Postingan

Welcoming 2026

Gambar
Sudah hampir 4 tahun sejak tulisan terakhir saya diposting, dan memang mengejutkan bahwa sudah terlalu lama jari-jari ini tidak menari pada tuts keyboard  dan menguntai kata dalam layar. Alasan sibuk mungkin terkesan dilebih-lebihkan, tapi nyatanya waktu untuk menulis lagi seakan tak bisa disiasati.  Hari ini, karena sedang tidak melakukan aktivitas yang berarti, saya mencoba membuka lembaran itu lagi. Lembaran yang pernah kutorehkan di saat 'muda' (ya, sekarang saya merasa sudah tua). Ternyata kosa kata saya sangat kaya waktu itu, banyak kata berbaris manis dan mengesankan, menandakan si penulis ternyata gemar membaca hingga memiliki bank kata yang sangat banyak itu.  Dulu sekali, teringat jelas bahwa diri ini sangat mencintai literasi. Membaca dan menulis sudah menjadi bagian yang sangat menghibur dan membersamai diri ini di waktu belia itu. Tak ayal, segala kalimat tertuang dengan jenaka dan terlampau jujur. Tapi sekarang, untuk menyusun kata-kata dalam kalimat se...

Aku yang Tak Selalu Ingin Tidur

Kian malam, jembatan kata demi kata makin terhubung membentuk makna yang hanya bisa kurasakan seorang. Merana dan membisu, merasakan kesepian ambigu antara senang dan tak ingin sendiri. Aku, dan sekalabat pemikiranku yang selalu disepelekan orang lain. Bagi mereka, apa yang ada di pikiranku bukan semestinya, melelahkan, membuang waktu dan tenaga. Tak tahukah mereka ketika aku ingin tidur, mata ini terpejam tapi tidak dengan benakku. Semua tersirat seperti tayangan layar lebar. Sangat membuatku terjaga. Bagaimana bisa mereka katakan aku terlalu suka begadang, sedangkan untuk tidurpun aku tak bisa memerintahkan diri sendiri. Jika saja aku bisa langsung terlelap kala mata terpejam, tidak sulit bagiku bangun dan beraktivitas di pagi hari. Hanya saja, setiap kali ingin beristirahat dari penatnya hari, batinku selalu memutar segala peristiwa yang terlewati dan yang kubayangkan di masa depan. Lelah? Ya, siapapun! Diri ini sangat lelah memaksa tidur, karena tanpa henti juga diri ini memaksa un...

Sederhana Namun Indah 💗

 Ternyata kebahagiaan dapat ditemukan dari hal-hal sederhana yang dilakukan. Setelah hampir seminggu bekerja keras bagai kuda, di mana kantor saya ternyata tidak memberlakukan PPKM Online, padahal jiwa ini sangat berharap bisa bekerja dari rumah (sambil baring dan ngemil di kamar ternyaman saya, hehe), akhirnya punya kesempatan untuk menghabiskan waktu dengan Si Bebeb (red: pacar). Yah, kalau kemarin saya berulang kali uring-uringan karena merasa dia sibuk kerja, kegiatan organisasi, latihan paduan suara, pelayanan di desa nun jauh di sana, kali ini saya merasa begitu bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama. Kami hanya berputar-putar di kota, dan kemudian beristirahat di sebuah tempat peristirahatan di luar kota yang tak jauh dari tempat tinggal. Sekadar berfoto-foto, kemudian makan makanan yang sempat kami beli dulu sebelum pergi dan lalu pulang ke rumah Si Bebeb. Tidak begitu banyak hal yang kami lakukan, bahkan tujuan untuk kami bepergianpun tidak ada sebelumnya. Dia tany...

