Beban atau Bahagia ?

Semakin hari kita semakin bertumbuh, dan umur kita kian bertambah. Hal-hal yang dulunya tak perlu kita ketahui mau tak mau harus kita pelajari mulai sekarang dan itu akan berlanjut hingga di masa tua kita nanti.
Benar kata orang, masa muda hanya berjalan satu kali dan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Tapi apa jadinya dengan seorang anak rumahan yang tak diijinkan menjalani apa yang dinginkannya oleh sang orangtua? Sebagai anak yang taat, hal terbaik adalah menuruti kemauan orangtua walaupun itu tak sesuai keinginan hati kita. Dan imbasnya sudah jelas bahwa hidup kita perlahan pudar, dan masa muda yang dibanggakan semua orang juga akan faded away begitu saja.

Kita bebas mengikuti keinginan kita, selama itu adalah yang dirasa baik dan tidak menentang keinginan orangtua.
Aku punya cerita, di mana sejak dulu aku ngotot pergi ke Rote (pulau paling selatan Indonesia) tapi apa daya sang mama tak mengijinkanku pergi dengan alasan bahwa ombaknya tidak bersahabat (karena pergi ke Rote menggunakan kapal).
Sampai saat ini aku masih memendam keinginan pergi ke sana, walau bagaimanapun suatu saat aku akan ke sana, aku berjanji dalam hati.

Tak terasa beberapa bulan lagi aku mencapai umurku yang ke sembilan belas. Sudah mulai menua, eh? Dan aku merasa semakin bertanggung jawab untuk membahagiakan orangtua ketimbang meminta pada mereka. Tapi memang tak mudah, karena dari kecil telah terbiasa dengan sesuatu yang serba ada dan serba praktis hingga untuk mendapatkan sesuatu sekarang ini aku tak merasa harus bersusah payah dahulu.

Tapi entah apa yang merambat di alur otakku ini, aku seperti tak ingin terlalu membebankan orangtuaku. Di saat semua orang berfoya-foya dan memanfaatkan segala kekayaan orangtua untuk penampilan dan sebagainya aku lebih memikirkan bagaimana orangtuaku akan mencari uang untuk kebutuhan kami yang tak pernah ada habisnya ini.
Pernah saat aku SMA, aku lupa kelas berapa, aku sangat ingin punya handphone baru. Setiap hari aku berusaha untuk menabung guna membeli handphone dan aku selalu membantu orangtuaku bila memang dibutuhkan. Hingga hampir dua tahun berlalu dan aku telah menabung kurang lebih lima ratus ribu, dan aku memberikan pada mama untuk membeli handphone baru.
Betapa senangnya aku saat handphone itu aku pegang, bagaimanapun aku telah andil dalam membeli handphone itu dan aku rasa telah meringankan separuh beban orang tuaku.

Tapi setiap anak berbeda-beda. Ada yang berusaha mendapatkan yang mereka inginkan dengan jerih payah mereka sendiri dan ada yang hanya bisa meminta untuk mendapatkannya.
Hal yang kedua ini memang tidak salah, karena sebagai anak-anak kita juga berhak meminta sesuatu dari orangtua kita. Yang jadi masalah, apa jadinya kalau sudah berumur dan tak mengerti juga malah terus menerus minta uang dan barang pada orangtua.

Di sini aku tak menyinggung siapapun tapi hanya ingin sharing berbagai hal dalam pikiranku yang hilir mudik ini.
Mungkin kadang kita berpikir orangtua adalah yang bertanggung jawab terhadap hidup kita hingga kelak kita menikah, tapi apakah itu tidak terlalu memberatkan?
Selama kita masih bisa mencari dan mendapatkan sesuatu yang kita inginkan dengan usaha kita sendiri, tak ada salahnya kalau kita berhenti sejenak meminta pada orangtua kita.

Well, sekarang mari berpikir tentang kebahagiaan orangtua kita kelak. Melihat anak-anaknya hidup mapan dan tak berkekurang serta bisa membantu orangtua kita.
Pasti semua orangtua memiliki harapan yang sama pada kita anak-anaknya.
Mulailah hidup mandiri bila memang merasa sudah mampu, atau memang sudah saatnya mandiri.

Anneyong :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Ketika Teman Jadi Bangsat !

Yang Berharga Yang Kulepas.