Heaven For You(part.2)
“Ed, lo gak ada niat nyari cewek?” tanya Donny saat mereka
nongkrong di kantin. Edward yang diajak ngomong malah asyik dengan rokoknya.
“WOII, ED!” teriak Donny.
“Apa?” tanya Edward sambil memandang Donny.
“Lo lagi ngelamun ya? Mikiran apa?” tanya Donny kesal karena
kata-katanya tadi gak digubris.
Edward bertampang masam sama Donny. “Hmmmp. Gue lagi mikir, nih
rokok kalo gue tempelin di jidat lo nanti jadinya gimana ya?”
“Jidat gue? Gila lo!” kata Donny lagi sambil mengelus jidatnya.
“Jangan cepat emosi gitu dong. Lo sih, ditanyain gak dijawab!” Donny balik
marah.
“Lo juga, gak perlu ngagetin gitu kan?!” ucap Edward lagi.
“Kalian kayak anak TK aja!” kata Dicky, teman mereka yang lagi
mengunyah burger. “Lo juga sih, Don! Mentang-mentang cewek lo selusin, lo
nanyaan yang kayak gituan sama dia. Gimana dia gak kesal?!”
“Gue kan gak maksud buat nyindir dia!” sahut Donny.
Donny emang tampan, tinggi lagi. Itulah modalnya untuk bisa
menaklukkan cewek-cewek. Selain itu, karena genk mereka terkenal banget (karena
kenakalan mereka), dia bahkan dikejar-kejar sama orang yang gak dia kenal. Tapi
Donny bersyukur karena itu, setidaknya dia masih punya hiburan. Nah kalo si
Edward, teman se-genk-nya yang satu itu emang rada aneh. Sampe sekarang aja dia
gak tahu siapa pacar Edward. Dia pernah liat beberapa cewek yang menjerit
senang waktu ngeliat dia, tapi Edward sama sekali gak ngasih tanggapan balik.
Tuh cowok dingin banget. Dan yang ada dipikiran tuh cowok hanya rokok, miras, rokok,
miras dan itu-itu aja.
“Gue malak dulu ya, gak punya duit buat minum nih!” ucap Ed sambil
bangkit berdiri dan meninggalkan teman-temannya.
“Yakin lo?! Gimana kalo lo dilaporin?” tanya Mark, teman Ed yang
hobi nge-dance.
“Itu gampang!” ucap Edward sambil lalu.
Setelah Edward udah cukup jauh, Donny langsung mendekat pada
teman-temannya.
“Siapa sih pacar si Edward?” tanya Donny. Tapi, boro-boro dikasih
jawaban, cowok-cowok di hadapannya itu malah memandangnya dengan tatapan aneh.
“Gue gak niat ngerebut pacarnya, kok!” tambah Donny.
Edward berjalan pelan di depan kelas-kelas IPA. Seperti biasa,
sambil menyelipkan tangannya di saku celananya, dia melangkah mencari mangsa.
Dan saat dia baru berjalan beberapa langkah, seseorang tiba-tiba memanggilnya.
Edward berbalik dan melihat cewek yang memanggilnya itu. Genny. Cewek itu
berjalan pelan menuju ke arahnya.
“Hai, Ed!” ucap cewek itu dengan sedikit centil.
Edward sempat bergidik dengan tingkah cewek itu. Sumpah, dia gak
suka cewek yang kecentilan. Tapi, untuk saat ini dia harus bersabar.
“Hai.” Edward tersenyum. “Kenapa manggil gue?”
Genny tersenyum manis pada Edward. “Entar sore lo ada acara gak?”
Edward sudah menduga, dan dia lalu menggeleng. “Enggak.”
“Bagus dong! Gimana kalo lo temanin gue jalan-jalan?” tanya Genny
penuh harap. Dia menatap Ed yang sedang berpikir.
“Gimana ya? Gue lebih milih jalan sama teman-teman gue tuh!” Ucap
Ed.
Genny membelalak kaget. Belum pernah ada cowok yang menolak
ajakannya sampai saat ini kecuali Edward.
“Gue pergi dulu…”
Dengan sigap Genny merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa
lembar uang.
“Kalo lo mau jalan sama gue, gue bakal kasih nih duit buat lo!”
Genny mengibas-ngibas uang itu di depan wajah Edward.
Edward tersenyum sinis. “Jadi lo mau bayar gue?”
Genny hanya menatapnya.
“Sorry! Harga diri gue gak ngijinin gue dibayar sama cewek kayak
lo!” ucap Edward sengit, lalu pergi meninggalkan Genny dengan keadaan shock.
Edward masih bisa mendengar umpatan cewek itu saat dia melangkah menjauh.
Dia jalan, dia berpapasan dengan seorang cewek yang memperhatikannya dengan
seksama. Dia tak mempedulikan cewek itu dan malah pergi menuju kantin.
Colly senang bisa melihat Edward di sekitar kawasan kelas IPA.
Biasanya cowok yang duduk di kelas IPS itu gak bakal nginjak kakinya di kawasan
IPA, tapi anehnya dia hari ini muncul dan langsung membuat salah satu cewek
histeris. Genny, cewek playgirl yang
punya bejibun cowok di sekolah begitu terpukul saat tahu cowok yang keliatan
biasa-biasa saja itu menolak ajakannya. Dia mengumpat Edward habis-habisan.
Colly gak terima Ed diumpat, tapi dia juga langsung tak berkutik saat Ed lewat
di depannya dan menatapnya sekilas. Cowok itu memberi kesan tak peduli pada
siapapun.
“Sialan dia! Dia pikir dia paling keren apa?!” ucap Genny
keras-keras.
Jasen menghampiri Colly sambil menatap Genny dengan penasaran.
“Tuh kadal kenapa lagi?”
“Biasalah. Dia shock waktu Ed nolak jalan sama dia…” kata Colly.
Dia bersyukur dalam hati karena Ed gak sebodoh lelaki kebanyakan yang
siap-sedia jalan sama Genny.
“Cari perhatian banget! Gue juga, ogah jalan sama dia!” sahut
Jasen yang lalu duduk di kursi dekat pintu masuk ke kelas mereka.
“Masa sih?” tanya Colly. “Semua cowok pasti mau jalan sama dia.”
“Ada pengecualiannya. Gue!” Jasen menunjuk dadanya. “Sama Ed
kesayangan lo!”
Mereka memperdebatkan masalah itu sampai guru mata pelajaran
Bahasa Inggris menyuruh mereka masuk ke kelas dan belajar. Colly masih merasa
senang karena Ed cuek sama Genny. Setidaknya cowok itu gak sembarangan milih
cewek. Lagian, Genny juga pake bayar-bayarin Edward segala. Gimana Ed gak
ngerasa harga dirinya diinjak-injak? Emang dia tokek racun?
To be continued ^^
Komentar
Posting Komentar