YOU MAKE IT RIGHT
Hati ini berkabut.
Cinta ini seperti ombak di laut yg terasa menggelora tapi akhirnya membentur bebatuan juga :(
Ada saatnya di mana aku merasa begitu bahagia, bersemangat dan berbunga-bunga hingga tak bisa tertidur di malam hari. Tapi ada juga saat di mana aku merasa dihantam tinju yang sangat keras hingga aku terhuyung jatuh dan tak bisa bangun lagi.
Kadang itu bisa terjadi di saat yang bersamaan, dan aku terlalu takut untuk membayangkannya saja.
Kadang pahit dan kadang manis, semuanya harus seimbang supaya terasa adil.
Apa jadinya kalau hanya merasa pahitnya saja dan tak pernah bisa lebih bahagia di waktu tertentu? Apakah pahit menyukai orang sepertiku atau manis terlalu membenciku?
Selalu saja, aku menjadi lebih kacau dari biasanya karena satu hal yang tak bisa kuterima baik secara naluriah atau secarah realita.
Kalau saja aku bisa menyimpannya untuk diriku sendiri, aku mungkin tidak akan merasa perlu ada pengamanan yang lebih padanya. Atau bila dia tidak terlalu normal untuk melirik wanita lain yang mungkin better than me.
Kenyataannya aku harus bersabar dengan semua sikap, bahkan semua hal yang berdekatan dengannya. Aku tak bisa protes atau menangis meraung-raung untuk menyatakan bahwa aku ada di dekatnya dan tak menyukai berbagai macam hal yang benar-benar membuatku serasa tak berarti.
Jika aku protes, aku hanya dianggap cadangan dan bukan pemain inti. Selamanya akan diremehkan dan berakhir di ruang ganti yang berdebu.
Aku hanya ingin dianggap, melebihi siapapun yang pernah singgah di hatinya. Dengan begitu aku tidak akan merasa terancam dan bisa lebih tenang untuk melepasnya sendirian, saat aku tak di sampingnya dan saat aku tak ada di pikiran dan hatinya.
Mudah baginya untuk melakukan sebebas yang dia mau, karena dia seorang pria yang memang butuh dan terkesan lebih bebas dari sang wanita. Dia bisa saja bergaul dengan siapa saja dan aku tak bisa membayangkan ada hal lain yang terjadi jika dia sebebas-bebasnya.
Aku terlalu takut saat berpikir dia akan berlalu tanpa tanda yang jelas. Meninggalkan diriku dengan senyuman pada orang lain di sampingnya.
Rasa takutku selalu terbayang di setiap saat aku memikirkannya dan aku masih tak kuasa untuk berpikir lebih lanjut.
Saat ini dan setelah ini aku akan berusaha mempertahankan segala yang berhubungan dengan kami berdua. Membuat ini menjadi kisah cinta tiada akhir yang penuh lika-liku tetapi akan bahagia pada akhirnya, seperti pada dongeng.
Selayaknya aku tidak terlalu ketus padanya saat dia sedang membutuhkanku.
Dia hanya ingin mendengar suaraku dan diriku malah berkata ketus karena dia tak bicara apa-apa selain mendengar lagu. Aku berpikir 'buat apa aku bicara kalau telinganya terfokus pada musik di ujung sana?' Itu terasa seperti aku diduakan dan dihempaskan begitu saja.
Tapi aku sadar kalau itu hanya keegoisanku saja.
Seperti halnya dia bagiku, pastilah aku juga begitu berarti buatnya sehingga saat tertentu saat dia tak bisa menahan rindunya dan memutuskan menghubungiku adalah hal yang ingin dia lakukan untuk mengobati rindunya.
Aku hanya terlalu berpikir sempit sehingga tak mengerti dia dan melihat dari sudut pandangnya.
Betapa cintanya dia sampai dia mengalah dan aku tersentuh dengan hal itu. Keegoisanku seakan luntur dan seperti disirami dengan es, hatiku begitu dingin. Dingin dalam artian, aku menjadi begitu sejuk dan lega saat akhirnya kami bukan bertengkar dan menjadi lebih mengerti satu sama lain.
Mungkin sifat kekanakan (atau keegoisan yang berlebihan) ini harusnya di upgrade secepatnya. Aku ingin lebih dewasa,lebih mengenal hatinya dan lebih mencintainya.
