Heaven for You(part.6)
More than a
pain…
Colly ketiduran di sisi
tempat tidur Franke di ruang VIP. Mamanya sepertinya sedang pergi mengurus
sesuatu. Kakaknya belum juga sadar, dan dia bisa merasakan kesakitan yang
dialami kakaknya. Dikeroyok banyak orang, belum lagi kalo orang itu membawa
senjata tajam. Mungkin karena Tuhan sangat sayang pada kakaknya, jadi kakaknya
bisa melalui itu semua.
Colly tak sabar menunggu
perkembangan penyelidikan kasus kakaknya itu. Saat dia bangkit dari duduknya,
barulah dia sadar kalo sekarang sudah pagi. Gorden yang menutupi jendela belum
tersibak sehingga matahari tak menembus kamar. Colly malas ke sekolah, jadi dia
menelpon Jasen dan meminta Jasen memberitahu guru kalo dia harus menjaga
kakaknya di rumah sakit.
“Apa?! Franke masuk rumah
sakit?!” Jasen histeris di seberang sana.
“Emangnya dia sakit apa?!”
“Dia gak sakit. Dia babak
belur dikeroyok.” Ucapku. Sedih juga mengucapkan kata itu. “Please ask
permission to me. Gue gak ke sekolah nih hari. Gue harus jagain Franke.”
“Sip! And, sebentar sore
gue ke rumah sakit.”
“Thanks ya?” Colly
tersenyum dan bersyukur punya sahabat sebaik Jasen. “Sekalian lo liatin Edward
buat gue ya? Terus ceritain kegiatannya di sekolah. OK?”
“Dasar!” kata Jasen.
Setelah memutuskan
hubungan telepon, Colly yang tadinya menelpon di lorong di luar kamar Franke
lalu melangkah masuk. Dia jadi sedih saat melihat kakaknya belum juga sadarkan
diri. Saat dia hampir menangis, tiba-tiba seseorang membuka pintu. Dia tak
mengenal orang itu, tapi sepertinya orang itu adalah teman Franke.
“Selamat pagi, Colly.”
Sapa cewek itu sambil tersenyum. “Aku baru dengar kabarnya hari ini. So terrible.” Ucap cewek itu
sungguh-sungguh.
Dengan rasa penasaran
Colly yang besar terhadap cewek itu, dia menerima satu keranjang buah segar
dari cewek itu dan meletakkannya di meja di dekat jendela.
“Sore itu Franke bilang
mau datang ke kampus dan mengambil barangnya yang ketinggalan, tapi aku gak
melihatnya di sana
sampai hampir malam. Gak disangka dia masuk rumah sakit.” Ungkap cewek itu dan
dia hampir menangis.
Colly akhirnya paham. Dia
baru ingat nama cewek itu: Samantha. Cewek yang sedang duduk di sisi tempat
tidur kakaknya itu, pastilah cewek yang telah meluluhkan hati Franke. Cewek
yang baik.
“Eh, sorry. Kok jadi sedih
gini sih? Aku Samantha, teman dekat
Franke.” Dia mengulurkan tangannya dan kami bersalaman. “Kamu udah sarapan?”
Colly sebenarnya gak mau
mengakui, tapi perutnya emang sudah lapar minta diisi.
“Kuliahku masih lama. Kamu
sarapan saja di kantin, sementara aku menjaga Franke.” Katanya.
“Oh iya. Makasih.” Kataku.
Aku melangkah keluar kamar, tapi masih berdiri terpaku di luar dan melihat ke
dalam kamar. Samantha menangis, kali ini dia tak menahan air matanya, dan
bahunya berguncang karena isakannya. Colly jadi ingin menangis. Dia berpaling
dan melangkah menuju kafetaria.
Sambil mengisi perutnya
yang lapar dengan roti dan susu alakadarnya, dia memperhatikan orang-orang yang
berlalu lalang di kafetaria.
Ada
beberapa pasien mengenakan seragam rumah sakit dan di antaranya ada yang
didampingi perawat, ada juga beberapa pengunjung yang duduk makan.
Tak seramai
di kafe pinggir jalan yang biasanya dikunjungi Colly. Dalam kafetaria ini masih
tercium bau obat-obatan walau tak terlalu menyengat. Ada seorang cowok yang mirip Franke, duduk di
kursi roda, memasuki kafetaria.