Penjahat Tetaplah Penjahat Ketika Tidak Merasa Bersalah

 Sudah lebih dari sekian hari kami bersama, sudah sekian tahun melangkah tanpa kepastian. Kemudian, hari itu dia datang dengan maksud ingin memberi kepastian. Dengan percaya diri dia datang untuk memberitahu maksud dan tujuannya pada orangtua saya, dan disambut dengan nasihat-nasihat konvensional yang terasa memberatkan hati. Saya tak siap, dalam banyak arti. Bahwa untuk berpisah dari keluarga saya adalah sebuah kesukaran yang besar, dan sungguh berat bagi saya. Saya tak siap, sebenarnya. Ketika hanya kedatangan dan pengakuan semu lalu menghilang tanpa kabar akhirnya. Sepertinya, di pikiran dia, setelah memberitahu kepada orangtua tujuan dari hubungan ini, dia merasa tak perlu lagi berkabar dan menampakkan diri. Hanya menggunggah foto di media sosial, sebagai suatu formalitas. Dan artinya, dia hanya memberi kepastian semu. Untuk apa saya terlalu berharap pada pengakuan itu? Untuk apa saya terlalu mendambakan kepastian dari orang yang hanya berucap di bibir saja? Sepertinya tidak mu...

Pertarungan Dimulai Pukul 2 Dini Hari 🌙

Gambar
 At this moment... Saya sudah terkubur terlalu lama dalam lengangnya pencarian menuju pelabuhan penantian. Karena semakin saya menanti, semakin pula saya dipaksan menyudahi. Perkara menanti sesuatu yang pasti memang berat, bahkan untuk saya yang selalu acuh tak acuh pada segala hal. Singkatnya, kuat saya semakin terkuras dengan adanya waktu yang termakan tanpa makna. Lagi... Saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat, pun bagaimana membuat segala sesuatu makin membaik. Setelah hilang suatu rasa untuk mencintai lebih dalam dengan keyakinan penuh, saya tidak mempunyai apa-apa lagi untuk menjadi alasan baginya bertahan. Seperti sedia kala saat awal memperjuangkan segalanya, di- ghosting (buseet, pake bahasa keren pulak!). Dengan begitu banyak pertengkaran yang berlangsung antara kami, dan tidak begitu banyak membuahkan penyelesaian atau keharmonisan, kami masing-masing menciptakan jarak yang tak mungkin diperbaiki. Dan mungkin untuknya jarak itu tidak mempengaruhi sama sekali. Dia pu...

Toxic of The Day #1

 Hai. Jadi hari ini saya menulis lagi di blog. Beberapa tahun lalu saya jarang sekali menulis karena tidak bisa fokus dan tidak tahu menulis apa, tapi sekarang sepertinya banyak yang hendak saya tuliskan. Lebih tepatnya banyak hal yang hendak saya curahkan, hehe. Jadi sudah hampir 3 tahun kami berpacaran, lebih tepatnya sih 2 tahun 9 bulan (kalo besok tanggal 3 berarti sudah genap 2 tahun 10 bulan). Makin lama makin aneh gaya berpacaran kami, entahlah status kami yang sekarang berpacaran atau tidak, hehehe. Bagaimana bisa dibilang berpacaran, sejak perkelahian besar kami yang terakhir kali, tidak ada kata berbaikan yang nyata, tapi sudah pake panggilan sayang lagi. Aneh beud deh, dia di media sosial apa kabar dah? Secara, setelah perkelahian itu kami benar-benar menghapus semua foto bersama yang ada di akun masing-masing. Dan kemudian, ada banyak hal-hal janggal yang saya lihat di akun media sosialnya (bayangkan dulu, kami sudah tidak saling berteman di medsos, njay!). Memang benar...

Pentingkah itu?

"Pentingkah itu?" Ini bukan sebuah pertanyaan, tapi pernyataan. Saat sesuatu yang dianggap  berharga nilainya, dipatahkan dengan sepenggal kalimat itu, dan dirasa tidak ada artinya. Memang pada akhirnya saya tersadar, tingkat kepentingan seseorang akan suatu hal akan lama kelamaan pudar dan tergantikan dengan hal lain yang dirasa lebih berarti, sehingga hal yang saya anggap penting akhirnya tidak ada nilai di mata mereka. Fix, untuk hal satu ini sungguh kejam untuk saya. Dia merasa tidak penting mempermasalahkan hal-hal prinsip yang dia sendiri bangun dalam hubungan ini. Sehingga pada saat saya mempertanyakannya, dia mengeluarkan kata-kata di awal tulisan ini. Benar adanya, segala sesuatu yang terpola dalam hubungan kami adalah berkat dirinya. Saya akui ada tingkat superior dalam dirinya di mana lebih dominan dirinya mengarahkan saya dalam menjalani hubungan hingga saat ini. Namun, saya merasa heran dengan polahnya yang semakin hari semakin berubah. Dirinyalah sendiri yang me...

