Heaven for You (part.1)
Usually love
comes late in our life…
Masih sangat pagi untuk pergi ke sekolah. Tapi, tak peduli jam
berapa sekarang, Colly tetap saja bersemangat ke sekolah. Bukan karena hari ini
dia piket atau belum mengerjakan peer, tapi lebih daripada itu. Dia rela bangun
sepagi mungkin, kira-kira jam lima pagi, padahal dia gak biasa bangun jam
segitu, hanya untuk datang pagi ke sekolah.
Kemarin dulu, jam weker di kamarnya rusak dan dia buru-buru bangun
pagi dan bersiap ke sekolah karena dikiranya jam yang berhenti berdetak itu
tepat menunjukkan pukul setengah tujuh. Dan waktu sampai di sekolah, barulah
dia sadar kalo dia udah salah besar datang jam enam pagi. Bayangin aja, penjaga
sekolah aja belum muncul batang hidungnya. Tapi kemudian dia terpaku, bukan
karena melihat si penjaga sekolah. Dia melihat seorang cowok yang benar-benar
membuat hatinya serasa melonjak keluar, cowok itu berjalan pelan melewatinya.
Cowok yang waktu pertama kali dia lihat langsung membuatnya falling in love. Colly sudah berharap
mendapatkan senyuman manis dari Prince Charming-nya itu, tapi cowok itu malah
cuek seperti dia gak ada.
Hari ini dia berharap dapat melihat cowok itu lagi. Jadi, setelah
meletakkan tasnya di meja, dia lalu keluar kelas dan mencari sosok yang
dinantikannya itu. Perasaan Colly baru melihat cowok itu beberapa kali di
sekolah. Pertama kali dia tahu kalo cowok itu bersekolah di sekolah yang sama
dengannya waktu lomba basket antar kelas saat kenaikan kelas dulu. Waktu itu,
si Prince Charming ikutan main, makanya Colly langsung jatuh cinta. Kemudian,
setelah naik kelas dua, dia jarang melihat cowok itu lagi. Yang ada malah
ngeliat teman-temannya yang super hancur (dalam perilakunya). Bukan
ngejelek-jelekin sih, tapi teman-temannya si Prince Charming itu benar-benar
nakal. Mereka berani ngerokok bahkan miras di dalam lingkungan sekolah.
Guru-guru udah pada menegur mereka, tapi karena di antara mereka ada anak
pejabat, guru jadi takut deh!
Setelah itu, di upacara Senin. Sekali itu aja Colly melihat cowok
itu. Selasa, Rabu sampai seterusnya cowok itu sama sekali menghilang. Sampai
akhirnya Colly berpapasan dengan cowok itu di depan gerbang sekolah tapi tak
digubris cowok itu sama sekali. Ibaratnya, ingin memeluk bulan tapi gak
kesampean.
Udah ditunggu hampir setengah jam – sekarang udah jam setengah tujuh
– si cowok pujaan hati Colly gak muncul juga. Colly nyerah dan masuk kelas. Dia
ingin tidur sebentar di mejanya, karena matanya masih terasa berat. Kelasnya
udah penuh dengan teman-teman yang buat ribut. Colly gak bisa tidur karena
suara mereka yang kayak tikus ketiban gajah itu. Dia menatap orang-orang dalam
kelasnya dengan wajah tanpa ekspresi, lalu seseorang mengagetkannya.
“Woiii! Jangan bengong gitu dong!” teriak Jasen, cowok jangkung
yang suka buat masalah.
“Apaan sih! Ngagetin aja!” ucap Colly kesal. Temannya yang satu
ini munculnya persis kayak hantu, bedanya dia muncul pagi-pagi, bukan malam.
“Makanya, jangan bengong gitu, kali. Entar ayam tetangga pada mati
lagi!” dia nyengir dan menatap Colly lekat-lekat.
Colly mendengus kesal. “Heh, gue lagi ngantuk berat nih! Lo pergi
deh, jangan gangguin gue!” usir Colly. Dia hampir melempar sepatunya pada Jasen
kalo aja Pak Nico gak masuk ke kelas.
“Semuanya tenang dan kembali ke kursi masing-masing!” teriak Pak
Nico, suaranya memenuhi ruang kelas. Suara lantang gitu, semua orang jadi pada
takut.
Lalu mereka seperti berada di jaman penjajahan Jepang, menderita
disuruh kerja paksa. Tapi sekarang mereka bukan dipaksa kerja banting tulang,
tapi disuruh maksain otak buat ngerjain soal-soal Kimia yang
super-duper-ngeri-deh. Colly hanya bisa mengerutkan keningnya sambil membaca
soal pertama dari sekian banyak soal yang dibagikan. Dia sebenarnya ingin
nanyain jawabannya sama Jasen, tapi dia yakin cowok itu bahkan lebih shock
melihat soal daripada Colly. Untungnya, Colly duduk tepat di sebelah cewek
paling pintar di kelas mereka. Dengan pengalamannya yang pernah menyontek
beberapa kali, Colly berusaha melihat jawaban cewek itu. Tapi dia dikejutkan
dengan dehaman kecil Pak Nico. Mulai dari itu, dia sama sekali gak bergerak dan
menulis rumus dengan sembarangan.
Seusai kerja paksa, Colly langsung melangkah terburu-buru ke
kantin. Sumpah deh, dia kelaparan banget. Tadi pagi dia gak makan hanya karena
ingin ngeliat tuh cowok, tapi dia malah jadi korban karena hal konyol itu. Dia
gak ngajak Jasen lagi, karena cowok itu juga pasti akan ke kantin tanpa diajak.