Saat cowok itu melewati meja Colly, dia menatap
Colly sesaat sebelum menuju ke tempat memesan makanan.
Colly hampir menghabiskan
makanannya saat cowok dengan kursi roda itu mendekat ke mejanya.
“Boleh duduk di sini?”
tanya cowok itu. Colly mengangguk dan cowok itu meletakkan makanannya di meja.
“Thanks.”
“Gak perlu sungkan.” Ucap
Colly ramah.
Cowok itu menatap Colly
sesaat. “Lo jengukin nyokap lo?”
“Gak. Bukan nyokap. Kakak
gue.” Koreksi Colly seraya menatap cowok di depannya yang sudah menyantap
makanannya. “Sorry sebelumnya, tapi kenapa lo masuk rumah sakit?” tanya Colly
tertarik.
“Hmmm, gue kecelakaan
mobil.” Ucap cowok itu dengan murung.
“Gue gak maksud buat
ngingatin lo dengan kejadian itu…” ucap Colly menyesal.
Cowok itu tersenyum. “No
problem. It’s okay!”
“Eh, ngomong-ngomong, nama
lo siapa? Gue Colly.”
“Gue Justin. Koli dengan
ejaan K-O-L-I? Itu kedengaran hampir mirip dengan kata calling…” dia memberi plesetan.
Colly tertawa kecil.
“Salah. C-O-L-L-Y. Dan plesetan lo lucu juga.”
“Lo sekolah dimana? Kenapa
nih hari gak ke sekolah?” tanya Justin.
“Gue ketiduran di kamar
kakak gue dan baru bangun. Lagian, gue lebih milih jagain kakak gue ketimbang
sekolah dan ngadepin anak-anak borju nyebelin di sekolah gue.” Ungkap Colly.
“Oh ya? Apa mereka
sebegitu nyebelin?”
“Yeah… tiba-tiba aja gue
udah gak suka ama mereka. Cewek kecentilan yang ngerasa mereka paling cantik
sedunia.”
Justin tertawa. “Emang
sih, kebanyakan cewek sirik sama cewek yang lebih cantik.”
Colly mendelik kesal pada
Justin. “Emang lo gak pernah sirik sama cowok terkeren di sekolah lo?”
Justin menghentikan
tawanya. “Hallo, Ms. Calling. Gue belum bilang ya kalo gue home schooling?”
Colly menatapnya kaget.
“Oh ya? Kenapa lo milih home school? Gak kesepian ya?”
“Malahan, gue milih buat
menyendiri.” Raut wajah Justin berubah. Dia tak seriang tadi. “Kalo pun ada
cowok terkeren di sekolah gue, mungkin gue orangnya.”
Colly menatap Justin
bingung.
“Yeah. Gue sebenarnya
murid paling berbakat di sekolah – bukannya gue membesar-besarkan. Gue pintar,
juga jago main gitar dan main basket. Tapi, lo mikir gak, ternyata jadi orang
keren susah juga. Orang yang sirik sama gue – kayak lo sirik sama cewek-cewek
itu, mereka bullying gue! Gue dibikin kayak binatang ama mereka.”
Colly sekarang jadi tempat
Justin berkeluh kesah. Cowok itu sepertinya melupakan sejenak tentang kenapa
dia masuk rumah sakit dan begitu bersemangat menceritakan kenapa dia lebih
memilih home schooling daripada sekolah dan menjadi murid populer.
“Lo boleh berpikir kalo
gue lemah. Tapi sebenarnya gue gak ingin mereka tahu gimana gue kalo nantinya
gue meledak.” Ucap Justin. “Ada
satu cowok yang sampai hari ini memusuhi gue karena gue pernah mematahkan
jarinya.”
Colly bergidik. “Justin…
sumpah, gue jadi rada takut sama lo saat lo ceritain tentang kisah lo.”
“Sorry. Gue gak maksud
buat nakutin lo. Lagian, dengan keadaan gini, gue gak mungkin matahin salah
satu tulang lo…” candanya.
