Heaven for You (part.5)
“Sial! Tangan gue hampir
patah waktu dia nendang.” Umpat Rocky saat dia dan kelompoknya nongkrong di
sebuah kafe di pinggir jalan yang menjorok ke trotoar.
Para cowok itu lebih menyukai
tempat terbuka saat mereka nongkrong. Seperti sekarang, mereka duduk di luar
kafe dan memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang. Udara dingin malam
sudah menyengat, tapi dengan beberapa botol bir, mereka tak mempedulikan angin
malam itu.
“Ternyata dia kuat. Gak
kayak yang gue bayangin.” Ucap Dicky.
“Udah gue bilang kan, gak usah malak
cowok. Apalagi sama dia,” kata Dennis. Dia meneguk birnya sambil menatap
Edward. “Hanya lo yang berdiri dan gak mukul dia kan?”
Edward tak mendengarkan
perkataan Dennis dan malah minum sebanyak-banyaknya.
“Butuh tenaga yang besar
buat jatuhin tuh cowok. Kita aja yang udah sebanyak ini masih kewalahan
ngadepin dia.” Sahut Mark.
“Tapi tetap saja kita
dapat uangnya.” Donny keliatan senang.
“Hei, kenapa kita gak
hentiin aja acara malak dengan kekerasan? Gue kuatir nantinya kita bakal
ketangkep.” Kata Edward akhirnya.
“Tenang aja. Siapa sih
yang mau nahan kita lama-lama? Selama masih ada bokapnya Rocky, semua aman
terkendali.” Kata Dennis.
Bokap Rocky adalah seorang
pejabat yang disegani di kota
mereka. Dan Rocky benar-benar mendapatkan manfaat dari gelar bokapnya itu. Dia
udah beberapa kali berurusan dengan polisi, dan bukannya masuk sel, dia malah
keluar dengan wajah tenang tanpa cela.
“Daripada lo mikirin itu,
nikmatin aja deh hasil jerih payah kita ini!” kata Rocky sambil menyodorkan
minuman kepada Edward.
“Bukan, bukan hasil jerih payah… tapi hasil kekerasan.” Batin Edward
dalam hati. Dia menolak minuman yang diberikan Rocky dengan alasan ingin ke
toilet.
Dia meninggalkan
teman-temannya dan menuju ke toilet. Ed masih memegang dompet dari cowok yang
mereka pukuli di gang kecil itu. Dompet itu berisi beberapa lembar uang yang
sudah diambil Mark dan foto serta kartu identitas diri. Edward melihat dengan
cermat foto dimana ada wajah cowok itu dengan seorang cewek. Cewek yang
familiar. Tapi Ed lupa dimana dia melihat cewek itu. Dia mengeluarkan foto itu
dari dompet dan membaca tulisan di belakang foto itu.
Me & my beloved sister, Colly
Colly?! Sister? Apa
mungkin cowok yang tadi mereka pukuli sampai pingsan itu adalah kakak laki-laki
si cewek yang dia lihat di kelas IPA itu? Jadi, mereka memukuli kakak cewek itu? Tidak. Dia tak termasuk yang
memukuli cowok itu. Edward hanya berdiri dan menyaksikan cowok itu bergulat
dengan lima
orang cowok. Tapi dia menikmati minuman yang dibeli memakai uang cowok itu.
Sama saja dia telah melakukan tindak kejahatan. Ukh! Dia menyesal telah
menghabiskan hampir tiga gelas minuman. Sepertinya dia ingin memuntahkan semua
minuman ini keluar.
Dia sendiri juga heran,
kenapa dia jadi menyesal setelah mereka melakukan hal itu. Padahal, biasanya
kalo dia dan teman-temannya itu berkelahi bahkan sampai membuat lawan mereka
itu masuk rumah sakit, dia tak pernah merasa semenyesal ini.
Dia malah senang bila bisa melampiaskan segala kekesalannya akan sesuatu dengan berkelahi. Tapi saat ini, dia bahkan tak menyentuh satu inchi kulit cowok itu pun, tapi dia merasa menyesal dan bersalah. Apa mungkin karena cewek itu? Ah, tak mungkin. Selama ini dia bahkan tak terpengaruh dengan kecantikan dan kemolekan seorang perempuan.
Dia tak tersentuh dengan setiap perlakuan perempuan padanya – kecuali mamanya, dan dia juga tak tahu apa yang sedang dikejar cewek-cewek yang selalu berusaha mendekatinya itu.
