Ketika Teman Jadi Bangsat !

Its to hard, you know ?
I believe that no one can understand my mind !

Semua orang bisa berkata sesuka meraka kalau aku adalah orang paling membingungkan. Mereka sama sekali tak mengerti kata-kataku atau sekedar apa yang aku maksudkan.
Kurasa, memang aku terlalu absurd untuk mereka mengerti sehingga hal-hal yang mereka rasa tak dapat diterima oleh akal sehat mereka tidak mereka pedulikan dan apa yang bisa mereka cerna saja yang akan mereka konsumsi.

Berat bagiku, apalagi karena tak ada yang mengerti aku.
Banyak yang bilang kalau wajahku terlihat sangat garang karena tak tersenyum dan memang aku mengakui bahwa itu benar adanya.
Itu murni karena wajahku seperti itu, tak mungkin aku mengubah rupaku menjadi begitu menawan dan tak dikatai garang lagi oleh orang-orang.
Beberapa temanku berkata kalau wajahku membuat mereka takut. Aku terlihat seperti orang jahat di mata mereka. Okay, right! You're judge books by its cover.

Aku mengira bahwa penilaian orang-orang tentang diriku banyak yang 'menyimpang' dari apa yang sebenarnya terjadi padaku. Mungkin aku terlihat begitu galak dan dingin kepada siapa saja, tapi itu adalah bentuk berjaga-jaga dalam hidupku.
You know what, aku berwajah seperti itu untuk memperhatikan siapa yang bisa datang kepadaku sebagai seorang teman yang menilaiku apa adanya dan bukan hanya bila aku memasang senyuman palsu.
Dan ternyata benar, banyak yang lebih memilih menjauh daripada menyapaku dan menciptakan senyum murni pada wajahku. Mereka lebih memilih mencari teman lain yang bisa menghasilkan senyum untuk mereka daripada bersusah melihatku berwajah datar untuk mereka.
Well, caraku ampuh untuk mereka. Dan aku tahu siapa teman yang bisa menjadi bangsat!
Hahaha, kata-kataku terlalu kasar ya?
Terus bagaimana caraku mengungkapkan pengkhianatan teman yang kukira akan selamanya menjadi teman? Apa aku harus menyebutnya teman lagi? That's BULLSHIT !
Aku pernah berharap tak pernah mengenal mereka. Aku bahkan pernah menyesal bahwa telah memberi senyum palsu di depan mereka. Kenapa aku bisa sebego itu? Menilai orang di awalnya saja.

Belakangan ini aku juga merasa bahwa tak ada yang benar-benar menjadi temanku. Yah, siapa sangka mereka yang kalau susah pasti datang secepatnya padaku sekarang malah seolah tak peduli dengan kesusahanku. Saat aku menanyakan sesuatu mereka bahkan tak menggubris pertanyaanku.
(Hanya sekedar bertanya dan tak ada bantuan? Terlalu menyebalkan bukan???)

Mereka yang bangsat hanya datang saat butuh bantuan, saat sedang dilanda susah.
Dan aku terkadang lebih memilih diam untuk mendapatkan emas daripada begitu rusuh untuk mendapatkan perhatian. Tak berarti apa-apa bagiku untuk membantu mereka, toh sifat busuk mereka telah terbuka begitu saja di hadapanku dan semuanya tercium jelas bagiku.
Di depanku mereka akan memasang wajah begitu polos seakan di dunia ini mereka adalah orang terpolos yang bahkan membunuh semutpun mereka tak sanggup. Tapi di belakangku (aku jamin 1000%) mereka membusukkan namaku dengan segala macam bahasa yang sesuai nalar mereka.

Aku lebih suka dikatai yang buruk2 dan jelek2, dengan begitu akan semakin terbuka dengan jelas bagaimana sikap buruk dan jelek dari orang yang telah mengataiku itu.
Terlihat jelas di jidat mereka yang selebar lapangan bola itu kalau mereka sedang memendam rasa padaku, lebih tepatnya rasa benci padaku.
Dari sumber terpercaya aku tahu bahwa di kelasku ada begitu banyak yang membenciku.
Aku tak bangga sama sekali dengan info ini, aku hanya tak ingin menambah begitu banyak musuh lagi. Makanya sekarang aku adem ayem, tak mau mempermasalahkannya. Toh mereka yang capek sendiri karena buang-buang tenaga untuk membenciku.
Lebih baik mereka memperhatikan kuliah daripada memperhatikan aku yang bukan apa-apa ini.

Seiring berjalannya waktu, aku benar menyadari bahwa ada orang yang ingin berteman denganku hanya untuk menyedot keuntungan bagi dirinya sendiri, tak ada yang lebih dari itu.
Tapi mungkin pengaruh tempat juga, soalnya dulu aku SMA di Soe tak mengenal simbiosis dimana ada benalu.
Waktu di SMA itu, aku berteman dengan seorang anak yang benar-benar pintar. Sangking pinternya sampai-sampai dia minder kalo sudah dapat juara umum di sekolah.
Aku heran sendiri, kenapa dia tak memilih untuk bangga dan harus merasa seperti itu. Tapi akhirnya aku tahu kalau dia hanya tak ingin ada orang yang merasa tersaingi karena dirinya.
Walaupun dia begitu pintar, kami tak ada rasa untuk menguras kepintarannya. Itu adalah murni sebuah persahabatan. Saling melengkapi satu sama lain.
Saat kami butuh bantuannya, dia akan dengan senang hati membantu lalu bila dia juga memerlukan bantuan kami, kami akan dengan bahagia membantunya.
Begitu saja, simple kan?
Tak ada rasa ingin menguras dan menang sendiri.
Kadang kami akan menghadapi perdebatan karena perbedaan pendapat, tapi hal itu malah dijadikan hal lucu dan semakin dibicarakan semakin membuat enjoy.

Aku masih ingat, dulu kami paling lemah dalam hal suara. Kalau ada ujian praktek menyanyi kami semua akan berkumpul jadi satu vocal group dan melengkapi suara satu sama lain.
Benar-benar lucu dan menegangkan, karena suara kami tak ada yang melebihi suara Olga Syahputra!
Bahkan saat latihan di rumah salah satu teman kami, keesokan harinya temanku itu bilang kalau tetangganya menertawakan suara kami. WTF !!!

Hahahaha , tapi itulah bagian indah dalam persahabatan kami. Tak peduli dengan suara yang cempreng dan tak seimbang ataupun otak yang datar-datar saja atau pintar sekali.
Kami bersahabat untuk saling melengkapi.
Saat pelajaran Biologi dan harus berdiskusi, kalau kami tak tau menjawab pasti teman-teman kami yang lain akan menjawabnya tanpa rasa marah pada kami.
Hal seperti itu sekarang jarang aku temui, apalagi di lingkungan seperti ini.
Maka dari itu aku mensyukuri kesendirianku saat ini :)

Okeh, esok lanjut lagi eyaaa ? :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Yang Berharga Yang Kulepas.