Kalahkan Ego, Tingkatkan Sayang 💙

 Aku tidak ingin menyimpan kebahagiaan ini sendiri. Tapi aku juga tidak bermaksud membagikan kepada semua orang. Menyimpannya di sini adalah cara terbaik, supaya jika nanti aku merasa tawar hati, ada tulisan ini yang memberikan warna itu kembali. Tulisan ini disimpan untuk mengingat bahwa bersama dengannya sudah membuatku bahagia. Tahun-tahun bersama memang sungguh panjang ceritanya. Ya, dua tahun. Mungkin tidak terlalu lama menurut orang lain, masih terlalu amateur dalam hal cinta-pacaran-serius-dansebagainya. Namun dua tahun adalah hal luar biasa setelah begitu banyak hal terjadi pada hubunganku dengannya. Tidak sedikit ego yang lebih kuperjuangkan dibandingkan rasa sayangku. Tidak sedikit sakit yang kutorehkan hanya karena aku merasa 'lebih benar' dari dirinya. Dan, masih banyak lagi hal-hal yang dapat memberikannya alasan untuk tidak tinggal. Tapi dia masih ada. Dia masih dia. Menjalani hubungan dengannya selama dua tahun ini telah mengajarkanku tentang banyak hal. Dan aku ...

My Faith

Gambar
Mungkin kamu tidak akan merasa kesepian. Ya benar, kamu memiliki segala sesuatu untuk mengisi hari-harimu. Teman chat, sahabat, siapapun itu. Banyak yang datang dan pergi dalam kehidupanmu dan kamu akan tenang-tenang saja tanpa merasa kesepian. Kamu tidak akan tahu bagaimana sepinya ketika didiamkan, Bagaimana sendiriannya kamu ketika tidak dikabari sama sekali, Bagaimana terpuruk karena merasa tidak dianggap. Kamu akan baik-baik saja karena semua orang menerimamu, dan kamupun juga akan selalu dikelilingi oleh mereka. Tapi kamu tidak akan merasakan saat kamu ditolak dan dibenci. Kamu tidak merasakan saat dihina dan dicaci. Hidupmu terlalu sempurna sampai kamu tidak tahu betapa menderitanya aku karena itu semua. Ya benar, tanpa akupun kamu akan selalu bahagia. Kamu bahkan bisa dengan mudah mencari penggantiku. Tapi tidak denganku. Perasaan-perasaan ini tidak akan dengan mudah hilang. Jika perasaan itu masih tetap ada, maka aku akan terus menderita meratapi kamu yan...

Biarkan Berlalu

Gambar
Berdiam sejenak. Aku lemah oleh semuanya. Oleh perasaan-perasaan dangkal yang menghujam. Aku juga belum siap untuk ini semua. Meratapi keadaanku yang sepi dan sendiri. Semua terasa pudar perlahan. Aku ingin menyudahi segalanya, mungkin dengan pergi akan meringankan beban siapapun yang tersiksa karenaku. Mungkin dengan aku beranjak, ada hati yang lega dan kembali bahagia. Mungkin jika aku tidak ada, senyum yang semula selalu ada akan terus ada dan tidak digantikan kebisuan. Ataukah aku yang terlalu egois? Mencoba mempertahankan segalanya yang seperti tidak mungkin lagi? Ya, semuanya seperti tidak mungkin. Kamu yang sudah berpikir mencari orang lain, kamu yang selalu memutuskan untuk terlebih dahulu pergi. Lalu aku, Aku yang terlalu naif dan mencoba menahanmu. Aku yang selalu mempertahankan hal yang sebenarnya sudah kamu anggap usai. Aku yang masih memungut sisa-sisa perasaanmu. Baiklah. Aku tidak menuntut lagi. Aku tidak mengejar lagi. Aku hanya akan diam. Aku h...

