Separuh Jiwaku Pergi
Kali ini, dengan tamparan keras aku disadarkan. Disadarkan akan sakitnya untuk meyakini perasaan yang kusangka akan selalu abadi, keputusan yang selalu diqnggap candaan. Aku tersadar. Bukan karena aku selama ini menutup mata, tapi aku hanya terbuai dengan setiap permainan hati yang tidak mengizinkanku memikirkan kemungkinan terburuk.
Memang aku bodoh, berpikir tanpa menggunakan logika. Terlalu mengandalkan hati untuk bicara, tapi naluri tak jalan. Aku membunuh setiap senti rasa sayang seseorang hanya dalam hitungan menit, dan aku dibakar rasa sesal yg tak kunjung padam, menghanguskanku ke dalam tungku yang sangat panas. Melebur dan menjadi abu.
Tak dianggap. Diabaikan. Mati.
Kesekian kali aku pernah ditinggal, tapi kali ini aku terpuruk. Aku tak mempercayainya. Aku menangisinya. Terasa sembilu hati ini. Bahkan untuk melangkah menjauh terasa berat, padahal dia sudah meninggalkan.
Sakit rasanya, ketika masih dalam ruang dan waktu yang sama, tapi bahkan tidak lagi saling mengenal. Terpaut jauh, hati dan raga ini. Memohon pun tak terkabul, menatap pun ku tak sanggup.
Setiap untai kata ini hanya kurangkai untuk diri sendiri, kemudian kubaca dan kutangisi. Lewat seminggu, dua minggu, semua mengira aku tegar. Semua tersenyum melihatku baik-baik saja. Semua hal yang palsudariku yang tak dapat mereka kenali.
Bisakah jiwa ini pergi jauh. Atau setidaknya ingatan ini dibentur keras dan aku terlupa akan semuanya?
Karena masa depan sungguh tak ada di depan mataku, dan kehidupan bak siksaan bagiku.
Sekali ini, aku berharap cukup mati yang bisa menolongku.
Pola hidupku sudah berubah, bahkan mungkin tubuhku tak bisa lagi mengontrol diriku yang amburadul, dengan menghibur diri tanpa memikirkan kesehatan. Toh semuanya sama saja.
Aku tak bisa apa-apa tanpa dia. Dia orang yang kuandalkan. Sangat. Dia yang bisa mendengar keluh kesahku. Bahkan dia yang memintaku menceritakan padanya. Terlalu kuandalkan hingga saat kulepas, aku ambruk. Aku tak tertolong. Dia telah membunuh separuh jiwaku.
Hanya dia yang kuandalkan, saat semua orang mencaciku dan meninggalkanku, aku masih bisa mencapainya. Meraihnya dan tersenyum. Dia pelipur lara. Aku bisa kuat karena dia.
Tapi sekarang aku sendiri, menonton setiap kata orang-orang padaku tanpa bisa kufilter. Aku tak bisa menceritakan pada orang lain. Aku tak bisa mengandalkan orang lain.
Sudah kubilang, separuh jiwaku pergi.
Izinkan aku hanya melihatmu dari jauh, hanya melihat kenangan kita, hanya mendambakanmu.
Teruntuk dirimu, aku minta maaf atas segalanya.
Maafkan aku juga..aku hanya terlarut dalam emosi yg tak terbendung lagi
BalasHapusMaafkan aku juga..aku hanya terlarut dalam emosi yg tak terbendung lagi
BalasHapus