Heaven for You (part.4)


Lantunan Blue milik Big Bang mengumandang di kamar Colly. Hari ini dia benar-benar hanya ingin tidur atau sekedar berbaring di kamar tercintanya. Dia tak ingin makan, apalagi melihat wajah jelek kakak cowoknya. Kakaknya itu suka sekali menjahili Colly, dan itu membuat Colly kudu hati-hati tiap kali dekat-dekat ama Franke, kakaknya. Dia menelungkupkan kepalanya di bantal dan bersenandung mengikuti irama musik dengan suara tenggelam di dalam bantal.

Jangan sampai Edward menerima ajakan Genny! Jangan sampai Edward menerima ajakan Genny! Itulah kata-kata yang dikumandangkannya disela-sela lirik lagu itu.

Dia sebenarnya yakin kalo Edward gak mungkin terima ajakan Genny untuk jalan bareng. Tapi, kata-kata Jasen waktu pulang sekolah tadi benar-benar membuatnya berpikir ulang. Jasen bilang Edward mungkin aja menerima ajakan Genny dengan alasan Genny tuh cantik dan gak banget kalo disia-siain. Huh! Mungkin itu yang dipikirkan Jasen aja karena dia juga menantikan ajakan cewek cantik.

Sambil membayangkan wajah Edward, Colly berpikir apa mungkin kalo Edward tiba-tiba menyukainya? Atau sekedar membalas senyum penuh harap yang tersungging di bibir Colly saat melihat Edward? Tapi, semua itu masih angan bagi Colly, dan Colly tak mau banyak berharap. Mungkin ada saatnya untuk mendapatkan apa yang dia mau, dan pastinya bukan sekarang waktunya. Selalu ada yang mengatur sesuatu di dunia, dan kita sama sekali tak mengetahui kejadian di setiap detik di depan kita.

Colly membalikkan badannya, menghadapkan kepalanya ke langit-langit kamarnya. Dia mengangkat tangannya ke atas, dan menggerakkan tangannya seperti hendak menjangkau sesuatu.

Dia hanya ingin seseorang yang bisa membuatnya tersenyum setiap saat, mengerti apa yang dia mau, ada saat dia butuh, dan memarahinya bila dia sudah kelewat salah. Keinginan itu membuatnya harus menunggu lebih lama karena yang dia harapkan belum juga muncul.
Sabar. Mungkin dia akan datang sebentar lagi… batin Colly dan menjatuhkan tangannya ke samping tubuhnya. Belum sampai hitungan ke sembilan, dia sudah tertidur pulas.


Colly terbangun saat hari sudah gelap. Dia mengucak matanya lalu menuju ke ruang makan yang tepat berada di bawah kamarnya. Dia tak melakukan banyak kegiatan dan tiba-tiba saja sudah tertidur hampir empat jam lebih.

Dia tak melihat mamanya di ruang makan, juga tak melihat Franke dengan rambut bergelombang setengkuknya yang selalu berseliweran sambil membuang serangga tepat ke arahnya. Kadang, saat Colly mengingat tentang kelakuan jahil kakaknya itu, dia akan tertawa sendiri. Mamanya meninggalkan pesan di secarik memo dan ditempelkan di pintu kulkas.

Ada pertemuan dengan Mrs. Edison…

Telepon tanpa kabel di buffet dekat rak buku di ruang tengah berdering. Colly dengan cepat menuju ke arah telepon itu dan mengangkatnya.

“Halo. Di sini kediaman McAnne.”

“Bisa saya bicara dengan Mrs. Sophia McAnne?” tanya seorang pria dengan suara yang berat dan tegas.

Colly terdiam sesaat. “Maaf, tapi mama lagi keluar. Ini siapa?”

“Saya petugas kepolisian dari divisi remaja. Kalo begitu bisa berikan nomor telepon genggam mamamu? Ini penting.” Ucap pria itu lagi.

Colly jadi semakin heran. Ada hubungan apa sampai mamanya berurusan dengan polisi divisi remaja? Mana mungkin mamanya menggelapkan uang perusahaan yang dikelola mama dan papa bersama atau menyuap seseorang untuk melakukan pembunuhan.

“Halo?” suara petugas itu membuyarkan lamunan Colly.

“Tunggu sebentar.” Colly merogoh HP-nya di saku celana dan mencari nomor mamanya. Setelah membaca nomor telepon mamanya dia jadi semakin penasaran. “Pak, sebenarnya ada apa?”

“Seorang pemuda yang diperkirakan adalah putra Mrs. McAnne, Franke McAnne, tergeletak tak berdaya di gang sepi di jalan menuju kampusnya. Ada kemungkinan ini tindak kejahatan dengan niat pemerasan.”