Bahagiamu, Bahagiaku

Gambar
Apa sih yang membuat saya jadi begitu posesif terhadap dia? Sikap saya seakan dia tidak boleh apa2 jika tidak ada saya. Saya tak ingin dia pergi dengan orang lain, jauh dari saya, tiada kabar, bahkan kadang melihat dia memposting foto yang bukan diri saya saja sudah menyulut keinginan marah. Saya sadar bahwa saya tidak boleh melakukan hal ini, posesif berlebihan sungguh membunuh dari dalam. Tapi apa daya, saya hanya ingin dia 😭 Pernah membatasi diri untuk tidak want to know eveything about him, tapi akhirnya saya sendiri yang tersiksa. Saya ingin tahu apa yang dia lakukan saat bangun pagi hari, apa yang dia makan saat sarapan, kegiatan apa selanjutnya, pergi kemana dia di pagi-siang-sore-malam, bertemu siapa dan bicara apa... apakah saya terkesan mengontrol? Sejujurnya saya hanya ingin dia, tepat di samping saya, bersama saya. Itu saja. Tapi waktu dan jarak sungguh menjauhkan kami (walau kami masih bisa berkomunikasi lewat gadget). Perasaan saya sudah terlalu besar untuk selalu ...

Who am I?

Gambar
Dibanding menyendiri, sekarang saya merasa lebih kepada bersyukur dengan banyak hal yang diberikan saat ini. Tawa yang masih bisa kulepas, senyum yang masih membayang, dan kebersamaan dengan keluarga yang sungguh berarti. Saya tak merasa sendiri, seperti ketakutan saya belakangan ini. Sungguh saat ini saya merasa diisi dengan berkat melimpah dan sanak saudara yang perhatian, tak butuh waktu lama untuk saya kembali menjadi diri saya. Perlahan saya juga mulai mengerti diri sendiri, lebih mengerti tubuh jasmaniah saya, yang mana setiap hari saya forsir untuk bekerja dan melupakan istirahat berkualitas. Saat ini, ketika menulis ini saya sedang berbaring dan merebahkan diri untuk istirahat. Inikah namanya istirahat? Berdiam sejenak dari semua hal duniawi yang melelahkan. Sangat menyamankan. Saya sadar bahwa selama ini saya berpaku pada sesuatu yang membagi fokus saya hingga lebih banyak di luar rumah, asik sendiri dan lupa bahwa diri ini sejatinya mudah lelah. Yang mengerti tubuh say...

Yang Terburuk

Saya adalah yang terburuk dari kumpulan yang telah dahulu ada. Keberadaan saya sepertinya tidak memberi dampak kebaikan bagi siapapun, dan malah mengundang cibiran serta ditolak. Saya tidak merasa perlu menjadi siapa atau apa yang disenangi orang, karena untuk saya bersikap di luar kewajaran diri saya adalah hal paling canggung dan menyebalkan. Saya bukan yang terbaik di bidang apapun, saya juga bukan yang cantik di antara lainnya. Saya introvert, sangat malas menanggapi orang dan tidak ingin membangun relasi lebih. Mungkin itu sebabnya saya kesepian. Saya teramat menutup diri untuk lingkungan di luar saya yang sudah di luar kewajaran saya, dan saya tidak ingin lebih dalam memasuki hidup siapapun. Saya sudah cukup dengan diri saya sendiri. Cukup dengan kelelahan ini, cukup dengan pikiran-pikiran ini, cukup dengan tekanan batin ini, dan cukup dengan depresi ini. Kesepian menjadi hal terburuk dalam setiap detik waktu berlalu. Saya sesak dan merana, tidak tahu harus berbuat apa. Ka...