Dia malah senang bila bisa melampiaskan segala kekesalannya akan sesuatu dengan berkelahi. Tapi saat ini, dia bahkan tak menyentuh satu inchi kulit cowok itu pun, tapi dia merasa menyesal dan bersalah. Apa mungkin karena cewek itu? Ah, tak mungkin. Selama ini dia bahkan tak terpengaruh dengan kecantikan dan kemolekan seorang perempuan.
Dia tak tersentuh dengan setiap perlakuan perempuan padanya – kecuali mamanya, dan dia juga tak tahu apa yang sedang dikejar cewek-cewek yang selalu berusaha mendekatinya itu.
Edward memasukkan lagi
foto dua bersaudara itu dan kembali ke tempat teman-temannya duduk. Dia masih
hafal betul saat Donny melayangkan tinju di pipi cowok itu dan cowok itu
berputar di udara dan menendang lengan Donny hingga dia kehilangan
keseimbangan.
Lalu Dicky menyerangnya dengan sebatang balok kayu berat yang ditemukan di dekat tempat sampah di gang itu dan hendak memukul bagian belakang kepala cowok itu saat cowok itu menghindar.
Dennis maju, dan berhasil menendang perut cowok itu. Lalu, saat cowok itu berusaha menyeimbangkan tubuhnya, Rocky sudah lebih dulu memiting tangan cowok itu dan mereka berdua tersungkur jatuh ke tanah. Dan Mark ikut membantu Rocky menaklukkan cowok itu.
Edward hampir saja menuju ke arah cowok yang sudah tak berdaya karena dikeroyok lima orang, bukan ingin membantu cowok itu, tapi ingin menginjak perut cowok yang tak mau langsung menyerah itu, namun langkahnya tertahan saat melihat cowok yang sudah dikeroyok oleh lima cowok membabi buta itu tak membuka matanya sama sekali.
Mark merogoh saku celana cowok itu dan mengambil dompet cowok itu. Mereka mengambil uang itu dan membuang dompetnya ke sisi tubuh cowok yang pingsan itu.
Edward yang sepertinya tertarik dengan apa yang ada di dalam dompet itu – selain uang, memungut dompet itu dan menatap sosok yang terbaring itu dengan tatapan iba.
Lalu Dicky menyerangnya dengan sebatang balok kayu berat yang ditemukan di dekat tempat sampah di gang itu dan hendak memukul bagian belakang kepala cowok itu saat cowok itu menghindar.
Dennis maju, dan berhasil menendang perut cowok itu. Lalu, saat cowok itu berusaha menyeimbangkan tubuhnya, Rocky sudah lebih dulu memiting tangan cowok itu dan mereka berdua tersungkur jatuh ke tanah. Dan Mark ikut membantu Rocky menaklukkan cowok itu.
Edward hampir saja menuju ke arah cowok yang sudah tak berdaya karena dikeroyok lima orang, bukan ingin membantu cowok itu, tapi ingin menginjak perut cowok yang tak mau langsung menyerah itu, namun langkahnya tertahan saat melihat cowok yang sudah dikeroyok oleh lima cowok membabi buta itu tak membuka matanya sama sekali.
Mark merogoh saku celana cowok itu dan mengambil dompet cowok itu. Mereka mengambil uang itu dan membuang dompetnya ke sisi tubuh cowok yang pingsan itu.
Edward yang sepertinya tertarik dengan apa yang ada di dalam dompet itu – selain uang, memungut dompet itu dan menatap sosok yang terbaring itu dengan tatapan iba.
“Ed, lo sakit perut ya?
Lama banget sih?” ucap Mark.
“Gak. Hanya sedikit
pusing…” jawab Edward asal dan duduk di samping Donny.
Dicky merogoh uang di saku
jaketnya. “Nih, uangnya masih banyak. Mau buat apa lagi nih?”
“Sini. Gue beli rokok!”
Dennis mengambil selembar uang dari tangan Dicky.
“Puas-puasin deh, seharian
ini!” kata Donny senang, dan ikut mengambil uang dari tangan Dicky. “Jarang kan, dapat uang banyak
buat minum?”
Mereka tertawa senang.
Tapi, Edward hanya memandang uang itu dan tak berani menyentuhnya, berpikir
untuk meneguk minuman di depannya saja sudah membuatnya mual. Dia tak ingin
mengambil lebih dari yang telah dia lakukan.
to be continued :)
to be continued :)
Komentar
Posting Komentar