Colly memekik tertahan. Masa sih, Franke yang baru saja dia ingat dan membuatnya tertawa sendiri itu mengalami semua ini secepat ini? Dia ingin menangis, tapi ditahannya. Dia menanyakan di mana kakaknya berada sebelum akhirnya meraih jaket yang tersampir di lengan sofa, tak peduli jaket siapa itu, dan segera berlari keluar rumah, mencari kendaraan yang bisa dia tumpangi. Dia menahan sebuah taksi tepat saat dia menginjakkan kaki di pinggir jalan. Secepat mungkin dia naik dan memberitahu alamat yang dituju.

Sesampainya di rumah sakit yang dimaksud, Colly dengan cepat menuju ke resepsionis dan bertanya di mana Franke McAnne yang baru saja masuk rumah sakit dengan keadaan babak belur berada. Wanita penjaga resepsionis melihat layar komputer di depannya dan sepertinya mencari nama cowok itu.

“Masih di UGD.” Kata wanita itu. “Ruangan pertama di sisi sebelah kanan.” Tambah wanita itu karena tahu Colly panik dan tak mau cewek itu tambah panik hanya karena mencari sebuah ruangan.

Colly menggumamkan terima kasih dan berlari pelan menuju UGD. Benar saja. Di UGD sudah ada seorang polisi berbaju preman yang berbicara dengan mamanya. Sepertinya mamanya mengebut mobilnya dengan cepat dari rumah Mrs. Edison hingga mendahuluinya sampai ke rumah sakit.

“Ma…” kata Colly saat melangkah mendekati mamanya.

“Colly, sayang…” mamanya terlihat gundah. “Kakakmu dipukul hingga jatuh pingsan. Tapi, menurut dokter dia akan baik-baik saja.”

Colly menarik napas lega. Lalu kemudian ada perasaan jengkel pada orang yang telah tega melakukan hal seperti itu pada kakaknya sampai kakaknya pingsan. Franke bukannya tak tahu berkelahi. Dia malah ikut kursus bela diri. Tubuh jangkungnya memungkinkan dia untuk menyerang dengan cepat dan tepat, tapi bagaimana bisa dia dikalahkan?

“Sepertinya dia dikeroyok. Untuk sementara kami akan mengusut tuntas masalah ini dan berusaha mendapatkan pelakunya.” Ucap si polisi pada mama Colly. Polisi itu lalu pamit dan meninggalkan Colly dan mamanya.

“Kamu mau melihat kakakmu?” tanya mama.

Colly mengangguk dan mamanya melangkah menuju ke dalam ruang UGD. Dia mengekor mamanya dan sambil menghirup bau rumah sakit yang khas itu, dia melihat kakaknya dengan perban melilit di bagian dahinya sampai ke bagian belakang kepalanya. Franke sedang tertidur, atau mungkin masih pingsan. Mamanya berdiri di sisi tempat tidur, tempat Franke berbaring, dan mengelus kepala anak itu dengan lembut.

“Mama sangat kaget waktu ditelepon polisi.” Kata mama.

“Franke gak mungkin punya musuh hingga dia dipukul sampai pingsan.” Ucap Colly.

“Polisi bilang ini pemerasan.” Tambah mama. “Tahu sendiri kan, kakak kamu itu emang gak suka mengeluarkan uang untuk hal tak jelas.”

Franke bukannya kikir. Dia hanya gak suka memboroskan uang. Dia lebih banyak menyimpan uangnya dan membeli sesuatu yang didambakannya daripada menghamburkannya untuk sesuatu yang nantinya juga akan dibuang kalo sudah usang. Dia mengumpulkan uangnya sampai bisa membeli tablet PC yang terbaru, atau membeli smartphone. Dan wajar saja orang yang memerasnya itu memukulnya hingga pingsan karena Franke tak berniat memberi uang satu senpun pada mereka.

“Tapi, kalo hanya dipukul, pasti Franke bisa melawan.” Ucap Colly sambil menatap Franke. Gak mungkin kakaknya yang  pernah memitingnya sampai jatuh berulang kali itu kalah dari orang yang hanya ingin memeras.

“Lain ceritanya kalo mereka berkelompok.” Kata Mama.

“Mudah-mudahan Franke cepat sadar dan menceritakan semuanya.” Kata Colly lagi.

Mama bangkit berdiri, “Mama urus administrasi dulu ya? Kasihan Franke kalo harus tidur di sini terus.” Lalu mamanya melangkah keluar UGD.

Colly terus menatap kakaknya. Lalu berbisik pelan di telinga kakaknya.

“Hei! Kalo lo masih ingat siapa yang keroyok lo, gue orang pertama yang harus tahu!”


to be continued

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

This is Why I am So Afraid To Lose You!

Ketika Teman Jadi Bangsat !

Yang Berharga Yang Kulepas.