Colly memesan dua potong burger dan minuman soda, lalu dia duduk
di salah satu kursi di kantin. Dia melihat ke sekeliling, sekedar untuk
melupakan rasa laparnya. Mata Colly sebenarnya udah minus 2, tapi dia belum mau
pake kacamata ataupun softlens. Kalo ada pelajaran yang ditulis di papan tulis
dan gak bisa dia liat, pasti dia akan berbalik dan menanyakan bunyi tulisan itu
pada Jasen, dan itu kadang membuat Jasen jengah. Dia menyipitkan mata saat
melihat sosok yang dia cari-cari sejak pagi. Cowok itu berjalan pelan memasuki
kantin dengan gayanya yang cool abis – dia berjalan sambil menyisipkan tangan
dalam saku celananya, dan cara jalannya itu keren banget. Gak kayak gaya
jalannya si Jasen, yang dari jauh keliatan kayak membungkuk.
Cowok itu duduk tak begitu jauh darinya, tapi tetap saja dia susah
untuk melihat wajah cowok itu dengan jelas. Sementara cowok itu asyik dengan
teman-temannya, Colly dikejutkan oleh Jasen (lagi!).
“Kenapa lo gak ngajak gue?” tanya Jasen dan mencomot burger Colly.
“Lo tuh penggangu tahu!” kata Colly kesal. Gimana enggak, baru
datang aja udah ngagetin dan ambil makanan orang.
“Hmmm, sorry deh! Eh, itu kan cowok idaman lo?” Jasen memandang
lurus ke depan. “Lo pasti dari tadi merhatiin dia kan? Dasar!” Jasen
geleng-geleng kepala.
“Gue gak bisa liat dia dengan jelas dari sini…”
“Makanya, periksa tuh mata lo!” ujar Jasen. Dia membeli burger dan
air putih.
Colly lalu menatap cowok itu. Namanya Edward Kull (mirip dikit
sama Edward Cullen. Hehehe). Tapi hanya sebatas itu Colly mengetahuinya.
Setelahnya, dia hanya tau kalo cowok itu ganteng dan hebat main basket. Gayanya
cool abis, dan sikapnya… hancur kayak yang dibayangin.
“Temannya, si Donny itu, masa mainin si Bella sih?” ucap Jasen dan
ikut memandang Edward.
“Mainin? Kayak boneka gitu?” tanya Colly.
“Iih. Lo kok bego banget sih?! Maksudnya mainin perasaan Bella!” terang
Jasen sambil dibalas anggukan mengerti Colly. “Denger nih. Masa dia pacaran
sama si Bella, padahal dia belum putus dari Dyna. Ngeselin gak tuh?”
“Eh, itu urusan orang lain kali! Ngapain juga kia ngurusin hal
gituan?”
“Makanya, lo denger dulu ampe habis.” Kata Jasen kesal. “Si Rocky
itu, dia juga pacaran sama Lena, tapi dia selingkuh sama Alia, terus dia
boongin Sizka kalo dia udah putus dari Lena. Playboy banget kan?” ucap Jasen
panjang-lebar.
Colly terdiam sesaat. “Lo dapat tuh gosip dari mana?”
“Ini bukan gosip lagi. Udah banyak yang tahu!”
“Kadang gue curiga sama lo, sebenarnya lo cewek apa cowok sih?
Masa ngegosip gini?” ucap Coly dingin. Dia menghabiskan sisa makanannya dan
hendak beranjak pergi.
“Gue hanya kuatir, gimana kalo cowok yang lo idam-idamkan itu juga
suka mainin perasaan cewek. Gue sama sekali gak ngegosip!”
Colly berbalik dan memandang Jasen.
“Kita liat aja. Dia playboy, kadal, buaya, atau apa!” kata Colly
lalu berbalik pergi.
Jasen hanya memandang punggung Colly. Dia hanya berusaha
meyakinkan Colly supaya gak terlalu mengharapkan cowok itu sampai tahu
luar-dalamnya cowok itu. Dia gak mau Colly sakit hati kayak dulu, saat dia
dikhianati sahabat dekatnya, Keysa.
Keysa sekarang gak pernah bicara lagi dengan dia dan Colly,
mungkin karena merasa bersalah. Tapi lebih baik lagi kalo dia menghilang
sekalian dari kehidupan mereka. Keysa gak bisa dianggap teman. Cewek itu
terlalu busuk. Gimana enggak? Dulu, waktu Bernard masih pedekate sama Colly,
Keysa mendukung setengah mati. Gak mau sampe Bernard menyia-nyiakan kesempatan.
Tapi, setelah lama berpacaran dengan Bernard, Colly malah ditusuk dari belakang
oleh kedua orang itu. Mereka backstreet, dan itu tertangkap basah saat mereka
pegangan tangan saat pulang sekolah. Colly yang temperamental langsung aja
melabrak kedua orang itu. Dan bahkan Keysa dan Bernard gak bisa berkata apa-apa
saat Colly meledak. Jasen ada di sana saat kejadian itu terjadi. Jasen hampir
aja menghajar Bernard kalo aja teman-temannya gak menahan dia. Mulai dari itu,
Colly bersumpah gak bakal temenan sama cewek busuk itu lagi.
Tapi Jasen menyayangkan sikap Colly yang menyukai cowok yang
begitu nakal dan suka membangkang itu. Edward Kull, cowok yang tak lebih
ganteng darinya itu bahkan bisa membuat Colly berlaku aneh. Atau memang Colly
adalah orang yang aneh? Jasen mengangkat bahu dan kembali bergelut dengan
makanan dan minumannya.
*bersambung dulu ya...*
Hope and wish, yang baca LIKE ☺
Anneyong ...
Komentar
Posting Komentar