Relationship Jaman Now (Bongkar-Bangkir Masa Alay)

Gambar
Sampai kapan kita terpaku pada hubungan biasa saja yang tidak mendewasakan? Membangun hubungan kadang menyenangkan menurut kita, tanpa perlu banyak ba-bi-bu kita akan ada hubungan atau relasi yang manis terjalin. Dan, ya, tergantung bagaimana kita mempertahankannya. Mungkin sebelum banyak berbicara bagaimana mempertahankan hubungan, kita perlu menalarkan bagaimana memulai hubungan itu sendiri. Kita sama-sama tahu, hubungan yang saya maksud adalah hubungan asmara, percintaan, yang bukan hanya cinta awal SMA. Menurut saya, sudah waktunya kita memikirkan hubungan sebagai sesuatu yang penting, bukan hanya sebagai kebutuhan saat pernah muda, namun lebih karena kita bertanggung jawab atau hubungan yang kita mulai sendiri. Saya tak menyangkali bahwa berpacaran 'alay' atau 'labil' adalah hak semua anak muda di luar sana, yang bahkan anak SD pun termasuk -_- Beberapa kali saya mengamati adik-adik saya yang masih SMP, lugu dan polos mulai mengenal kata-kata puiti...

Real Life

Gambar
Sedikit basa-basi tak apa ya? Kali ini tidak ada inspirasi untuk jadi puitis. Karena kurangnya istirahat, banyak main di luar rumah dan pulangnya udah larut, alhasil malampun jadi singkat (padahal itu adalah saat-saat terbaik untuk menulis dan belajar) sehingga waktu kuhabiskan untuk chatting dan akhirnya tidur. Sayangnya (atau untungnya), hidup pengangguran sepertiku belum dituntut bangun pagi dan berangkat kerja sehingga bangunpun selalu telat (maafkeun). Susah memang untuk mengatur pola tidur yang baik sekarang ini. Misalkan saja saya malam ini tidur 02.00 am maka saya akan bangun paling cepat jam 8.00am dan paling telat 9.00 am. Dan malam berikutnya saya tidak akan bisa tidur lebih awal (kecuali punya aktivitas berat sebelumnya), maka saya pasti tidur pada jam yang sama di malam sebelumnya 2.am. Did you ever feel it? That is so annoyed. Pengangguran. Please, silakan tanyakan padaku kurva elastisits permintaan dan bagaimana analisis menggunakan SWOT dibandingkan dengan...

Ujung Di Sana

Maaf, jika salah penilaian berujung pilu. Karena hati ini tak lagi bisa menyenangkan hati yang lain. Dan ketika hati dan logika seiring berotasi melawan arus, siapa yang bisa menahan? Jangan coba kembali dengan seribu kata bertahan, atau perjuangan yang belum selesai. Semua itu pernah kucoba, pernah kuharapkan, dan kupanjatkan untuk Empunya di sana. Tapi yang kemudian terjadi adalah optimisme itu runtuh oleh sikap penolakan, penolakan untuk sama-sama menggenggam. Karena sekian banyak merasakan, dan ini jadi kesekian untuk dilepas. Kau mungkin sadar sekian lama kemunafikan ini akan berlanjut, tapi kenapa mencoba buta? Ataukah salah dirimu menerima apa yang nyata? Karena peringatan akan kejamnya aku sudah pernah terujar, namun teguhmu membuatku tergugah. Salahkah aku lagi? Ini hanya ajang mencari salah, dan aku terperosok lebih dalam lagi. Uraian dosa seperti membendung "persahabatan" yang meronta ingin dijaga. Dan kau lupa dirimu tetap sahabat? Kau salah, jika...