:)
Seakan saat ini dan selamanya bumi berhenti berputar dan dia satu-satunya cintaku.
you look me and say "I love you"
Cinta ini seperti ombak di laut yg terasa menggelora tapi akhirnya membentur bebatuan juga :(
Ada saatnya di mana aku merasa begitu bahagia, bersemangat dan berbunga-bunga hingga tak bisa tertidur di malam hari. Tapi ada juga saat di mana aku merasa dihantam tinju yang sangat keras hingga aku terhuyung jatuh dan tak bisa bangun lagi.
Kadang itu bisa terjadi di saat yang bersamaan, dan aku terlalu takut untuk membayangkannya saja.
Kadang pahit dan kadang manis, semuanya harus seimbang supaya terasa adil.
Apa jadinya kalau hanya merasa pahitnya saja dan tak pernah bisa lebih bahagia di waktu tertentu? Apakah pahit menyukai orang sepertiku atau manis terlalu membenciku?
Selalu saja, aku menjadi lebih kacau dari biasanya karena satu hal yang tak bisa kuterima baik secara naluriah atau secarah realita.
Kalau saja aku bisa menyimpannya untuk diriku sendiri, aku mungkin tidak akan merasa perlu ada pengamanan yang lebih padanya. Atau bila dia tidak terlalu normal untuk melirik wanita lain yang mungkin better than me.
Kenyataannya aku harus bersabar dengan semua sikap, bahkan semua hal yang berdekatan dengannya. Aku tak bisa protes atau menangis meraung-raung untuk menyatakan bahwa aku ada di dekatnya dan tak menyukai berbagai macam hal yang benar-benar membuatku serasa tak berarti.
Jika aku protes, aku hanya dianggap cadangan dan bukan pemain inti. Selamanya akan diremehkan dan berakhir di ruang ganti yang berdebu.
Aku hanya ingin dianggap, melebihi siapapun yang pernah singgah di hatinya. Dengan begitu aku tidak akan merasa terancam dan bisa lebih tenang untuk melepasnya sendirian, saat aku tak di sampingnya dan saat aku tak ada di pikiran dan hatinya.
Mudah baginya untuk melakukan sebebas yang dia mau, karena dia seorang pria yang memang butuh dan terkesan lebih bebas dari sang wanita. Dia bisa saja bergaul dengan siapa saja dan aku tak bisa membayangkan ada hal lain yang terjadi jika dia sebebas-bebasnya.
Aku terlalu takut saat berpikir dia akan berlalu tanpa tanda yang jelas. Meninggalkan diriku dengan senyuman pada orang lain di sampingnya.
Rasa takutku selalu terbayang di setiap saat aku memikirkannya dan aku masih tak kuasa untuk berpikir lebih lanjut.
Saat ini dan setelah ini aku akan berusaha mempertahankan segala yang berhubungan dengan kami berdua. Membuat ini menjadi kisah cinta tiada akhir yang penuh lika-liku tetapi akan bahagia pada akhirnya, seperti pada dongeng.
Selayaknya aku tidak terlalu ketus padanya saat dia sedang membutuhkanku.
Dia hanya ingin mendengar suaraku dan diriku malah berkata ketus karena dia tak bicara apa-apa selain mendengar lagu. Aku berpikir 'buat apa aku bicara kalau telinganya terfokus pada musik di ujung sana?' Itu terasa seperti aku diduakan dan dihempaskan begitu saja.
Tapi aku sadar kalau itu hanya keegoisanku saja.
Seperti halnya dia bagiku, pastilah aku juga begitu berarti buatnya sehingga saat tertentu saat dia tak bisa menahan rindunya dan memutuskan menghubungiku adalah hal yang ingin dia lakukan untuk mengobati rindunya.
Aku hanya terlalu berpikir sempit sehingga tak mengerti dia dan melihat dari sudut pandangnya.
Betapa cintanya dia sampai dia mengalah dan aku tersentuh dengan hal itu. Keegoisanku seakan luntur dan seperti disirami dengan es, hatiku begitu dingin. Dingin dalam artian, aku menjadi begitu sejuk dan lega saat akhirnya kami bukan bertengkar dan menjadi lebih mengerti satu sama lain.
Mungkin sifat kekanakan (atau keegoisan yang berlebihan) ini harusnya di upgrade secepatnya. Aku ingin lebih dewasa,lebih mengenal hatinya dan lebih mencintainya.
:)
Seakan saat ini dan selamanya bumi berhenti berputar dan dia satu-satunya cintaku.

Komentar
Posting Komentar