“Kalo gue liat dari
tampang lo, gue yakin kok lo gak lemah. Tapi gue terkejut aja waktu tahu lo
sampe bikin anak orang menderita gitu.” Ucap Colly sungguh-sungguh.
“Manusia itu sebenarnya
kuat. Hanya saja, mereka menjadi takut saat menghadapi sesuatu yang namanya
‘rintangan’”. Ucap Justin.
Colly terkesima dengan
kata-kata Justin.
“Eh, gue harus kembali ke
kamar kakak gue. Pacarnya lagi nungguin gue selesai sarapan.” Kata Colly sambil
bangkit berdiri. “Mmmh, kamar lo dimana?”
“Di bagian Mawar. Kamar
paling ujung lorong sebelah kanan.” Ucap Justin. “Kalo mau ke kamar gue, jangan
waktu makan siang atau makan malam ya? Saat itu yang pasti gue gak di kamar.”
“Geer. Gue hanya nanya,
gak niat ke kamar lo kok.” Ucap Colly, tapi saat melihat wajah kecewa Justin,
dia menambahkan. “Just kidding!” lalu dia berlari keluar kafetaria. Colly
senang karena di rumah sakit dia punya teman untuk sekedar ngobrol.
Dia sampai di kamar
kakaknya saat pintu dibuka, Samantha keluar dari pintu.
“Maaf Colly. Aku
buru-buru. Dosen di kampusku baru aja nelpon.” Katanya saat melihat Colly.
“Gak apa-apa. Makasih,
ya.” Ucap Colly.
Samantha yang matanya
sembap itu memandang Colly. “Kamu gak apa-apa jagain dia sendiri?”
“Aku bisa kok. Tenang
aja.” Ucap Colly sambil tersenyum.
Samantha pamit dan
meninggalkan Colly. Untung aja Samantha datang membesuk kakaknya dan dia bisa
ngobrol sedikit dengan pacar kakaknya itu.
Colly menarik napas panjang. Franke
punya banyak orang yang dia sayangi.
Colly, Mama, Samantha, dan masih banyak
lagi. Papa Colly meninggal saat Colly masih di perut mamanya dan Franke masih
balita.
Bayangkan aja betapa susahnya mama mereka mengasuh mereka sampai
sebesar itu.
Dan karena alasan itulah, Colly gak berani buat ngecewain mamanya
bahkan membuat mamanya menangis.
Dia kasihan pada mamanya yang keliatan tegar
di luarnya, tapi ternyata dalam hati mamanya ternganga luka yang besar.
Tadi malam, dia tak
sengaja melihat mamanya yang menangis di lorong luar kamar Franke. Mamanya yang
sebenarnya tabah saat tahu Franke mendapat bencana memilih menangis saat tak
ada yang melihat air matanya tumpah. Dan itulah yang membuat Colly juga menangis.
Dia menuju ke kamar mandi
dan membasuh wajah dengan air dari wastafel. Dia gak mau keliatan kusut sehabis
menangis. Lalu saat itu handphone-nya berdering. Dari Jasen.
“Halo, Jasen?”
“Hai, Lly! Gimana? Lo
baik-baik aja kan
di rumah sakit?” tanya Jasen cemas.
“Iya. Gue baru aja selesai
sarapan. Lo gak belajar?” tanya Colly lagi, heran karena sekarang masih jam
setengah sembilan dan saat itu seharusnya pelajaran sedang berlangsung.
“Gue udah minta izin sama
guru. Gue sekarang lagi di lobi RS nih!” katanya lagi.
Colly terkejut. “Hah?! Lo
udah di sini?!”
“Iya nih. Mmmh, kamar
Franke dimana? Gue gak mau nyasar di rumah sakit.” Ucap Jasen yang tak peduli
dengan Colly yang masih terkejut.
“Di lantai dua, kamar
Lily. Di kamar kedua dari ujung lorong.” Kata Colly singkat. Bisa-bisanya dia
datang ke rumah sakit. Cowok nekad!
Setelah beberapa saat,
barulah Jasen mengetuk pintu kamar Franke. Colly membuka pintu dengan
tergesa-gesa.
Jasen bilang dia benar-benar tersesat di rumah sakit.
Dia udah
naik sampai lantai dua, tapi boro-boro bagian Lily, seisi rumah sakit itu aja
dia gak gak bisa ngenalin satu-satu.