Ah, Sudahlah

Diri ini terbangun dengan cengkeraman luka dan sakit tak terbendung. Anehnya, arimata tak mewakili semua ini. Seperti sudah melapangkan segalanya. Jika pergi dan diam menjadi arti, biarlah sedih dan diam menjadi pasif. Sudahlah... rasa abadi untuk tercekam kian menggenggam, dan akhirnya batin menyiksa diri sendiri dan merana. Bergelut dengan kesendirian seperti menjadi karma, karena sekian banyak yang menemani seperti terpaksa. Ah, hadapilah. Akhirnya senyum ini lenyap, kini tambah di sadari. Tidak pantas diri ini muluk tersenyum, karena makin lusuh pula hati ini.

Aku Kembali

Gambar
Source: private collection Kembali lagi. Sore ini, dengan rintikkan hujan yang telah menjadi genangan, dan riuh orang yang makin banyak berlalu lalang. Lalu aku, yang diam terpaku dalam dekap sunyi ini. Kembali lagi. Pikiran itu datang. Bukan menghantui, hanya menemani. Ketika dibuatku melanglang mengisah tentang yang menyenangkan, dan menyisa yang tidak ingin dikenangkan. Hey, menghindarkah kau dariku? Akan kucintai tanpa bicara. Kalau saja kau kembali. Bukan seperti hujan, yang walau dahsyat amukannya hingga membasah dan membanjir, tetap saja turun. Aku kembali lagi. Untuk yang terakhir, karena senyum keikhlasan kiranya turut dari wajahmu, atau dari kata-kata itu. Lalu aku kembali lagi. Bukan kembali padamu, tapi kembali pada jalanku sebelum kamu. Ya, sebelum kamu berdiri dan sebelum melewatimu. Artinya? Aku hanya ingin kembali ke masa seperti belum mengetahuimu.  Belum mengenalmu, dan menangisimu. Kembali lagi. Kembali pada k...

Thank You

MERRY CHRISTMAS 2016 & HAPPY NEW YEAR 2017 Apa resolusimu di tahun yang baru? Oke, jangan anggap ini pertanyaan jenaka just because "kenyataan tidak sesuai harapan". Mudahnya berharap itu tidak sebanding dengan mudahnya membalikkan telapak tangan, karena di saat kita berharap, kita menaruh kepercayaan penuh pada apa yang kita harapan itu. New year, new me. Apa yang jadi perubahan terbesar saya di tahun yang lalu (2016)? Puji Tuhan sangat teramat banyak perubahan. Kematangan yang saya dapat bukan hanya ketika menimba ilmu di bangku perkuliahan namun juga ketika bergaul dengan sesama dan Tuhan. Walaupun sejujurnya hubungan dengan Tuhan kadang terabaikan karena mengutamakan lebih banyak kehidupan duniawi. Peristiwa terbesar dan tak terlupakan yang akan selalu tertanam dalam diri, dan selalu memberikan senyuman tanda kebanggaan dan syukur saya adalah: 1. Wisuda Saya tidak pesimis dengan apa yang menjadi tekad saya. Dengan dukungan orangtua dan para...

Teman Sepermainan - Dedikasi Non Resmi

Memang tiada yang lebih menyenangkan untuk menulis blog selain pada jam-jam tengah malam yang mengesankan ini. Jangan pedulikan sang pelaku insomnia ini, karena sejatinya mereka adalah yang berpikir besar (aseeek!) Lanjut. Ada temanku bertanya: (T: teman, S: saya) T: Pernahkah setelah kamu bertemu seseorang atau beberapa orang yang telah lama tidak bertemu denganmu, dan ketika berpisah kamu merasa hampa. Seperti tidak ingin berpisah, seperti masih ada yang kurang? S: rasa cinta maksudmu? T: hey! Kenapa cinta melulu! Tidak. Ini lebih pada absurdnya rasa ketika sekian lama tak bertemu dan akhirnya bertemu lagi, namun terasa kosong saat telah berpisah. Lalu aku termenung. Jawabannya, ya. Aku pernah merasakannya. Rasa yang sama untuk mereka. Saat bersama, saat bertemu, dan saat berpisah. Kau takkan menggubris perasaan ini jika kau sudah mengenal internet dengan baik, sehingga tak merasa terpisah jarak dan waktu dengan mereka, orang-orang yang menemanimu dan tumbuh bersamamu di ...