkan bahwa sebenarnya keharmonisan bukan terletak pada “kesamaan” tapi pada “perbedaan”.
Dilihat dari sasandu, Orang Rote percaya bahwa perbedaan mampu mengisi ruang-ruang nilai yang menuju sebuah keharmonisan yang utuh.
Selain itu, peran yang berbeda pada nada-nada tersebut memberi arti tentang kemandirian.
Sasandu-nya orang Rote ini telah banyak mencatat sejarah dan bahkan hingga hari ini masih terus menciptakan sejarah.
Masyarakat pasti masih ingat bahwa gambar Sasandu pernah menghiasi lembaran uang kertas Rp. 5000 pada Tahun 1992.
Saat itu Gubernur Bank Indonesia dijabat oleh seorang putra terbaik Rote, Bpk Adrianus Mooy.
Sebuah tugu di bukit Kelapa Lima Kupang menggunakan Sasandu di puncaknya, yang kemudian disebut “Tugu Sasando”.
Sebuah hotel berkelas internasional di Kupang diberi nama “Hotel Sasando” dan ada sebuah Sasandu berukuran besar di depan lobinya.
Di berbagai event kompetisi musik nasional maupun internasional, Sasandu sangat diperhitungkan.
Tahun 2009, Festival Sasandu dengan Piala Presiden Republik Indonesia sangat memikat perhatian nasional, bahkan internasional.
Tidak kalah spektakulernya adalah Gedung DPRD Rote-Ndao menempatkan sebuah tugu Sasandu di depan gedung tersebut.
Kini, permainan Sasandu tidak hanya diminati oleh putra-putri Rote, tapi juga orang luar, bahkan orang asing dari manca negara.
Yang tidak kalah menarik adalah perjalanan sejarah orang Rote yang dibawa oleh orang Belanda hingga Madagaskar.
Muncullah alat musik tradisional orang Madagaskar yang disebut ‘Valiha’. Orang Madagaskar menyebutnya ‘Vali’.
Alat musik itu persis seperti Sasandu, yaitu menggunakan tabung bambu dan penyangga dawai, dan dipetik seperti Sasandu, hanya tidak menggunakan apa-apa sebagai resonator (haik).
Dalam berbagai catatan, kata ‘Valiha’ dikatakan berasal dari kata bahasa Sansekerta ‘Vadya’ yang berarti ‘alat musik yang sakral’
Namun, ada versi cerita yang mengatakan bahwa nama ‘Valiha’ merujuk pada kata dalam bahasa Rote ‘Fali’ yang berarti ‘pulang’.
Arti nya mengisyaratkan orang Rote yang rindu pulang kampung halamannya.
Sementara ucapan ‘-ha’ sebagai akhiran pada kata ‘Valiha’ menunjukkan ajakan, sebagaimana yang biasa diucapkan oleh orang Rote ‘Fali ha’ yang berarti ‘mari pulang e’.
SASANDU punya keunikan tersendiri, mulai dari sejarah perjalanan orang Rote, kreativitas penemu dan para pembuatnya, model dan nada-nadanya, hingga filosofinya.
SASANDU telah menggemparkan dunia dengan nada-nada yang merdu dan harmoni-nya, seakan memberitahu dunia, inilah SUARA-ku.
SUARA SASANDU Oleh: Jermy Balukh . Leiden, 01 Juni 2013.


Komentar
Posting Komentar