MY PRECIOUS CHILDHOOD

Terlalu ribut untuk hari ini. Karena rumah yang sekarang jadi sarangku malah dijadikan taman kanak-kanak oleh beberapa anak kecil sekitar sini.
What the hell?!
Mereka bermain Master Chef, masak-masakan, sampai main Papa-Mama segala. Tak apa-apa sih kalau mereka bermain seperti itu, tapi aku yang tak sengaja mendengar suara mereka saat bermain dan kadang terpaksa melihat kelakuan mereka itu harus menahan rasa terkejut sekaligus heran.

Langsung saja teringat banyak hal tentang masa kecilku dulu. Sepertinya masa kecilku lebih aneh bin ajaib dari pada yang sekarang. Atau malah kalah dari adik-adik yang sekarang ini.

<< FLASH BACK
Waktu kecil dulu, paling suka main lumpur, terus ditaruh di wadah yang tak terpakai. Setelah itu diberikan pada orang tua dengan bilang "Ini kue terenak yang pernah ada."
Bukannya tersenyum bahagia, nyokap bokap malah membuang kue lumpur karya terbaikku itu -_-
Ajang jatuh-jatuh dari berbagai tempat juga tak pernah terlepas dari masa kecilku.
Mulai jatuh dari tempat tidur saat sedang nyenyak, jatuh dari sepeda pinjaman, jatuh ke selokan depan rumah, jatuh dan tak bangun-bangun lagi (nah loh??).
Sampe sekarang bekas luka akibat jatuh itu masih ada, dan sepertinya itu jadi saksi bukti atas segala kecerobohanku dulu.
Pernah sekali aku jatuh dan kepalaku berdarah hebat. Hanya karena hal sepele, waktu gelantungan di pipa tempat pakaian dijemur (kayak monkey gitu) kakakku memutar pipa itu dan tanganku tergelincir. Aku sukses mendarat di batu karang yang tepat ada di bawahku.
Akibatnya, yah kepalaku bocor!
Yang paling buat melongo nih, ada tetanggaku yang malah membubuhi kepalaku yang terluka dengan kopi. Sempat mikir, kopi kalo campur darah rasanya enak gak ya???

Hahahaha, kakakku tak merasa bersalah dengan kecelakaan yang menimpaku itu.
Tapi mungkin karena kehilangan teman bermainnya, dia terus menggangguku yang terbaring dengan wajah menghadap bantal (itu posisi tidur terbaik saat kepalamu bocor, gan!)

Masa kecilku pernah kualami dengan berjalan kaki dari SD tempatku belajar sampai rumahku di paling pojok kota tempat tinggalku. Katakanlah jaraknya hampir 6 kilometer.
Masalahnyapun sepele, karena aku tak tau caranya untuk menghentikan angkot yang akan aku naiki.
Jadi bayangkan saja, aku sedang jalan kaki dengan keringat bercucuran dan saat bemo (baca: angkot) lewat aku hanya memandangnya dengan tatapan penuh harap bahwa bemo itu akan berhenti.
Ini polos atau bego sih?
Belum lagi sepanjang perjalanan aku harus dikejutkan dengan kelakukan orang mabuk. Haduuh, betapa menderitanya aku  yang kecil dan tak berdaya dulu.
Dan setelah mencapai garis finish yaitu pintu rumahku, aku masuk dengan wajah seperti diserang diare dan mengucapkan "Selamat Pagi"
padahal itu sudah siang bolong menjelang sore.
Spontan orangtuaku berlarian ke arahku dan melihat keadaanku yang begitu 'mempesona'.

Mulai saat itu, candaan tentang aku yang telah berjalan jauh menjadi buah bibir antara orangtuaku dan saudara-saudaraku. Benar-benar berkesan dan lucu buat mereka !

Masa kecilku sudah aku hadapi dengan terbiasa mengerjakan segala sesuatu sendirian.
Dulu saat aku tamat SD dan hendak mengambil ijazah, orangtuaku menyuruhku mengambilnya sendiri.
Aku pergi dengan kegentaran yang luar biasa, karena apa? Karena uang sumbangan untuk sekolah tidak kubawa.
Jadi ceritanya waktu itu ada adegan banjir airmata saat aku menerima ijazahku. Dan akhirnya aku menerima ijazahku setelah beberapa guru dan kepala sekolah melihat airmataku. Betapa memalukannya saat itu, tapi tak apalah. Pasti mereka maklum karena aku masih kecil, hahaha.

Aku sedang mengingat-ingat kapan terakhir kali aku bermain 'papa-mama' dengan anak kompleksku.
Sepertinya dulu aku tidak terlalu bergaul dengan anak laki2 selain adik laki-lakiku sendiri.
Karena itu, main masak-masak atau main keluarga tak pernah menghadirkan sosok papa. Hanya ada mama, kakak dan adik bayi (sudah pasti adik bayi itu adalah adik bungsuku).

Masa kecilku itu bahagiaaaaa sekali.
Sangking bahagianya sampai sekarang masih terbawa-bawa hingga aku sebesar ini. Hehehe.
Terkadang saat anak-anak kecil main dengan sepupuku di teras rumah tanteku, aku juga ikut bermain dengan mereka. Main pingkalaping (petak umpet) ataupun main Paman Dolip (sejenis permainan injak kaki dan menyentuh barang yang disebut anak yg menang suit).
Terbayang lagi waktu aku bermain gala asing(sejenis permainan berkelompok untuk menjaga markas) dan aku terjatuh dari tempat bermain kami yang tingginya satu meter.
Lalu terjatuh saat berlari untuk mengejar bola basket di lapangan dekat SD-ku dulu.

Kalau diingat-ingat hal itu masih terbawa sampai SMA. Waktu itu mata pelajaran olahraga dan kami bermain basket, entah bagaimana saat aku hendak merebut bola aku malah terjatuh dan celana olahragaku sobek di kedua lututnya.
Hahahah , dasar ancur emang diriku!
Tapi dengan begitu aku sadar kalau jatuh memang sakit. Tapi untuk meredam sakit itu harus tetap bangkit dan membuyarkan rasa sakit yang kian menekan itu. Walaupun harus menahannya hingga mengeluarkan airmata.


Masa kecilku itu adalah suatu pondasi untuk menuju masaku yang sekarang, masa beranjak dewasa. Karena itu aku tak pernah meremehkan kenangan itu, yang buruk maupun yang baik.
Seperti kata kebanyakan orang, masa lalu adalah hal terjauh yang tak dapat kita raih kembali.

TUHAN BERKATI :)
*aku (baju putih) dan adik + sepupu,
keliatan kayak anak SMP kan? Padahal itu wktu sudah kuliah loh :p

Komentar

Postingan populer dari blog ini

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Ketika Teman Jadi Bangsat !

Yang Berharga Yang Kulepas.