“Kenapa gak nanya ama
perawatnya sih?” sahut Colly di sela-sela tawanya.
“Malu tahu!” kata Jasen
yang sudah bersemu merah. “By the way, gue mau liat Franke.” Katanya. Colly
mempersilahkan Jasen masuk.
Jasen menghampiri ranjang
Franke dan menatap cowok di depannya yang lagi berbaring itu. Dia tak
mengekspresikan apa-apa, hanya terdiam.
“Polisi bilang dia
dikeroyokin karena dipalak.” Kata Colly memecah keheningan.
“Bajingan tuh orang-orang!
Gue gak terima kalo Franke yang harus jadi korban mereka!” Jasen setengah
berteriak. “Franke tuh baik. Gue ingat waktu dia lindungin gue dari preman yang
mau ngebantai gue karena mukul teman mereka. Dia bahkan menyuruh gue diam dan dia
yang ngelawan preman-preman itu.” Kata Jasen lagi. “Bukan sekali aja Franke
nolong gue…”
Colly tahu itu. Jasen juga
berteman baik dengan Franke. Malahan, karena dia akrab dengan Franke makanya
dia berteman dengan Colly.
Udah jadi hal biasa kalo melihat Franke dan Jasen
kembali ke rumah dengan wajah babak belur atau pakaian kotor.
Mereka mencari
kesenangan sendiri dengan cara mereka sendiri. Jasen dan Colly lebih muda tiga
tahun dari Franke, dan itulah yang menjadi alasan Franke begitu protektif
dengan Colly dan Jasen.
“Gue janji, walaupun gue
gak sanggup ngadepin orang-orang yang mukul lo, tetap gue akan ngelawan mereka.
Janji, Franke!” ujar Jasen pelan sambil menggenggam tangan Franke yang kaku di
samping tubuhnya.
“Jasen, gak apa-apa nih lo
bolos?”
Jasen lalu berbalik ke
arah Colly. “Gak apa-apa. Lagian, gue bilang sama gurunya kalo gue mau
ngejagain orang penting yang sakit. Untungnya gurunya ngijinin.”
“Gak perlu segitunya
kali.” Kata Colly.
Jasen tersenyum simpul.
“Terus, di sini ada perawat seksi gak?”
“Dasar! Di pikiran lo
hanya ada itu ya? Mesum lo!” kata Colly sebal.
“Hehehe… becanda kok.”
Jasen kembali tersenyum. “Nih, gue beli ini waktu mau ke sini.” Ujarnya sambil
menyodorkan sebatang coklat.
“Buat gue? Thanks ya?”
Colly tersenyum lalu menerima coklat itu.
Jasen senang banget kalo
udah melihat Colly yang tersenyum senang. Dan itu membuatnya lebih tenang.
Dia
gak suka melihat cewek itu sedih atau bahkan menangis.
Dan dia sudah menduga
kalo Colly menangis waktu tahu kakaknya mengalami hal ini dan dia gak sanggup
saat membayangkan gimana Colly menangis. Karena itu, dia mencoba untuk membuat
Colly tersenyum.
“Eh, gue baru ingat!” Kata
Jasen. “Tadi gue gak liat Ed lo di sekolah, hanya teman-temannya aja. Kayaknya
mereka habis berkelahi deh! Wajah mereka babak belur semua…”
Colly langsung antusias.
“Oh ya? Wajar aja kan
kalo mereka berantem, itu udah jadi makanan mereka sehari-hari.”
“Gak, gue ngerasa ada yang
aneh,” ucap Jasen.
“Aneh apanya?”
“Gue belum tahu sih. Tapi
gue ngerasa aneh aja.” Kata Jasen. Dia lalu berjalan menuju ke jendela dan
melihat keluar. “Kapan lo ke sekolah?”
“Gue nungguin Franke sampe
dia sadar dulu. Kalo udah sadar, baru deh gue ke sekolah.” ucap Colly datar.
“Ya, semoga Franke cepat sadar. Gue gak sabar nunggu dia ngomong siapa
yang mukul dia…” batin Jasen yang masih memandangi gedung-gedung pencakar
langit di luar sana.
# to be continued #
Komentar
Posting Komentar